
Pagi yang dingin karena gerimis membuat alira malas untuk bangun karena kepalanya yang masih pusing. Barra sengaja membiarkan alira tak bangun karena ia tau jika alira sedang tidak solat, Barra ke masjid untuk shalat subuh.
Alira menarik selimutnya ketika ada angin yang berhembus dingin melewati celah ventilasi kamarnya. Ia tau jika Barra masih ada di masjid, namun kali ini Barra langsung pulang ia tak mendengarkan kajian terlebih dahulu.
Di bukanya kamar yang tak terkunci ia melihat alira masih meringkuk tubuhnya tertutupi selimut tebal. Hawa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. Barra membuka sedikit selimut yang menutupi kepala ia ingin mengecek keadaan alira.
" dingin mas jangan di buka." gumam alira yang masih meringkuk.
" Gimana sayang masih sakit ngga". tanya Barra.
" kepala alira masih pusing mas". alira sama sekali tak membuka matanya meski hanya sekedar melihat wajah sang suami.
Barra mendekat ia daratkan kecupan di kepala alira, merasa kasihan istrinya sakit.
" Nanti ke dokter ya biar lekas sehat".
" alira ngga mau mas nanti juga sembuh".
" ya udah kalau gitu mas panggilkan Abah dan emak ya, "
" jangan mas, alira ngga apa-apa hanya pusing. Jangan kasih tau Abah dan emak nanti mereka khawatir ". ucap alira ia membuka selimutnya berusaha untuk duduk meski sulit karena sedikit lemas.
" Terus gimna, di ajak ke dokter ngga mau. mas ngga bisa nyembuhin kamu, mas ngga mau berlarut melihat mu sakit Ra ".
" ya udah alira mau ke dokter tapi janji ngga di suntik ya".
" iya sayang, ngga akan di suntik cuma mas yang berhak nyuntik kamu ".
" ih ustadz juga bisa mesum ya".
" Mesum sama istri itu ngga dosa malah dapat pahala". Alira mencebik barra pun terkekeh.
Umi mengetuk pintu ia membawakan minuman jahe hangat untuk alira, karena cuaca terasa dingin.
" Di minum ya biar badannya hangat, istirahat dulu ngga usah turun ke dapur". Walaupun alira tak pandai memasak tapi ia cekatan membangun umi.
" terima kasih umi". Ucap alira tersenyum lalu umi pamit turun ke bawah, barra di minta umi untuk mengambil sarapan nanti untuk alira.
Di peluknya alira oleh barra lalu ia memijit pelipis alira agar berkurang rasa sakitnya. Alira justru melingkar kan tangannya di perut Barra, ia nyaman berada di pelukan Barra suaminya.
__ADS_1
" Ra pulangnya tunggu kamu sembuh ya, masih betah ngga di sini". ucap barra.
" Betah mas, alira suka juga di sini ".
" Tapi mas kalau lama-lama ngga suka,". alira memicingkan matanya.
" kenapa kan ini di rumah orang tua mas".
" Ngga bebas kalau di rumah sendiri kan bebas jahilin kamu." alira tertawa ternyata suaminya yang seorang ustadz sangat lucu.
" ya udah besok kita balik ke rumah ya mas, pasti udah kotor hampir satu minggu kita tinggal ".
" Iya sayang, sarapan dulu ya mas ambilkan ". alira mengangguk.
Sebenarnya ia masih tak nafsu untuk makan, lidahnya masih terasa pahit. tapi alira tidak ingin mengecewakan barra suaminya, setelah ini mereka akan ke dokter terlebih dahulu.
" makan yang banyak biar lekas sehat kita bisa pulang ". alira membuka mulutnya saat nasi sudah Barra sodorkan di depan mulutnya. dengan sangat telaten barra menyuapi alira.
___
Dokter Zaskia memeriksa alira, tangan alira dingin karena takut sejak tadi ia memegang erat tangan Barra. Dokter Zaskia tersenyum ia tau ketakutan Alira.
" Rileks ya saya periksa dulu tekanan darahnya".
" Tidak ada apa-apa dok istri saya."
" tidak, mungkin kelelahan saja. Minum susu bisa mempercepat penambahan darahnya. Supaya badannya juga lebih berisi biar tak terlalu kurus begini ". ucap dokter Zaskia.
" Baik dok, terima kasih "
" Di minum obatnya teratur ya istirahat yang cukup jangan di forsir jika memang lelah sekali". alira mengangguk.
Alira dan Barra lalu pamit ia keluar dari ruangan dokter Zaskia, di perjalanan mereka bertemu dengan Fadil temannya. Fadil pun memanggil kedua nya.
" Barra "
" Fadil, kamu bekerja di sini juga".
" iya Alhamdulillah aku di tugaskan di sini". Fadil tersenyum.
__ADS_1
" syukurlah lebih dekat dari rumahmu ". Barra dan Fadil berjalan berinya, sebenarnya Fadil selesai untuk tugas hari ini tapi ia belum pulang masih meninjau Aisyah.
" Ketemu dokter Zaskia wah cepet banget udah ngisi tokcer kamu nih Barra".
" Aamiin, Alhamdulillah doakan saja ya semoga lekas". alira yang mendengar nya pun tersenyum, barra menggandeng alira dengan menggenggam tangan nya erat.
" Dinas pagi kamu Fadil".
" sebenarnya tidak, aku dinas malam tapi karena Aisyah semalam di rawat aku belum pulang tunggu hasil tes keluar nanti".
" Aisyah maksud mu". Barra berhenti dari langkah nya.
" iya Aisyah semalam pingsan ia di rawat di sini, kamu mau menjenguk nya ayo ada di ruangan mawar VIP". Barra menoleh ke alira meminta persetujuan nya, alira pun mengangguk mumpung mereka ada di rumah sakit.
Kemudian Barra Fadil dan alira pun jalan menuju ruangan Aisyah, mungkin perasaan itu kini sudah bergeser dengan adanya alira namun yang namanya seseorang itu pernah di cintai rasa itu masih ada meskipun sedikit. Ucapan salam dan terjawab oleh orang yang ada di dalamnya. Aisyah kikuk saat melihat Barra dan alira masuk ke dalam ruangan rawat inap nya. Barra dan alira Salim kepada kedua orang tua Aisyah, Aisyah menggeleng memberi isyarat kepada Fadil ia tak ingin Barra tau semuanya.
" Ada di sini nak Barra ".
" iya umi, alira sedang tak enak badan jadi Barra membawanya menemui dokter Zaskia".
" wah mungkin memang alira sedang ngisi itu".
" Alhamdulillah umi doakan saja". alira hanya diam saja mendengar interaksi mereka berbicara karena alira memang tak mengenal nya. Alira lalu mendekati ranjang di mana Aisyah sedang terbaring.
" sakit apa mba, padahal kemarin siang kita bertemu". ucap alira ia bersalaman dengan Aisyah.
" tidak apa-apa hanya pusing sibuk ngurus skripsi". Aisyah menyunggingkan senyumnya.
" Di jaga kesehatan nya mba jangan sampai over hingga lupa diri". Aisyah tersenyum dengan begitu ramah aura cantik meskipun pucat itupun muncul.
" Kamu alira sakit apa ke dokter Zaskia ".
" Semalam alira demam kata dokter hanya kacapean saja"
" kamu juga jaga kesehatan ". Aisyah tersenyum lagi terlihat begitu akrab mereka berdua.
" iya mba". alira juga tertawa.
Barra dan Fadil keluar ruangan ia membiarkan alira dan Aisyah berbincang, tak ingin juga Barra lama-lama melihat Aisyah hal yang kini tak halal baginya dan memandang nya hanya akan berdosa. Barra seorang ustadz tau akan hal itu, Aisyah kini hanya masa lalu nya saja alira lah yang berhak untuk ia pandang sepuasnya.
__ADS_1
__
bersambung