
Krisan menyipitkan kedua mata, semakin waspada karena sekarang lawan sudah berani menggunakan senjata untuk melukai mereka.
Ini namanya bukan sekedar ribut, tetapi sudah dalam tahap mengincar nyawa lawan.
Lita kembali melancarkan serangan belati ke arah Krisan, tapi Krisan bisa menahan tangan Lita, menggenggamnya, lalu membanting tubuhnya ke lantai disusul dengan Nadia yang tak segan menendang tangan Lita hingga belati di tangannya lepas.
“Akh!” Lita meringis sakit.
Rin juga hendak memukul Nadia kembali dari belakang. Mengetahui tindakan itu, Nadia bergeser, membiarkan Krisan menendang Rin ke bawah sebagai serangan balik.
Rin, Lita, dan para gadis lainnya kini sudah terkapar tak berdaya di posisi yang berbeda-beda, semuanya telah mereka hajar. Namun, hanya tersisa satu yang masih berdiri diam di posisi yang sama.
Yaitu Tiana.
Krisan dan Nadia sama-sama menatap tajam Tiana, melihat gadis anggun itu hanya berdiri diam sambil menundukkan kepala. Mereka yakin, Tiana pasti tidak akan mengalah begitu saja. Mereka tetap musti waspada.
“Cukup, Tiana,” tegur Nadia, “Aku tidak ingin punya masalah denganmu lagi. Cukup kuperingatkan ini padamu, jangan coba-coba dekat dengan Bang Ardan atau pun Bang Rafa hanya karena egomu yang tinggi.”
“Kau tidak benar-benar suka apa lagi cinta pada mereka, terutama pada Bang Ardan. Yang ada hanyalah egomu yang tidak terima karena tidak pernah diperhatikan oleh mereka! Dunia ini tidak semerta-merta tentangmu saja. Jadi, setiap orang berhak tuk menerima maupun menolak segala hal. Kebiasaanmu hidup di dunia hedonis membuatmu susah tuk mengerti apa artinya ikhlas.”
“Jadi, berhentilah mengejar sesuatu yang sudah berkali-kali menolak kehadiranmu! Introspeksi dirimu! Dan hilangkan egomu yang terlalu tinggi itu!”
“Cukup, Nadia!”
Tiana mendongak, membentak dengan penuh amarah, tak terima jika harus sok dinasihati oleh sosok yang selalu saja menghalangi keinginannya untuk dekat dengan orang-orang incarannya.
Tiana kaya, cantik, dan jenius. Namun, kenapa semua orang malah lebih perhatian pada Nadia sejak zaman sekolah dulu? Selain karena ingin mendapatkan perhatian dari Ardan, maupun Rafa sekalian, Tiana juga ingin menghancurkan Nadia. Kalau bisa, menghabisinya pula.
Krisan sedikit menoleh ke samping ketika disadarinya ada satu kelopak mawar terbang di dekatnya. Lama-kelamaan bukan cuma satu yang muncul, tapi ada belasan, puluhan, bahkan sampai ratusan kelopak bunga mawar mulai beterbangan di sekitar mereka.
“A-apa ini?” ucap Nadia menyadari kehadiran ratusan kelopak mawar tersebut.
“Kekuatan Kebangkitan.”
“Eh?”
Nadia dan Krisan menatap lurus ke arah Tiana. Nadia terkejut melihat ada beberapa sirkuit merah bermunculan di sekitar leher dan wajah Tiana. Itu berarti, Tiana sedang mengaktifkan Kekuatan Kebangkitan-nya.
__ADS_1
“Pakai belati di luar kegiatan akademi saja sudah masuk pelanggaran. Ini malah pakai Kekuatan Kebangkitan?!” keluh Nadia makin kesal. “Sebegitu niatnya kau ingin menghabisi kami?!”
“Kau tidak pantas mendapatkan perhatian lebih dari semua orang,” ungkap Tiana. “Aku benci kau yang selalu merebut spot-ku, aku benci semua lelaki di sekolah memujamu, aku benci kau karena mendapat lebih banyak perhatian! Aku benci semua yang ada pada dirimu, Nadia! Terlepas dari aku ingin merebut perhatian Ardan atau tidak.”
“Dan gadis kampungan seperti temanmu itu juga tidak pantas berada di dunia ini!” lanjut Tiana menyalahkan Krisan.
Krisan pun kaget karena orang baru seperti dirinya malah ikutan dibawa-bawa. “Lah? Aku disalahin juga cuma karena aku kampungan? Ya bukan salah siapa-siapa kalau aku lahir di kampung atau di mana pun itu.”
“Sudahlah, Krisan. Orang kayak dia udah kepala batu dari lahir, susah dilurusin biarpun pakai logika sekalipun,” kata Nadia pasrah sambil memijit pelipisnya.
“Haaargh...!”
Semua kelopak mawar beterbangan semakin cepat mengelilingi Krisan dan Nadia, sehingga keduanya terkepung oleh kekuatan Tiana.
“Akh!”
“Ukh.”
Krisan dan Nadia meringis sambil berusaha melindungi tubuh mereka karena kelopak-kelopak bunga mawar itu berhasil menyayat bagian tubuh mereka. Beberapa helai rambut, celana, tas, dan pakaian mereka juga ikut kena sayat pula.
“Apa-apaan Tiana ini?!” kesal Nadia. “Kalau sudah seperti ini jadinya, harus dilawan dengan Kekuatan Kebangkitan juga.”
Krisan sedikit melirik ke Nadia. “Tapi, bukankah menggunakan Kekuatan Kebangkitan di luar kegiatan akademi merupakan pelanggaran?”
“Dia duluan yang mulai!”
Nadia mulai berkonsentrasi hendak menggunakan Kekuatan Kebangkitan, membuat beberapa sirkuit elektrik berwarna hijau muncul di area lehernya. Namun, niatnya itu tak terlaksana ketika menyadari sesuatu.
Sebuah kubah gelembung muncul begitu saja melindungi mereka berdua dari sayatan ratusan kelopak bunga mawar. Setelah dipastikan mereka aman di dalam kubah, tiba-tiba gelombang air yang cukup besar juga muncul menghanyutkan semua gadis yang sempat menghajar mereka, termasuk Tiana sendiri, sehingga kekuatan mawar Tiana lenyap begitu saja.
“Waaargh!”
“Aaaakh...!”
“Kyaaah...!”
Mereka semua dihanyutkan dengan keras oleh gelombang air menuju pintu lift. Satu pulpen melesat, menekan tombol lift itu hingga pintunya terbuka, otomatis mereka semua makin hanyut masuk ke dalam lift sampai pintunya tertutup dan membawa mereka pergi dari koridor tersebut.
__ADS_1
Setelah semua gadis biang onar tadi sudah dibereskan, gelombang air itu langsung lenyap, kering tak bersisa, begitu juga dengan kubah balon yang melindungi Nadia dan Krisan dari gelombang ganas tersebut.
Keduanya tercengang, bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Semua keributan tadi lenyap, suasana seketika jadi senyap, meninggalkan koridor asrama yang saat ini lumayan berantakan akibat pertarungan mereka.
“I-itu tadi apa...?” tanya Nadia melongo di tempat.
“Para lacur itu sudah sepantasnya mendapatkan azab mereka, bukan?”
Keduanya seketika menoleh ke belakang, mendapati seorang perempuan datang menghampiri disertai senyum bersahabat sambil menenteng ransel besar.
Perempuan itu memiliki perawakan yang lebih tinggi dari mereka, kisaran tingginya sekitar 170an. Ia berkulit putih kemerahan, bermata biru, dan rambut biru yang diikat ekor kuda. Dandanannya pun terlihat agak tomboi, mengenakan rompi jeans yang sengaja dibiarkan terbuka dan tanktop hitam yang sempat memperlihatkan bagian perut fourpack-nya.
Krisan dan Nadia sempat adu pandang, keduanya sama sekali tidak mengenal siapa perempuan ini.
“Kalian tak apa? Tadi aku sempat melihat pertarungan kalian sebentar. Dan kuakui, kalian tangguh juga menghadapi mereka semua cuma berdua saja. Tapi karena kulihat wanita tadi menggunakan Kekuatan Kebangkitan, jadi kuusir saja mereka dengan kekuatanku.”
“O-oh! Ja-jadi.... Anu, air tadi... Dan gelembung itu—.”
“Iya, itu Kekuatan Kebangkitanku. Aku dapat mengendalikan air,” jawabnya memotong ucapan canggung Nadia.
Kedua gadis bertubuh mungil tersebut mengangguk paham. Mereka jadi terselamatkan berkat kekuatan dari perempuan asing ini.
“Ta-tapi, apa kau tidak apa-apa menggunakan Kekuatan Kebangkitan tuk menolong kami?” tanya Nadia cemas. “Kalau ketahuan staf, gimana?”
Ia mengibaskan tangan dengan santai. “Tak apa. Jika alasannya demi melindungi diri, itu tidak masalah. Paling juga kena tegur. Yang jadi perkara sekarang adalah keadaan kalian. Sumpah, kalau keliatan cowok-cowok, bisa langsung birahi mereka.”
“Eh?”
Krisan dan Nadia mulai melihat keadaan mereka sekarang. Mereka terkejut menyadari pakaian mereka sudah compang-camping dan hampir setengah bugil.
Bagian perut rata, paha mulus, serta bagian c*lana d*lam Nadia yang berwarna biru garis-garis sempat terlihat. Sedangkan Krisan hanya di bagian dada yang terbuka, membuat dada lembut dan berisinya yang dilapis oleh bra berwarna krem tampak menyembul hendak keluar dari sarangnya.
Benar kata perempuan itu. Kalau sampai dilihat mata kaum lelaki, bisa jadi ‘santapan’ mereka. Beruntung, mereka masih di asrama putri.
“Kyaaaah!!!”
...~*~*~*~...
__ADS_1