Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 43 : Kelompok Junior Melawan Ardan


__ADS_3

Beberapa junior tampak mulai ragu tuk melawan Ardan. Pasalnya, dari persiapannya seperti ini saja sudah terlihat kalau pemuda itu bukan Taruna biasa. Mereka memang sempat mendengar kalau Ardan sering kali mendapat remedial di bidang akademik, tapi untuk latihan dan misi nilainya selalu bagus.


“Aku jadi agak ragu buat nyerang Senior Ardan.”


“Kalau enggak dicoba, kita sendiri yang malu. Ada banyak staf juga yang mengawasi.”


“Walau para senior bilang jangan ragu tuk menyerah, tapi setiap keputusan yang kita ambil selama masa orientasi ini akan jadi penilaian para staf, dan itu bakal berpengaruh pada nilai semester kita mendatang, termasuk pada tes bertarung seperti ini.”


“Berarti, tes ini menjebak, dong?!”


“Kagak kayak gitu juga konteks-nya, Biawak!”


Di bangku tribun paling depan, baru saja Damar dan Rafa duduk sudah disuguhkan dengan keraguan para junior mereka. Damar pun menghela nafas memaklumi hal tersebut.


“Hah! Ardan selalu punya pesona sendiri buat bikin orang-orang jadi segan padanya.” Rafa bersender dengan kedua tangan menopang belakang kepala.


“Dan kau bangga akan hal itu?” Damar menoleh pada Rafa.


“Jelas.” Rafa menunjuk Ardan di arena sana. “Dia juga mengikuti didikan abahku, dan aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri. Tentu aku bangga padanya.”


Lagi-lagi Damar menghela nafas, “.... Justru karena didikan abahmu itu, aku jadi prihatin padanya.”


Tentu Damar prihatin karena sudah jelas didikan dari Keluarga Novan sangatlah keras dan brutal. Buktinya saja, Rafa yang tak peduli siapa lawannya bakal tetap ia hajar sampai hampir sekarat.


Kembali pada para junior Kelompok 17. Di antara mereka ada yang sudah siap dengan kuda-kuda siap bertarung, tapi tetap tidak ada satu pun yang maju.


“Gimana ini?” tanya Didi sambil membetulkan kacamata.


“Tunggu yang lain aja. Aku ragu,” balas bisik Dodo.


Melihat para juniornya tidak ada yang maju menyerang, membuat Ardan mengendurkan kuda-kuda.


“Oh, ayolah...! Kalian ini kena—.”


“Haaaagh!!!”


Ucapan Ardan terpotong saat ada satu junior laki-laki melesat dengan kaki siap menendang. Reflek Ardan menepis tendangan itu hingga si junior malah terpental ke samping.


“Hooo.... Sengaja menungguku lengah, rupanya?” Kedua mata perak Ardan sedikit melotot dengan kilat cahaya tampak sekilas. “Tapi, sayang... aku sudah dilatih tuk tetap waspada di saat lengah sekali pun.”


“Hiaaaah!!!”


“Aaaaarrrghhh!!!”


“Aaaaaakkkh!!!”


Kini para junior mulai menyerang Ardan secara bersamaan, main keroyokan tentunya, karena tidak ada aturan tertentu yang mengharuskan mereka tuk melawan secara bergilir.


Kalau dalam situasi seperti ini jadinya, tentu Ardan harus bisa menangani mereka sendirian.


Beberapa serangan mulai dari pukulan, tinju, tamparan, tendangan, hingga sundulan beberapa kali dilancarkan ke arah Ardan. Namun, pemuda berambut jingga berantakan itu masih bisa menepis dan menangkisnya dengan mudah serta cepat.

__ADS_1


Satu tinju mengarah padanya. Ardan menyingkir sedikit, menangkap pergelangan tangan sang junior.


“Bahumu terbuka.”


Lalu menyikut bahu junior itu sampai terhuyung mundur beberapa langkah.


Satu junior beberapa kali memberi serangan, tapi masih bisa dihindari Ardan. Sampai akhirnya, Ardan tendang betis belakang junior itu sampai kehilangan keseimbangan, berada dalam posisi telentang hendak jatuh. Namun sebelum ia jatuh, Ardan mulai memberi serangan.


“Seranganmu masih terlalu lambat.”


Ardan tinju junior itu sampai benar-benar jatuh ke lantai.


Satu junior perempuan melesat ke atas dengan tinju siap dipukulkan. Ardan meraih tinju gadis itu beserta bahu kecilnya, kemudian melemparkan tubuhnya hingga menabrak beberapa junior lain.


“Perhatikan posisi rekan-rekanmu juga, Manis,” ucap Ardan santai.


Selagi para junior Kelompok 17 berusaha melawan Ardan, Nadia dan Krisan terlihat masih belum juga ikut menyerang Ardan.


Awalnya, Krisan hendak ikut menyerang, tapi niatnya ditahan Nadia.


“Kita tidak ikut menyerang juga, Nad?” tanya Krisan datar seperti biasa.


“Jangan dulu.” Dengan pedenya, Nadia berujar, “Biarkan mereka menyerang Bang Ardan lebih dulu. Aku yakin, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa bertahan dari tes Bang Ardan ini.”


“Terus?” Krisan memiringkan kepala.


“Setelah semua junior sudah kelihatan enggak sanggup lagi lawan Bang Ardan, baru kita maju. Di saat-saat itu, aku yakin, Bang Ardan sudah mulai kewalahan.”


“Oh! Ayolah, Krisan....” Nadia menjelaskan, “Dalam suatu pertarungan, kita harus melakukan segala cara agar bisa melumpuhkan musuh, termasuk berbuat curang sekali pun. Jika sesuai peraturan, bukan pertarungan namanya, tapi kompetisi.”


Krisan mengangguk mengerti. Apa yang dijelaskan Nadia benar. Sebagai calon Prajurit Antariksa, tentu melakukan segala cara untuk mengalahkan musuh adalah tindakan yang tepat, bahkan jika harus curang, pakai cara pengecut, atau berkhianat sekali pun.


Dunia perang tidak akan pernah mengenal ampun. Namun, bukan berarti seseorang harus merelakan kemanusiaannya agar terlihat tetap kuat.


Para junior terus saja berusaha melumpuhkan Ardan, tapi malah mereka sendiri yang kewalahan menghadapinya. Selama bertarung, beberapa kali Ardan juga mengomentari gerakan-gerakan mereka.


“Terlalu lengah.”


“Kau terlalu lambat.”


“Jangan fokus kasih serangan mulu, pertahananmu juga perlu ditingkatkan!”


“Perhatikan posisi kawanmu juga!”


“Letoy banget tendangannya. Itu kaki, apa lengan cumi-cumi?!”


“Demi, Tuhan! Teknik bertarung macam apa itu?! Pakai mangap segala!”


“Kau lari kayang?!”


Dari tribun, Damar dan Rafa memperhatikan pertarungan dengan tatapan datar ketika mendengar Ardan mulai ngomel-ngomel.

__ADS_1


“Nah. Sekarang ngerti ‘kan, seberapa kesalnya aku ngetes junior-juniorku tadi?” komentar Rafa datar.


“Haaa....” Damar tak bisa berkata-kata lagi.


Beberapa junior sudah ada yang langsung diobati oleh robot-robot yang selalu siap siaga berjaga. Sisanya sudah terpental bersamaan akibat serangan tendangan Ardan.


Bahkan baru saja bangkit, mereka sudah diserang oleh beberapa pasak besi besar yang tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka. Beruntung, mereka masih bisa mundur menghindar walau di antaranya ada yang sempat terluka akibat terkena gores ujung pasak.


“Hei, itu cur—.”


“Ops! Aku lupa.”


Teriakan salah satu junior dipotong oleh ucapan Ardan. Mereka melihat ada sirkuit elektrik jingga muncul sesaat di leher dan pipi Ardan, lalu lenyap begitu saja.


Ardan berjalan santai mendekati pasak-pasak panjang yang ia ciptakan, menendang salah satu pasak sampai melambung di udara, menangkapnya, lalu ia putar-putar di tangan, dijadikannya sebagai tombak besi.


“Kalian boleh menggunakan Kekuatan Kebangkitan.” Ardan menyunggingkan senyuman sambil memanggul tombak besi di bahunya.


Beberapa junior dibuat kesal karena baru dikasih tahu bahwa mereka dibolehkan menggunakan Kekuatan Kebangkitan. Kalau tahu seperti itu, sudah sejak awal mereka gunakan.


“Kekuatan Kebangkitan : Aktif!”


“Hembusan Nafas Badai!”


Salah satu junior mengaktifkan Kebangkitan-nya yang berelemen angin. Ia menyemburkan hembusan angin sekencang badai dari mulutnya ke arah Ardan.


Beberapa barang yang ada di sekitar Ardan beterbangan akibat hembusan kencang itu, bahkan pasak-pasak besi yang ia ciptakan pun melesat kencang menuju tribun di belakang Ardan. Beruntung, lapangan arena dilindungi oleh kubah pelindung. Jadi, mereka yang berada di tribun takkan kena efek dari berbagai serangan Kebangkitan.


Ardan berusaha bertahan dari hembusan angin, memutar-mutar tombak besi demi menepis sisa-sisa pasak yang beterbangan ke arahnya.


Ardan mengambil posisi siap menombak, kemudian langsung ia lempar tombak itu ke arah junior tersebut.


Tombak itu pun berhasil mengenai kaos hitam bagian bahu kiri sang junior. Saking kencangnya lemparan tombak, membuat junior tersebut ikut melesat sampai terhempas ke dinding kubah pelindung yang transparan.


Akibat tombakan itu, serangan sang junior berhasil dihentikan.


“Aish.... Dasar bocah.” Ardan mengibas-ngibaskan tangan di depan hidung. “Nafasmu bau. Kau enggak pernah gosok gigi, ya?”


Damar sempat beberapa kali mengerjapkan mata, kagum dengan akurasi lemparan tombak Ardan di tengah-tengah hembusan angin badai tadi.


“Di saat wajahnya kena hembusan angin sekeras itu, Ardan bisa fokus membidik. Kalau aku jadi dia di saat mata tidak memakai goggles atau pelidung mata yang lain, sudah pasti bakal keganggu sama angin.” Damar membetulkan posisi kacamata. “Aku yakin, lemparannya tak meleset. Sejak awal, Ardan memang hanya mengincar bagian bahu kaosnya.”


“Kau berlebihan, Seblak.”


Damar melirik sewot Rafa, tak terima dikatain Seblak mulu.


“Seperti yang Ardan bilang, dia tidak akan melakukan tindakan berlebihan tuk melawan para juniornya, apalagi kalau sampai menombaknya beneran,” komentar Rafa, “Dia cuma ingin menghentikan serangan.”


Satu serangan besar sudah diatasi. Masih ada beberapa junior yang belum menggunakan Kebangkitan mereka tuk melawan Ardan. Nadia dan Krisan pun sampai saat ini masih belum maju dan hanya mengawasi sampai menunggu waktu yang tepat tuk menyerang.


“Baiklah! Siapa lagi yang mau menyerang?” Ardan tersenyum lebar hingga deretan gigi-gigi putihnya terlihat mengkilat sesaat.

__ADS_1


...~*~*~*~...


__ADS_2