
Begitu menerima panggilan dari Amel, Nita dan Ratih langsung datang. mereka ingin melihat tempat tinggal Alira yang sekarang, tak jauh dari madrasah tempat mereka menimba ilmu dulu.
" ya Allah lir aku ngga kebayang kamu bisa jadi istri dari ustadz Barra". Nita menelusuri rumah alira, ia juga jalan kebelakang.
" iya lir, cerita gimana hari-hari mu bersama ustadz barra". benar-benar penasaran Ratih ia membuka telinga nya lebar ingin mendengar cerita alira.
" Hari-hari ya biasa kita lalui bersama, memang nya apa." kata alira santai ia memakan makanan yang Nita bawa.
" ih alira kamu ngga asik sedikit dong cerita sama kami".
" apanya yang mau di ceritakan, aku ya sekarang gini cuma tungguin suami pulang." alira masih mengunyah dengan santai.
" masa tak ada yang spesial sih lir, udah ehem ehem kan."
" Rahasia..." selalu itu yang alira ucapkan membuat penasaran teman-teman nya padahal mereka ingin tau cerita alira menjadi seorang istri.
" Ra kamu masak apa". tanya Nita ia membuka tudung saji.
" Itu masakan ustadz Barra aku belum pandai memasak".
" Ustadz barra yang masak." alira mengangguk.
" MasyaAlloh lir kok bisa kamu malah jadi ratu".
" yah begitulah semua ustadz mengerjakan ".
" ngawor kamu lir, kenapa ustadz Barra yang justru mengerjakan ".
" Dia memintaku untuk duduk diam, ya sudah aku duduk santai aja liat ustadz masak"". teman-temannya geleng-geleng kepala.
"Bahagia ya lir aku senang liat kamu bahagia". ucap Amel ia yang paling dekat dengannya.
Hampir tiga jam mereka ngobrol hingga sebentar tau-tau sudah siang, ketiganya rencana pamit takut ustadz Barra segera pulang karena di sekolah hanya mengawas murid ujian akhir semester ustadz Barra pasti akan segera pulang. mereka tak enak jika bertemu ustadz Barra, takutnya mengganggu Alira dan Barra.
__ADS_1
Baru saja keluar dari pintu, motor ustadz Barra datang. mereka melihat kemana motor ustadz Barra yang kini menjadi suami temannya itu berhenti. Seperti biasa Ratih yang akan melongo melihat ketampanan ustadz Barra. Ustadz Barra turun lalu meletakkan helm nya ia senderkan motor di tempat biasanya.
" Amel, Nita, Ratih sudah mau pulang kalian". tanya barra mendekati alira.
" iya ustadz kami sudah sejak tadi, pamit ya ustadz". kata Ratih namun masih berdiri melihat Barra tanpa berkedip tak beranjak sedikitpun.
" Kami sudah dari tadi ustadz, maaf tidak izin dulu jika mau bertemu Alira kami sengaja mau bikin kejutan untuk alira." Amel pun tak ingin ustadz barra memarahi alira.
" Sering-sering main ke sini, alira tak ada temannya". kata barra mendekat ia merangkul bahu Alira, membuat Ratih melongo ia geregetan.
" iya ustadz insyaAlloh jika kami belum sibuk, kami masih mengurus masuk perguruan tinggi ".
" Baguslah raih cita-cita kalian, belajar yang bener". mereka bertiga mengangguk.
" Kami pamit ya ustadz, lir aku pamit". alira mengangguk tersenyum.
Ketiganya lalu pergi dengan motor masing-masing, alira melepas kepergian teman-temannya ada rasa sedih wajahnya sendu. Barra menangkap dari bola mata alira yang sedikit mulai berembun.
" masuk yuk istirahat sebentar, sebelum Zuhur". barra menggandeng alira masuk ke dalam.
" tadi saat alira selesai shalat duha". Barra bangga kini tanpa ada dirinya alira sudah mau shalat duha sendiri.
Alira membantu Barra meletakkan tas yang di bawanya ke sekolah, lalu ia menyiapkan baju ganti milik Barra.
" tak usah pakai baju aku gerah Ra". barra hanya menyahut celana boxer nya ia ganti di kamar itu, alira berbalik ia memejamkan mata.
" kenapa mejem semalem sudah tau semua kan, halal tak perlu begitu." Barra terkekeh alira malu ia hanya diam.
Barra kemudian mendekat setelah ia selesai, ia membuka jilbab alira membuat alira kaget. Lalu barra melepas kancing gamis milik Alira.
" mau ngapa mas, ini masih siang." Barra tertawa di lihatnya alira yang takut-takut.
" Emang mau ngapain jangan suudzon sayang, kalau tidur ganti pakaian nya jangan pakai gamis". kata Barra.
__ADS_1
" Kan mas yang minta alira pakai pakaian begini."
" iya jika di luar rumah, tapi ketika mas di rumah pakai pakaian yang menggoda dong." alira mengerutkan keningnya ia bingung. Barra masih berusaha melepaskan gamis Alira.
" Cuaca panas sayang pakai ini saja ". Barra mengeluarkan daster emak-emak zaman now yang anyes dipakai siang hari dengan potongan lengan pendek dan panjang baju di bawah lutut.
" mas kok alira punya baju begini, perasaan kemarin kita ngga beli baju ini."
" hadiah untuk mu sayang, tuh ada di lemari empat potong." alira mendelik namun ia tersenyum hatinya bahagia barra memperlakukan alira begitu sayang nya.
" Tadi Amel dan yang lainnya kuliah di mana sayang ". tanya barra mencair kan suasana.
" ke kampus Ma'arif mas dekat sini saja, mereka kan perempuan mungkin orang tuanya tak mengizinkan jika jauh."
" oh, kamu tak ingin kuliah." alira hanya menggeleng bukan maksud tak mau tapi keadaan orang tua nya dulu yang pas-pasan, alira tak ingin memberatkan beban orang tuanya. sedangkan adiknya masih butuh biaya di pesantren tiap bulannya.
" Ra besok kita juga daftar ya ke sana ya." alira menoleh ke arah barra, saat ini mereka sedang tidur bersisian.
" mas Barra mau kuliah lagi." tanya alira penasaran.
" tidak tapi kamu".
" alira mas..." alira terkejut Barra mengangguk. tak di sangka nya ia akan bisa melanjutkan pendidikan.
" tapi mas,.alira..."
" udah jangan bilang tapi, pendidikan itu penting untuk mu. Tak harus menjadi apa, kamu harus punya ilmu, madrasah terbaik bagi seorang anak adalah di rumah orang tuanya. mas mau anak-anak kita menjadi anak yang baik Ra, dari tangan sendiri kita yang mendidik nya. ".
" terima kasih ya mas". tes... air mata alira langsung menetes tak di sangkanya ia akan bisa kuliah. Barra mengusap air mata alira ia tau alira terharu lalu Barra menarik ke dalam pelukannya.
" Jangan nangis mas tak mau air matamu tumpah, kita belajar sama-sama. perjalanan kita masih panjang Ra ini adalah awal dari semuanya. Dampingi mas ya hingga maut yang akan memisahkan kita, takdir itu memang tak sesuai dengan yang kita mau tapi kita harus percaya jika apa yang Allah takdirkan untuk kita itu adalah yang terbaik menurut Allah.". Barra mencium puncak kepala alira kemudian ia memejamkan mata. Alira pun mencari tempat ternyaman tidur di pelukan Barra.
Tak ada yang lebih indah dari takdir yang Allah berikan untuk kita, siapapun pasangan yang Allah takdirkan untuk kita dialah yang terbaik. Terima semua kelebihan dan juga kekurangan nya dengan ikhlas. Allah tau yang terbaik untuk mu.
__ADS_1
__
bersambung