
Malam terakhir penutupan Acara Masa Orientasi Pelajar pun tiba, semua pelajar di seluruh Akademi Milderan sibuk mempersiapkan diri untuk pergi ke Acara Penutupan yang bertema Pesta Dansa untuk kali ini, termasuk Ardan dan teman-temannya di Asrama Putra.
Sosok Ardan sedang bercermin, memastikan penampilannya sudah tampak lebih rapi. Setelan tuxedo hitam serta dasi berwarna jingga sudah sangat pas. Tatanan rambut jingganya juga dibuat lebih unik, setengah bagian dijepit ke belakang, sedangkan sisi lainnya dibiarkan berantakan. Tak lupa ia menyemprotkan parfum beraroma maskulin. Merasa masih kurang, ia semprotkan pula sampai di kedua ketiak.
“Ce’elah. Siapa nih cowok ganteng di cermin ini? Jadi demen aku kalau lihat bayangan sendiri seganteng ini,” puji Ardan pada dirinya sendiri di depan cermin.
“Enggak usah narsis kau, Dan. Jijik kutengok kau muji-muji bayanganmu sendiri,” tegur Damar yang sedang memasang sepatu pantofel sambil duduk di tepi ranjang.
Saat Ardan menoleh ke arah Damar, matanya menyipit silau kalau melihat tampilan sahabatnya yang tampak sangat berbeda itu.
Saat ini, Damar memakai setelan jas berwarna putih. Tapi yang membuat Damar terlihat berbeda adalah gaya rambutnya. Rambut hitam Damar ditata klimis hingga tampak jidat yang selalu tertutup oleh poni. Bukan hanya itu saja, bahkan kacamata bulat Damar diganti dengan kacamata persegi yang membuat bentuk matanya terlihat lebih tajam.
Ardan bersiul menggoda kala melihat penampilan tidak biasa Damar, “.... Siapa nih cowok yang ada di depanku ini? Cakepnya ngalahin tuan-tuan CEO di film esek-esek. Petugas asuransi, yak?”
Damar melotot jengkel. “Gila kau ini! Udah dandan cakep-cakep begini, malah dikira petugas asuransi.”
“Ya, gimana, yak? Tuh rambut kelihatan licin banget kayak jalan baru diaspal. Kutu pun kepeleset kalau jalan di rambut kau itu, Mar.”
“Baguslah. Berarti, kepalaku enggak mudah kutuan.” Damar pun berdiri, ikut bercermin memastikan penampilannya.
Ardan masih melihat penampilan Damar dari ujung kaki sampai ujung kepala dan seterusnya, merasa agak aneh melihat tampilan Damar yang biasanya selalu terlihat culun jadi tuan-tuan klasik begini.
“Kau dandan begini sekalian mau modusin Nadia, kan?”
“Lah? Eh?”
Seketika Damar salah tingkah. Memang benar apa tebakan Ardan. Mumpung ada acara besar seperti ini sekaligus hadir menjadi pasangan dansa Nadia, tentu Damar harus berpenampilan setampan mungkin agar Nadia jadi lebih terpesona.
Malam ini, Nadia pasti berpenampilan cantik. Norak dong kalau Damar masih berpenampilan biasa seperti cowok-cowok culun. Walau Nadia menerima Damar apa adanya, tetap saja ia ingin memberikan penampilan terbaik untuk calon pasangan abadinya kelak.
Duh, gini amat jatuh cinta. Damar jadi malu.
“Ap-apa sih, Dan...?” Damar memalingkan muka, berusaha menyembunyikan semburat merah di wajahnya karena malu.
“Cieee.... Ngaku aja, deh. Aku ‘mah enggak masalah Nadia jadi sama kau. Kau ‘kan sudah kukenal sebagai cowok baik-baik. Cocoklah buat Nadia.” Ardan iseng menyenggol bahu Damar. “Eh. Tapi, doain aku yang baek biar bisa jadi sama Krisan.”
Spontan Damar menoleh, kembali memelototi Ardan. “Ya Tuhan, Dan.... Pengen kusentil biji mata kau itu. Muji-muji ternyata ada maunya.”
“Yaaa, habisnya... Dek Krisan susah ‘kali dideketin. Orangnya susah peka. Enggak kayak Nadia yang sekali dikasih gombalan receh langsung kelepek-kelepek sampai ke akherat.”
Damar menepuk bahu Ardan. “Kau pun kalau serius suka sama Krisan, jangan cuma digombalin aja. Tunjukin perjuanganmu itu. Mumpung anaknya masih sendiri. Cowok-cowok di sini pada demen sama dia lho, walau cuma diam-diam.”
__ADS_1
“Iyalah,” cibir Ardan.
“Kalian udah siap, enggak?”
Damar dan Ardan sama-sama menoleh, memperhatikan sosok Rafa yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan setelan pakaian lengkap yang sudah sangat rapi.
Berbeda dari mereka, Rafa mengenakan setelan jas merah marun dengan ujung agak panjang menyerupai ekor mantel dan gaya rambut yang tidak berubah dari biasanya, berambut pirang ikal disertai poni tebal.
Dengan gaya berpakaian serta perpaduan postur tubuh Rafa yang tinggi besar begitu membuat siapa saja yang melihatnya jadi segan padanya.
“Raf, kau mau ke pesta atau transaksi barang-barang ilegal? Udah macam kepala mafia aja kutengok. Tinggal dikasih topi, baru kelihatan totalitas,” ungkap Ardan saat melihat penampilan Rafa.
“Pa’an sih, Dan? Suka-suka akulah mau berpenampilan kayak begimana.” Rafa kembali bertanya ketika merasa ada yang beda dari penampilan Damar, “Dih, tumben enggak kelihatan culun?”
“Salah ya kalau aku mau tampil lebih beda?” sewot Damar.
“Enggak gitu....” Rafa menggosok-gosok ujung dagu sambil menyipitkan mata biru terangnya. “Cuman, aku curiga aja kalau kau ada niat terselubung dengan tampil beda begini.”
“Eh?!”
Sepertinya, Rafa curiga kalau Damar ingin terlihat lebih tampan di hadapan Nadia. Bisa-bisa Damar tinggal nama saja kalau ketahuan mau pedekate lagi sama adik dari sahabat psikopatnya ini.
“Dah! Dah! Kita langsung berangkat aja.” Buru-buru Damar menarik Ardan. “Yuk, Dan!”
Rafa sendiri hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka berdua.
Sebenarnya, Rafa tidak masalah kalau Damar ingin berusaha berpenampilan gagah agar bisa makin dekat dengan adiknya. Toh Rafa cuma ingin usil sama Damar, lucu juga melihatnya ketakutan begitu.
...~*~*~*~...
Suasana ballroom akademi terlihat sangat megah malam ini, khas tampilan ballroom pesta dansa ala-ala negeri dongeng. Lampu-lampu chandelier tertata indah di atas ballroom disertai kilau cahayanya yang menyilaukan, band-band musik memainkan musik klasik nan merdu, serta berbagai sajian makanan lezat tersedia di baris meja prasmanan.
Seisi ballroom dihadiri oleh banyak tamu dari berbagai kalangan, mulai dari Taruna-Taruni senior sampai junior dari berbagai jurusan dan tingkat, para guru dan petinggi akademi, tim-tim staf yang bertugas, hingga para pengusaha dari berbagai bidang yang bekerja sama dengan akademi hadir di sini. Mereka semua tampak memakai pakaian terbaik mereka untuk tampil menarik dan tak kalah hedonis, berkumpul dalam berbagai kelompok sambil mengobrol dan minum-minum.
Rafa dan Ardan sendiri saat ini tengah berdiri di sisi ballroom sambil minum jus lemon, menunggu teman-teman lain dan juga Damar yang tiba-tiba pergi entah ke mana.
Keduanya memilih minum jus lemon karena mereka sama-sama dididik untuk menjauhi minuman beralkohol serta rokok. Mereka percaya kalau dua hal itu sama berbahayanya dengan obat-obatan terlarang, dapat merusak kinerja tubuh dan menghambat perkembangan energi Kebangkitan mereka saat latihan.
“Dek Krisan sama Nadia lama juga, ya.” Ardan sempat melihat arlojinya.
“Biasa ‘mah, cewek,” sindir Rafa, kemudian kembali minum.
__ADS_1
Saat keduanya masih berdiri sambil memperhatikan suasana sekitar, tiba-tiba Damar datang terburu-buru menghampiri Rafa.
“Raf, kita dipanggil Ketua Organisasi Teladan. Ada yang mau diomongin sekarang, katanya,” kata Damar pada Rafa.
Rafa pun menaruh gelasnya di meja terdekat. “Kok mendadak gitu? Soal pembagian sertifikat anak-anak junior, ya?”
Damar menggeleng, “Kalau bagian itu ‘mah masih dipegang sama para staf. Pokoknya samperin ajalah.”
“Aku enggak dipanggil, Mar?” tanya Ardan sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Kau ‘kan bukan anggota organisasi, Dan.”
“Ya, siapa tahu aku dipanggil. Kan aku sempat bantu-bantu selama Masa Orientasi,” kata Ardan.
“Mungkin yang dibahas di luar dari Kegiatan Orientasi Pelajar, Dan.” Damar pun mulai mengajak Rafa kembali. “Yuk, Raf. Susul mereka.”
“Kau enggak apa-apa ditinggal bentar, Dan?” tanya Rafa pada sepupunya itu.
“Enggak apa-apa. Santai aja. Lagian, Nadia sama Dek Krisan bentar lagi bakal sampai, kok.”
“Ya, udah. Kami tinggal dulu, Dan,” pamit Damar.
Keduanya segera pergi meninggalkan Ardan berdiri sendirian di sana.
Sekarang, Ardan tidak tahu mau ngapain. Nadia dan Krisan sampai sekarang masih belum tiba juga. Kalau diam sendiri begini malah bikin dia tambah bosan.
“Mau nimbrung perkumpulan mana, yak?”
Mata perak Ardan menelusuri seisi ballroom, mencari-cari perkumpulan mana yang ia kenal dan bisa ikut menyapa mereka, sekedar basa-basi, daripada bengong sendirian begini.
Maaf saja. Ardan bukan tipikal orang yang malu buat ikut nimbrung perkumpulan orang lain. Tapi bukan orang yang enggak tahu sopan-santun juga, sembarangan SKSD sama orang. Tentu Ardan mau menyapa perkumpulan orang yang sudah ia kenal dan mengenalnya juga, apalagi Ardan termasuk pemuda yang dikenal ramah oleh banyak orang.
“Nah! Di perkumpulan sono aja,” gumam Ardan saat matanya menangkap salah satu perkumpulan Taruna di seberang. “Kebetulan ada si Yudhi Garem, noh. Kusamperin aja, sekalian kutagih. Kemarin ngutang sampai 300 Dt belum juga dibayar.”
“Ardan.”
Ardan mengurungkan niatnya tuk beranjak pergi saat mendengar suara seorang wanita menyapanya. Ketika menoleh ke sumber suara, ia mendapati seorang wanita seksi memakai dress merah ketat berjalan bak seorang model menghampirinya sambil memegang segelas wiski.
Awalnya Ardan menyipitkan kedua mata, bingung karena hampir tak mengenali wanita berambut cokelat kemerahan itu. Namun, ketika mengingat kejadian yang terjadi pada Nadia dan Krisan di hari pertama ke akademi, Ardan jadi ingat siapa wanita yang berani menghampirinya ini.
“Tiana, ya?”
__ADS_1
...~*~*~*~...