
Perjalanan yang ditempuh dari akademi ke Sektor Pelatihan hanya dibutuhkan waktu kurang dari 15 menit menggunakan kereta listrik. Ketika sampai di stasiun kereta Sektor Pelatihan, terdapat banyak pelajar junior dan Taruna-Taruni tingkat lanjutan keluar dari kereta. Beberapa staf dan robot yang berjaga sempat mengecek data diri beserta kartu akademi mereka sebelum diizinkan masuk area.
Ardan kini hanya berjalan sendirian menuju Sektor Pelatihan. Awalnya dia pergi bersama rombongan Kelompok 17, tapi dia izin ke toilet dulu dan meminta Damar tuk membimbing para junior ke lokasi pelatihan.
Bukan sebab dia kebelet, tapi ada hal lain yang membuat Ardan wajib pergi ke toilet, dan ini ada hubungannya dengan kejadian memalukan yang anehnya bikin girang tadi.
“Aish.... Dek Krisan, sih, pakai bo’ong-bo’ong segala. Coba terus terang aja, aku pasti ikhlas kok dicubit-cubit manja kayak tadi,” gumam Ardan sambil mengacak rambut jingganya.
....
Sekarang, Ardan sudah sampai di Sektor Pelatihan, area khusus untuk para Taruna-Taruni akademi berlatih. Berbeda dari area pelatihan yang tersedia di akademi, sektor ini memiliki fasilitas yang lebih lengkap, areanya juga sangat luas, dan dipisah menjadi beberapa area lagi.
Area-area pelatihan yang dipisah itu meliputi area latihan fisik, fasilitas rintangan, latihan menembak, latihan melawan monster dan robot buatan, laboratorium eksperimen, sampai pelatihan praktik membuat mesin dan senjata.
Lokasi tempat tujuan Ardan sekarang merupakan Arena Bertarung, yaitu wilayah khusus bagi para pelajar melakukan tes bertarung melawan pelajar lainnya.
Karena hari ini adalah kegiatan Tes Bertarung para junior, maka sebagai pembimbing, Ardan diharuskan mengetes kemampuan mereka. Selain itu, ia juga akan mendapatkan nilai tambahan jika berpartisipasi dalam pengetesan ini.
Ada untungnya juga Ardan menggantikan posisi temannya Damar di Organisasi Teladan dalam Kegiatan Orientasi Pelajar ini. Ardan jadi mendapatkan lebih banyak nilai tambahan di rapornya.
“Akhirnya, sampai juga.”
Ardan melangkahkan kaki memasuki bangunan bergaya futuristik yang bentuknya lebar itu, yaitu Bangunan Arena Bertarung. Bangunan tersebut tidak begitu tinggi, tapi ukurannya sangat lebar dan luas.
Dalam satu bangunan terdapat sekitar puluhan lapangan indoor khusus digunakan sebagai arena bertarung, entah itu satu lawan satu maupun lebih. Semua arena indoor dipisah dalam ruangan besar yang disebut sebagai Bilik Arena.
Saat Ardan berjalan mencari-cari Bilik Arena kelompoknya, ia melihat ada banyak pelajar berlalu-lalang di sana, entah ikut berpartisipasi dalam pengetesan juga atau para pelajar tingkat lanjutan yang hanya ingin melihat-lihat.
“Kalau enggak salah, bilik kami nomor 6, deh.”
“Akh!!!”
Ketika Ardan terus mencari-cari bilik lapangan kelompoknya, langkahnya terhenti, dikejutkan oleh seorang junior yang terlontar dari salah satu pintu Bilik Arena.
Junior itu tergeletak di lantai, meringis sambil menahan sakit di tubuh. Ketika Ardan lihat lagi, junior tersebut memiliki cukup banyak luka lebam dan lecet bahkan sampai ke wajah, rambut hitamnya juga kusut, dan pakaian latihan yang ia kenakan sobek sebagian.
“Kau tak apa, Bung?” tanya Ardan.
Setelah ditanya begitu, beberapa staf dan robot kesehatan segera mendatanginya, mulai membawa junior itu menjauh menggunakan tandu.
“Segera bawa semua junior dari Bilik 4 ke Unit Kesehatan!” teriak ketua staf kesehatan yang berpakaian serba putih pada para staf lain beserta robot mereka.
“Hei, apa yang sebenarnya terjadi di Bilik 4?” tanya Ardan mulai curiga. “Perasaan pengetesan junior di masa orientasi enggak sampai separah ini.”
Sambil membuka masker, ketua kesehatan menjawab, “Pembimbing kelompok mereka terlalu berlebihan melakukan tes kemampuan para junior. Jadinya, mereka mengalami luka parah, bahkan ada yang sampai patah tulang.”
“Serius?” Ardan tercengang mendengarnya.
__ADS_1
Ardan pun pamit pergi membiarkan ketua dan beberapa staf kesehatan membawa junior tersebut. Karena penasaran, ia pun pergi menuju Bilik 4.
Di sana, banyak staf kesehatan sibuk membawa para junior yang terluka keluar dari Bilik Arena tersebut. Semua Taruna-Taruni yang ada di sana, sekedar tuk melihat latihan pengetesannya, bahkan dibuat tercengang sendiri dengan apa yang terjadi di dalam.
“Kok sampai segininya, ya...?”
Ardan terus berlari menuju lapangan arena. Ketika sampai di pinggir lapangan, rasa penasaran dan panik Ardan seketika sirna. Ia mendesah memaklumi saat mengetahui siapa pelaku yang sudah membuat satu kelompok junior mengalami luka-luka.
“Astaga, Rafa...!” Ardan mengacak-acak rambut jingganya.
Rupanya, pelaku yang sudah membuat satu kelompok harus dilarikan ke Unit Kesehatan adalah Rafa, sepupu Ardan sendiri. Bukan cuma orang-orangnya yang terluka, arena indoor ini juga mengalami kerusakan parah.
Ardan tidak heran jika semua kekacauan ini disebabkan oleh Rafa. Dia tahu betul seperti apa kekuatan dari keturunan Keluarga Novan, bahkan mendiang ayahnya pun sempat memperingatkan Ardan.
...~*~*~*~...
Dulu ketika Ardan masih kecil, kisaran umur delapan tahun, ada saat di mana ia hendak meminta izin pada ayahnya tuk bermain di luar.
Saat itu, Astan, ayahnya Ardan, sedang sibuk memperbaiki mesin yang entah apalah itu di garasi rumah mereka.
“Ayah! Ayah!” panggil manja Ardan kecil sambil jingkrak-jingkrak tak karuan.
“Iya, Kecebong Rawa— Eee.... Maksudnya, anakku sayang,” ralat Astan menyahut anaknya.
Ayah macam apa Astan ini? Anak sendiri hampir diumpatnya.
“O, boleh aja, Nak. Jangan lupa bawa sesajen juga. Takutnya malah kesurupan lagi, aku pula yang repot.” Kemudian Astan memperingatkannya, “Eh, tapi kau musti hati-hati mainnya sama anak-anak Paman Grim.”
“Memang kenapa, Yah? Rafa sama Nadia baek, kok,” tanya Ardan polos.
Astan memperhatikan anak semata wayangnya itu dengan raut muka yang sedikit menampakkan kekhawatiran.
“Pokoknya, hati-hati saja. Soalnya, Keluarga Novan itu dikenal...” Astan memutar-mutar telunjuknya di kepala. “... Ada gila-gilanya.”
Ardan kecil memiringkan kepalanya bingung. Dia sebenarnya tidak mengerti maksud sang ayah memberikan peringatan demikian.
Namun, seiring berjalannya waktu dan sejak Ardan diasuh oleh Keluarga Novan setelah kematian Astan, Ardan pun mengerti maksud dari peringatan ayahnya.
Keluarga Novan memang dikenal baik, sangat baik malah, buktinya Ardan bisa tumbuh menjadi pemuda yang hebat dan tidak kekurangan apa pun. Namun, keturunan Keluarga Novan memiliki sisi gelapnya sendiri, sehingga Astan menganggap mereka lumayan gila.
Mereka punya insting bertarung yang terkadang sulit dikontrol.
...~*~*~*~...
Di tengah lapangan arena, Rafa memperhatikan beberapa juniornya yang masih tergeletak di lantai dengan berbagai macam luka di tubuh mereka. Para staf kesehatan terus berusaha membawa mereka bergantian keluar dari Bilik Arena tersebut.
“Serangan-serangan kalian terlalu payah! Teknik bertarung kalian tak karuan! Ketika disinggung ini-itu pun langsung kena mental!” tegas Rafa emosi sambil bersedekap tangan di dada. “Apa-apaan kalian ini...? Bagaimana bisa kalian lolos ke akademi ini?! Kalau udah ada di tengah peperangan sungguhan, bakal mati sia-sia kalian.”
__ADS_1
“Jangan terlalu berlebihan, Bung....”
Rafa menoleh, mendapati sosok Ardan tengah tersenyum dan berdiri sambil memasukkan kedua tangan di saku celana.
Melihat kehadiran Ardan, Rafa pun menghela nafas, berusaha menenangkan amarahnya.
Ardan melangkah menghampiri Rafa. “Ini cuma latihan, ngetes kemampuan anak-anak baru. Kau pun ngetes mereka udah macam ngasih perang sungguhan. Gimana enggak kena mental?” Ia menyunggingkan senyum geli.
Rafa menggosok kasar wajahnya. “Entahlah, Dan. Kadang aku susah, lho, ngontrol emosiku di tengah-tengah pertarungan sesepele ini. Apalagi, ketika melihat betapa menggelikannya gaya bertarung mereka.”
“Rafaelo Adrael Novan.”
Rafa dan Ardan sama-sama menoleh, melihat seorang staf akademi berseragam serba hitam mendatangi mereka sambil mencatat sesuatu di monitor tab. Staf itu memperlihatkan catatan nilai Rafa pada Rafa sendiri.
“Kau mungkin mendapatkan nilai A untuk tes bimbingan kali ini. Tapi, setelah melihat kejadian seperti ini, kemungkinan besar kau akan mendapatkan sanksi.”
“Berapa aku harus bayar?”
“Hah?”
Staf itu terpaku mendengar pertanyaan Rafa yang terdengar datar itu. Pemuda ini rupanya langsung membahas ke intinya.
Dengan malas Rafa melanjutkan, “Apa aku harus bayar denda? Dikurung di penjara bawah tanah akademi? Atau tidak boleh mengikuti pelajaran selama beberapa waktu? Yang mana hukumanku?”
Sebenarnya, staf itu heran melihat reaksi Rafa, terlihat sama sekali tidak takut dengan hukuman yang akan didapatnya.
Staf tersebut membaca aturan di tab, “Kalau sesuai peraturan akademi, pelajar yang telah melukai pelajar lain melewati batas akan dikenai sanksi. Untuk kasus ini, kau wajib membayar denda sebanyak 15.000 Dt— Eh?!”
Sang staf terkejut ketika tab yang ia pegang direbut Rafa. Rafa mengetikan sesuatu pada tab, sempat mengetikan hal yang sama pada ponselnya juga, lalu kembali mengetik di tab.
“Sudah.”
Rafa melambungkan tab itu hingga berputar-putar di udara, dan langsung ditangkap oleh sang staf dengan paniknya.
“Aku sudah bayar denda sesuai aturan akademi. Selain itu, aku juga menambahkan 20.000 Dt lagi untuk biaya pengobatan serta ganti rugi fasilitas,” kata Rafa datar. “Walau sebenarnya aku sangat jengkel dengan para junior yang cara bertarungnya pada menggelikan begitu, tapi aku masih punya hati.”
“Tak ada yang perlu diurus lagi, kan? Kalau masih ada, kau bisa langsung hubungi abahku. Kalau perlu, suruh dia datang kemari. Dia masih saja bertugas sampai lupa waktu dan keluarga,” kata Rafa lagi.
Rafa pun berbalik hingga ekor mantel jubahnya berkibar, mulai melangkah pergi tak peduli dengan apa pun lagi.
Ardan sendiri sempat memberi senyuman pada sang staf, “Maafkan sepupuku yang terlihat suka seenaknya seperti itu. Sebenarnya, dia taat aturan. Tapi, kalau ada sesuatu yang menurutnya tidak sesuai logikanya, dia bisa ngamuk.”
“Apa dia sering seperti itu?” tanya staf itu pada Ardan.
“Tidak juga. Aku kenal betul seperti apa Rafa itu. Mungkin tadi ada beberapa junior yang sempat bikin dia kesal,” ujar Ardan santai. “Kalau kau masih belum yakin Rafa itu pelajar teladan, kau bisa cek total nilainya selama dia belajar di akademi ini. Adios.”
Sambil melambaikan tangan disertai senyum ramah, Ardan pun berlari kecil menyusul Rafa, meninggalkan lapangan arena yang kini hanya menyisakan beberapa staf dan robot yang mulai berberes-beres.
__ADS_1
...~*~*~*~...