
Dari semenjak kejadian keluarga nya tau jika Aisyah sakit, ia merasa lebih baik dan tak mau melakukan kemoterapi. Semuanya sudah merayunya hingga habis caranya agar Aisyah mau kemoterapi. pengobatan terakhir yang bisa di lakukan Aisyah adalah kemoterapi. Bilal dan Fadil sudah merayunya dengan berbagai cara namun tetap Aisyah tak mau merasa dirinya lebih baik.
Setiap hari tidak pernah terlepas dari obat, ia bisa menyelesaikan skripsinya dengan baik. Hari ini Aisyah akan sidang skripsi di kampus ia sudah berpakaian rapi, seperti biasa salma menyusul nya ke rumah. namun sebelum berangkat Aisyah merasakan sakit kepala, tak dihiraukan nya ia hanya minum obat dan lanjut berangkat bersama Salma.
Tiga bulan alira masuk ke kampus ia sudah menguasai seluruh tempat meski tak ia datangi semua setidaknya sudah paham. Pagi ini seperti biasa Barra mengantar alira ke kampus, para mahasiswa potek hatinya yang menyukai alira juga ustadz Barra. Barra terkenal di kampus itu karena beberapa kali ia di minta mengisi pengajian rutinan.
" sayang nanti pulang jam berapa". barra merapikan jilbab alira ketika sudah sampai di depan kampus.
" hanya ada jam pagi mas setelah itu tak ada lagi, alira boleh tidak ke perpustakaan". ucap Alira menatap suaminya meminta izin.
" boleh nanti mas temani, mas juga tak ada kesibukan di madrasah hanya pagi saja mengajar setelah itu jam nya kosong nanti mas izin". alira senang barra memperhatikan dirinya dengan baik.
Mobil Salma lewat bersamaan dengan alira Salim dan Barra mengecup kening alira, ada hati yang tersayat yaitu Aisyah. sudah lama ia mencoba melupakan barra dari hatinya namun ketika bertemu rasa itu ternyata belum hilang.
" kamu tak apa-apa Aisyah."
" iya aku tak apa."
Di lihatnya alira yang tersenyum saat memasuki kampus, senyum yang bahagia. Aisyah turun dari mobil melihat senyum alira yang terukir begitu manis. Hatinya terasa sesak ternyata rasa itu masih ada melekat dalam hati Aisyah belum hilang sepenuhnya.
" kamu siap sidang skripsi hari ini Aisyah". tanya Salma membubarkan pikiran Aisyah yang masih menari tentang barra dan alira.
" eh..iya insyaallah". Salma mendesah ia tau apa yang ada di pikiran Aisyah.
" move on Aisyah hilangkan dia dalam pikiran mu dan cobalah membuka hati untuk orang lain".
" tak semudah ucapan yang keluar dari bibir Salma, aku juga sudah mencobanya namun masih belum bisa."
" jika kamu bisa membuka hati untuk orang lain pasti barra akan hilang dalam pikiran mu". tegas Salma ia tak ingin melihat sahabatnya sedih.
Aisyah hanya tersenyum getir saja, ia berlalu menuju ruangan dosen yang akan mengujinya hari ini. sedangkan alira mengikuti kuliah nya seperti biasa, meski dalam satu kampus alira sekarang tak pasti bertemu dengan sahabatnya karena jam yang tak sama.
___
Barra melajukan motornya untuk datang ke kampus, sengaja untuk menemani alira pergi ke perpustakaan. banyak yang harus alira pelajari, banyak yang ia belum mengerti dan barra pun tak bisa membantu nya karena bukan bidangnya.
Barra menghampiri alira yang sudah menunggu di depan pintu masuk kampus mereka berjalan beriringan menuju perpustakaan. Barra mengikuti alira yang sedang mencari bukunya karena tak mengerti barra hanya mengekori nya saja.
__ADS_1
" sudah ketemu sayang".
" belum mas mana ya "
" coba buku apa yang kamu cari nanti mas tanyakan kepada petugas kampus".
Alira menyebut kan buku apa yang ia cari kemudian barra ke depan bertanya kepada petugas perpustakaan.
" Aisyah..." Barra bertemu dengan Aisyah, Aisyah langsung kikuk.
" mas Barra ke kampus".
" mas sudah dapat belum". terdengar suara alira dari belakang. barra menoleh ke arah alira dan Aisyah tiba-tiba sesak dadanya lalu terjatuh pingsan.
" Aisyah..." teriak Salma.
Semua panik tak hanya salma, barra dan alira bahkan semua yang ada di situ.
" tolong Aisyah ustadz ku mohon dia perlu segera penanganan". teriak salma melihat darah mengalir dari hidung Aisyah.
Barra tak berani lalu ia menoleh alira, alira mengangguk kemudian Barra menggendong Aisyah hingga ke mobil milik Salma.
" mas Barra..." gumam Aisyah di dalam mobil saat itu dalam keadaan tak sadar dan mata terpejam. alira bingung ia menoleh ke arah Salma, Salma pun tak bisa berkata apapun ia hanya diam.
" langsung bawa ke ICU". ucap Fadil kebetulan saat itu ia sedang dinas.
Barra ikut berlari ke ruang ICU, di dalam Aisyah tidak sadar menyebut nama Barra. alira mendengar nya lagi ia lalu beralih berjalan menghindari, alira seperti tersayat meski ia belum tau yang sebenarnya.
" alira". panggil Salma. barra masih mengurus di bagian pendaftaran pasien.
" ada apa mba".
" maafkan Aisyah dia...".
" tolong ceritakan kepada alira mba sebenarnya ada hubungan apa mas Barra dan mba Aisyah".
" tapi..."
__ADS_1
" tolong ceritakan mba ku mohon agar aku tau yang sebenarnya".
" Sebelum ia mengkhitbah mu Barra lebih dulu mengkhitbah Aisyah mereka saling mencintai, namun Aisyah berubah pikiran ia menolak khitbah Barra karna tau ia sakit. dan penyakitnya tidak barra ketahui, " rasanya hati alira teremas mendengar kata saling mencintai.
" Aisyah melepas Barra karena ia ingin melihat barra bahagia, cintanya yang membuat ia melepas Barra. Aisyah berkorban demi kebahagiaan Barra meski sebenarnya Barra juga hancur, dan kini kamu yang menjadi istrinya ". pelupuk mata alira sudah penuh dengan air mata yang akan jatuh.
" apa yang harus alira lakukan mba".
" kamu mencintai barra". alira mengangguk.
" pasti kamu tau apa yang harus kamu lakukan untuk orang yang kamu cintai alira". alira hanya diam ia tak bisa sehebat Aisyah.
" alira .." Barra memanggil alira.
" Aisyah sudah di tangani oleh dokter Fadil kita pulang ya".
" mas jaga mba Aisyah".
" sudah ada salma nanti keluarga nya juga akan ke sini".
" kita pulang yuk".
akhirnya alira menurut ia ikut pulang bersama Barra, memesan taksi terlebih dahulu karena motor Barra ada di kampus. alira hanya diam di sepanjang jalan merenungi ucapan Salma.
" sayang tadi bukunya sudah ketemu kita minta pinjam di perpustakaan saja ya lalu kita pulang". sekaan alira tak mendengar ucapan Barra.
" Ra..."..
" eh iya mas ada apa".
" kok melamun kenapa". Barra tau mungkin karena Aisyah tadi menyebut namanya namun barra abaikan pura-pura ia tak mendengar ucapan Aisyah.
" ngga apa-apa mas yuk pulang ". akhirnya mereka pulang dengan senyum alira yang terpaksa.
Di perjalanan Barra memegang tangan alira yang ia lingkarkan di pinggang nya ia usap-usap menandakan jika ia tak akan pernah pergi.
___
__ADS_1
bersambung