
Preng...meong...meong...
Barra dan alira pun langsung kaget mendengar sesuatu yang jatuh, alira langsung berpaling ia membelakangi barra namun barra langsung berdiri lalu keluar mau mangusir kucing. Di lihatnya Abah yang sedang minum, karena rumah kecil jadi suara dari dapur pun akan terdengar hingga ke kamar.
"tadi kucingnya loncat mau nangkap tikus, maaf ya jadi ganggu istirahat nak Barra ". ucap Abah.
" iya Abah tak apa, barra hanya ngontrol saja kucingnya warna apa ". ucap Barra lalu ia pamit untuk masuk kamar lagi.
Di lihat nya alira yang sedang tertidur menghadap dinding, Barra mencoba melihat. Alira sudah mendengkur halus, barra garuk-garuk kepala aksinya malam ini gagal. Barra mendekat ia mengecup kepala alira, di letakkan nya tangan Barra ia lingkarkan di perut alira.
" Mudah-mudahan dia tak marah aku hanya sedikit saja mendekat, raba dikit halal kan pembaca". barra terkekeh lalu memejamkan mata.
__
Pagi menjelang seperti biasa Barra bangun untuk melaksanakan shalat malam, perlahan ia bangunkan Alira. Alira menggeliat ia lalu membuka mata dengan malas, ia tak pernah melakukan ini sebelumnya tapi beberapa hari setelah menikah dengan Barra hal itu rutin karena barra membangun kannya setiap malam.
Alira duduk barra kemudian merapikan rambut nya, terlihat lebih alami ketika alira bangun tidur. alira sebenarnya malu ini pertama kalinya alira menampakkan rambutnya di hadapan Barra. Barra sudah berjanji tak akan menyentuh nya tanpa seizinnya. Namun alira mendapat ceramah dari emak bahwa kewajiban istri itu melayani suaminya.
Meski pernikahan nya dengan barra yang tak di inginkan tapi bagaimana pun juga alira dan Barra tak bisa menolak takdir. Campur tangan Allah yang mempersatukan mereka dalam ikatan suci pernikahan. Barra sudah berjanji pada dirinya saat ijab kabul berkumandang ia akan mencintai alira dengan hatinya yang tulus.
" Sholat dulu ya Ra." alira hanya mengangguk ia lalu turun namun Barra mencegah di rapihkan nya rambut alira menggunakan sisir lalu ia ikat. Leher jenjang alira terlihat sangat jelas putih dan mulus membuat barra kembali menelan ludah. Cepat-cepat Barra menyuruh Alira untuk berwudhu terlebih dahulu tak ingin kelakiannya memberontak.
Barra sudah menyiapkan sajadah, mukena serta pakaian shalat untuk nya. Shalat malam itu kembali mereka laksanakan berdua. Setelah selesai barra menahan alira, ia ingin bicara dengan alira dari hati ke hati. Di pegangnya kedua tangan alira, tangan alira dingin alira pun menunduk sumpah jantungnya mulai berdetak tak normal lagi. Alira gugup berbeda dengan Barra yang ingin membiasakan hal manis bersama istrinya.
" Ra bisakah kamu menerima mas Barra menjadi suamimu seutuhnya, meski awal pernikahan kita tak adanya cinta. Bisakah kamu juga seperti diriku belajar mencintai pasangan dengan tulus. mencintai pasangan adalah sebuah kewajiban Ra. Hari ini kita akan pindah, di rumah kita nanti mas ingin kita sama-sama belajar memulai hidup baru menjadi sebuah pasangan sesungguhnya. Ra aku mencintaimu". ucap Barra ia memegang dagu alira agar mata alira bertatap dengan matanya.
__ADS_1
" Tapi ustadz alira..."
" Semua butuh belajar alira, inilah takdir kita menjadi pasangan".
" Bismillah, Ajari Aku Ustadz. ajari alira untuk menjadi istri saliha, maafkan alira jika belum bisa melayani ustadz dengan baik". Alira berusaha untuk berani menatap mata Barra dengan tajam.
" insyaAlloh aku akan mengajari mu, kita sama-sama belajar dari awal ya. Belajarlah untuk menerima ku, perlahan tapi pasti". alira mengangguk, Barra ingin mel***at bibir itu namun ia tak berani takut alira marah kemudian Barra hanya mengecup keningnya alira pun memejamkan mata merasakan lembutnya ciuman suaminya.
" Kita mulai belajar menghafal ya." Bola mata alira membulat itulah yang ia takutkan dengan Barra pasti ia akan di paksa untuk menghafal.
" tapi ustadz ..." alira garuk-garuk kepala ia paling tak suka menghafal.
" Aku tak punya rotan untuk mu alira, kita sama-sama belajar menghafal. Mas ingin kamu jadi istri mas yang saliha, mas tak akan memaksa sedikit saja pasti kamu bisa. Jika mas tak melakukan ini pertanggung jawaban mas ketika di akhirat nanti lebih berat Ra, di sini aku seorang ustadz selain mengajarkan kepada orang lain aku juga wajib mengajarkan pada istriku. Istri adalah madrasah bagi anaknya, mas mau kamu nanti melahirkan anak-anak mas dan bisa mengajari anak-anak kita menjadi pribadi yang baik. Mau ya kita coba, untuk urusan belajar membuat anak itu nanti ketika kita di kontrakan saja". Wajah alira merona ia malu, ia reflek mencubit Barra.
Kemudian perlahan alira mulai menghafal di tuntun oleh Barra, sungguh indah hal ini alira mulai menyukainya. Satu surah pendek alira murajaah, Barra membenarkan makhrojul huruf juga tajwidnya.
___
Barra sudah memasukkan beberapa pakaian ke ransel nya, pakaian nya juga alira. Barra melarang alira untuk membawa pakaian yang mana Barra tak suka jika alira memakai nya. Semua sudah ia masukkan cukup jika hanya di bawa dengan menggunakan motor saja.
" Abah, emak alira pamit ya." tes, air mata itu menetes sebenarnya tak ingin alira terlalu cepat meninggalkan rumah orang tuanya. Adik alira masih menuntut ilmu di pesantren dan tidak pulang jika tak lebaran, orang tuanya tak punya ongkos jika harus pulang bolak balik.
" Baik-baik ya nak jaga dirimu, nurut sama suami dan cepat bikinkan emak cucu". ucap emak.
" tenang Mak itu pasti." celetuk barra.
__ADS_1
" Abah, hiks..." Alira menangis Abah adalah laki-laki pertama yang ia cintai.
" anak Abah ngga boleh nangis, Abah tuh bahagia kamu ngga ninggalin Abah kapanpun bisa ke sini Abah juga bisa menjengukmu. udah jangan nangis ya". Abah mengusap air mata Alira ia ingin menguatkan Alira. bahwa anak perempuan memang seharusnya ikut dengan suaminya.
Kemudian barra pamit kepada Abah dan emak.
" Titip alira ya nak, bimbing dia menjadi istri mu".
" insyaAlloh Abah, sudha menjadi kewajiban Barra.". Abah memeluk menantunya itu.
" emak juga nitip Alira, ajari ia ya. alira belum bisa apa pun".
" beres Mak, barra siap untuk ngajarinnya. Barra minta restu ya Mak Abah, supaya rumah tangga kami bahagia sakinah mawadah warahmah".
" aamiin".
Barra lalu melajukan motornya, alira di atas motor masih menangis. Di tariknya tangan alira agar melingkar di perut barra, barra mengusap-usap agar alira tenang. ia tau jika ini adalah pertama kalinya alira pergi meninggalkan rumah orang tua nya.
___
bersambung
mohon beri penilaian untuk novel ini ya pembaca, berikan bintang 5 😁
terima kasih.
__ADS_1