Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 47 : Mengejek


__ADS_3

“Amukan Hutan!”


Kedua tangan Nadia ditepukan ke tanah, menciptakan aura hijau sesaat, kemudian tumbuhlah pohon-pohon raksasa di hadapannya. Batang-batang kayu tumbuh merambat secara berkala menyusul ke arah Ardan.


Semua orang yang menonton pertarungan itu terkejut mengetahui betapa besar pohon-pohon yang bisa diciptakan Nadia dalam satu jurus. Pertumbuhan semua pohon terlihat sangat cepat dan bentuknya mengerikan.


“Iya.... Itu sebabnya, sih, kenapa aku sempat khawatir kalau adikku bakal menghancurkan fasilitas-fasilitas di sini,” gumam Rafa sambil memperhatikan pertarungan.


Krisan juga takjub melihat Kekuatan Kebangkitan milik Nadia ini walau ekspresi wajahnya tetap datar. Nadia memiliki kekuatan tuk mengendalikan tanaman, dan itu merupakan kekuatan yang sangat luar biasa di mata Krisan.


Krisan jadi sedikit iri. Andai saja dia punya elemen Kekuatan Kebangkitan seperti itu. Dia ‘kan pencinta alam.


“Krisan!”


Krisan menoleh saat Nadia memanggilnya. Terlihat gadis itu masih menapakkan kedua tangan di lantai, berusaha menciptakan lebih banyak pohon besar lagi tuk menyerang dan mengepung Ardan.


“Bergerak!”


Mengerti maksud Nadia, Krisan langsung menghilang begitu saja, mulai masuk ke sela-sela hutan buatan.


Di tengah lapangan, Ardan masih berdiri sambil memperhatikan pertumbuhan masif pohon-pohon yang diciptakan Nadia. Semua jenis tanaman raksasa merambat cepat menghampirinya.


Ardan yakin, Nadia ingin membuat arena pertarungannya sendiri dengan tanaman-tanaman itu.


Salah Ardan sendiri, nekat memancing emosi seorang Nadia Isabella Novan. Pada akhirnya, gadis itu tak ragu mengerahkan Kekuatan Kebangkitan sebesar ini hanya untuk mengalahkan Ardan.


Tapi, tak apa. Memancing emosi Nadia sudah termasuk bagian dari rencana. Sekarang, Ardan cukup mengambil tindakan lanjutan.


“Pasak Terbang.”


Ardan menyiapkan beberapa pasak besi yang dibiarkan melayang di sekitarnya untuk berjaga-jaga. Mata perak Ardan mulai fokus memperhatikan pergerakan batang-batang rambat tersebut.


Ketika beberapa akar mulai menyerang, pemuda itu langsung melompat beberapa kali menaiki akar-batang yang lain. Ia pun segera berlari di atas batang pohon sambil menghindari setiap cambukkan akar dan sulur-sulur daun dengan pasak-pasak terbang mengikuti.


Sesekali Ardan mengendalikan beberapa pasak tuk menepis semua serangan tanaman serta memotongnya.


Dia terus berlari di atas batang pohon, melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, dan mulai terjun.


“Papan Besi!”


Ardan menciptakan papan besi pipih di bawah kedua kaki saat mulai terjun ke bawah. Ketika mendarat, ia langsung meluncur di sepanjang batang pohon. Beberapa serangan batang, akar raksasa, dan sulur-sulur daun terus dilancarkan ke arah Ardan selama ia meluncur.


“Hup! Heaaah...!”


Dengan lincah Ardan meluncur menghindari semua serangan, melompat, meluncur kembali, melengkungkan tubuh saat batang pohon hendak menabraknya, bahkan melompat salto ke depan dan kembali meluncur.


Ketika dirasa tidak ada serangan tumbuhan lagi mengarah padanya, Ardan sempat menyadari sesuatu yang janggal. Sejak Nadia menciptakan hutan ini, dia tidak melihat keberadaan Krisan lagi.


“Ke mana gadis itu pergi?”


Masih sambil meluncur, mata perak Ardan bergerak-gerak memperhatikan keadaan sekitar, waspada, mencari-cari keberadaan sosok Krisan ataupun Nadia yang mungkin saja akan menyerangnya tiba-tiba.


Ada banyak kemungkinan buruk bisa terjadi dalam situasi seperti ini. Nadia sengaja menciptakan hutan agar kedua gadis itu bisa menyerangnya secara sembunyi-sembunyi.


Beberapa saat mencari, Ardan berhasil menemukan sekelebat bayangan lewat di antara pepohonan, agak jauh di sampingnya.


“Di sana kau rupanya!”


Ardan melompat dengan papan besi, menendang papan besi itu di udara hingga melesat, menancap tepat di batang pohon tempat bayangan itu bersembunyi. Bayangan tersebut tampak menghilang cepat ketika menyadari posisinya diketahui.

__ADS_1


Ketika Ardan mendarat di atas batang pohon rambat, spontan ia mendongak, menemukan sosok Krisan melompat melewatinya dengan dua pasak kayu panjang di tangan.


Mata biru Krisan menyipit tajam, waspada dan bersiap melancarkan serangan pada Ardan.


“Hiah!”


Krisan melempar satu pasak saat berada di udara, tentu dengan mudah Ardan menghindar.


Krisan mendarat di lantai lapangan, melompat naik ke permukaan batang pohon yang sama, berlari cepat menghampiri Ardan sambil mencabut pasak yang sempat menancap di sana, kemudian mengayunkan kedua pasak panjang itu ke arah Ardan.


“Heah!”


“Hargh!”


Keduanya saling mengayunkan pasak masing-masing, Krisan dengan pasak kayu dan Ardan dengan pasak besi. Benturan dari keempat pasak itu sempat menimbulkan hembusan angin saking kerasnya mereka melancarkan serangan.


Keduanya saling menahan serangan, bersikeras mendorong satu sama lain.


Di sela-sela menahan serangan Krisan, Ardan sempat menyunggingkan senyum. “Tak kusangka, gebetanku kuat juga bertarungnya. Enggak salah aku naksir sama kamu.”


“Heh?” Ungkapan itu berhasil membuat Krisan hilang fokus.


Ardan pun mendorong Krisan sampai mundur terhuyung beberapa langkah. Ketika Ardan mengayunkan kedua pasaknya ke arah Krisan, gadis itu langsung melompat salto ke belakang menghindarinya.


Saat Krisan mendarat, Ardan malah melesatkan beberapa pasak terbang, membuat gadis itu terpaksa beberapa kali melompat mundur menghindarinya, dan pasak-pasak itu pun menancap di posisi tak karuan.


“Kenapa? Mulai terjebak dalam pesonaku, kah?” tanya Ardan percaya diri.


Dengan kedua pasak besi di tangan, Ardan berlari ke arah Krisan. Dia sempat memukul-mukul beberapa pasaknya yang menancap di sana, membuat pendengaran Krisan terganggu.


“Ugh...!” Krisan meringis merasakan dengung tak nyaman di kedua telinga akibat suara dentingan besi-besi itu.


Ardan kembali mencoba membuat Krisan semakin hilang fokus. “Oh, ya! Tadi itu, kamu nakal banget, deh. Iseng-iseng remas dadaku. Kalau kamu mau, ‘kan tinggal bilang aja.”


“Hah?”


Pertahanan Krisan makin mengendur, kesempatan ini tentu tak disia-siakan Ardan.


“Kena kau,” gumam licik Ardan.


Ardan menendang kedua betis Krisan sekaligus, membuat tubuh gadis itu ambruk. Kemudian, Ardan hendak melanjutkan serangan dengan menusukkan kedua pasaknya ke sisi kaos Krisan agar gadis itu tak bisa bangkit lagi, otomatis Krisan akan dinyatakan gugur.


“Senjata Kebangkitan : Gauntlet Kayu!”


Spontan Ardan melirik ke belakang, menemukan sosok Nadia tiba-tiba sudah melompat tinggi di atasnya, hendak menerjang Ardan dengan tinju dari kedua tangan yang sudah diselimuti oleh susunan batang kayu keras.


“Menyingkir kau dari kawanku!”


Niat Ardan tuk menggugurkan Krisan pun urung. Terpaksa ia melompat tinggi ke samping, menghindari serangan tinju Nadia. Tinju itu terlihat berhasil membuat batang kayu yang mereka pijak hancur.


Kalau saja Ardan nekat menahan serangan itu, dia tetap akan kena tinju Nadia. Karena gadis tersebut sudah mengeluarkan Senjata Kebangkitan, otomatis daya serangnya akan semakin meningkat.


Ardan mendarat di lantai dengan kedua pasak masih setia di tangan, sedangkan Nadia menatap tajam pemuda itu di atas bagian batang pohon rambat.


“Kris, kau tak apa?” Nadia mencoba membantu Krisan berdiri. “Masih sanggup melawan Bang Ardan?”


Krisan yang kini sudah berdiri di samping Nadia hendak menjawab, tapi tertahan karena keduluan Ardan yang berucap.


“Wah, wah, wah.... Udah pakai senjata aja, nih.”

__ADS_1


Spontan kedua gadis itu menatap serius ke arah Ardan.


Ardan sempat memutar-mutar pasak besi, dipanggulnya satu pasak di bahu, kemudian ia tersenyum remeh, “Mulai merasa terpojok, ya?”


Kedua mata biru terang Nadia melotot marah, tak terima diledek begitu dengan gaya tengilnya. Sungguh, ketengilan Ardan selalu berhasil membuat Nadia naik pitam.


“Argh! Bang Ardan, kau benar-benar—.”


“Tunggu, Nad!”


Nadia menoleh saat Krisan meraih tangannya, menahan gadis berambut pirang itu untuk tidak sembarang menyerang dulu.


“Kau harus tetap fokus. Jangan terpancing kata-kata Senior Ardan. Dia memang sengaja mempermainkan emosi kita.”


“Ap—.”


Nadia kembali melihat Ardan yang saat ini masih berdiri dengan satu pasak panjang dipanggul di bahu dan tetap menyunggingkan senyum remeh khasnya.


Krisan kembali mengatakan, “Sejak awal, dia sengaja memancing emosimu agar kau bertindak gegabah. Dan dia juga berusaha membuatku hilang fokus.”


“Jika sampai emosi dan perasaan seseorang kacau di dalam pertarungan, maka orang tersebut akan kehilangan fokus bertarung. Itulah cara Senior Ardan membuat kita semakin melemah.”


“Senior Ardan sengaja mengejek kita.”


Di tribun penonton, para Taruna-Taruni dan staf terpaksa menyaksikan pertarungan mereka bertiga lewat monitor yang tersedia di sekitar arena karena lapangan tersebut ditutupi oleh hutan buatan ciptaan Nadia.


Rafa yang melihat pertarungan itu juga sempat menebak kalau Krisan dan Nadia baru sadar bahwa mereka telah dipermainkan Ardan.


“Nadia lupa, ya, kalau salah satu taktik bertarung Ardan adalah mancing emosi lawan?” ucap Rafa sambil melihat monitor lebar di sana.


“Nekat juga, ya, taktik bertarung Ardan itu.” Damar menyenderkan tubuh di kursi. “Biasanya, orang kalau lagi emosi pasti kekuatannya bakal meningkat.”


“Biar kekuatan orang meningkat sampai bisa ngancurin alam akhirat pun, kalau emosinya enggak stabil, sama aja bo’ong,” sarkas Rafa. “Sebego-begonya Ardan soal pelajaran strategi, kalau Ardan tahu taktik bertarung di tengah pertarungan, dia bakal tetap unggul.”


Rafa melanjutkan dengan serius, “Yang dibutuhkan dalam pertarungan langsung seperti ini adalah teknik, taktik, dan seberapa sigap seseorang dapat membaca situasi serta pergerakan musuh. Jadi, tidak mustahil kalau orang penyakitan sekali pun bisa menang dari orang kuat. Semua formula itu bakal buyar gitu aja kalau emosi dan perasaan kebawa-bawa.”


“Dan celah itulah yang dimanfaatkan Ardan tuk melumpuhkan musuh-musuhnya. Ardan memang kuat, tapi dia tidak perlu buang-buang lebih banyak tenaga kalau bisa membuat musuhnya lemah hanya dengan cara menjatuhkan mental mereka.”


Rafa melirik Damar lewat ekor matanya. “Jadi, jangan heran kalau sifat aneh Ardan yang itu tetap dipelihara. Karena sifat menjengkelkannya bisa dia terapkan di dalam pertarungan.”


Damar mulai mengerti mengapa dalam setiap pertarungan Ardan selalu cerewet dan suka mengejek musuh. Rupanya, tindakan yang terlihat konyol di mata orang lain itu malah bisa dijadikan sebagai cara jitu untuk melemahkan musuh secara mental.


Jika mental musuh kacau, maka fisiknya pun tak stabil. Dan di saat itulah, Ardan mampu memanipulasi situasi agar kemenangan berpihak padanya.


Rafa kembali bicara, “Sebenarnya, ngejek orang di pertarungan juga bisa bikin hati lega, lho.”


Damar sedikit terkejut mendengarnya. “Kok kedengarannya tega?”


“Kan namanya bertarung atau perang itu musti tega-tega’an. Kalau berbaik-baikan bukan bertarung namanya, tapi silaturahmi.”


“Ha-ha, Bapak bisa aja. Jadi gemes pengen geplak ‘pala Bapak pakai kursi ini,” ejek Damar, agak kesal sama ledekan Rafa.


“Silakan saja kalau enggak mau dapat restu dari saya buat situ nikahin adik saya.”


“Ukh!”


Dan Damar merupakan salah satu korban dari taktik menghancurkan mental musuh lewat ejekan.


...~*~*~*~...

__ADS_1


__ADS_2