
Amel Nita dan yang lainnya sudah menunggu Alira di parkiran motor kampus, Alira bergegas pergi setelah ia selesai dengan kelasnya. Alira turun perlahan dari tangga, dari duduk lalu berdiri kepalanya terasa sedikit ngenyut.
" itu dia ibu nyai sudah datang." ucap Nita sembari terkekeh.
" kenapa kamu bilang ibu nyai".
" istri kiyai biasanya kan di panggil nyai". Nita tertawa di ikuti yang lainnya.
" alira bukan istri kiyai tapi istri ustadz tampan." kata Amel yang selalu mengingat suami temannya itu.
" bisa di gejek kamu sama alira jangan begitu nanti alira cemburu Amel".
" apa dia punya rasa cemburu ".
" pastilah namanya manusia." kata Nita menoel kepala Amel.
Alira pun mendekat ia menemui temannya yang sejak tadi menunggu.
" maaf ya aku terlambat, dosen ngasih tugas dulu sebelum kami keluar." ucap Alira langsung duduk di motor Amel.
" ngga apa-apa Alira yuk udah siang aku laper." ucap Amel ia menghidupkan mesin motor nya.
Tak ngebut hanya pelan saja mereka menikmati harinya, kafe tak jauh juga dari kampus. Suka di sana karena tempat nya yang sejuk adem juga tak nguras kantong untuk anak kampus seperti mereka.
" mau makan apa Ra." tanya Amel ketika mereka sudah duduk dan pelayan menunggu untuk mencatat pesanan mereka.
" apa ya aku mau sup ayam kampung saja jangan pakai nasi ya." ucap Alira kepingin makan makanan itu.
" apa kenyang tak makan nasi".
" lagi males makan nasi aku Mel".
" apa kamu diet badanmu kan sudah ideal, ustadz Barra saja langsung kesemsem." kata Amel, alira pun tersenyum.
" issshhh... kita lagi nongki jangan ngomongin suami dong." alira lalu ingat ia belum memberi kabar kepada barra, di ambilnya handphone di tasnya ia memberi kabar kepada barra jika sudah ada di kafe.
" lir penasaran sih gimana jadi istri ustadz".
" tuh kan ngomongin itu lagi, pokok nya indah deh tak seperti ustadz Barra dulu yang alira kenal sedikit nyebelin. tapi sekarang mas Barra itu manissss...".
" jadi kepingin cepet menikah aku". celetuk Amel.
__ADS_1
" ya udah besok aku bilang ke kennu ya". kata Nita, Amel justru malah tertawa.
" ngga lah nanti aku masih ingin puas bermain."
Pesanan pun datang mereka makan dengan lahap karena sudah lapar, di temani es jeruk yang manis. Hanya alira saja meski ia ingin makan makanan itu tapi ia seperti kurang bersemangat.
" alira..." panggil seseorang yang berjalan masuk ke dalam kafe. alira pun menoleh mendengar suaranya di panggil.
" mba Salma..." alira membalas senyuman alira.
" sedang apa kamu di sini ngga ikut Barra". kata Salma yang membuat alira bingung.
Alira permisi mengajak Salma berbicara namun jauh dari temannya, alira tak ingin temannya tau masalah rumah tangga yang ia hadapi.
" maksud mba Salma apa". ucap Alira ingin penjelasan.
" barra ke rumah sakit baru saja ia datang, kirain kamu juga ikut".
" oh ngga mba, alira ada janji sama teman alira. mba mau ke sana ".
" iya ini mba sedang membeli makan siang untuk orang tua Aisyah sembari keluar tadi ambil uang cash di ATM". ucap Salma.
" alira boleh nebeng mba ikut ke rumah sakit".
" sebentar ya mba saya bilang sama teman-teman dulu". perasaan alira sudah tak tenang, barra tak mengabari nya jika ia ke rumah sakit.
" oke saya juga pesan makanan dulu nanti mba panggil jika sudah selesai ". alira mengangguk.
" siapa lir".
" temannya mas Barra, aku izin ya mau ikut sama mba Salma ada urusan penting ".
" yah gagal nongkinya kita alira".
" maaf ya, lain kali kita nongkrong lagi. Aku tak bisa sebebas dulu maaf banget ya". di peluknya kedua sahabat nya itu.
" oke deh nanti pas Ratih libur kita nongkrong bareng dia juga." alira mengacungkan jempolnya, kemudian ia menemui Salma yang sudah memberi kode jika ia selesai.
Alira mengikuti Salma naik ke dalam mobil, masih ada banyak pertanyaan di kepala alira kenapa suaminya tak mengatakan jika ke rumah sakit.
" mba bagaimana keadaan mba Aisyah." tanya alira membuka obrolan.
__ADS_1
" masih sama ia belum sadarkan diri lir."
" ya Allah terus bagaimana keadaan nya mba, ".
" makanya barra di minta untuk menemui Aisyah siapa tau dengan ia mendengar suara Barra akan sadar ". ucap Salma.
" mudah-mudahan mba Aisyah lekas sehat". kata alira, namun sebenarnya hatinya...perih.
__
Fadil menatap Aisyah yang masih terdiam tak sadarkan diri. Melihat Aisyah yang semakin kurus membuat ia pun beberapa hari tak nafsu makan. senyum yang membuat Fadil jatuh cinta itu beberapa hari redup menghilang.
" Aisyah kenapa masih saja Barra yang kamu sebut, tak adakah mungkin laki-laki lain. begitu cinta nya kamu dengan Barra. Kamu tau Aisyah hingga kini cinta untuk mu masih ada. barra sudah mempunyai istri, aku ingin mengkhitbah mu kembali namun aku mundur sebelum melakukan nya mengingat kamu masih sangat mencintai Aisyah". Fadil mengatakan nya dekat di telinga Aisyah.
tak lama barra pun datang suara Aisyah terdengar lirih mengucap lagi nama Barra. Barra mendengar nya dengan telinga nya sendiri. kemudian Barra mengucapkan salam dan di jawab oleh Fadil. melihat banyak kabel yang ada di tubuh Aisyah membuat barra miris kasihan.
" Kamu mendengar nya tadi kan barra". barra mengangguk.
" Mungkin ia akan bangun jika mendengar suaramu Barra, setidaknya ada sedikit respon". kata Fadil ia lalu berdiri mempersilahkan barra duduk di samping ranjang Aisyah.
" saya akan coba ya Fadil bismillah". barra lalu mendekat kan wajahnya ke telinga Aisyah agar Aisyah bisa mendengar.
" Aisyah ini aku Barra, bangunlah apa yang ingin kamu katakan lekas sadarlah semua orang yang sayang padamu sedang menunggu mu Aisyah". lagi beberapa kali barra meminta Aisyah untuk bangun.
" mas barra...". ucapan itu terdengar lagi lirih.
Alira berada di pintu ia pun mendengar ucapan Aisyah.
" Bangun Aisyah kamu harus semangat untuk sehat kembali". ucap barra lagi. ada air mata yang menetes di mata Aisyah namun ia belum bisa membuka matanya.
" hentikan dulu barra, sudah cukup Aisyah merespon jangan paksa lagi." Fadil melihat air mata Aisyah.
Barra lalu berdiri menjauh, Fadil memeriksanya kembali.
" subhanallah detak jantung nya kembali normal setelah sebelumnya sedikit tersendat." kata Fadil ia senang Aisyah bisa merespon.
" terima kasih ya barra besok ku mohon datanglah lagi".
" insyaallah ". alira tak sengaja meneteskan air mata lalu ia pergi menjauh namun naas handphone yang alira pegang terjatuh dan itu terdengar oleh barra dan Fadil. Barra menoleh ia melihat alira yang akan keluar ruangan, dengan air mata yang menetes tanpa sengaja
" Alira....
__ADS_1
__
bersambung