
Setelah kegiatan perkenalan antar pelajar selesai, semua kelompok junior dibawa berkeliling, diperkenalkan pada lingkungan dan fasilitas Akademi Milderan oleh pembimbing masing-masing.
Seperti yang dilakukan Kelompok 17, Ardan dan Damar mengantar para junior mereka melewati koridor di mana banyak kelas berjejer di sana.
Koridornya terlihat sangat bersih didominasi warna putih serta biru. Setiap pintu kelas yang ada di sana dibiarkan terbuka agar bisa ditunjukkan pada semua junior, dan di seberang kelas terdapat baris jendela yang memperlihatkan pemandangan lapangan akademi.
“Masih di Gedung Jurusan Ilmu Pertahanan dan Strategi, ini kita udah sampai di jejeran ruang kelasnya. Dan di lantai ini khusus untuk para pelajar Tingkat 1,” kata Ardan ketika mereka berhenti di depan salah satu kelas.
Damar ikut menjelaskan, “Setiap jurusan memiliki bangunan yang berbeda-beda. Karena posisi kelompok kita ada di dekat Gedung Jurusan Ilmu Pertahanan dan Strategi, maka kita memutuskan berkeliling di sini saja, oke? Setiap bangunan yang jurusannya berbeda-beda sebenarnya memiliki fasilitas yang hampir sama. Jadi, kita tidak perlu berkeliling sampai ke seluruh akademi. Nanti encok sendiri tulang-tulang kalau dipaksain.”
Mereka semua dibawa masuk ke dalam salah satu kelas. Para junior cukup takjub ketika melihat betapa luas, rapi, dan bersihnya kelas itu.
Berterima kasihlah pada robot-robot pembersih yang selalu membersihkan seluruh akademi serta asrama selama para pelajar dan staf libur. Mereka selalu bersih-bersih hampir tanpa istirahat.
Posisi tempat duduk para pelajar memiliki gaya desain di mana semakin ke belakang baris tempat duduk, maka semakin tinggi posisinya. Desain seperti itu diterapkan agar semua pelajar yang berada di posisi paling belakang sekali pun bisa memperhatikan dengan jelas penjelasan guru yang sedang mengajar.
Sebagai pengganti papan tulis, kelas akademi menggunakan layar monitor yang sangat luas menempel di dinding, menghadap ke bangku-bangku pelajar.
Terdapat pula panggung dengan lantai kayu cokelat yang sangat halus sebagai tempat untuk guru maupun para pelajar melakukan presentasi. Ada juga lemari penyimpanan, patung, beberapa bendera, serta lukisan-lukisan bernuansa patriotik yang semakin mempercantik isi kelas.
“Nah! Ini salah satu pemandangan kelas yang ada di seluruh Akademi Milderan.” Ardan mulai menjelaskan, “Tempat duduk para pelajar di sini gayanya agak mirip tangga, di depan turun, dan semakin ke belakang bakal semakin naik.”
Ardan membawa junior-juniornya naik ke panggung setinggi tiga anak tangga itu, dan menunjukkan beberapa fasilitas di sana.
“Kita menggunakan monitor luas ini sebagai alat pembelajaran.”
Hanya dalam sekali sentuhan jari Ardan pada permukaan layar, monitor lebar itu langsung menyala, memperlihatkan animasi pembuka berupa lambang ‘M’ dari Akademi Milderan terlebih dahulu, lambang Militer Antariksa, Pemerintahan Ribelo, dan Negara Ranjaya, baru dibuka dengan berbagai menu serta data-data rumus pemrograman.
“Karena masih belum masuk masa pembelajaran, hanya ada data-data dasar saja yang ditunjukkan.” Ardan menggosok hidung mancungnya sesaat. “Di samping sini tentu merupakan meja guru.”
Ardan berjalan menuju meja guru. Ia membuka salah satu laci yang berisi beberapa tombol dan monitor kecil. Jarinya menekan salah satu tombol, kemudian muncullah sebuah mimbar dari bawah lantai panggung presentasi, tepat berada di tengah-tengahnya.
Sambil berjalan menghampiri mimbar, Ardan kembali berkata, “Ini merupakan mimbar yang digunakan beberapa guru dan para pelajar untuk mengajar maupun presentasi.”
__ADS_1
Di permukaan atas mimbar juga terdapat monitor sentuh nan canggih. Ketika dinyalakan Ardan, monitor itu pun menyala dan sempat memperlihatkan proyeksi hologram berwarna biru berupa tampilan bangunan akademi.
Para junior berbondong-bondong menghampiri Ardan, merasa kagum ketika melihat proyeksi hologram yang ditunjukkan di permukaan mimbar itu. Ada berbagai macam model yang diperlihatkan, mulai dari struktur bangunan akademi, asrama Taruna-Taruni, sampai denah-denahnya.
“Biasanya, kami sering nih pakai ini buat bantu-bantu presentasi. Menu ini buat nampilin proyeksi hologram, ini juga penyimpanan data. Tapi sama kayak monitor kelas, ini juga masih belum terisi banyak data.”
“Sebenarnya, kau bisa lho ngebimbing anak-anak junior buat ngenalin lingkungan akademi sendirian.”
Ardan menoleh ke arah Damar yang sedang berdiri di bawah panggung sambil memperhatikan cara Ardan menunjukkan fasilitas kelas kepada para junior.
“Ceritanya ngambek, nih, gara-gara kagak dikasih kesempatan buat ngebimbing?” goda Ardan.
“Ya, kagak, lah. Justru aku senang kalau kau yang sering ngebimbing. Mulutku enggak bakal berbusa buat ngejelasin ini-itu,” kata Damar, “Cuma, tumben aja gitu lihat yang nilai akademiknya ancur bisa ngebimbing banyak orang dengan bener.”
“Akh! Bacot kau, Mar.”
“Ahaha....”
Damar menertawakan Ardan yang sempat jengkel ketika ia ledek.
....
Lokasi berikutnya adalah ruang kolam renang. Tempat itu sangatlah luas dengan beberapa kolam renang yang masih bersih dan jernih. Di dalam sana bukan cuma kelompok Ardan yang ada, tetapi juga kelompok lain, bahkan ada kelompok bimbingan Rafa juga.
“Di sini tentunya merupakan tempat untuk berlatih renang. Di akademi ini, kita punya lebih dari satu ruang kolam renang, tapi lokasinya tentu berada di tempat-tempat yang berbeda,” jelas Ardan seadanya.
“Wih...! Jernih ‘kali airnya,” puji Didi saat berjalan mendekati salah satu kolam renang. Dengan semringah ia bertanya pada Ardan, “Boleh dipakai buat renang sekarang?”
Disertai senyum, Ardan menjawab, “Boleh.”
Didi sempat jingkrak-jingkrak kegirangan. Akhirnya, dia bisa merasakan seperti apa rasanya berenang di kolam renang karena selama ini ia dan dua rekan dari Trio WekaWeka selalu berenang di kali, mana airnya kurang bersih pula.
Sudah mau ambil ancang-ancang melepas seragam, niat Didi jadi urung saat mendengar perkataan Ardan.
__ADS_1
“Tapi, sekalian kutenggelamkan juga badan kau itu sampai kelelep.”
Didi melotot horor, melihat Ardan malah tersenyum dibuat-buat saat mengatakan kalimat itu. Tadi dibilang boleh, tapi kenapa sekarang malah diancam begitu?
Disertai senyum canggung, Damar pun memberitahu Didi, “Sekarang, kolamnya masih belum bisa digunakan.”
“Oalah. Senior ini.... Bilang ‘kek dari tadi,” cibir Didi sambil berjalan kembali ke rombongannya.
Ardan tetap tersenyum sambil memperhatikan jalan Didi kembali ke rombongan Kelompok 17. Entah mengapa, Ardan merasa gemes ingin menjitak kepala Didi sampai benjol lima tingkat.
Seharusnya, si junior peka. Kalau masih dalam tahap pengenalan, semua fasilitas di akademi belum boleh digunakan.
Dasar....
....
Setelah beberapa area dan fasilitas akademi di perkenalkan, kini Kelompok 17 sudah tiba di salah satu area latihan. Area tersebut berupa lapangan yang masih dibiarkan alami, terhubung langsung dengan hutan yang ada di pulau tersebut, dan juga menjadi jalan masuk menuju hutan pula.
“Di seluruh pulau ini, akademi memiliki banyak area latihan khusus. Namun yang di sini dikhususkan untuk latihan praktik sederhana, dan area sini memang sengaja dibuat terhubung langsung dengan hutan,” jelas Ardan sambil menunjuk jalan hutan yang dimaksud.
Ia pun melanjutkan, “Kalau untuk tempat-tempat latihan lain yang tersebar di seisi pulau, kita harus menempuh perjalanan ke luar akademi menggunakan fasilitas transportasi di sini, seperti kereta listrik. Untuk masa pengenalan ini, kami tidak bisa menunjukkan semua fasilitas yang ada di pulau. Jadi, cukup tahu di sini saja. Nanti kalian juga bakal dikasih lihat sama guru-guru kalian kalau sudah masuk pelajaran praktik nanti.”
Damar ikut menambahkan, “Bukan hanya fasilitas latihan yang tersebar di seluruh pulau. Pulau ini juga memiliki fasilitas transportasi luar angkasa, markas khusus, dan juga pos-pos keamanan.”
Ardan mengangguk-angguk mengiyakan penjelasan Damar.
[“Waktu istirahat telah tiba. Dipersilakan untuk para pelajar Akademi Militer Milderan mengistirahatkan diri lebih dulu sebelum kembali melakukan kegiatan selanjutnya. Waktu istirahat berlangsung selama 30 menit”]
Tak terasa hari sudah siang, mentari di langit sana pun sudah meninggi. Alarm serta pengeras suara pertanda jam istirahat telah dibunyikan. Sekarang saatnya semua pelajar beristirahat sejenak sebelum melanjutkan Kegiatan Orientasi selanjutnya.
“Tak terasa sudah waktunya istirahat,” ucap Damar.
Ardan pun memberitahu pada para junior, “Oke, adik-adikku tersayang. Sudah waktunya jam istirahat. Kalian istirahatlah dulu, makan-makan mungkin, baru setelah itu kita kumpul kembali di lapangan semula 30 menit lagi.”
__ADS_1
“Siap, Senior!”
...~*~*~*~...