Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Part 31


__ADS_3

Pagi itu suasana jadi terasa sangat indah, alira membantu Barra mengupas bawang dan barra yang memulai memasak. Senyum terus terukir Barra tak henti-hentinya memberi candaan kepada alira, alira tertawa lepas. Ayam goreng tumis kangkung serta sambal sudah barra masak.


" Mas mandi dulu ya Ra ". ucap Barra tersenyum menoleh ke arah alira.


" mandi lagi mas tadi kan sudah".


" iya sudah tapi mas berkeringat dan bau bawang masa mas ngajar bau beginian apa kata orang-orang nanti." alira mengerucut kan bibirnya ia merasa dirinya mulai cemburu dengan suaminya.


" kenapa hmmm... kok cemberut, kamu cemburu sama mas". Barra mendekat di ciumnya puncak kepala alira.


" ngga mas cuma..." alira menghentikan ucapannya ia bingung mau ngomong apa, malu masih melanda alira.


" cuma apa hmmm.... mas tau kita menikah tanpa ada rasa cinta satu sama lain. tapi semenjak ijab kabul mas ikrarkan untuk mu mas sudah berjanji jika mas sepenuhnya akan mencintai mu Ra, menjagamu, kita akan mengarungi bahtera rumah tangga ini bersama-sama. jangan pernah punya pikiran negatif ya, walaupun ada seribu wanita cantik di luaran sana mas tak akan pernah berpaling darimu. inilah takdir kita, takdir terbaik yang Allah berikan untuk kita. Allah memilihkan dirimu untuk ku itu artinya kamulah wanita terbaik untuk ku. ". Barra mengusap puncak kepala alira.


" maafkan alira ya mas." barra meletakkan telunjuknya di bibir barra.


" jangan minta maaf lagi Ra, semua terjadi atas kehendak Nya. jika bukan Allah tak mungkin kita akan menjalani pernikahan ini, kita jadikan hari-hari kita bersama menjadi indah ya Ra. mas mencintai mu Ra." Barra mengucapkan dengan tulus ia sungguh telah merasa bahwa dirinya begitu mencintai alira, entah kapan rasa itu mulai tumbuh. Barra mengusap puncak kepala alira kemudian ia mencari handuk untuk mandi kembali.


Alira mengikuti Barra masuk ke dalam kamar, ia menyiapkan pakaian yang akan barra pakai ke sekolah. Alira lalu keluar ke meja makan ia menyiapkan sarapan nya dan tak lupa membuat susu, alira tertawa kecil saat ingat ucapan Barra jika mereka butuh nutrisi untuk produksi. Alira terlihat bahagia apalagi Barra memperlakukan nya dengan lembut.


Barra tersenyum melihat pakaian nya sudah alira siapkan, tak di sangkanya istri kecilnya itu sudah mulai menikmati pernikahan mereka. Barra berfikir akan sulit mengajari alira ternyata Alira bisa menjadi wanita saliha. Barra sudah rapi ia berjalan menuju meja makan di mana alira sudah menunggu nya.


" istirahat saja Ra jangan lakukan apapun, masih sakitkan". alira merona wajahnya ia malu jika membahasnya. ia hanya mengangguk membenarkan ucapan Barra.


" maaf ya sakitnya cuma sekali kok nanti selanjutnya kamu pasti minta lagi". alira memukul lengan barra, barra terkekeh melihat alira yang malu.


" sarapan yuk mas sudah lapar cacingnya sudah teriak dari tadi."


" iya, mas mau semua." barra mengangguk, alira melayani barra sarapan, di lihat nya alira oleh barra lekat.


' Alhamdulillah akhirnya aku bisa mencintai alira istri ku semoga hal yang sama kamu rasakan Ra. rumah tangga ini akan indah jika kita bisa menjalaninya dengan saling mencintai. Dia cantik...' batin Barra lalu tersenyum.


Salim kemudian Barra berangkat ke sekolah, jarak antara sekolah dan rumah hanya sekitar seratus meter tapi barra tetap membawa motor. Alira senyum-senyum sendiri sejak tadi, ia mengingat yang terjadi semalam. Sesuatu yang baru pertama kali ia rasakan, perlahan cinta itu mulai tumbuh dari hati alira untuk barra suaminya.

__ADS_1


***


" assalamu'alaikum lir..." Amel berteriak biasanya ia akan langsung masuk, tapi tak enak karena alira sekarang sudah punya suami.


" wa'alaikumsalam." jawab emak.


" alira ada Mak". tanya Amel.


" alira ikut suaminya Mel ia pindah".


" loh pindah kemana Mak, kenapa tak bilang sama Amel sih." Amel menghentakkan kakinya ia sedikit kesal, alira sudah dengan dunianya yang baru sekarang.


" Kontrakan dekat sekolahanmu, mereka memang tak bilang ke siapapun biar kamu tak ganggu."


" ah emak, Amel ngga bakal ganggu cuma kengen sama alira Mak sudah lama kita tak bertemu".


" belum ada sebulan Mel ". Amel nyengir.


" iya sih Mak tapi Amel kangen banget".


" oke deh Mak, Amel ke sana dulu ya. mau nitip atau pesan apa Mak."


" bilang aja emak mau cucu ". dengan santainya emak mengatakan nya.


" siap Mak nanti Amel sampaikan ".


" eh Amel bawain makanan kesukaan menantu emak ya sebentar emak bungkus kan".


" buat anaknya engga Mak". ucap Amel tampaknya emak lebih sayang dengan Barra sekarang.


" ya ini buat dia juga".


" kirain udah lupa sama Alira Mak".

__ADS_1


" ngawor ya ngga lah Mel, tapi kebetulan emak bikin makanan kesukaan Barra". senyum emak mengembang.


" seneng ya Mak bisa punya menantu Ustadz Barra ".


" ngga hanya seneng lah mel, itu doa emak tiap malem emak berdoa supaya emak dapet menantu seperti barra "


" doa emak memang tokcer".


Kemudian Amel pamit, ia segera melajukan motornya mencari keberadaan kontrakan alira. Sengaja Amel tak menghubungi alira terlebih dahulu ia mau memberi kejutan untuk Alira.


Gampang, di carinya rumah kontrakan di sana tak banyak, langsung saja Amel menemukan nya. Amel mengucapkan salam, alira sedang ada di dalam ia baru saja selesai melaksanakan shalat duha. Semenjak menikah Barra selalu mengingat kan alira untuk shalat duha, meskipun tak ada Barra sekarang alira sudah bisa melakukan sendiri. Barra mengajari alira dari semuanya ibadah sunah mengaji menghafal barra ajarkan perlahan kepada istrinya.


Amel mengucapkan salam terdengar dari dalam karna jarak kamar dan ruang tamu tak jauh, rumah kontrakan itu memang tak kuas tapi cukup untuk keluarga kecil seperti alira dan Barra. Alira mengintip dari jendela terlebih dahulu sesuai dengan instruksi dari Barra, jangan buka pintu jika tak mengenali.


Alira bahagia ketika yang ia lihat adalah Amel bukan orang lain, cepat-cepat alira membenar kan hijabnya lalu dia buka pintunya.


" Amel..." alira langsung memeluk Amel.


" ya Allah sahabat ku alira, gimana kabarmu lir".


" Alhamdulillah seperti yang kamu lihat aku baik".


" Syukurlah aku bahagia melihat mu baik-baik saja, aku percaya sama ustad Barra pasti ia akan bisa buat dirimu bahagia". ucap Amel.


" Alhamdulillah Mel mas Barra memperlakukan ku dengan baik".


" pasti itu ia kan ustadz, seneng ya bisa punya suami tampan seperti ustadz Barra".


" tapi juga was-was loh Mel". Amel mendelik sahabat nya seperti nya sudah punya rasa cemburu kepada Barra.


Mereka berdua tertawa bercerita panjang lebar lalu di ingatnya Nita dan Ratih. Amel menghubungi Nita juga Ratih supaya lebih seru...


***

__ADS_1


bersambung


__ADS_2