Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Part 49


__ADS_3

Sore yang syahdu di temani semilirnya angin sepoi yang mengibaskan dedaunan kesana kemari, nampak alira sedang berada di belakang rumah. ia duduk setelah menyirami tanaman cabai yang ia tanam di dalam polibag ada juga beberapa pohon tomat dan yang lainnya.


Alira senang melakukan nya ia seakan masih berada bersama orang tuanya. Biasanya Abah mengajak alira ke sawah ikut membantu Abah menyiram tanaman. Di tempat kontrakan nya ia mengikuti kebiasaan emak, jika ada cabai atau tomat yang busuk ia lemparkan saja ke tanah agar tumbuh bibit. Bersemi beberapa pohon kemudian alira letakkan di polibag.


Alira duduk melamun mengingat Aisyah yang seakan sekarat, kepalanya terasa sedikit pusing entah mungkin karena pikirannya yang terlalu memikirkan Aisyah. Alira merasa bersalah atas kejadian yang menimpanya, yang mengharuskan Barra untuk menikahi alira. apakah alira menghancurkan kebahagiaan dua orang sekaligus yaitu barra dan Aisyah. kepala nya semakin ngenyut lagi rasanya tak ingin ia berfikir terlalu dalam namun ucapan salma terngiang terus di kepalanya.


' ya Allah apa yang harus alira lakukan, apa aku terlalu egois dengan meminta mas barra untuk menjadi suami ku'. monolog alira dalam hati.


Barra ke belakang selepas ia mengajar mengaji, hari ini tak ada kelas mengaji karena murid-murid sedang menjenguk temannya yang sedang sakit jadi Barra bisa pulang lebih awal. Barra melihat alira duduk namun tatapan nya kosong seperti memikirkan sesuatu, saat Barra masuk ke dalam rumah dan mengucap kan salam pun tak ada jawaban, yang seharusnya suara itu pasti terdengar karena barra mengucapkan nya hingga tiga kali.


" sayang kenapa".


" eh mas kok udah pulang". tanya alira kaget mendengar suara barra. ia lalu Salim mencium tangan Barra, aktivitas yang sudah biasa'ia lakukan.


" udah, anak-anak hanya sebentar mereka minta izin untuk menjenguk Rafa ".


" Rafa sakit atau bagaimana mas".


" iya Rafa sakit sejak kemarin ia tak masuk". Barra lalu duduk di samping alira.


" innalilahi semoga dia lekas sehat".


" aamiin,,, sayang sudah selesai".


" sudah mas Alhamdulillah ".

__ADS_1


" masuk yuk udah mau Maghrib tak baik wanita cantik di luar ". alira tersenyum barra selalu bisa saja menyanjung nya.


" kenapa melamun sayang, apa ada yang kamu pikirkan bicarakan semua nya. mas ngga mau ada yang kamu tutupin ". kata barra ia memeluk alira dari belakang.


" mas jika alira bertanya mas akan marah". ucap Alira pelan ia takut membuat suaminya marah. Barra mengerutkan keningnya heran dengan alira ada apa sebenarnya.


" katakan saja sayang mas tak punya stok marah padamu".


" ada hubungan apa mas Barra dengan mba Aisyah". tanya alira pelan dan terbata.


" Maaf bukannya mas tak mau bercerita padamu , mas hanya ingin menjaga hatimu hati kita. Aisyah itu masa lalu mas, dan sekarang dia bukanlah siapa-siapa".


" Tapi mas mendengar kan saat di mobil dan ruangan tadi mba Aisyah dengan tidak sadar selalu mengucapkan nama mas Barra ". Barra melepas kan pelukannya ia membiarkan alira berbalik menghadap nya kemudian barra tuntun alira untuk duduk agar tenang.


" mas melepas dengan ikhlas mungkin benar ia bukanlah jodohku dan Allah mempertemukan kita dengan insiden yang kita alami kemarin. itu bukan suatu kebetulan alira tapi itu adalah campur tangan Allah untuk mempertemukan kita mempersatukan kita dalam jalinan suatu tali pernikahan." alira meremas bajunya dengan jemari nya ia merasakan hatinya sakit.


" maafkan alira mas". tes,,, air mata itu terjatuh alira sangat merasa bersalah.


" hey Ra, kenapa jangan menangis mas tak mau air matamu jatuh karena mas." barra mengusap air mata alira.


" seharusnya kemarin mas tidak menikahi alira, mas bisa memperjuangkan cinta mas untuk mba Aisyah. Sekarang mba Aisyah sekarat mas, hiks...". alira menangis meluapkan emosi dalam hatinya.


" Tidak ada yang salah padamu alira, kamu sama sekali tidak bersalah pernikahan ini atas kemauan ku juga. Entah apa yang terjadi aku langsung bisa menerima mu dan shalat istikharah itu yang membuat ku yakin melangkah maju untuk membina rumah tangga bersama dirimu Ra." Barra lalu memeluk Alira.


" jangan katakan itu lagi ya, kamu tidak bersalah. Kamulah jodohku bukan Aisyah sayang." barra mengusap-usap punggung alira.

__ADS_1


Suara adzan Maghrib membuyarkan mereka, lalu Barra mengajaknya wudhu. Barra akan ke masjid terlebih dahulu, dan mengajar anak-anak remaja mengaji sebentar. Biasanya barra akan pulang selepas shalat isya.


alira masih belum tenang ucapan Salma itu terngiang terus di benaknya, alira lalu mengambil Al Qur'an di bacanya perlahan agar hatinya tenang sembari menunggu Barra pulang.


Barra tersenyum mendengar lantunan suara mengaji alira, sangat merdu di dengar oleh telinga Barra. Sengaja Barra mengucapkan salam lirih agar konsentrasi Alira tidak terganggu. Barra menunggu alira selesai mengaji ia senang mendengar suara istrinya itu.


Alira selesai hampir lima lembar ia baca hingga hatinya mulai tenang, alira menutup mushafnya lalu di ciumnya sejenak. ia letakkan mushaf di tempat yang sudah mereka jadikan untuk meletakkan kitab suci itu.


" Mas, kok Alira kok ngga denger mas salam". alira Salim di ciumnya kening alira oleh Barra.


" sengaja memang mas pelan mengucap salam takut istri ku terganggu". ucap Barra ia menarik Alira agar duduk di pangkuan nya. alira tersipu malu di towelnya hidung Alira oleh Barra merasa gemas jika istri nya itu tersipu.


" sudah lapar". alira mengangguk. di letakkan nya kopiah barra lalu ia menggendong alira hingga ke meja makan.


" ya ampun mas nanti jatuh". alira mengalungkan tangannya ke leher barra ia takut.


" Jika kita jatuh kita akan jatuh bersama, tapi aku tak akan membiarkan itu terjadi sayang kita akan lewati semuanya bersama meski jalanan berkelok begitu tajam.". alira tertawa puitis sekali barra itu membuat alira selalu senyum-senyum senang.


Barra meletakkan alira di kursi ia meminta alira untuk diam agar ia bisa melayani Alira. alira terkekeh dengan tingkah barra yang semakin membuat dia tak bisa untuk cemberut. Di suapinya alira dari jemari tangan Barra sendiri. Alira menahan tangis ia tak ingin menangis lagi di depan Barra.


' ya Allah mas memilikimu adalah anugerah terindah dalam hidupku, akankah aku melepas mu begitu saja dengan orang yang kamu cintai '. monolog alira dalam hati. Ia meremas dadanya yang terasa sesak menahan air mata yang akan tumpah.


___


bersambung

__ADS_1


__ADS_2