
Nadia berusaha bangkit sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia tak menyangka Ardan akan menjadikan Krisan sebagai tameng tuk berlindung dari tinjunya. Nadia tentu panik dan tak sempat memikirkan apa-apa lagi. Alhasil, ia oleng sendiri dan meninju hancur lantai di samping belakang Ardan.
“Kepikiran keselamatan teman, huh...?” Ardan menoleh, masih mengunci pergerakan tubuh Krisan. “Padahal, kalau bisa fokus, tinjumu itu bakal kena kepala sampingku, lho.”
Ardan mengendurkan kunciannya. Namun, ia meraih kerah kaos belakang Krisan, dan melempar tubuh gadis itu menjauh. Beruntung, Krisan mampu mendarat dengan baik. Pendaratannya terlihat begitu ringan di permukaan lantai, seringan kapas.
“Kuakui, kamu tak patut diremehkan, Krisan Manis,” puji Ardan, memperhatikan Krisan yang mulai berjalan menghampiri posisi Nadia. “Di awal, kamu sengaja memberikan serangan-serangan ringan seakan-akan kamu tak ada niat melumpuhkanku. Kamu tak ingin repot-repot mengeluarkan banyak tenaga ketika ada Nadia yang sudah menyumbangkan lebih banyak serangan kuat ke arahku.”
Nadia sempat menoleh ke arah Krisan, tapi Krisan tidak merespon dan hanya fokus pada analisa Ardan.
Krisan akui, seniornya ini pintar juga membaca strategi Krisan sejak awal. Mungkin Ardan sudah punya lebih banyak pengalaman bertarung di luar akademi.
Sambil mengelus dagu, Ardan melanjutkan, “Kamu memberi serangan-serangan ringan hanya untuk mengulur waktu sambil menganalisa. Ketika tiba di saat tepat, kamu melompat dengan posisi terbalik di atasku, mencoba meraih kepalaku. Jika itu sampai kena, kamu pasti akan membanting kepalaku dengan sekuat tenaga.”
“Sebenarnya, aku ingin membenturkan kepalamu di lututku, Senior.” Krisan tampak berpikir, “Tapi, kelihatannya posisi tadi masih belum pas biarpun aku berhasil meraih kepalamu.”
Ardan, Nadia, Damar, Rafa, dan beberapa Taruna-Taruni yang mendengarnya agak ngeri sendiri. Kepala orang kalau sengaja dibenturkan ke lutut yang bentuknya menonjol bisa mengakibatkan kerusakan yang lebih fatal, apalagi jika dibanting sekuat mungkin.
“Ekh-Ekhem! Itu... strategi yang bagus.” Ardan berdehem, berusaha membuat dirinya lebih santai. “Walau kalian mampu bertahan dari pengetesan ini, tapi bukan berarti tes ini selesai. Selama aku masih sanggup bertarung, aku akan tetap mengetes kemampuan bertarung kalian.”
Ardan melepas jaket hitamnya, memperlihatkan kaos singlet hitam yang ketat mencetak otot-otot dada dan perut, bahkan otot lengan dan tangannya pun kini terlihat jelas.
Tindakan Ardan justru membuat para Taruni dan junior perempuan yang menonton di tribun terpesona tak karuan dengan bentuk tubuh sesempurna itu. Apalagi kulit Ardan berwarna cokelat muda, warna kulit eksotis yang sedang digandrungi banyak orang.
Krisan mengerjapkan mata beberapa kali melihat bentuk tubuh Ardan. Kalau dilihat seperti ini, dada Ardan kelihatan padat juga, apalagi p*tingnya samar-samar menonjol dibalik kaos itu, pikir polos Krisan yang udah mulai terobsesi dengan dada cowok.
Ya, Krisan diam-diam begitu, otaknya mayan cabul juga.
Nadia yang sudah terbiasa melihat penampilan sepupunya itu malah mencibir, “Dih, narsis. Seksian juga Mas Damar.”
“Haiks...!” Damar merona brutal dipuji Nadia. Culun-culun gini, rupanya tetap dikata seksi sama orang yang disukai.
Nikmat mana yang kau dustakan, Oh Tuhan...?! Pikir Damar bahagia.
“Aish.... Kelamaan ngasih tes ke anak-anak junior bikin badanku gerah juga, ya.” Ardan mengikat lengan jaketnya di pinggang. “Kayak gini ‘kan jadinya seger.”
“Hei, kau mau tebar pesona, ya, Bang?” tanya Nadia sewot.
__ADS_1
“Ngapain aku susah-susah tebar pesona, ‘kan aku udah ganteng?”
“Acek—Ck, ck.... Crekeek! Pff! Ck!” Nadia tak bisa berkata-kata lagi, geregetan dengan kenarsisan Ardan yang sudah tak tertolong lagi.
“Oke! Kita masih melakukan tes sampai aku menyatakan kalian sanggup bertahan dari seranganku,” kata Ardan.
Sebelum memulai kembali pengetesan, Ardan sempat memikirkan sebuah ide jahil.
“Oh, iya, Nad...! Kemarin aku sempat nemu novel online yang bagus, lho....”
Di bangku tribun depan, Rafa mendesah pasrah, menunduk sambil meremas rambut pirangnya seakan-akan mulai frustrasi dengan apa yang hendak dikatakan Ardan di arena sana.
“Kumohon, jangan lagi, deh....”
Damar jadi bingung melihat reaksi Rafa yang aneh itu. “Emang kenapa?”
“Dengerin ajalah apa yang diomongin Ardan.” Rafa menoleh, menunjuk Damar. “Kalau kau masih ingin dekat dengan Nadia, jangan pernah menyinggung hal-hal yang dikatakan Ardan itu.”
Spontan Damar meneguk saliva. Tumben Rafa memperingatkannya begitu. Dia jadi penasaran dengan apa yang hendak dikatakan Ardan ke Nadia.
Dengan nada bicara sengaja dibuat jahil, Ardan melanjutkan, “Genre-nya fantasi. Tentang cowok nolep yang kena isekai ke dunia sihir.”
“Dia itu ampas, enggak bisa apa-apa di dunia asli. Cuma karena dapat cheat dari Dewi, dia langsung OP.”
Dua persimpangan imajiner muncul lagi di kepala Nadia.
“Dia ditugaskan buat mengalahkan raja iblis. Dan selama dalam perjalanan....” Ardan mulai mempertegas, “Dia mengoleksi Harem...!”
Puluhan persimpangan imajiner makin bertambah di kepala Nadia, pertanda emosi Nadia sudah tak bisa dibendung lagi.
Ini sudah keterlaluan, menurut Nadia. Ini sudah kelewatan!
“Aaaargh!!! Cerita ta’e! Siapa pun yang menulis konsep-konsep cerita sama tiada akhir macam lingkaran setan itu, akan kusembelih kepala Author-nya di depan malaikat maut!”
Damar langsung pucat pasi melihat amarah Nadia yang begitu besar. Dia tak menyangka sang gebetan bisa sebenci itu dengan konsep cerita fiksi seperti yang disebutkan Ardan.
“Masih pengen hidup, Mar?” tanya Rafa lesu, pasrah saja jika amukan Nadia sanggup menghancurkan satu bangunan Arena Bertarung.
__ADS_1
Rafa harap, uang abahnya cukup tuk ganti rugi kerusakan fasilitas akademi nanti.
Belum cukup memancing emosi Nadia dengan cerita isekai, Ardan kembali memancingnya dengan konsep yang lain. “Oh! Oh! Aku juga sempat nemu cerita CEO mafia yang katanya psikopat mungut cewek kismin buat disewa rahimnya.”
“Woi! Jangan bahas konsep cerita kayak gitu juga, B*ngsat!” teriak Rafa sambil menggebrak kursi kosong di sampingnya. “Mau kucekik leher kau pakai usus kau sendiri, hah?!”
“Waduh?!”
Ardan kaget, baru sadar kalau untuk konsep cerita yang satu ini, Rafa yang benci.
Intinya, dua bersaudara ini sama-sama tidak suka cerita pasaran. Nadia benci cerita isekai-harem karena dianggap pemeran utamanya terlalu ampas, sedangkan Rafa benci cerita CEO mafia yang psikopat karena terasa tidak masuk akal.
Semua kebencian pada konsep-konsep cerita pasaran berasal dari ibu mereka, Arni, yang benci cerita Harem dan Reverse Harem karena menganggap makhluk hidup itu harus setia dengan satu pasangan. Dan kebencian itu menurun pada anak-anaknya.
Bukan cuma Nadia dan Rafa, Rian dan Brantz juga benci dengan konsep cerita fiksi tertentu.
Rian juga punya kebencian yang sama dengan Rafa, karena sebagai calon CEO dia takkan sudi sembarangan memilih pasangan. Sedangkan Brantz yang masih kecil hanya kurang suka konsep cerita kembali ke masa lalu, naik level, dan kultivasi karena susah dipahami.
Ardan sendiri merasa aneh, kenapa ia bisa terjebak dalam lingkaran keluarga yang punya selera di luar nalar begini.
“Ish!” Nadia menunjuk Ardan. “Aku enggak suka, ya, kau bahas-bahas cerita pasaran kayak gitu!”
“Hajar aja, Nad! Entar aku siapin kuburan sama surat wasiatnya!” teriak Rafa di tribun.
“Surat wasiat apa, Badak?! Emang apa yang aku wasiatin ke kalian, bulu ketekku?!” balas teriak Ardan pula. “Gini-gini amat punya sepupu. Masa cuma kusinggung ide cerita kayak begituan langsung naik darah?!”
“Kau sendiri yang cari perkara! Tau sendiri sepupu-sepupumu pada enggak suka cerita-cerita kayak gitu, malah kau singgung!” teriak Nadia lagi.
Damar menggigit jarinya saat melihat perdebatan mereka bertiga. “Waduh. Ngeri juga ya perdebatan mereka.”
Untuk mereka yang bukan dari Keluarga Novan seperti Damar, tentu pertengkaran begini terlihat cukup menyeramkan. Tetapi, hal itu sudah biasa terjadi di keluarga terkutuk tersebut.
Abah nyeremin, Emak galak, anak-anak brutal, ditambah sepupu sakit jiwa. Definisi keluarga ideal yang sangat bahagia.
“Cukup bacotnya! Akan kubikin kau menarik kata-katamu itu!”
Sirkuit-sirkuit hijau muncul di seluruh leher dan wajah Nadia sesaat, lalu lenyap begitu saja, pertanda Nadia mulai mengaktifkan Kekuatan Kebangkitan.
__ADS_1
“Kekuatan Kebangkitan : Aktif!”
...~*~*~*~...