Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Part 77


__ADS_3

Sudah hampir satu jam alira merasa sakit yang luar biasa ia pun menitikkan air mata karena memang benar-benar sakit orang akan melahirkan itu. barra mengusap air mata istrinya ia tak tega, alira meringis tiada henti.


" mas sakit..." lagi ucapan alira, memang ia masih terlalu muda untuk melahirkan seorang anak umurnya masih sembilan belas tahun.


" tahan ya sayang sebentar lagi". hanya itu yang bisa barra katakan padahal ia juga tidak tau bagaimana selanjutnya rasa sakit orang melahirkan. teori tak sesuai dengan prakteknya, barra lebih panik sangat panik dan berusaha menenangkan diri.


" sebentar saya periksa lagi ya Bu". alira meringis saat tangan dokter masuk ke pusat tubuhnya. rasanya sangat sakit alira mencengkeram tangan barra, barra pun menahannya.


" siap ya bu bukaanya sudah cukup, ikuti saya saat mengejan ". alira mengangguk.


" bismillah sayang lantunkan shalawat terus." bisik barra, barra pun tiada henti membisik kan kalimat Allah.


Berkat dukungan suami dan mengikuti pengarahan dari dokter akhirnya alira bisa melahirkan dengan selamat.


ooeeekkkk...


Suara bayi itu terdengar barra langsung memeluk sang istri, alira pun lega rasanya plong bayi yang mereka tunggu akhirnya keluar juga.


" terima kasih sayang". barra mengusap keringat di wajah alira. alira tersenyum ia mengusap air mata barra yang mengalir di pipinya.


" kita jadi orang tua mas". ucap Alira lemah.


" iya sayang, terima kasih.". Barra mengecup kening alira cukup lama.


Bayi sedang di bersihkan lalu barra menghubungi Fauzan agar ia datang ke rumah sakit untuk mengambil mobil supaya menjemput emak dan Abah. lalu ia menghubungi umi dan abinya, umi yang sedang melipat mukena selepas shalat malam terkejut senang.


" ayo Abi kita ke rumah sakit".


" iya umi sebentar ".


" cepat Abi, pokoknya umi harus orang yang pertama melihat cucu umi lahir ke dunia ". umi tidak tau jika bayinya sudah di luar.


" iya umi sebentar Abi ganti dulu apa Abi pakai boxer ini aja ngga apa-apa ". ucap Abi Ilyas.


" eh jangan banyak pelakor di luar Abi, meski abi tua masih mempesona janda di luaran". ucap umi membuat Abi terbelalak.


" gitu tau kenapa umi bisa mengizinkan Abi untuk menikah lagi."


" formalitas istri Sholihah Abi". Abi memutar bola mata jengah, itulah wanita lisan tak sesuai dengan hati.


" Biarkan saya saja yang membersihkan istri saya suster."


" ustadz cukup temani Bu alira saja ini tugas kami".


" tidak suster biar aku saja, aku yang akan membersihkan nya".


" baiklah ustadz cukup membantu saja ya selebihnya biar suster karena untuk yang bagian tertentu ustadz tak akan bisa". alira memegang lengan barra, agar ia mau dengan ucapan suster tapi juga tidak melarang barra melakukan nya. alira tau ia ingin mencurahkan semuanya untuk istrinya dan sebagai ucapan terima kasih karena sudah bertaruh nyawa untuk buah cinta mereka.


" nanti saja jika sudah subuh jemput emak dan Abah". ucap Barra kemudian id sela teleponnya.


" baik Ustadz".

__ADS_1


" Silahkan ustadz jika ingin mengadzani putri nya". suster memberikan bayi mungil itu.


" loh kok sudah di luar". ucap umi kaget karena barra mengabari jika alira melahirkan hanya umi tak peka ia taunya alira akan melahirkan.


" mana cuci aki nih". Abi langsung mendekat.


" Barra adzani dulu ya ". semuanya mengangguk.


dengan suara serak menahan tangis Barra adzan di telinga bayi perempuan yang mungil itu. Umi memegang erat tangan Abi ia pun menitikkan air mata haru.


" gimana keadaan mu nak". umi mendekat mengusap kepala alira .


" Alhamdulillah baik umi".


" terima kasih atas perjuangan mu memberikan umi cucu."


" iya umi semua juga berkat doa umi." kasih sayang antara mertua dan menantu begitu lekat.


Setelah subuh Fauzan pun bergegas ke kampung untuk menjemput emak, emak kaget subuh-subuh ada mobil terparkir di halaman.


" assalamu'alaikum". ucap Fauzan sembari mengetuk pintu.


" wa'alaikumsalam". Fauzan terperanjat kala suara itu ada di belakang nya ia mengusap dada.


" astaghfirullah hal adzim". ucap Fauzan saking kagetnya.


" kenapa nak kamu kira Abah ini hantu "


" anak sekarang". Abah geleng-geleng kepala.


kemudian emak membuka pintu mendengar suara Abah dari luar.


" ada apa kamu subuh-subuh kemari Fauzan." tanya emak.


" Fauzan di suruh ustadz untuk jemput emak sama Abah".


" ada apa." tanya emak panik.


" ibu alira melahirkan Mak".


" Alhamdulillah sudah melahirkan atau mau melahirkan". tanya emak lalu.


" sudah Mak sekitar jam tiga tadi pagi." ucap Fauzan.


" ya sudah kamu tunggu ya emak siap-siap pisan." ucap emak. Fauzan mengangguk.


" Abah ke dalam dulu ganti baju, awas ada hantu". Fauzan begidik.


" bener tah di sini banyak hantu bah". Abah tak menjawab ia berlalu masuk sembari terkekeh.


" anak muda sekarang sama hantu takut sama Allah tak takut". gumam Abah.

__ADS_1


Tekek...


" Abah..." Fauzan kaget kala suara tekek tiba-tiba terdengar keras.


" naon Fauzan". emak keluar ikut kaget.


" suara apa itu Mak".


" itu binatang tekek Fauzan ia tak akan gigit kamu tinggalnya di atap". Abah yang tau hanya tertawa


" oh, Fauzan kaget emak".


" kamu itu sopir kenapa bisa takut gimana jika pulang malam".


" Fauzan selalu sama ustadz Abah".


" berdzikir kala di perjalanan Fauzan, takutlah hanya kepada Allah saja. Hantu tak akan berani mendekati mu, buang rasa takutmu itu". ucap Abah.


" iya Abah, tadi Fauzan cuma kaget saja." Abah mencebik masih saja Fauzan ngeles.


" Sudah yuk berangkat emak sudah tak sabar mau liat cucu emak. pasti Cantik kayak emak." Abah menutup mulutnya menahan tawa.


" siapa dulu Nini nya pasti lah cantik ". ucap Abah agar emak jadi bunga, sudah tak tau itu hidung emak kembang kempis tak karuan.


Fauzan ikut tertawa.


" kamu sudah menikah nak Fauzan." tanya Abah.


" belum Abah".


" kenapa." tanya Abah.


" belum ada jodohnya".


" siapa bilang nak kan sudah ada".


" belum Abah, siapa yang mau sama Fauzan hanya seorang sopir gini".


" eh jangan gitu ya pekerjaan halal begini tak boleh di remehkan Fauzan." ucap emak tak suka saja, Fauzan sama saja menyamaratakan wanita.


" iya nak jangan menyamakan wanita, contohnya nih emakmu apalah Abah ini yang tak punya pekerjaan tetap tapi karena emakmu ini sudah yakin jika Abah jodohnya Alhamdulillah kami bahagia. kebahagiaan tak hanya di nilai oleh harta saja nak, pasti nanti ada wanita yang tulus mencintai mu tanpa melihat materi". ucap Abah.


" maaf Mak bukan maksud Fauzan menyamakan wanita, yang tadi bah kata Abah jodoh Fauzan sudah ada mana bah".


" ya ada, sudah tertulis di lauhul Mahfudz". emak terkekeh.


" kirain Abah tau*.


" ya tau di lauhul Mahfudz pasti udah di siapkan tinggal bagaimana kamu memantaskan diri untuk jodohmu saja. Tak perlu risau soal jodoh karena sudah di siapkan fokus saja untuk perbaikan diri kamu nak.". Fauzan mengangguk mengerti maksud Abah karena itu juga sering ustadz Barra sampaikan untuk mengisi kajian.


__

__ADS_1


bersambung


__ADS_2