
Seperti apa yang Fadil katakan jika ia akan mengajak Aisyah ke butik milik alira, butik itu tak jauh dari tempat tinggal mereka. Aisyah memang belum tau sudah lama ia tak keluar rumah, jika Fadil mengajak nya ia selalu tak mau dengan alasan lemas. sebenarnya bukan itu tapi malu dengan tubuh nya yang kurus, ia kasihan dengan suaminya Fadil jika jadi ejekan orang di luar.
Dokter spesialis kanker itu merawat istrinya yang terkena kanker juga, memang itu pilihan Fadil sendiri ia mencintai Aisyah sejak lama saat duduk di waktu SMA. Mungkin memang Allah yang memilihkan Fadil untuk merawat Aisyah, kesabaran nya sungguh luar biasa.
Fadil memasang kan kaos kaki di kaki Aisyah, itulah penampilan Aisyah dengan baju gamis syar'i jilbab lebar hingga menutupi dada menambah anggun saja penampilan nya. Fadil tersenyum kini Aisyah meski kurus tak seperti dulu lagi, sudah mulai pipinya berisi.
"terima kasih mas" ucap Aisyah.
" sudah yuk berangkat". Fadil menggandeng tangan Aisyah.
Sengaja Fadil memakai baju yang senada warna nya dengan Aisyah biar nampak serasi. Fadil membukakan pintu mobil lalu memasang kan sabuk untuk Aisyah. Aisyah tersenyum tiada henti sungguh ia bahagia diperlakukan Fadil bagai putri raja.
Mobil berhenti di depan butik milik alira karena hari Senin jadi lebih longgar butik alira. Fadil mengajaknya masuk dengan menuntun Aisyah dengan sabar. Penjaga toko langsung menyambutnya dengan baik.
" alira nya ada." tanya Aisyah langsung ia memang ingin sekali bertemu Alira.
" ada Bu sedang ada di dalam baru saja masuk."
" oh baiklah nanti saja, bolehkah kasih tau saya mana desain milik alira." tanya Aisyah langsung ia ingin sekali merasakan desain hasil alira.
" yang ini Bu, beberapa baju gamis ini desain milik Bu alira." dengan sopan penjaga toko mengarah kan, meski alira muda mereka penjaga toko selalu memanggil dengan sebutan ibu. sebenarnya Alira tak nyaman tapi mereka tetap tak mau mengubah nama panggilan itu kecuali Amel tetap saja panggil dengan sebutan alira.
" mas coba lihat mana yang cocok untuk Aisyah". tanya Aisyah.
" kamu cantik sayang pakaian mana saja cocok untuk mu, pilih saja ambil semua juga boleh."
" jangan mas tak boleh begitu pakaian juga akan di hisab".
" gampang sayang masuk satu keluar satu, jika nanti kamu membeli lima keluar kan juga yang lima di lemari jadi tak akan banyak lagi yang di hisab." Aisyah tertawa bisa saja suaminya memberi ide.
" baiklah Aisyah akan pilih tapi mas jangan kaget ya kalau gajimu akan habis untuk beli gamis untuk Aisyah ".
" tenang saja satu kali operasi sudah akan pulih dompet mas ini." Aisyah makin tertawa renyah, di ikuti pegawai toko itu ikut senang melihat pasangan itu.
" oh ya Amel nanti beberapa yang aku pisahkan kamu packing kirim ke toko taqwa ya itu permintaan mereka dan untuk desain yang di minta aku belum sempat mas Barra tak mengizinkan ku untuk melakukan lebih fokus pada desainku. ". ucap Alira keluar ruangan saat ia sudah menyelesaikan pesanan nya. alira memang sering turun langsung meski perut nya besar tak ia tak malas.
" oke beres, mba Inge bantu aku ya." lalu amel mulai mengeceknya dibantu oleh Inge.
" Bu alira." panggil Aisyah ketika melihat alira yang mulai melihat mengecek stok pakaian butiknya.
"mba Aisyah." mendengar dirinya di panggil alira langsung menoleh.
__ADS_1
" masyaallah perutmu sudah semakin terlihat besar lir." Aisyah mengusap perut Alira.
" Alhamdulillah mba sudah enam bulan".
" wah sebentar lagi dong launching Barra junior". ucap Aisyah senang, Fadil sedang memilih Koko untuk nya sendiri.
" doakan ya mba".
" semoga semuanya lancar sampai melahirkan, sehat ibu dan bayi nya".
" aamiin mba terima kasih doanya, gimna kabar mba Aisyah ". tanya alira langsung semenjak hari itu memang mereka tak berkunjung barra takut itu membuat alira cemburu.
" Alhamdulillah Aisyah ya begini aku masih kemoterapi terus."
" mba terlihat makin sehat masyaallah ".
" iya alira berkat suamiku yang telaten mengurus ku, benar ya jika kita ini pasti akan di berikan sesuai kebutuhan kita. dan aku butuh mas Fadil untuk merawat ku".
" alira senang sekali mba, alira yakin mba pasti sembuh ". Aisyah tersenyum.
" sudah milihnya sayang, ". sapa Fadil mendekat ia tau jika istri nya akan cemburu melihat ia mengobrol dengan laki-laki lain.
" alira gimna kabarnya" tanya Fadil ia berjalan mendekat.
" Alhamdulillah dokter baik".
" Barra mengajar"
" iya mas Barra ada jam pagi".
" salam ya katakan padanya aku rindu ".
" wa'alaikumsalam insyaallah nanti alira sampaikan".
" ambil lagi sayang kenapa cuma dua". lalu Fadil mengambil dua lagi. alira tersenyum senang melihatnya Aisyah dan Fadil sudah saling mencintai.
" Inge tolong bungkusan yang ini ya". alira meraih satu gamis desain terbaru nya.
" kamu benar-benar hebat alira bisa punya butik sebesar ini".
" bukan alira mba ini juga mas barra dan teman-teman alira di sini yang hebat membantu berjalannya butik ini". kata alira yang tak pernah sombong.
__ADS_1
" mba sudah ini bungkuskan semua". ucap Fadil ia berjalan ke kasir sedangkan alira masih ngobrol dengan Aisyah. Biasa obrolan para wanita ngalor ngidul yang mereka ceritakan.
" ya sudah alira terima kasih ya aku senang bisa ke sini." ucap Aisyah pamit, ia melihat suaminya sudah selesai di kasir dan menenteng belanjaan nya.
" sama-sama mba, alira juga sangat berterima kasih mba Aisyah sudah ngeborong banyak di butik. ini untuk mba Aisyah". alira menyodorkan satu gamis yang di bungkus oleh Inge tadi.
" apa ini".
" untuk mba Aisyah dari kami, suatu kehormatan mba Aisyah dan dokter Fadil belanja di sini anggap ini hadiah mba atas pertemanan kita."
" masyaallah alira repot-repot begini". keduanya lalu saling memeluk dan Fadil serta Aisyah pamit.
tes... di dalam mobil air mata Aisyah jatuh entah ia begitu baper sekali. melihat itu Fadil menepikan mobilnya.
" kenapa sayang". Fadil mengusap air mata itu.
" apa nanti Aisyah bisa hamil seperti alira sedangkan obat yang di konsumsi Aisyah semua mematikan dalam tubuh Aisyah". Fadil tersenyum ia mengecup kening istrinya dengan lembut.
"tak ada yang tak mungkin bagi Allah sayang manusia hanya di minta untuk ikhtiar selanjutnya serahkan pada Allah".
" tapi mas jika Aisyah tak kunjung hamil mas menikah lagi Aisyah pasti izinkan."
" jangan katakan itu punya satu saja aku belum bisa membahagiakan nya, satu saja ribet masa mau dua" ejek Fadil, Aisyah tertawa.
" jadi Aisyah ribet ya mas, maaf Aisyah merepotkan mas".
" iya ribet, ribet memporak-porandakan hati seorang dokter spesialis kanker. Hampir setengah umurku di buat gila olehnya, anehnya lagi dokter bodoh itu tak bisa mencintai orang lain selain Aisyah sang pujaan hati ". Aisyah kembali tertawa.
" mas ini bisa saja bikin Aisyah tertawa ".
" karena aku tak ingin melihat mu terus menangis, tertawalah untuk ku sayang. cinta ini berada di angka 5000%". makin tertawa lah Aisyah.
" kebanyakan mas tak sanggup aku menampung nya".
" biarlah sampe tumpah-tumpah, cinta ini hanya untukmu seorang sayang tak ada yang lain. suwerrr...". Aisyah makin tertawa suaminya selalu bisa membuat nya tertawa lebar.
" sudah jangan pikirkan lagi ya, apapun yang ada pada diri kamu mas terima mas ikhlas mas cinta. kita di ciptakan untuk saling menyempurnakan tak ada yang sempurna selain sang pencipta pemilik hati kita. mau es krim kita beli ya untuk stok di rumah, supaya bisa mendinginkan hati tuan putriku yang selalu panas ini memikirkan hal yang belum terjadi ". Aisyah mengangguk Fadil mencium kening nya terlebih dahulu lalu melajukan mobilnya.
--
bersambung
__ADS_1