
Ardan bersedekap tangan sambil menahan jengkel, ia pun bertanya, “Kalian asalnya dari mana?”
Didi menjawab, “Aku asalnya dari Kota Merin, Dodo dari Kota Yorin, sedangkan Ujang dari....” Ia iseng-iseng beberapa kali menjentikkan jari, berusaha mengingat dari mana asal teman bermaskernya itu.
“Kampung Kambing.”
“Iya! Kampung Kambing,” lanjut Didi mengiyakan sahutan Ujang.
“Bentar lagi, bentar lagi.” Ardan kembali memijit kepala. “Bukannya kalian bilang, kalian ini udah temenan sejak zaman... zigot ‘lah, apalah itu. Kok asalnya beda-beda?”
“Kami ‘kan cuma bilang kalau kami ini temenan sejak masih bentukan zigot, bukan berarti kami lahiran di tempat yang sama,” jelas Didi.
Dodo menambahkan, “Kami ini emang udah temenan pas emak-emak kami lagi kebetulan ngumpul rumpi saat kami masih berbentuk zigot. Beberapa bulan kemudian, keluarga kami mencar ke berbagai tempat, terus lahiran di tempat yang berbeda-beda.”
“Terus, kami ketemuan lagi setelah lahiran dan menetap di daerah yang sama, di Kota Merin,” lanjut Didi lagi.
“Tetanggaan lagi,” sahut Ujang singkat.
Kepala Ardan jadi makin pusing memikirkan ribetnya perjalanan persahabatan Trio WekaWeka ini. Makin didiskusikan, makin ribet, makin bikin sakit kepala juga.
“Terus, gimana ceritanya kalian tahu kalau kalian itu temenan sejak zigot?”
“Lewat batin,” jawab ketiganya bersamaan.
Ardan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya, udah makin capek dia dengan sesi perkenalan ini.
“Damar, bisa enggak langsung ke junior lain? Waktu kita mepet ini,” alibi Ardan yang sebenarnya sudah tak sanggup lagi berkenalan dengan trio ini.
Damar sempat mengecek daftar di tab, ia pun mengangguk, “Oke. Langsung lanjut ke junior lain aja.”
Dengan ramah Damar meminta ketiga junior itu kembali ke baris duduk mereka. “Kalian bisa kembali duduk ke barisan kalian, oke? Senang bisa mengenal kalian bertiga.”
“Siap, Senior!”
Didi, Dodo, dan Ujang pun segera berjalan menjauh dan kembali mengambil duduk lesehan di barisan asal bersama junior-junior lain.
Selama para junior terlihat sibuk saling berbincang sambil menunggu siapa yang akan dipanggil, Ardan sedang mengambil dua kursi di dalam salah satu ruangan, sedangkan Damar tampak syok ketika membaca isi data pada tab dan sempat melihat kembali ke arah Trio WekaWeka.
“Dan, Dan.” Damar menepuk pundak Ardan yang baru saja kembali ke lapangan dengan dua kursi.
“Apaan sih ‘Dan, Dan’? Aku enggak lagi dangdutan,” ucap Ardan sewot sambil meletakan kedua kursi itu di samping mereka.
Damar pun berbisik sepelan mungkin, “Aku nemu fakta baru tentang Trio WekaWeka entu. Coba lihat.”
Ardan membaca isi tab yang disodorkan Damar. Mata peraknya melotot lebar seakan-akan hendak keluar dari tempatnya setelah membaca data tersebut. Karena masih belum percaya, ia coba baca-baca ulang datanya. Hasilnya tetap sama.
Mencengangkan.
“Dih....”
Ardan jadi prihatin sekaligus heran mengetahuinya. Tapi, kok bisa hal kayak gini terjadi di dunia nyata?
“Korban ente’er tiga biji, rupanya?” balas bisik Ardan.
....
Selagi masih belum ada yang dipanggil karena Damar dan Ardan terlihat bisik-bisik, Nadia yang masih duduk lesehan di barisannya sempat mengobrol dengan Krisan.
__ADS_1
“Kira-kira, siapa yang dipanggil abis ini?”
Krisan menoleh, “Entah. Kita tunggu aja panggilan dari mereka.”
Nadia menghela nafas, “.... Bosen ‘lah kalau musti nunggu diam begini. Enggak ada asik-asiknya.”
Setelah selesai bisik-bisik julid soal masalah orang, Damar dan Ardan memutuskan tuk memanggil junior baru agar memperkenalkan diri ke depan.
“Oke. Kita akan manggil junior selanjutnya,” ujar Damar.
Di saat itulah, Nadia melambai-lambaikan tangan dengan semangat, membuat Krisan dan para junior lain fokus melihat ke arahnya.
Melihat Nadia melambaikan tangan membuat Damar jadi salah tingkah sendiri. Rupanya, sang gebetan ingin dipanggil tuk memperkenalkan diri.
“O-oke.... Si rambut pirang paling cantik itu yang dipanggil,” ujar Damar malu-malu sambil menunjuk Nadia dengan tangan selemas agar-agar.
“Cieeeee...!!!”
Otomatis semua junior yang ada di sana langsung menggoda keduanya, apalagi mereka cukup peka kalau Nadia dan Damar sama-sama salah tingkah sekarang.
Ardan yang sedang duduk di kursi sempat menyipitkan mata ketika melihat Nadia dipanggil maju ke depan sambil dirayu para junior. Iseng-iseng ia menoleh ke belakang, sempat bersyukur karena Rafa berada di posisi jauh dari mereka.
Kalau sampai ketahuan Damar dan Nadia dicie-cie’in begini, bisa dipenggal Rafa kepala Damar nanti.
“Kris, aku maju dulu, yak,” ucap Nadia pada Krisan sambil beranjak dari posisinya.
Krisan hanya mengangguk sebagai balasan, dan matanya mengikuti arah Nadia pergi sekarang, yaitu ke depan mereka bersama Damar dan Ardan.
Dengan sedikit malu-malu kucing, Nadia berjalan ke depan. Sempat ia dan Damar saling lempar senyuman. Hati merasa berbunga-bunga ketika melihat si doi balas senyuman kita.
“Ha-hai...,” sapa Damar malu.
“I-iya, hai....”
“Hai-hai.... Hehehe....”
“Ihihik.... Haaai....”
“Hai, hai, hai....”
“Ck! Woi, Raf—.”
Buru-buru Damar dan Nadia membekap mulut Ardan bersamaan ketika pemuda dengan ikat kepala itu hendak memanggil Rafa. Pasalnya, Ardan gemas dengan kedua orang ini. Dari tadi cuma nyapa aja sambil cekikikan tak jelas.
“Ekh!” Ardan menghempaskan tangan mereka berdua dari mulutnya. “Ngapa pula kalian bekap-bekap mulutku?! Mana tangan kalian sama-sama bau pula. Abis cebok kagak cuci tangan kalian?”
“Ish! Abang Ardan ini.... Orang lagi nyapa juga,” omel Nadia kesal. “Ini ‘nih momen langka bisa ketemuan sama Mas Damar. Biasanya juga bakal dihalang-halangin Bang Rafa.”
“Tau, lah.” Damar berbisik, “Kasih kita kesempatan dong buat pedekate.”
“Pedekate mulu kalian dari kemarin. Hubungan kalian itu udah kayak SDM negara kita, sama-sama enggak ada perkembangan,” sarkas Ardan. “Dari pada kalian pedekatean enggak jelas, mending Nadia kasih perkenalan aja ke teman-temannya itu. Kek gini mulu, nanti dikira ngebadut.”
Ardan pun beranjak dari duduknya, mulai menyimak perkenalan yang akan dilakukan Nadia. Sedangkan Nadia sendiri sempat sewot gara-gara disarkasin Ardan seperti tadi.
Lama-lama sepupunya ini jadi mirip abang kandungnya juga, makin nyebelin.
Sambil menghadap ke depan, Nadia yang awalnya sewot kini memberikan senyum termanis di hadapan kawan-kawan juniornya, dan mulai memperkenalkan diri.
__ADS_1
“Hai, semuanya! Perkenalkan, namaku Nadia Isabella Novan, usia 17 tahun, dan aku berasal dari Kota Merin. Di sini, aku mendaftarkan diri sebagai Taruni dari Jurusan Ilmu Pertahanan dan Strategi.”
“Cita-citamu setelah lulus dari akademi ingin menjadi seperti apa?” tanya Damar disertai senyum. “Ingin menjadi prajurit Angkatan Orbit, Koloni, Penjelajah, atau hanya jadi prajurit nasional juga bisa.”
“Sebenarnya, kalau bisa....” Nadia memainkan jari-jarinya malu-malu, lalu memandang Damar. “Jadi pengantin masa depan Mas Damar saja.”
“Acieee....”
“Cie, cieeee....”
“Acikiwirkiwirkiwir...!”
Semua junior langsung menggoda keduanya kala Nadia memberikan gombalan maut. Damar langsung menyembunyikan wajahnya di balik tab karena sudah merona semerah tomat. Sedangkan Ardan,
“Hwoeek!!!”
Langsung diterpa muntaber saking gelinya.
Menyadari Ardan geli melihat keromantisan mereka, Nadia pun kembali sewot.
“Apalah Bang Ardan ini?! Hamil 17 hari kau?”
“Mana aku bisa hamil?!” balas omel Ardan. “Jijik kutengok kau gombal-gombalin Damar. Tahu sendiri ‘kan anaknya malu-malu biawak kayak begitu?! Kalau misalnya dia kena stroke gara-gara diterpa cintamu itu, Nad, ‘ra urus aku.”
“Siapa juga yang nyuruh kau buat urus Mas Damar?! Aku bisa kok urus dia sendiri, karena aku akan menjadi istri yang baik untuknya.”
“Heaaakh...!” Damar asma dadakan, makin tak sanggup diterpa gombalan maut sang gebetan cantiknya.
Tuhan.... Gini-gini amat jatuh cinta.
“Dahlah, Nad. Mending kau balik aja ke barisan. Masih banyak junior yang belum perkenalan diri, ini.”
Ardan pun membalik tubuh Nadia, lalu mendorong gadis itu menjauh. Tak terima diusir begini, Nadia pun membalas,
“Kok gini-gini amat kau sama adek sendiri?! Kelamaan jomblo kau?!”
“Eh, enggak usah bawa-bawa perkara jomblo, ya. Bukan tempatnya kau ngegombalin seniormu sendiri pas lagi Masa Orientasi Pelajar!”
“Anu, Dan, Nad....”
Damar yang baru saja bisa tenang setelah kena serangan gombal Nadia berusaha menenangkan keduanya. Tapi percuma saja, dua bersaudara itu tetap ribut sambil diperhatikan para junior.
“Ooo.... Gitu, yeee? Kalau gitu, coba kita lihat, sanggup tak kau tahan serangan balasanku ini! Biar kau rasakan seperti apa rasanya bucin ama gebetan!”
Nadia berjalan menjauh dengan kaki dihentak-hentakan, ia menarik tangan Krisan yang tampak kebingungan dengan tindakannya, lalu mendorong gadis berambut hitam panjang nan tebal itu sampai ke hadapan Ardan. Kemudian, kembali berjalan menuju barisannya.
Kini Krisan dan Ardan saling bertatapan dengan raut kebingungan. Keduanya sama-sama saling memperhatikan satu sama lain.
Krisan yang baru pertama kali bisa sedekat ini dengan lelaki merasa aneh dan canggung sendiri. Dia bingung kenapa bisa terlibat dalam situasi konyol macam ini. Sebenarnya, apa yang dipikirkan Nadia sampai membuatnya menjadi korban?
Sedangkan Ardan sempat tertegun, tak menyangka kalau ada perempuan secantik ini di dunia. Wajah gadis itu cantik serta imut, mata biru kelam yang menawan, rambut hitam panjang yang tampak lembut, bibir ranum nan empuk, dan juga....
Ukuran dada yang pas, sesuai standar selera Ardan.
Melihat sepupunya langsung diam membisu, terpaku hanya pada Krisan seorang, membuat Nadia menyunggingkan senyum remeh.
“Rasain, noh! Bucin, bucin kau sampai mampos!” Kemudian, Nadia duduk lesehan kembali di barisannya.
__ADS_1
...~*~*~*~...