Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 52 : Duel Cepat


__ADS_3

Gigi-gigi Shujin bergemeletuk menahan emosi, tak terima dengan respon sok keras Ardan menanggapi segala perkataannya. Ditambah lagi, ia menantang Shujin, memerintahnya untuk maju lebih dulu.


“Ergh! Kau pikir siapa dirimu memerintahku tuk maju duluan?! Kau yang maju!”


Ardan juga tak terima atas ucapan keras Shujin, “Apa-apaan kau ini?! Kaulah yang maju!”


“Aku sudah menyerangmu lebih dulu! Sekarang, kau yang maju!”


“Kau yang menantangku, maka kau yang maju!”


“Kau yang maju!”


“Kau!”


“Kau!”


“Kau!”


“Kau!”


“Kau!”


Para penonton di tribun dibuat heran dengan tingkah Ardan dan Shujin di arena. Entah mengapa, keduanya sama-sama tidak ada yang mau maju. Akan sampai kapan mereka teriak-teriak enggak jelas begini?


Krisan masih menyimak dengan tatapan polos khasnya, Damar dan Nadia malah tampak berekspresi masam merasa mulai jengkel dengan keduanya, sedangkan Rafa yang sudah mengerti situasi malah cekikikan sendiri.


“Mereka itu kenapa, sih?” sungut Damar. “Mau nyerang aja pakai nunggu lawan nyerang duluan. Kesannya jadi kelihatan sama-sama pengecut.”


“Khikhikhi....” Rafa berusaha mengendalikan cekikikannya. “Ekhem! Udah kebaca taktik mereka itu. Mereka nunggu lawannya nyerang dulu, terus ngindar. Pas ngindar gitu, kadang musuh agak hilang fokus 'kan? Jadi bisa ngasih serangan dadakan yang polanya bakal sulit kebaca. Taktik basi ‘mah itu.”


Damar mengerjapkan mata ketika memperhatikan penjelasan Rafa. Pemuda dengan tinggi tubuh di atas rata-rata itu benar-benar tukang sarkas kalau sudah mengerti logika dan pola pikir orang lain yang dianggapnya konyol.


Bahaya juga kalau berhadapan sama calon abang ipar ini.


Tidak ada satu pun dari mereka yang sudi menyerang duluan. Ardan pun menghela nafas berat. Dia terpaksa menyerang lebih dulu kalau sudah begini jadinya. Ribut seperti ini mulu bakal bikin sesi pengetesan makin lama berakhir.


Padahal, Ardan ingin cepat-cepat istirahat. Sudah capek dia dengan segala kegiatan di Masa Orientasi Pelajar ini. Mana besok dia diminta untuk jadi pembawa acara seminar pula.


Ribetnya jadi pelajar aktif ya kayak begini.


“Oke....”


Ardan melesat cepat menuju Shujin dengan posisi tombak siap menusuk. Ketika hampir mencapai Shujin, junior itu tiba-tiba menghilang.


Shujin langsung muncul di atas Ardan, menerjangnya dengan kedua belati siap menyayat. Tanpa menoleh sedikit pun, Ardan menepis serangan belati Shujin menggunakan badan tombak, membuat Shujin terhempas menjauh dari posisi Ardan.


Di tribun, Rafa berkomentar, “Semua pengguna bayangan dan belati pasti punya gaya bertarung ala assassin. Mereka mengandalkan kecepatan tidak manusiawi tuk menghindar dan menyerang musuh secara dadakan.”

__ADS_1


“Kalau musti cari posisi musuh dengan kecepatan musuh secepat itu, malah bakal sempat kena serang. Makanya, cuma bekal insting dan pendengaran tajam, Ardan menepisnya tanpa perlu menoleh. Yang penting, gerakan bagian tubuh tetap mampu stabil tuk menghindari setiap serangan musuh seperti Shujin.”


“Apa pola bertarung seperti ini sering terjadi dan bisa diterapkan kembali?” tanya Damar penasaran.


Rafa menjawab, “Tidak juga. Yang namanya pertarungan itu sulit diprediksi. Lebih sering belajar dan tambah-tambah pengalaman bertarung ‘lah yang dapat membuat seseorang dapat menguasai pertarungan. Aku bisa menyimpulkan segala pola pertarungan ini karena aku cuma nonton di mari.”


Rafa menopang belakang kepalanya menggunakan kedua tangan sambil memandang lurus ke arena.


“Semua orang pandai menganalisa, mengambil kesimpulan, dan berkomentar kalau tidak sedang mengalaminya.”


Di arena, Ardan menoleh, memutar posisi tubuhnya kembali menghadap Shujin yang terlihat menatap tajam dirinya.


“Mengendap-endap tak terlihat seperti pecundang, itu ‘kan cara bertarung seorang pengguna bayangan berbekal senjata piso dapur?” ledek Ardan sambil memutar tombak.


“Eeekh....”


Shujin hampir saja terpancing emosi. Dia baru ingat kalau Ardan tipikal orang yang akan terus meledek musuhnya agar marah dan membuatnya hilang fokus.


Shujin harus tetap tenang, fokus tuk menjatuhkan Ardan dan mempermalukan pemuda itu di hadapan banyak orang.


Kali ini, Shujin ‘lah yang melesat dan menyerang lebih dulu menggunakan sepasang belati hitam. Namun, lagi-lagi serangan belatinya bisa ditepis mudah oleh putaran tombak Ardan.


Mereka berdua sama-sama memberikan serangan cepat. Menjauh, saling terjang, serang. Menjauh, saling terjang lagi, serang. Seperti itulah pola bertarung mereka hingga setiap hantaman menciptakan percikan-percikan api putih kebiruan saking kerasnya mereka melancarkan serangan.


Saking cepatnya gerakan mereka, membuat para penonton hampir tak sanggup melihat jelas gerakan keduanya. Mereka saling adu serang dengan gerakan secepat kilat.


“Kayak itu, Cuy.... Berantemnya anime-anime entu. Yang shat-shet, shat-shet,” ucap Dodo antusias.


Didi menggaplok kepala Dodo, “Apaan shat-shet, shat-shet?! Enggak jelas ‘kali kau itu, Do.”


“Mereka cepat ‘kali....” Ujang membetulkan posisi masker.


Ardan dan Shujin terus memberikan berbagai serangan dengan kecepatan tidak manusiawi sampai keduanya sama-sama terhempas saling menjauh.


Di saat itu pula, Shujin mengambil kesempatan tuk menggunakan jurus Kebangkitan.


“Kristal Kegelapan!”


Shujin melempar titik partikel hitam dari ujung belati ke atas. Partikel itu membelah diri, membentuk batu-batu kristal ungu yang langsung melesat bergantian ke arah Ardan. Tentu Ardan segera menghindari serangan-serangan kristal itu.


Selama ia berusaha menghindar, Ardan sempat melihat ke arah kristal yang jatuh mengenai lantai. Batu berkilau itu akan menumbuhkan pasak-pasak kristal yang dapat menusuk target jika sampai kena.


Entah mengapa, serangan kristal tersebut malah mengingatkan Ardan kembali pada kemampuan es Regan.


“Itu....” Ardan menyipit curiga sambil terus menghindar.


Bukan hanya Ardan, Nadia dan Rafa pun mencurigai sesuatu tentang jurus kristal yang digunakan Shujin.

__ADS_1


“Bang.” Nadia mulai berbisik pada Rafa. “Seingatku, bukannya pengguna bayangan tidak bisa menciptakan kristal? Wujud unsur bayangan lebih mirip seperti uap aura ketimbang padat.”


Rafa merasa ada yang janggal pada jurus Shujin ini. Memang ada beberapa jenis unsur Kebangkitan yang memiliki beberapa wujud seperti uap aura, cair, atau pun padat. Tapi untuk bayangan, rasanya kurang masuk akal jika dapat terbentuk dalam wujud padat sekeras kristal.


Jurus ini malah kelihatan seperti jurus untuk pengguna es, tanah, atau murni kristal.


Setiap lantai yang kena hantam kristal terlihat menciptakan kumpulan pasak-pasak kristal ungu dengan ujung yang tajam.


Setelah Shujin melesatkan semua kristal dan tak ada satu pun yang berhasil mengenai Ardan, Shujin melemparkan satu belati ke arah pasak kristal di dekat posisi Ardan, membuat beberapa pasak kristal pecah dan berhamburan ke arah Ardan.


“Bocah ini,” desis Ardan jengkel.


Ardan terpaksa menangkis pecahan-pecahan kristal itu dengan memutar-mutar tombak.


Shujin menciptakan gelombang bayangan di bawah kaki, mulai berselancar cepat menggunakan bayangan tersebut sambil mendekati Ardan.


“Hiah!”


Shujin melemparkan satu belati lagi ke arah pasak-pasak kristal lain di dekat Ardan hingga pecahan itu berhamburan kembali. Lagi-lagi, Ardan terpaksa menangkis dan menjauh.


Sepasang belati Shujin kembali ke tangan. Ia terus meluncur cepat sambil melempar belati kembali ke arah beberapa pasak kristal, terus seperti itu agar semakin banyak pecahan kristal mengganggu Ardan.


“Tembok Besi!”


Karena muak, Ardan menciptakan tembok besi tuk melindunginya dari serangan pecahan kristal.


Di saat itulah, Shujin menghilang dan muncul tiba-tiba di depan Ardan, kembali menyerangnya dari dekat.


“Ekh...!”


Seraya menoleh, Ardan menepis serangan belati Shujin. Ia melompat tinggi di atas tembok besi, lalu menendang tembok itu ke arah Shujin. Tentu Shujin dapat menghindar dan kembali menyerang Ardan.


“Kau kira kau bisa menjatuhkanku hanya dengan tembok kusammu itu?!” hina Shujin sambil mendorong kedua belatinya yang ditahan Ardan menggunakan tombak.


“Dan kau pikir aku bisa tumbang hanya dengan serangan bajing loncatmu?!” balas hina Ardan sambil mendorong tombaknya.


“Pasak Terbang!”


Ardan menciptakan lima pasak terbang di atas, dilesatkan ke arah Shujin agar pemuda itu menjauh darinya.


“Cakram Logam!”


Ketika Shujin menjauh, Ardan melesatkan satu cakram logam besar ke arah Shujin. Tak tinggal diam, Shujin pun melesat melewati cakram itu dengan cara meluncur di permukaan licinnya, lalu melompat tinggi ke hadapan Ardan.


“Tebasan Silang Bayangan!”


Shujin melesatkan tebasan bayangan panjang membentuk huruf X ke arah Ardan, menciptakan ledakan besar dan kepulan asap tebal saat meledak mengenai lantai arena.

__ADS_1


...~*~*~*~...


__ADS_2