Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Part 47


__ADS_3

Selebihnya bukan dokter pribadi namun ia bertanggung jawab atas diri Aisyah, Fadil tau jika Aisyah tak mungkin akan mau jika Fadil yang menjadi dokter pribadinya. Karena memang Bilal tak menguasai tentang penyakit Aisyah begitu dalam maka Fadil lah yang bisa menangani Aisyah. ilmu yang ia dapatkan dari sekolah nya juga spesialis kanker yang ia sandang dan pengalaman yang cukup banyak saat ia di LN lebih banyak dari Bilal.


" Sudah stabil, darah sudah normal fisik lumayan bisa. Aisyah kamu di perbolehkan untuk pulang asal teratur minum obat, makan makanan bergizi juga istirahat yang cukup dan jangan stress". terang Fadil.


" Terima kasih ya Fadil".


" okey, ayo pulang. sus ambilkan kursi roda copot infusannya pelan jangan sampai ada goresan". pinta Fadil kepada suster yang bertugas saat itu.


" baik dokter".


Abi dan umi membantu Aisyah, Fadil tak akan mungkin mendekat atau memegang Aisyah jika bukan saat dia tugas karena kewajiban dokter. Fadil menyiapkan mobil kursi roda di dorong oleh Abi Zaky.


" Abi kenapa Fadil yang mengantar".


" tak apa nak, Abi yang memintanya untuk mengantar mu". bohong Abi sebelumnya Fadil sudah mengatakan kepada abinya.


" Abi besok lagi jangan merepotkan orang lain, kita bisa naik taksi saja. kalau gini kan jadi ngga enak sama Fadil."


" Iya nak, untuk kali ini saja, kamu harus sehat dan melakukan kemo ya demi Abi umi dan adik-adik mu". Aisyah sendu mendengar ucapan abinya, ia hanya mengangguk pelupuk matanya sudah penuh dengan genangan air mata.


___


Kegiatan di kampus sudah akan di mulai, alira berangkat dengan di antar Barra terlebih dahulu sebelum ia berangkat ke sekolah. Di turunkan nya alira di depan kampus, ada Amel yang menunggu nya di depan.


" Kalau mau pulang telepon ya sayang". alira Salim Barra mengusap kepalanya.


" insyaallah mas, nanti bisa juga pulang sama Amel".


" ya sudah yang penting kabari mas apapun".


" iya, ". alira melepas kepergian suaminya dengan senyuman termanis nya.


" alira aku senang kamu akhirnya bisa kuliah, ustadz Barra baik banget sih beruntung kamu bisa menikah dengannya so sweet".


" benar Amel, menikah itu tak seburuk yang kita bayangkan. aku bahagia mas Barra sangat baik memperlakukanku istimewa ".


" ihhh... jadi kebayang aku punya suami seperti ustadz barra suamimu."


" apaan sih Mel, udah yuk masuk".


Keduanya masuk di lihatnya Nita yang ternyata sudah ada di dalam duluan ia berangkat bersama keponakan nya Laura. Hati pertama mereka di kampus masih banyak yang mereka tidak tau tentang semua nya.


" cewek tuh bro, adik kelas cantik-cantik". ucap kakak tingkat yang bernama Heru.

__ADS_1


" yang depan sebelah kanan gebet aja bro". ia menunjuk alira yang berjalan, memang di antara mereka alira terlihat lebih cantik.


mereka tertawa, begitulah kakak tingkat ketika melihat anak baru di kampusnya.


" lir kamu ambil jurusan apa".


" Desainer aku tak pandai untuk ambil mata kuliah yang berat, "


" waw kamu mau jadi perancang" .


" aku bingung kamu tau sendiri kan sejak dulu aku tak suka dengan pelajaran".


" baiklah tak apa asal kamu menjalani nya dengan enjoy, ". alira tersenyum mereka lalu masuk ke kelas nya masing-masing.


Nita ambil jurusan ekonomi, Amel ambil jurusan it, semua pada kemampuan nya masing-masing.


Para guru menyambut murid-murid baru yang masuk, alira duduk paling depan. Ia memilih agar bisa konsentrasi lebih baik. kebetulan kelas di mana alira belajar semua isinya wanita tak ada makhluk laki-laki satu pun. Alira lebih tenang ia bisa menjaga hatinya hanya untuk suaminya seorang.


Karena Amel dan Nita beda jurusan alira akan pulang lebih dulu, kelas dia lebih selesai duluan. alira menghubungi suaminya terlebih dahulu seperti apa yang Barra amanatkan. alira menunggu di depan kampus berdiri menunggu suaminya menjemputnya.


" Dek mau pulang".


" iya kak". alira mengangguk dan tersenyum.


" ayo kakak antar, kakak bawa mobil".


tak lama motor Barra datang, ia segera turun menghampiri alira yang sedang di ajak bicara oleh kakak tingkat nya.


" Sudah lama menunggu sayang." Ucap barra turun alira meraih tangan barra untuk Salim.


" sekitar lima belas menit mas".


" maaf mas baru selesai di kelas." alira tersenyum.


Barra memakaikan helm di kepala alira, Heru kakak tingkat yang mendekati alira tadi jadi bertanya-tanya siapa lelaki yang bersama alira. jika di lihat memang alira baru lulusan SMA masih terlihat sangat muda.


" itu tadi siapa sayang". di perjalanan sembari sedikit berteriak barra bertanya.


" kakak tingkat mas, alira juga ngga kenal si cuma menyapa alira saja."


" oh,,," hanya itu yang di ucapkan Barra ia merasa cemburu baru kali ini ia rasakan.


Barra mengantar alira sampai rumah namun ia harus kembali ke madrasah lagi masih ada kelas satu jam mata pelajaran, hari memang belum Zuhur.

__ADS_1


" langsung istirahat ya mas ke madrasah dulu". barra mengecup kening Alira. alira tersenyum menyimpan malu, barra akhir-akhir ini memang bucin seakan cinta itu tumbuh bersemi setiap hari.


" iya mas, nanti langsung pulang ya". alira sedikit merajuk, barra tersenyum.


" iya sayang jika di sekolah urusannya selesai mas langsung pulang, kangen juga sama istri ku ". alira terkekeh barra benar-benar bucin hingga tingkat akut.


Barra pamit ia lalu pergi lagi ke madrasah. Alira langsung mencuci tangan ia pun rebahan karena lelah, entah akhir-akhir ini alira merasa lelah dan malas sekali beraktivitas. Di rebahkan nya tubuh alira ia terlelap.


Sekitar satu jam barra datang, karena Barra membawa kunci rumah satunya ia bisa langsung masuk. Alira terlihat tertidur pulas, barra berganti pakaian dulu sebelum berbaring.


" sayang shalat dulu". di goyangkan tubuh alira, alira kemudian menggeliat.


" jam berapa mas."


" Zuhur sayang shalat dulu ya". alira lalu bangun, barra ke belakang menyiapkan makan siang mereka.


Alira setelah sholat menuju meja makan ia ingin menyiapkan untuk suami nya namun semuanya sudah siap tersaji.


" makan dulu yuk mas lapar".


" makasih ya mas".


" hmmm... balasannya apa." barra melirik alira.


" apa,, mas tak ikhlas".


" ngga, ". alira mengerutkan keningnya ia cemberut.


" kalau gitu tadi ngga perlu mas repot di dapur ". Barra terkekeh.


" kamu tu lucu kalau merajuk, ikhlas sayang " barra lalu menyuapkan satu sendok nasi dengan lauk ayam goreng itu. alira tersenyum tersungging tawanya.


" Yang banyak makannya biar cepet gemuk lebih berisi hangat di peluk ".


" ihhh mas". alira malu.


" bagaimana tadi di kampus".


" baik mas, satu kelas alira wanita semua".


" Alhamdulillah jadi mas aman ya tak begitu kahawatir.


Obrolan mereka berlanjut hingga di ruang tengah, bermesraan berdua bagai dua sejoli yang tak akan pernah berpisah.

__ADS_1


__


bersambung


__ADS_2