
Kandungan alira sudah menginjak umur ke sembilan bulan, jelas sekali alira pun sudah merasa sesak dengan perut besar nya. Barra selalu hati-hati dalam menjaga alira, bahkan ia tak membolehkan Alira melakukan apapun.
" mas alira bisa sendiri jangan terlalu berlebihan begitu kenapa". alira risih setiap hari barra selalu melayani Alira.
" ngga apa-apa sayang nurut sama suami duduk mas ambilkan sarapannya". alira cemberut ia merasa tak enak saja seharusnya itu tugas alira tapi malah berbalik.
" pahalanya mas ambil semua alira ngga kebagian kalau begini terus". alira merajuk.
" kamu juga dapat pahala nya sayang karena nurut sama suami". Barra mengusap kepala alira dan tertawa kecil melihat mulut alira yang cemberut.
" Semua mas yang mengerjakan alira tak melakukan apapun mas". ucap Alira manja.
" sudah pokoknya nurut sama suami biar semuanya juga berkah. Kapan mau ambil cuti sebentar lagi kamu melahirkan Lo sayang". ucap barra merasa kasihan dengan perut alira yang besar setiap hari masih saja ke kampus. jika barra libur atau tak ada jam di madrasah ia selalu menunggu alira di kampus, so sweet banget jadi bikin baper para mahasiswa di sana.
" nanti aja mas setelah lahiran, alira tak apa-apa kan di kampus cuma duduk diam mendengarkan saja ."
" ya mas tau tapi mas tak tega melihat mu jalan l sudah terasa sesak begitu, ". ucap Barra menyuapi alira dengan sabar.
" Sebentar lagi alira ujian mas nanti saja ya selesai ujian."
" tapi hpl mu dengan ujian jaraknya terlalu dekat sayang, satu minggu sangat dekat sayang nanti kalau keluar nya sebelum ujian gimna."
" mas berdoa saja semoga keluar nya setelah selesai ujian." ucap Alira. barra mendengus Alira memang keras kepala tetap tak mau sudah ribuan rayuan barra ucapkan tetap saja tak gol.
" jujur mas khawatir banget apalagi kalau pas mas ngga bisa dekat kamu sayang, kita ke rumah umi saja ya biar mas lebih tenang kamu akan di temani umi nanti".
" terus butik alira gimana mas masih ada tiga desain lagi yang harus alira selesaikan "
" udah sayang berhenti saja dulu bilang aja sama mereka kamu mau fokus lahiran ".
" jangan gitu dong mas itu namanya bikin kecewa mereka yang sudah mempercayakan desain nya sama alira."
" ya sudah kalau begitu biar Ratih saja yang jagain kamu dulu mumpung dia belum daftar kuliah ".
" ya sudah kalau begitu mas tak apa, supermarket bagaimana mas ".
" masih banyak yang lain kemarin Eva sudah training untuk gantikan Ratih ".
" mas selalu mencuri star".
" ya gimana lagi mas masih banyak kewajiban sayang ceramah juga ngajar kalau ada yang jagain kamu di rumah juga mas ngga khawatir ".
" memang Ratih mau mas ".
__ADS_1
" dia mau nanti akan dirumah nemenin kamu dan pulang saat mas pulang." kata barra.
" la pan rumah Ratih jauh mas kasihan dia."
" Ratih ngontrak di sebelah supaya saat ke supermarket dekat juga bisa mengawasi mu". alira mengangguk senang.
___
Nita kaget saat ada Marvin dan orang tuanya datang malam itu, Nita masih memakai baju tidur dengan motif gambar pisang. ia enjoy saja saat turun ke bawah mau ambil minum kebetulan minuman di kamarnya habis.
" Nita kemari nak ada Marvin dan orang tuanya ". Nita tersipu malu bukan apa tapi dia masih memakai baju tidur.
" Tante om, Nita kemudian Salim."
" sini duduk". kata ibunya.
" ada yang mau di bicarakan sama kamu nak".
" ada apa Bu".
" orang tua Marvin dan Marvin datang ke sini untuk melamar kamu"
" hah..." Nita langsung kaget matanya melotot.
" hal seperti ini kok bercanda sih nit ini serius."
" kak ngomong apa sih." kata Nita melotot ke arah Marvin.
" ya benar ini dek kakak melamar kamu, kamu itu cinta kakak masa kecil hingga sekarang ". ucap Marvin serius.
" tapi kak kita kan kakak adik."
" kita bukan muhrim jadi bisa menikah, kita ngga ada hubungan keluarga juga hanya dulu kita tetangga dekat makanya kakak menyuruh papa untuk jual rumah di sebelah rumah ini waktu kembali ke sini biar ngga jadi kakak adik lagi." Nita diam ia bingung.
" ya nak setiap hari di Yogya Marvin selalu ingin minta cepat pulang kemari ngga taunya ia tak mau kehilangan kamu."
" ingat ingusmu terus tu." ucap ibu meledek.
" ah ibu..." Nita malu memang dulu Marvin selalu sedia tisu untuk Nita.
" Kakak mau jadikan kamu sebagai istri kakak Nita, tak ingin berlama karena takut dosa pasti kita akan kembali dekat seperti dulu. aku pun tak bisa tidak dekat dengan mu hingga sekarang ya benar kata ibu ingat ingusmu ". semuanya tertawa. Nita makin malu saja
" tapi Nita masih kuliah kak, gimana ayah sama ibu sekolah belum selesai sudah menikah." ucap Nita tak ingin mengecewakan orang tua nya
__ADS_1
" ngga masalah nak kami justru senang ada yang jagain kamu, tak khawatir lagi kalau kamu pulang malam-malam ".
" tapi gimana kuliah Nita Bu".
" kamu masih tetap bisa kuliah Nita, kamu lihat alira perut besar juga masih ke kampus". kata ibu memeperhatikan Alira.
" tapi kak Marvin".
" tak masalah Nita yang penting kita sudah sah kamu masih bisa tetap kuliah juga kan aku ngajar di sana". ucap Marvin semangat.
" gimana nit terima lamaran nak Marvin atau tidak, kalau tidak nanti ibu kenalkan sama Helen temanmu itu." Helen itu centil suka jadi pembicaraan warga komplek.
" ibu jangan..." semua kembali tertawa.
" berati kamu terima." Nita mengangguk ia malu.
" Alhamdulillah terima kasih ya dek." ucap Marvin senang.
" pawang ingusmu sudah ada lagi tuh."
" ih ibu Nita udah ngga ingusan lagi Bu". Marvin senang akhirnya doa yang ia lantunkan setiap hari Allah kabulkan.
Sudah lama sekali Marvin ingin melamar Nita tapi papa nya melarang karena Nita juga masih sekolah SMA. papa Marvin membolehkan jika Marvin sudah bekerja. bersikeras Marvin menjadi dosen di kampus itu hingga akhirnya ia diterima dan papa nya kebetulan di pindah tugaskan lagi ke sini.
Suasana bahagia para orang tua bercerita banyak tentang masa kecil Marvin dan Nita. lalu Nita melipir ia berjalan ke samping rumah ngga taunya di ikuti Marvin.
" terimakasih ya dek kakak senang doa kakak terkabul".
" Nita kayak ngga percaya aja kak, apa memang yang spesial dari Nita kak."
" tak perlu cari yang spesial dari orang yang kita cintai apapun kamu kakak tetap cinta. ". Nita merona wajahnya meski ia juga sebenarnya suka sama Marvin namun dulu baginya hanya suka sebagai kakak tak mungkin akan menjadi pasangan.
" eh ada yang lupa spesial banget yang bikin kakak ngga pernah lupa."
" apa kak." Nita mengerut kan keningnya.
" yang paling spesial dari mu itu ya ingusmu."
" Ih kakak." Nita memukul lengan Marvin, Marvin makin tertawa ia senang akhirnya kerinduan terjawab sudah.
__
bersambung
__ADS_1