Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Part 64


__ADS_3

Hari ini jadwal alira bertemu dokter ana, dokter psikologi karena jiwa alira sedikit terguncang. Barra ingin istrinya sembuh seperti semula menjadi istri yang periang. Barra mendorong kursi roda alira untuk ke ruangan dokter ana, karena dokter ana hanya bisa pagi ia akan pergi setelah nya ada sesuatu hal penting. karena ini khusus permintaan dari Fadil sebagai sahabat nya dokter ana menyempatkan diri untuk datang ke rumah sakit.


" sekarang apa yang kamu rasakan alira". tanya dokter ana, karena melihat dari raut wajah alira lebih muda jadi ana memanggil dengan sebutan nama saja.


" Rasa takut yang berlebihan dokter." ucap Barra karena alira tak berani mengeluarkan suara.


" saya sudah membaca riwayatnya dari Fadil, belum begitu jauh masih dalam fase rasa takut saja. untuk tingkat traumanya belum begitu akut, temani terus dia jangan sampai tak ada yang menemani pun saat di manapun '.


" jangan takut ya Alira semuanya sudah berakhir ngga akan ada yang jahat lagi sama alira, alira harus lawan. yang bisa menyembuhkan hanya Allah minta sama Allah, alira harus kuat hilang kan rasa takut hadapi semuanya ya." ucap dokter ana.


Kemudian alira menceritakan semuanya, panjang lebar ia ceritakan kepada dokter ana. Alira sudah terbuka dan dokter ana menasehati nya, tampaknya alira terlihat lega.


Barra mendorong Alira dengan kursi rodanya, konsultasi dengan psikolog sudha selesai karena dokter ana ada jadwal di luar.


" gimna sayang sudah lega masih takut".


" sedikit mas, alira masih takut jika mengingat kejadian itu seakan tak akan ada yang menolong Alira lagi".


" mulai lupakan dan maafkan ya".


" kita ke taman ya, nampaknya sejuk di bawah pohon itu." ajak barra, alira mengangguk mengiyakan.


" mas itu kan mba Aisyah". barra sudha tau sejak tadi namun barra diam tak ingin alira kecewa lagi.


" iya bersama suaminya juga sama seperti mu, "


" mba Aisyah belum sembuh".


" belum, ia masih kemoterapi. kamu lihat sayang Aisyah dan fadil lebih berat ujiannya dari kita. kita ini belum ada apa-apa nya namun dengan cinta mereka saling menguatkan. mas berharap kamu juga begitu hilangkan rasa takutmu kita lawan bersama ". ucap Barra, alira mengangguk menguatkan.


Tak lama Aldo datang bersama orang tuanya ia sengaja untuk menjenguk Alira dan meminta maaf. alira gemetar ia berdiri rasa takut mulai muncul lagi keringat bercucuran. barra mengetahui hal itu namun sekuat dirinya menahan agar alira bisa kuat berhadapan dengan Aldo.


Fadil mengajak mereka bertemu dengan alira yang sedang duduk di taman bersama barra. alira menggenggam erat jemari Barra ia takut tangannya terasa sangat dingin.


" mas alira takut..."..


" lawan sayang luapkan semua kemarahan mu sekarang juga, kamu akan lega setelah nya." alira sedikit gemetar.

__ADS_1


" ustadz barra alira aku minta maaf ". ucap Aldo setelah berhadapan dengan alira. barra menggenggam erat tangan kiri alira, alira dengan kuat meremas tangan Barra.


Pakkk...


tangan alira langsung menampar pipi Aldo dengan cukup keras, semua membiarkan itu terjadi.


" kamu tau Aldo, baru saja kamu akan membunuh dua orang sekaligus aku dan anakku". teriak alira, semua orang membiarkan alira berteriak memaki Aldo sepuas nya.


" maaf aku tidak tau jika kamu hamil".


" kamu memang bajingan". ucap Alira.


" maafkan alira aku salah, begitu diriku sangat menginginkan mu cinta membuat hingga aku nafsu ingin mencelakai mu memiliki mu seutuhnya". ucap Aldo ia terduduk di hadapan alira.


Alira mulai lemas, barra menangkap tubuh alira yang lemas.


" lapangkan hatimu sayang maafkan Aldo, tenang kan dirimu ". ucap Barra.


" aku benar-benar minta maaf, aku siap jika harus masuk penjara laporkan saja aku Ustadz,"


" kamu menyadari kesalahan mu saja sudah cukup bagiku, namun jangan pernah kamu lakukan pada siapapun lagi dan menghilang lah dari pandangan alira jangan pernah kamu ada di hadapan alira lagi. ini terakhir kalinya untuk mu Aldo, alira sedang hamil aku tak ingin terjadi sesuatu kepada alira juga calon anakku ".


Aldo dan orang tuanya pamit dengan maaf, barra memaafkan namun alira masih belum bisa dengan mudah memaafkan Aldo.


" yuk kita masuk Ra". barra meletakkan alira di kursi roda lagi lalu membawanya masuk ke dalam.


" maafkan Aldo sayang".


" tak semudah itu mas, aku sangat membencinya ".


" jangan terlalu membenci nya lebih tak baik". air mata alira masih saja terus menetes tiada henti rasanya sakit sekali apalagi mengingat kejadian itu, mengingat darah yang mengalir di kakinya hampir kehilangan janinnya.


Barra lalu meletakkan alira ke ranjang, barra ikut naik lalu memeluknya erat agar alira merasa nyaman.


" tidur ya Aldo sudah pergi ia tak akan pernah kembali lagi ." alira hanya terdiam memori kemarin memutar lagi di kepala nya namun barra bisa menenangkan alira dengan mudah.


__

__ADS_1


" apa yang terjadi mas" tanya Aisyah melihat kejadian itu.


" alira masuk rumah sakit gara-gara Aldo, ia akan melecehkan alira lagi untuk kedua kalinya ".


" kedua kalinya maksudnya ".


" cinta sayang, Aldo mencintai alira namun alira tidak menerima karena Aldo memang bejat. dan pernikahan alira dan Barra gara-gara barra menyelamatkan alira, awalnya pernikahan terpaksa antara keduanya. itulah takdir yang tak bisa kita tolak, meskipun kita menjauh awalnya tidak mengenal tapi Allah mendekat kan dengan cara yang lain ". jelas Fadil.


" jadi pernikahan mereka."


" iya sayang, Allah mempersatukan mereka dengan caranya ".


" masyaallah seperti kita ya mas, kamu yang harus merawat ku saat aku lemah tak bisa berbuat apapun. takdir Allah sangat indah, terima kasih mas sudah sabar merawat ku".


" jangan begitu, aku mencintaimu semua karena Allah aku mencintaimu bukan karena fisik semata. aku tau kamu itu sangat cantik dan aku menyukai nya, tapi meski kamu kurus jelek begini di mataku kamu tetaplah bidadari dalam hati ku sayang." ucap Fadil .


" gombal mas, " Fadil tertawa di ikuti Aisyah lalu Fadil mendorong kursi rodanya untuk masuk ke dalam.


" istirahat yang banyak kita besok biopsi sumsum tulang belakang sudah ada yang mau mendonorkan. bismillah sayang kamu akan sembuh."


" Alhamdulillah semoga Allah masih memberikan kesempatan untuk Aisyah berbakti kepada suami Aisyah ini".


" aamiin " Fadil lalu mencium kening Aisyah.


" mas apa tampak jelek sekali dengan tubuh ku yang begitu kurus ini". Aisyah mengingat perkataan Fadil tadi.


" tidak sayang untuk ku kamu tetap seksi, Miss universe kalah ".


" matamu rabun mas". Fadil tertawa.


" tak apa rabun untuk mu saja, tapi hatiku tidak rabun sayang selamanya hanya untukmu dari sejak lama bahkan aku tak bisa menerima siapapun dalam hidup ku. Allah menjaganya hanya untukmu seorang ".


" terima kasih mas atas cinta tulusmu".


" hemmm...". Fadil ikut berbaring di ranjang memeluk Aisyah untuk istirahat.


__

__ADS_1


bersambung


__ADS_2