Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 38 : Chat


__ADS_3

Kegiatan Orientasi Pelajar pada hari pertama berjalan dengan begitu lancar, tidak ada masalah dan keluhan yang terjadi selama kegiatan berlangsung, kecuali masalah-masalah kecil yang sudah bisa diatasi.


Pada malam hari di unit Asrama Putri milik Krisan dan teman-teman, Nadia dan Sheena sama-sama sibuk main ponsel di atas ranjang masing-masing yang posisinya saling berhadapan, sedangkan Krisan tengah mandi di kamar mandi.


Seperti biasa, Nadia sibuk chat-chat’an dengan Damar sambil sesekali tersipu malu, dan Sheena sedang menonton video laknat.


Pintu kamar mandi terbuka, menampakkan sosok Krisan yang sudah selesai mandi dengan rambut hitam basah dan ia mengenakan sebuah daster bermotif abstrak.


“Nad, aku sudah mandi.”


“Oh?”


Nadia memutus pesan chatnya, lalu segera masuk ke kamar mandi sambil membawa handuk beserta pakaian ganti.


“Giliran aku yang mandi, yak,” ujar Nadia sambil masuk ke dalam kamar mandi.


Sheena sempat mengalihkan pandangan pada Krisan yang masih berdiri sambil berusaha mengeringkan rambut basahnya menggunakan handuk. Dia merasa heran sendiri ketika melihat gadis seperti Krisan pakai daster yang modelannya mirip daster emak-emak.


“Pakai daster kau, Kris?” tanya Sheena.


Krisan menjawab, “Aku lebih nyaman pakai daster, soalnya.”


“Ooh....” Sheena mengangguk, lalu kembali menggulir video laknat baru yang ingin ia tonton.


Krisan mulai duduk di tepi ranjang, mengambil setoples makanan yang sempat ia beli di kafetaria sepulang dari akademi dari dalam tas. Sejak awal, Krisan ingin memakan makanan itu. Namun, niatnya tertahan saat mendengar ada pesan masuk lewat ponsel.


Krisan ambil ponsel layar sentuh yang sempat tergeletak di atas ranjang, kemudian membuka isi pesan tersebut. Ia menaikkan sebelah alis, bingung ketika menyadari bahwa pesan itu dikirim oleh sosok yang baru ia kenal hari ini.


Seniornya, Ardan.


Ada perlu apa dia kirim chat malam-malam begini? Enggak bermaksud macam-macam, kan?


Krisan jadi teringat dengan wejangan Nadia agar tetap berhati-hati menghadapi Ardan. Pasalnya, sepupu Nadia yang aneh ini suka modus.


[Ardan Ke(Re)ceh]


[Malam, Dek.... Tadi aku sempat minta ID akun chatmu ke Nadia]


[Lagi apa, Nich???]


Krisan menatap datar isi pesan tersebut. Awal-awal chat saja sudah alay begini.


^^^[Neng Krisan]^^^


^^^[Lagi duduk]^^^


^^^[Di ranjang]^^^


Rasanya enggak enak hati kalau ngomong jujur mau makan. Mungkin Ardan butuh teman ngobrol sekarang. Jadi, Krisan ladeni saja. Toh dia juga jarang-jarang bisa ngobrol sama orang baru kayak begini.


[Ardan Ke(Re)ceh]


[Oh, yea???]


[Pakai baju apa?]


“Eh?”


Krisan makin heran dibuat oleh chat Ardan. Kok malah nanya baju, pula?


^^^[Neng Krisan]^^^


^^^[Daster]^^^


Dan dengan polosnya, Krisan menjawab chat ambigu itu.


[Ardan Ke(Re)ceh]


[Kamu malam ini kabarnya ‘kek apa?]


^^^[Neng Krisan]^^^


^^^[Baik]^^^


[Ardan Ke(Re)ceh]


[Enggak kangen sama aku, nich?]

__ADS_1


Krisan sempat berpikir sejenak sebelum dia kembali membalas, dengan sangat polos dan tidak ada niat sama sekali tuk menyakiti perasaan Ardan.


^^^[Neng Krisan]^^^


^^^[Emang kau siapaku?]^^^


Cukup lama Krisan menunggu balasan Ardan hingga pesan jawaban kembali masuk.


[Ardan Ke(Re)ceh]


[Calon pemimpin keluarga kita di masa depan]


“Hmmm....”


Gadis itu menyipitkan kedua mata birunya ketika membaca balasan Ardan. 


Kurang ngerti maksudnya.


^^^[Neng Krisan]^^^


^^^[Kita tidak tahu masa depan, Senior]^^^


^^^[Kau bukan cenayang]^^^


“Aku heran. Kenapa banyak cowok suka bilang ke cewek kalau dia itu calon inilah, itulah. Kan masa depan hanya Tuhan yang tahu?” celetuk Krisan polos.


[Ardan Ke(Re)ceh]


[Aish.... Kan cuma prediksi. Siapa tahu beneran jodoh???]


[Bahas yang laen aja, nape?]


Kepala Krisan tertunduk, menyadari perutnya saat ini sudah keroncongan minta diisi. Sudah waktunya tuk makan. Sepertinya, tidak ada hal yang penting juga tuk dibahas.


^^^[Neng Krisan]^^^


^^^[Aku mau makan, Senior]^^^


^^^[Kau sudah makan?]^^^


Ada jeda beberapa saat sebelum Ardan membalas.


[Ardan Ke(Re)ceh]


[Udah tadi, bareng sama yang laen]


[Aku ganggu, yak? Maaf, ya, kalau ganggu]


[Makan yang banyak, yaaa.... Biar tambah gemes]


Krisan jadi makin bingung. Apa hubungannya makan banyak bisa bikin orang tambah gemes?


^^^[Neng Krisan]^^^


^^^[Y]^^^


^^^[Mksh]^^^


[Ardan Ke(Re)ceh]


[Kok singkat banget balesnya?]


[Mungkin karena kamu lapar kali, ya...?]


Bukan lapar. Lebih tepatnya, emang enggak ada hal penting yang perlu ditanggepi panjang lebar.


[Ardan Ke(Re)ceh]


[Dah dulu, deh, chat-nya]


[Kapan-kapan, kita ketemuan, yak? >///<]


[Ngobrol bareng, gitu]


[Sambil makan ciki]


^^^[Neng Krisan]^^^

__ADS_1


^^^[Y]^^^


^^^[Dah]^^^


[Ardan Ke(Re)ceh]


[Dah, ‘met malem...!]


Chat itu pun ditutup dengan spam chat emoticon hati dari Ardan. Lagi-lagi Krisan bingung dengan banyaknya chat dari emot yang sama. Belum pernah chat-chat’an dengan orang lain selain dari kampungnya, membuat Krisan jadi sedikit gagap teknologi.


Apakah anak muda seusia Krisan wajar spam emot begini saat sedang chat?


Karena penasaran, iseng-iseng Krisan bertanya pada Sheena.


“Kak Sheena.”


Yang dipanggil langsung menghentikan kegiatan menonton video laknat.


“Hm?”


“Tadi Senior Ardan kirim chat.”


Sheena sedikit heran mendengarnya. “Kau kenal Ardan?”


Krisan mengangguk, “Dia senior pembimbing di kelompok kami.”


“Ooo....” Sheena mengangguk paham. “Terus?”


Krisan pun memperlihatkan emoticon chat yang dikirim Ardan, jumlahnya lumayan banyak.


“Dia mengirim emot hati sebanyak ini. Maksudnya apa, ya?”


Sheena menyipitkan mata, jadi makin heran. Ardan memang orang yang suka spam ini-itu di grup chat orang-orang, tapi tidak biasanya Ardan tertarik mengirim spam emot hati sebanyak itu, apalagi pada seorang perempuan.


Malah para perempuan itu yang ngasih emot hati ke Ardan. Maklum, cowok populer nan ganteng, eksotis, dan berkarisma walau kelakuan suka bikin orang sampai ngelus dada.


Sheena sempat mengambil ponsel Krisan, lalu membaca isi chat mereka.


“Ancrit! Pffft....”


Sheena berusaha menahan tawa. Isi chatnya sungguh di luar nalar. Sheena tak menyangka kalau Ardan naksir brutal sama Krisan. Ya, maklum saja. Krisan orangnya emang sangat cantik, bahkan di hari pertama udah banyak Taruna meliriknya. Cuma tak ada satu pun dari mereka yang berani dekat karena Krisan ini pendiam.


Entah mengapa, Sheena bangga dengan balasan-balasan Krisan yang terlihat judes walau aslinya Krisan tidak bermaksud tuk judes pada orang.


Dia hanya kelewat polos dan kurang tahu cara berinteraksi dengan orang alay seperti Ardan.


“Hahahah...!”


Pada akhirnya, Sheena tak mampu menahan tawa. Ia kembalikan ponsel Krisan sambil memegangi perutnya yang mulai sakit akibat tawa bahagia.


“Ahahak! Enggak usah ditanggepin, Kris. Orang mental ODGJ dia.”


Krisan bingung lagi dengan respon Sheena yang malah ketawa setelah membaca chat mereka. Ia pun kembali melihat banjir hati di layar ponselnya, masih mencoba menafsirkan makna di balik spam hati ini.


“Hmm.... Apa jangan-jangan Senior Ardan ngasih tanda darurat kalau dia lagi kena serangan jantung?”


“Ahahaha.... Nyahahahaha...!”


Sheena ngakak sampai bengek dengan tebakan Krisan. Mana respon Krisan datar begitu pula.


Krisan emang tipikal gadis yang susah peka.


...~*~*~*~...


Sedangkan di unit Asrama Putra, Damar dan Rafa dibuat heran dengan sikap Ardan saat ini. Bukannya mereka tidak terbiasa dengan segala perilaku tidak waras dan minim moral yang sering diperlihatkan Ardan setiap harinya. Namun, tumben sekali dia diam begini setelah main ponsel.


Sekarang, Ardan tampak jongkok di pojokan disertai aura-aura suram menemaninya. Kok bisa manusia antik ini jadi banyak diam begini?


“Dan, sehat?” tanya Damar yang sama sekali tidak dapat membantu Ardan tuk merasa lebih baik.


“Chat-nya kok judes kayak tadi, sih?” celetuk Ardan sendiri. “Emang gantengku kurang, ya?”


“Abis chat-chat’an sama juniormu yang cakep itu, yak?” tebak Rafa. “Bukan cuma gantengmu aja yang kurang. Akhlak kau pun kurang.”


“Ukh!”


Ardan langsung kena serangan kritis dari ucapan Rafa. Kalau sudah begini situasinya, bangkitlah jiwa-jiwa pesarkas Rafa.

__ADS_1


...~*~*~*~...


__ADS_2