
Makan malam berlangsung dengan sup bayam dan tempe goreng, terasa nikmat Barra dengan lahap memakan nya. itu adalah bentuk suami menghargai jerih payah istri, meski jujur tak sesedap masakan uminya, istri ustadz Yusuf ataupun emak. Tapi Barra sungguh sangat menghargai lelahnya Alira. alira tersenyum senang melihat suaminya lahap.
" Masakanmu enak Ra, kamu belajar dari mana". tanya Barra.
" Alira belum belajar ustadz cuma liat emak saat masak aja".
" Hanya perlu di latih saja pasti nanti kamu bisa masak yang lainnya ".
" iya ustadz, alira akan terus belajar."
Cup satu kecupan mendarat tapi bukan pipi lagi barra lebih berani ke bi*** manis milik alira. alira mendelik untuk pertama kalinya merasakan kecupan dari Barra.
" sekali lagi aku ngga akan lepaskan kamu Ra." Alira sontak langsung menutup mulutnya, Barra langsung terkekeh.
Hujan gerimis mulai turun, alira mengusap-usap lengannya karena kedinginan ia sedang menunggu Barra. Barra sedang menyelesaikan buku-buku nya, besok ia harus mengajar.
" tidur dulu saja Ra, mas masih banyak yang harus di selesaikan."
" tak apa ustadz alira ke kamar dulu ya." sontak alira ingat ia memanggil ustadz lagi, lalu ia sedikit berlari masuk ke kamar takut Barra menagih hukumannya. Barra tertawa sembari geleng-geleng kepala melihat alira berlari.
Suara hujan makin deras, barra membereskan bukunya ia kedinginan lalu masuk ke kamar. Dilihat nya alira yang mengusap-usap lengannya karena terasa dingin. Barra melihat alira belum tidur ia masih membaca buku, buku milik Barra ia letakkan di susunan meja belajar.
" kok belum tidur Ra". Barra berganti pakaian nya dengan menggunakan kaos tipis dan celana boxer.
" Belum, masih ingin baca. buku-buku ini bagus untuk Alira baca ".
__ADS_1
" iya baca saja bisa kamu pakai untuk belajar ". Barra mendekat ia mengambil buku yang di pegang alira, niat Barra hanya ingin memberi tahu bab yang bagus untuk di baca alira.
Namun justru Barra dan alira semakin dekat tak sengaja alira menoleh, pas bibir mereka sama-sama menempel. Barra terdiam jantungnya semakin cepat memacu begitu juga dengan Alira. Nafas kedua nya memburu, naluri kedewasaan nya mulai muncul. Alira reflek ia langsung memejamkan matanya, Barra pun tak akan mungkin ia mundur di depannya halal baginya.
Ustadz juga manusia ia punya hasrat yang beberapa hari ia pendam melihat alira yang sudah halal belum bisa ia sentuh. Akhirnya ci**an itupun terjadi keduanya menikmati nya, mereka saling berbagi Saliva hingga memuncak barra tak tahan dengan hasrat nya semakin dan semakin menggila.
" Ra bolehkan malam ini aku meminta hakku sebagai suamimu." ucap Barra dengan berani ia mengucapkan nya, ini adalah hal pertama untuk nya. Barra melepaskan ciumannya ia membelai pipi Alira yang halus dan lembut.
Tak ada yang bisa alira ucapkan ia sungguh malu, alira hanya bisa mengangguk mengikuti nalurinya. ia pun menginginkannya sentuhan Barra bagaikan sengatan di mana alira ingin terus memintanya lagi.
Barra melafalkan doa berjima' kemudian perlahan Barra melepaskan pakaian tidur milik alira. Alira pasrah dengan apa yang Barra lakukan padanya. Perlahan pelan Barra memperlakukan alira secara lembut dan akhirnya penyatuan mereka terjadi alira meringis merasa kesakitan. Sesuatu yang ia jaga selama ini murni ia berikan kepada Barra suaminya.
akhirnya gol...
Tak ada yang bisa Barra ucapkan kecuali rasa syukur, alira malu ia menutup tubuhnya menggunakan selimut hingga ke leher. Barra terus mengucapkan terimakasih kepada alira. Barra mendekat di bukanya selimut yang menutupi Alira, kemudian barra memeluk alira ditariknya agar alira mendekat dengannya. Di dalam selimut yang sama keduanya masih dalam keadaan tanpa sehelai benangpun.
" hmmm...". alira masih malu ia tak mengucapkan kata-kata apapun. Alira mendekap di carinya tempat ternyaman tidur di pelukan suaminya untuk pertama kalinya.
" Sudah malam kita tidur supaya besok tak terlambat bangun." ucap barra ia mengeratkan pelukannya.
Di kamar kontrakan yang menjadi saksi dan hujan yang mengiringi kegiatan mereka malam itu penyatuan terjadi. Alangkah bahagianya Barra sukses menjadikan alira miliknya seutuhnya.
***
Karena sudah terbiasa Barra tetap bangun di jam yang sama, ia melihat alira yang masih tertidur pulas. Sengaja Barra tak membangunkan alira ia tau istrinya masih sangat lelah apalagi dengan kegiatan semalam pasti alira kelelahan. Rasa sakit pada daerah pusatnya masih terasa saat bangun nanti.
__ADS_1
Barra mandi, ia lalu shalat kemudian di lanjutkan dengan dzikir dan tilawah. Di lihatnya lagi alira, masih sama Alira masih mendengkur halus ia nyenyak tidur. Suara adzan berkumandang terdengar toa yang mengarah ke rumah Barra sangat keras. Alira mengerjapkan matanya ia terbangun lalu menggeliat ia baru ingat dengan apa yang terjadi semalam kembali alira menutup dirinya sekujur tubuh dengan selimut.
" Sudah subuh Ra bangun, mandi mas sudha siapkan airnya lalu sholat. mas ke masjid dulu ya kamu bisa jalankan."
" iya bisa mas." suara itu masih ada di dalam selimut, Alira enggan membuka selimutnya ia malu.
Barra pun terkekeh ia lalu pergi ke masjid dekat rumahnya. Di jalan Barra sembari senyum-senyum, sepenuhnya cintanya sudah ia serahkan untuk alira. Kini Aisyah sudah tidak ada dalam hatinya, perlahan Barra sudah bisa menghapus nya di hati. Sekarang hanya nama alira yang memenuhi hati nya.
Alira cepat-cepat ia mandi setelah Barra pergi ia takut jika Barra pulang ia belum mandi. Alira meringis merasakan sakit yang ia rasakan 'perih' itulah kata yang cukup ia lontarkan. Alira menarik selimut juga sprei untuk di bawanya ke dalam kamar mandi untuk nanti di cucinya, ada bercak darah bukti keperawanan nya sudah di ambil oleh suaminya.
Barra mengikuti kajian subuh terlebih dahulu, alira di dapur membuat kan minuman kopi untuk Barra. Karena merasa sedikit susah berjalan lalu Alira duduk ia tak jadi langsung memasak.
Barra pun pulang ia masuk di lihatnya alira yang sedang duduk. Ia langsung menghampiri mengusap kepala dan mencium kepala adalah hal yang ia sukai. Alira tersenyum ia Salim kemudian ingin berdiri tapi ia meringis, pusat tubuhnya terasa nyeri. Barra meraih lengannya di dudukkan nya alira.
" Tak usah masak biar mas saja yang masak, mas saja yang lakukan pekerjaan rumah kamu diam di sini." ucap Barra ia kasihan melihat alira.
" tapi mas...
" tak apa kamu begini karena perbuatan ku, sakit ya mas minta maaf ya Ra ". alira malu wajahnya merona.
" Tak ada yang paling indah bagi suami ketika istri melayani nya dengan baik, sekali lagi terima kasih ya jauzati". Barra menunduk ia memegang dagu milik alira yang sedang tersipu malu. Bahagia kini di rasakan oleh keduanya cinta itu tumbuh dengan sendirinya pada yang halal.
__
bersambung
__ADS_1
Kasih vote dan hadiah paling banyak 🙈
jangan lupa komentarnya, karena komentar kalian yang membangun penulis untuk bersemangat menulis.