Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 66 : Girang tak Karuan


__ADS_3

Di hari ketiga Masa Orientasi Pelajar, tepatnya pada hari terakhir ini, akademi mengadakan seminar perkenalan dan penjelasan seputar militer antariksa, kurikulum akademi, kegiatan, serta misi-misi yang bisa ditugaskan pada Taruna-Taruni akademi di sela-sela masa pembelajaran. Pada seminar kali ini, mereka diwajibkan mengenakan seragam akademi berwarna hitam untuk semua jurusan.


Seminar berlangsung begitu lancar. Ardan yang merupakan salah satu pembawa acaranya juga membawakan acara dengan sangat baik, banyak yang puas dengan kinerjanya, bahkan para petinggi sekali pun.


Namun, semenjak insiden kemarin ketika Ardan melawan Shujin, ada lebih banyak orang yang kelihatan terang-terangan menunjukkan rasa benci mereka pada Ardan. Tapi, Ardan tak peduli. Yang penting, dia tetap fokus pada apa yang ia lakukan, pada tujuannya, dan pada apa yang ia ingin gapai kelak.


Biarkan para binatang itu berkoar-koar sendiri, menunjukkan kebodohan mereka.


...~*~*~*~...


Seminar ditunda ketika jam makan siang tiba dan akan kembali berlangsung setelahnya. Pada waktu tersebut, Ardan berserta teman-temannya sedang makan bersama di kafetaria.


Kebetulan kafetaria akademi sedang ramai oleh para pelajar maupun staf yang sedang makan siang. Selama acara seminar, mereka memang sudah mendapat makanan gratis, tapi masih belum puas dan mau makan lagi.


Di meja itu, terdapat Damar, Ardan, dan Rafa duduk di satu baris, sedangkan di hadapan mereka ada Nadia dan Krisan.


Semenjak mengenal Krisan, Nadia jadi lebih sering mengajak Krisan pergi bersamanya, termasuk bertemu dengan teman-teman Ardan. Dia jadi lebih nyaman berteman dengan Krisan karena gadis desa itu bersikap apa adanya dan selalu membantu Nadia kalau dalam kesulitan.


Apalagi, terkadang Ardan mengiriminya pesan agar ikut melibatkan Krisan dalam berbagai kegiatan mereka.


Maklum, modus pedekate. Tapi sering gagal mulu karena Krisan yang sering enggak peka.


“Rafa,” panggil Ardan iseng sambil memotong bakso.


“Hm?” Rafa mulai menyuap potongan baksonya.


“Coba tebak. Anjing, anjing apa yang bisa terbang sambil muter?”


Rafa memutar bola mata birunya. Pemuda jangkung itu enggan berpikir akan jawaban dari tebakan tersebut. Dia sudah mencium bau-bau kebodohan dalam diri sepupu noraknya.


“Apaan?” tanya balik Rafa.


“Heli-Kopter.”


“Ohok!”


Bukannya Rafa yang kesedak, malah Nadia yang kesedak mendengar jawaban Ardan. Damar sendiri sempat melirik, tapi kembali makan, tak peduli dengan tebak-tebakan Ardan.


Rafa cuma bisa angguk-angguk menanggapi. Iya, Rafa ngerti kalau ada lagu tentang anjing kecil sehingga dibikin tebak-tebakan kayak gitu. Tapi, kedengarannya bukan lucu lagi, tapi norak.


Rafa udah enggak habis pikir lagi dengan seberapa anehnya kelakuan alien Ardan. Makin hari, makin menggila saja kinerja saraf otak Ardan yang bekerja di bagian kewarasan.


Selama makan bersama, terkadang mereka merasa tak sedikit pasang mata memberi tatapan sinis pada Ardan, secara tak langsung buka-bukaan menunjukkan rasa tidak suka mereka pada pemuda berambut jingga yang kini tidak menggunakan ikat kepala karena mengenakan seragam resmi untuk acara seminar.


Sempat Rafa melirik sinis orang-orang yang tak suka pada Ardan. Mereka hanya menunjukkan ketidaksukaan mereka secara diam-diam lewat tatapan mata tanpa berani bertindak langsung. Tentu selain tak mau cari ribut, mereka juga sebenarnya tak berani berhadapan dengan Ardan maupun Rafa yang dikenal sebagai Taruna kuat di sini.


Benci, tapi tak berani berhadapan. Bukankah itu pengecut?


“Makin banyak aja yang benci sama kau, Dan,” ucap Rafa masih melirik ke sekitar.


Dengan cuek Ardan menjawab, “Peduli setan ‘lah ama mereka. Mau mereka benci aku ‘kek, iri ‘kek, gemes mau santet aku ‘kek, yang penting aku fokus urus diriku sendiri. Dosa sama sakit mental mereka sendiri yang tanggung.” Lalu lanjut memakan bakso pedas yang ia pesan.


Damar geleng-geleng sambil memotong baksonya. “Kayak biasanya kau, Dan. Suka ‘kali ngegas.”


“Mereka sendiri yang mulai. Mereka ngegas, aku lebih ngegas!”

__ADS_1


“Hahaha....” Nadia tertawa mendengar celotehan Ardan. “Abang ini.... Bisa aja kalau ngomong.”


Rafa mulai mengunyah baksonya. “Omong-omong, gimana kabar Shujin setelah kejadian kemarin?”


Setelah menelan toping seblak, Nadia menjawab, “Ng! Dia enggak dikasih izin buat ikut seminar, sertifikat ditahan, kena denda, sama enggak dibolehin ikut belajar selama tiga hari.”


“Mampus, lah! Sok keras ‘kali jadi orang,” umpat Ardan sambil mengaduk kuah bakso.


Rafa sempat menyenggol bahu Ardan, “Kau pun sempat kena denda sama pihak keamanan.”


“Mending denda daripada enggak dibolehin belajar. Ketinggalan banyak itu.” Ardan pun kembali memakan bakso.


Mereka tak bersuara sejenak, fokus dengan makanan mereka masing-masing sampai Damar curi-curi lirik pada Nadia yang kebetulan duduk di seberangnya. Iseng-iseng, Damar basa-basi.


“Nad.”


Mendengar doi manggil, Nadia langsung angkat kepala, mengabaikan sejenak seblak yang sudah menjadi idolanya itu.


Sedangkan di samping Nadia, Krisan tetap sibuk makan nasi goreng. Dia sempat ditawari makan seblak atau bakso, tapi Krisan bilang dia enggak demen makanan yang ada bakso-baksoannya. Katanya, geli sama bakso.


“I-iya, Mas?” sahut Nadia, dalam hati berbunga-bunga.


Mendengar interaksi Nadia dan Damar bakal dimulai, Rafa curi pandang ke arah mereka, bahkan mata birunya setengah melotot siap menggorok Damar kalau sampai macam-macam sama adiknya itu. Sedangkan Ardan juga ikut memandang mereka karena kepo.


Kepo bakal jadi seperti apa ke depannya. Apakah suasananya bakal jadi taman bunga-bunga cinta, atau malah berakhir perang darah?


Krisan? Bodo amat. Yang penting fokus aja makan, dia lapar berat sejak tadi.


“Emm....” Damar menurunkan satu tangannya ke bawah meja. “Coba tebak, apa yang ada di sakuku?”


Nadia sok-sok’an bingung, padahal mengerti mau mengarah ke mana tebak-tebakan mereka. Yang penting, bisa dekat sama calon ayang ajalah.


“.... Dompet?”


“Bukan.”


“Ponsel?”


Damar menggeleng, “Bukan....”


“A-anu! Belatung azab,” tebak Nadia asal.


“Mana ada aku nyimpen belatung azab...?” Damar pun lanjut bertanya disertai nada menggoda, “Yakin enggak tahu...???”


“Isssh....”


Nadia bergerak-gerak ganjen, gemes sama Damar yang mulai mengulur-ulur waktu. Gerak-gerik gemas Nadia bahkan sampai menyenggol bahu Krisan, membuat Krisan sontak menoleh bingung pada Nadia dan Damar.


Ada apa ini? Kok jadi gemes-gemesan gini? Koneksi saraf-saraf otak Krisan masih belum nyambung juga.


Maklum, Krisan polos.


“Jadi, apaan, Mas?” tanya Nadia mulai malu-malu gatel.


Damar merogoh sesuatu dari saku seragam hitamnya. Bukan benda yang diambil, yang keluar malah dua jari tangannya membentuk hati, diserahkan pada Nadia.

__ADS_1


“Cintaku padamu....”


“Ahikhikhik...!”


Nadia kegirangan dapat gombalan kacang Damar sampai-sampai menjedotkan kepalanya ke meja.


Makin hari kelakuan dua orang ini makin aneh saja kalau sudah dipertemukan begini. Ardan yang dikenal sebagai alien-nya Akademi Milderan juga dibuat heran dengan interaksi Damar dan Nadia.


Sumpah, Ardan yang cowok aja geli sama gombalan Damar.


Otak Krisan masih belum nyambung juga, masih terheran-heran dengan apa yang terjadi sama Nadia sampai-sampai gadis berambut pirang itu menjedotkan kepalanya sendiri sambil ketawa girang begitu.


Dengan logika Krisan, gadis imut itu merumuskan. Awal mula, Damar bertanya soal isi sakunya, Nadia bergerak-gerak tak karuan, Damar ngasih bentuk jarinya, lalu Nadia malah menjedotkan kepala.


Lampu bohlam imajiner pun muncul di atas kepala Krisan, pertanda ia sudah mengerti situasi yang terjadi pada Nadia.


“Nad.”


Krisan menepuk pundak Nadia. Kepala Nadia sudah terdampar di atas meja dengan bahu gemetar, masih girang bahagia dikasih gombal Damar.


Dengan datar-polos Krisan berucap, “Kalau kebelet, ke toilet aja. Jangan ditahan.”


“Eh?”


Nadia bahkan Damar dibuat heran dengan respon Krisan. Yang dilihat apa, yang dijawab juga apa. Kagak nyambung sama sekali.


Ardan malah cekikikan ketika mendengar ucapan Krisan yang sama sekali enggak nyambung itu. Mungkin gadis imut itu mengira Nadia lagi nahan buang air sampai gerak-gerak tak karuan begitu.


Betapa polosnya gebetan Ardan ini, pikir Ardan sendiri.


“Duh....” Damar menutup wajahnya sendiri, malu gombalannya direspon enggak nyambung begitu.


“A-anu, Kris....” Agak canggung, Nadia menjelaskan, “Mas Damar itu lagi... basa-basi aja sama aku.”


“Basa-basi? Tapi, kok sampai gerak-gerak enggak karuan gitu?” tanya Krisan polos.


“Itu karena....” Nadia menunduk cekikian, masih girang digombalin Damar. “Aku.... Bahagia aja gitu sama basa-basi Mas Damar.”


“Ooo....”


Sebenarnya, Krisan ingin bertanya lagi karena masih tak mengerti kenapa Nadia bisa bahagia cuma karena mendengar basa-basi Damar. Tapi, niatnya urung saat perut kecilnya terasa masih lapar. Jadi, Krisan memutuskan untuk lanjut memakan nasi goreng dalam diam.


Udah.


Gitu aja.


Rasanya Nadia, Damar, dan Ardan mau ‘Gubrak!’ aja dengan kelakuan polos Krisan ini. Udah polos, enggak nyambung pula.


Rafa sendiri masa bodo dengan sifat Krisan itu. Kalau saja bukan teman Nadia, mana mau dia berinteraksi dengan gadis yang kurang wawasan seperti Krisan.


Rafa akui, Krisan memang cantik, imut, sesuai tipenya. Namun selain ingat Krisan ini gebetan Ardan, Rafa juga kurang suka sifat Krisan yang polos, hemat senyum, dan kurang pergaulan walau dia sempat terkesan dengan gaya bertarung gadis itu.


“Oi, Damar.”


...~*~*~*~...

__ADS_1


__ADS_2