Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 45 : Jagoan Belakangan


__ADS_3

Nadia dan Krisan berjalan beriringan memasuki lapangan arena. Dengan mantap Nadia menunjuk Ardan, mencoba menantangnya.


“Hah! Kau kira kau bisa bernafas lega setelah menghabisi semua juniormu?” Nadia menggeleng santai. “Ayolah.... Masih ada dua jagoan lagi yang belum menunjukkan taringnya. Seperti kata pepatah ; pahlawan selalu datang belakangan.”


Damar dan Rafa memperhatikan dengan ekspresi datar, merasa malu sendiri melihat kepercayaan diri Nadia yang di luar batas dan nalar.


“Mana ada pepatah bilang kayak gitu?” Sebelah alis Damar berkedut.


“Enggak usah dipikirin. Adikku emang otaknya rada-rada—. Ya.... Rada-rada.” Bahkan Rafa kehabisan kata-kata.


Ardan juga memasang ekspresi datar menanggapi ucapan menantang Nadia. Rasanya seperti berhadapan dengan anak kecil yang berlagak sok jagoan.


“Bukannya yang datang belakangan itu penyesalan?”


Nadia mengelak ucapan Ardan, “Ya! Penyesalan! Penyesalan karena kau akan menyesal telah menantangku!”


“Kau yang malah datang-datang menantangku, Nad.”


“Hah! Jangan mengelak kau, Belatung Rambutan! Aku tidak pikun!”


“Siapa yang bilang kau pikun?!”


“Itu! Baru aja kau bilang pikun!”


Damar, Rafa, para staf, dan beberapa Taruna-Taruni jadi bingung sendiri melihat interaksi aneh antara Ardan dan Nadia, macam melihat orang sakit jiwa adu bacot.


Krisan sempat melihat ke arah sekitar, menyadari bahwa orang-orang yang menonton mereka mulai merasa aneh sendiri. Karena ingin menghentikan perdebatan tak penting antara Nadia dan Ardan, Krisan pun memutuskan tuk bicara.


“Tidak ada aturan tertentu soal kapan kami akan ikut menyerang, bukan?”


Pertengkaran keduanya seketika terhenti saat mendengar ucapan datar Krisan.


“Itu sebabnya, kami memutuskan tuk mengambil giliran belakangan,” lanjut Krisan.


Nadia berdiri tegap, bersedekap tangan di dada. “Ya, kawanku ini benar. Kami hadir belakangan karena ini adalah bagian dari strategi.”


Ardan memutar mata peraknya, makin malas menanggapi ucapan-ucapan aneh Nadia. “Ya.... Memang tidak ada aturan kapan kalian menyerangku, mau bergilir, belakangan, atau main keroyokan. Bebas saja.”


Tak disangka, Ardan melenyapkan tombaknya menjadi serpihan abu. Tentu hal itu terasa aneh di mata Krisan dan Nadia, sebab sebentar lagi mereka akan bertarung. Seharusnya, Ardan masih bisa menggunakan Senjata Kebangkitan tersebut.


“Karena yang terakhir ini aku bertarung melawan dua junior cewek, sepertinya aku tidak perlu menggunakan senjata apa pun.” Ardan mulai meremehkan, “Cewek itu ‘kan lebih lemah dari cowok. Sebagai cowok, aku enggak boleh kasar-kasar dong sama cewek.”


Mendengar perkataan Ardan itu tak semerta-merta membuat Krisan emosi. Justru gadis berambut hitam panjang tersebut tetap diam, tanpa respon.


Dalam pikiran polos Krisan, mungkin yang dimaksud Ardan merupakan kaum perempuan yang lain. Krisan sama sekali tidak merasa tersinggung, karena ia menganggap dirinya bukan bagian dari perempuan yang Ardan maksud.


Jadi, untuk apa Krisan emosi?


Mungkin karena kepolosan Krisan yang berlebihan, segala sindiran, sarkasme, bahkan hujatan takkan mempan padanya.

__ADS_1


Namun berbeda dengan Nadia. Persimpangan imajiner muncul di sekitar kepala pirangnya, pertanda ia marah akan perkataan Ardan tersebut yang dirasa menyinggung harga dirinya sebagai kaum perempuan.


“Arkh! Kau enggak boleh ngehina martabat cewek! Kami ini juga bisa lebih kuat dari cowok!” tegas Nadia tak terima.


“Lho? Siapa yang ngehina martabat cewek?” Dengan gaya seorang pria lembut, Ardan berucap, “Aku ‘kan cuma bilang kalau aku enggak mau kasar-kasar sama cewek. Makanya, aku enggak pakai senjata lagi.”


“Itu berarti, kau meremehkan kami! Tadi pas kau melawan junior cewek yang lain, masih pakai senjata, kok!”


“Lha? Itu ‘kan dia keroyokan sama junior-junior cowok. Sedangkan yang di hadapanku ini ‘kan merupakan dua cewek unyu. Apalagi kau itu sepupuku, dan ada gebetanku juga di sana.”


Krisan masih tampak datar, walau dalam hati udah mulai tak karuan diakui sebagai gebetan Ardan.


“Ish! Aku tak terima kau meremehkan kami begitu!” teriak Nadia udah makin emosi.


Ardan menghela nafas sesaat. “Oke.... Kalau gitu....”


Ardan mengulurkan satu tangan, menggerak-gerakan dua jarinya, memberi aba-aba agar kedua gadis itu mendekatinya.


“Tunjukan kalau kalian, para cewek, bisa menghadapiku.” Ardan tersenyum remeh, mengedipkan sebelah mata.


“Aaargh!”


Cukup dengan bacotan dan godaan Ardan, Nadia sudah marah besar karena emosinya kepancing terlalu jauh. Oleh karena itu, Nadia pun berlari kencang ke arah Ardan, bersiap menyerang pemuda tengil itu.


“Kok bisa Nadia sampai kepancing emosi begitu?” gumam Krisan, lalu berlari menyusul Nadia, siap menyerang Ardan pula.


Nadia berlari kencang, semakin mendekati Ardan dan mulai melancarkan satu serangan tinju.


Satu tinju berhasil Nadia lancarkan. Dengan sigap, Ardan menahan tinju tersebut menggunakan satu pergelangan tangan. Namun, tak disangka serangan tinju Nadia lebih kuat ketimbang serangan para junior sebelumnya, membuat pergelangan tangan Ardan terasa sedikit kebas akibat serangan Nadia itu.


Setelah satu tinju telah dilancarkan sebagai pembuka, Nadia kembali memberi berbagai serangan tinju ke arah Ardan dengan begitu cepat. Ardan tak kalah cepat menepis semua tinjuan Nadia.


Bukan cuma Nadia, Krisan pun ikut memberi serangan tangan kosong ke arah Ardan di sebelah Nadia. Keduanya sama-sama menyerang cepat, dan Ardan juga sama cepatnya menepis semua serangan mereka.


Dari sini, Ardan mulai menyimpulkan bahwa kedua gadis ini memiliki gaya serangan yang berbeda. Ardan sudah terbiasa dengan segala serangan sekuat tenaga yang dilancarkan Nadia. Tetapi, Ardan malah merasa aneh dengan semua serangan Krisan.


Serangan-serangan Krisan sangat ringan, terlalu mudah tuk dihindari.


Bahkan dari ekspresi wajah keduanya pun, Krisan jauh lebih datar ketimbang Nadia yang menyerang dengan segala emosi.


Ardan merasa tak nyaman dengan respon Krisan. Justru petarung seperti Krisan ini yang patut diwaspadai.


Ketika Nadia kembali melancarkan satu serangan tinju yang sama kuatnya seperti tinju pertama, Ardan berhasil menangkap pergelangan tangan Nadia, meraih bahu kecilnya, lalu membawa tubuh Nadia berputar.


“Krisaaaan...!”


Ardan memutar tubuh Nadia hingga kaki gadis itu hampir menendang Krisan. Beruntung, Krisan mampu menghindar dengan bersalto ke samping.


Setelah cukup memutar tubuh Nadia, Ardan pun melempar jauh tubuh gadis itu. Karena refleks Nadia lumayan bagus, ia pun berputar di udara dan mendarat dengan baik di lantai, kemudian kembali berlari mendekati Ardan.

__ADS_1


Kali ini, giliran Krisan yang melawan Ardan. Beberapa kali Krisan memberi berbagai serangan, mulai dari tamparan hingga tendangan, tapi semuanya masih bisa dihindari Ardan.


“Cuma begitukah kemampuanmu?”


Krisan tak merespon. Gadis berambut hitam itu malah melompat ke atas Ardan dengan posisi kepala serta tangan di bawah dan kaki di atas.


Ardan agak membelalak ketika menyadari gerakan Krisan di atasnya. Kedua tangan Krisan hendak meraih kepala Ardan.


“Gawat.”


Reflek Ardan menggeser kepala dan bahunya, membuat kedua tangan Krisan gagal meraih kepala Ardan. Gadis itu pun pada akhirnya mendarat di belakang Ardan, langsung berbalik dengan satu kaki menendang kaki Ardan. Lagi-lagi Ardan mampu menghindari tendangan tersebut.


“Ah...! Aku mengerti strategi gadis itu,” gumam Rafa masih melihat pertarungan di bangku tribun.


Mendengar gumaman Rafa, Damar pun bertanya, “Strategi apa?”


“Gadis yang bernama Krisan itu. Dari gerakan-gerakan awal, dia tak nampak punya semangat bertarung. Semua serangannya terlalu mudah dihindari.”


Damar mencoba mengingat pertarungan pembuka tadi. Memang benar, dibandingkan dengan Nadia, Krisan terlihat terlalu santai tuk bertarung.


Rafa menganalisa, “Semua itu ia lakukan cuma sekedar tuk mengecoh. Atau lebih tepatnya, mencoba mencari tahu gaya bertarung dan titik kelemahan Ardan. Ketika tiba di saat yang tepat, seperti saat Krisan melompat dan hendak meraih kepala Ardan, ia akan mengeluarkan seluruh tenaganya tuk melumpuhkan Ardan.”


“Niat awalnya ingin membenturkan kepala Ardan ke bawah. Tapi beruntung, Ardan menyadari taktik tersebut, sehingga ia dapat menghindar.” Rafa menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi. “Kalau saja tuh kepala kena, minimal geger otak ringan ‘lah dia.”


“Ish....”


Damar meringis mendengarnya. Tak disangka, gadis sekalem Krisan bisa memiliki gaya bertarung seperti itu.


Selain itu, Damar juga heran dengan ekspresi Rafa yang terlihat santai menganalisa kemungkinan sepupunya tersebut bakal kena geger otak ringan.


Bagaimana bisa respon Rafa sesantai itu?


Damar menggeleng menyadari sesuatu. Seharusnya, dia tidak heran melihat Rafa tidak khawatir pada Ardan. Entah latihan iblis macam apa yang sering Ardan dan Rafa lakukan ketika mereka latihan bersama di kediaman Keluarga Novan.


Selain itu, Grim juga menyempatkan diri melatih mereka di saat waktu luang. Jadi, tidak heran jika latihan yang mereka lakukan sangat keras. Bahkan Damar pernah dengar cerita dari Nadia kalau Ardan dan Rafa sering mengalami patah tulang, muntah darah, bahkan berhalusinasi gara-gara berbagai benturan keras di kepala.


Benar-benar mengerikan....


“Akan kuhajar kau, Bang Ardan!”


Di sisi lain, Ardan menyadari sosok Nadia berlari cepat ke arahnya, mulai melesat dengan tinju siap diarahkan padanya. Kebetulan, Krisan sedang melancarkan beberapa serangan lagi pada Ardan.


Pada serangan Krisan berikutnya, Ardan meraih tangan Krisan, memelintirnya.


“Ukh!” Krisan sedikit meringis.


Lalu, Ardan putar tubuh Krisan hingga berada di posisi membelakanginya. Ia kunci pergelangan tangan dan leher Krisan, menjadikan tubuh gadis itu sebagai tameng.


“Wo— woaaaaa!!!”

__ADS_1


Menyadari sang sahabat dijadikan sebagai tameng tuk melindungi diri Ardan dari tinjunya, Nadia pun hilang fokus. Nadia berusaha berhenti melesat, tapi tak bisa. Akibatnya, tubuh Nadia pun oleng membuat satu tinjunya meleset dan malah mengenai lantai di samping belakang mereka hingga menciptakan kawah.


...~*~*~*~...


__ADS_2