Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Part 71


__ADS_3

Alira menghela nafas hari ini cukup lelah baginya, mungkin karena perutnya sekarang yang sudah membesar jadi membuat alira sering kelelahan. alira duduk menyandar kan kepalanya di ranjang, ia sedikit meringis badannya terasa berat.


Barra masuk tersenyum melihat istrinya sembari membawakan satu gelas juz alpukat. Dokter menyarankan alira untuk minum juz alpukat karena saat di lakukan USG berat badan bayi alira di umur kehamilan nya yang sekarang kurang. Barra dengan sabar tak lupa ia memperhatikan istri tercintanya itu.


" di minum dulu sayang." barra menyodorkan ke bibir alira.


" terima kasih mas". ucap Alira.


setelah selesai satu gelas di teguk oleh alira barra meletakkan gelas di meja lalu memijit kaki istrinya ia tau alira pasti lelah.


" Jangan mas, alira tidak apa-apa. mas istirahat saja nanti sore katanya ada kajian remaja." ucap Barra.


" kamu diam saja dan istirahat mas hanya ingin memijit kakimu, masih nanti sore kajiannya ini masih siang sayang ya nanti mas istirahat sebentar ". ucap Barra.


Alira tersenyum melihat suaminya, ia makin terpesona dengan wajah barra yang tampan apalagi bulu-bulu halus di rahang nya makin tebal membuat alira jadi suka. barra semakin terlihat berwibawa, melihat istrinya yang menopang dagu tersenyum melihatnya barra mengerutkan keningnya.


" kenapa senyum-senyum sendiri, ada apa dengan mas." ucap barra ia memegang kening istrinya yang tak henti menebarkan senyum untuk dirinya.


" tidak apa-apa, dulu alira hanya bisa menatap dari kejauhan tapi alira tak suka".


" kenapa tak suka padahal mas ini jadi guru idaman loh". Alira terkekeh suaminya menjinjing kerah bajunya menunjukkan kemachoannya.


" tak suka saja saat itu mas di kagumi banyak orang mungkin hanya alira saja yang tak tertarik dengan ustadz tampan ini. Bukan tipe alira saja karena mas tampan, wajah mas di nikmati banyak orang. "


" itu bukan tak suka sayang tapi kamu cemburu". alira membelalakkan matanya.


" cemburu, isshhh... tak pernah dalam hidup alira punya rasa cemburu sama seseorang".


" la itu tadi kamu mengatakan nya sendiri".

__ADS_1


" bagian kalimat yang mana, emang alira ngomong apa mas".


" itu tadi kamu mengatakan jika wajah mas terlalu di nikmati banyak orang itu artinya kamu cemburu rasa tidak sukamu dengan hal itu merupakan rasa cemburu". kata barra tak mau mengalah.


" bukan begitu mas, alira tak suka dengan wanita-wanita centil yang suka ngomongin mas Barra".


" nahkan lagi kamu cemburu, dengan tidak sengaja kamu cemburu sayang. ketampanan ini anugerah buat mas, lalu bagaimana apakah mas akan marah sama pencipta di miliki wajah tampan. Tapi mas tak akan menggunakan nya dengan hal yang tak baik. mas bersyukur ini namanya takdir yang tak bisa kita menolaknya".


" alira tapi tak suka mas, apalagi banyak orang yang saat ini terkagum-kagum sama mas Barra ". alira cemberut tak bisa di pungkiri memang suaminya termasuk ustadz muda yang menjadi sorotan banyak di kagumi kaum hawa. barra terkekeh Istrinya merajuk sangat lucu.


" Kamu tau, ada desiran saat pertama kali mas melihat mu tapi mas menolaknya takut jika itu hanya perbuatan setan saja. tapi kini mas bahagia bisa memiliki istri seperti mu, tak hanya cantik tapi juga pintar juga saliha " alira tersipu malu pipinya merona merah.


" mas janji tak akan berpaling dari alira, jikapun mas nantinya mau menikah lagi mas harus katakan dulu sama alira jangan diam-diam di belakang ". tes... air mata alira menetes, ia begitu sensitif saat hamil.


" eh kok nangis, tak akan sayang insyaallah mas akan hanya punya istri satu seorang. makanya jangan sok kuat dengan sengaja memberikan mas pada wanita lain". barra mengusap air mata alira.


" Bukan sok kuat mas tapi alira tak tega melihat mba Aisyah juga kedua orang tuanya ".


" alira minta maaf mas". barra tersenyum lalu mengajak nya untuk istirahat sembari mengusap perutnya yang membesar sesekali bayinya menendang-nendang.


___


Fadil hanya menghabiskan waktu libur nya di rumah saja menemani istrinya, masa kemoterapi Aisyah memang belum berakhir masih dua kali lagi. Fadil begitu telaten merawat Aisyah meski ada suster tapi saat Fadil di rumah semua Fadil yang melakukan nya.


" sudah mas, Aisyah mual". ucap Aisyah saat Fadil menyuapi Aisyah.


" nanti di makan lagi ya sayang, sabar ya nanti juga sembuh tak apa sedikit-sedikit saja makannya ".


" maaf ya mas harus merepotkan terus mas Fadil". Fadil mengusap kepala Aisyah lalu menciumnya.

__ADS_1


" tidak sayang mas merasa tidak di repotkan mas senang bisa merawat mu, demi Allah mas bahagia. jika menikah hanya karena nafsu saja mas tak akan mungkin mau menikahi mu. tapi tidak, mas mencintai mu tulus. cinta mas karna Allah bukan karena nafsu belaka, justru mas yang bahagia bisa memiliki bidadari seperti mu memandang mu tanpa ada dosa lagi".


" terima kasih ya mas".


" iya, sama-sama. sudah jangan pikirkan itu lagi ya. sekarang yang kamu pikirkan cepatlah sembuh kamu harus semangat untuk sembuh." Aisyah tersenyum bahagia. benar Fadil sangat tulus, terlihat dari bukti yang ia berikan merawat Aisyah dengan sabar.


" Besok ke butik yuk kita keluar jalan-jalan sebentar. besok mas dinas siang jadi pagi kita bisa ke butik cari baju, mas pengen belikan kamu baju".


" baju Aisyah sudah banyak mas lagian sekarang Aisyah tak pernah keluar tak perlu beli baju". ..


" beli baju tak harus di pakai untuk keluar rumah sayang, di rumah kamu juga harus tetap tampil cantik biar mas kangen terus." Aisyah terkekeh.


" Aisyah tak pandai bersolek mas."


" tak perlu bersolek sayang, mas suka dengan wajahmu yang murni alami seperti ini. kamu tetap cantik terpancar dari sinar aura mu". Aisyah menyandarkan kepalanya di bahu sang suami saat ini mereka sedang ada di kamar duduk bersandar kan kepala ranjang. Fadil mencium puncak kepala Aisyah.


" memang besok mau ke mana mas, apa mas tak malu jalan dengan Aisyah ".


" malu kenapa, jalan sama istri sendiri kok malu. kita besok ke butik nya alira saja istrinya Barra ".


" alira punya butik".


" iya, mas lupa tak bilang padamu. Butiknya ada di sebelah supermarket nya Barra, ada beberapa baju yang di desain oleh alira sendiri loh mas ingin membelikan nya untuk mu".


" masyaallah anak itu memang istimewa ya, pantas sekali bersanding dengan mas Barra ".


" istri ku Aisyah juga istimewa sangat pantas sekali bersanding dengan dokter Fadil". Aisyah kembali tertawa, Fadil selalu bisa membuat hatinya berbunga-bunga.


Keduanya lalu istirahat setelah makan dan minum obat Aisyah selalu di liputi rasa kantuk.

__ADS_1


__


bersambung


__ADS_2