Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 29 : Awal Perkenalan


__ADS_3

Semua junior di Kelompok 17 sempat bisik-bisik mendiskusikan apa saja yang dijelaskan Ardan. Terlepas dari sifatnya yang konyol, Ardan bisa jadi seserius ini kalau sudah menjelaskan hal-hal penting di bidang militer.


“Dan untuk bisa menjadi prajurit Militer Antariksa, seseorang wajib menempuh pendidikan di Akademi Militer Antariksa lebih dulu. Banyak hal yang harus kalian pelajari di sini, kalian juga harus menambah wawasan dan pengalaman bertarung dulu sebelum benar-benar dinyatakan lulus serta diterima di salah satu angkatan.”


Ardan melanjutkan, “Di Akademi Milderan ini, saat masa pendaftaran, kalian pasti bakal disuruh memilih jurusan, bukan? Akademi ini memiliki beberapa jurusan, yaitu Ilmu Pertahanan dan Strategi, Teknik Elektronika Militer, Teknik Mesin Antariksa, Administrasi Militer, dan Inteligen Militer Antariksa. Jika kalian ingin tahu lebih jelasnya, bisa dibaca lewat E-buku pada tab kalian masing-masing.”


Krisan dan beberapa junior lain sempat mengecek tab masing-masing berisi buku panduan Akademi Militer Milderan yang sempat dikirimkan oleh pihak staf akademi setelah mereka dinyatakan lulus tes pendaftaran. Memang benar kata Ardan, di sana terdapat informasi yang lebih lengkap tentang Akademi Milderan, mulai dari fasilitas, kurikulum, sampai panduan pembelajaran lainnya.


Kali ini, giliran Damar yang menjelaskan, “Seorang pelajar di akademi ini harus menempuh pendidikan sampai Tingkat 4. Untuk saat ini, kalian yang masih pemula berada di Tingkat 1. Pelajar Tingkat 1 sampai 2 hanya akan melakukan kegiatan belajar dan menjalankan tugas di dalam planet. Di Tingkat 3, pelajar sudah mulai melakukan pembelajaran di luar planet. Dan saat sudah mencapai Tingkat 4, pelajar akan diizinkan mengikuti kerja nyata sambil menyusun laporan yang akan disidang oleh pihak perwira akademi.”


Ardan bersedekap hingga membuat otot pergelangan tangannya agak menonjol. “Di Tingkat 3, kalian akan diminta untuk memilih angkatan mana yang akan kalian pilih jika sudah lulus kelak. Hal ini berpengaruh pada materi dan cara belajar yang sudah mulai berbeda, mau memilih Angkatan Orbit, Koloni, atau Penjelajah. Namun, pemilihan angkatan itu sendiri tak semerta-merta membuat kalian diizinkan masuk ke angkatan tersebut.”


“Petinggi akademi akan memeriksa riwayat nilai, pengalaman, dan cara bertarung kalian selama di Tingkat 1 dan 2. Jika misalnya kalian memilih ingin masuk ke Angkatan Orbit, tapi pengalaman belajar kalian cenderung lebih cocok ke Angkatan Koloni, maka petinggi akademi akan memutuskan tuk memasukkan kalian ke Angkatan Koloni.”


“Jika masuk angkatan hanya berdasarkan dari pilihan kalian tanpa penilaian dari para petinggi akademi, maka jumlah prajurit dalam suatu angkatan akan terlihat tidak seimbang,” kata Damar.


Damar pun mengecek tabnya. “Tahun lalu saja, ada banyak pelajar yang tertarik masuk Angkatan Orbit, tapi para petinggi memilih memasukkan beberapa di antaranya ke Angkatan Koloni dan Penjelajah agar jumlahnya seimbang sesuai dengan yang ditentukan oleh standar pemerintah.”


“Kami tegaskan, hal itu juga dilakukan berdasarkan hasil penilaian dan riset para petinggi atas nilai-nilai para pelajar. Jadi, kita semua tidak berhak protes.”


Di barisan duduknya, Nadia sempat menyenggol bahu Krisan, membuat gadis berambut hitam itu spontan menoleh padanya.


“Orang-orang banyak yang masuk Angkatan Orbit karena risikonya kecil, dan mereka sering bertugas di dalam planet. Beda dengan Angkatan Koloni dan Penjelajah yang mengharuskan mereka tuk bertugas jauh dari planet ini.”


“Memang tugas seperti apa saja yang dijalani pasukan Angkatan Orbit?” tanya Krisan masih datar.


“Aaa.... Aku juga kurang tahu. Yang pasti, orang-orang di Angkatan Orbit masih bisa bolak-balik kampung saat sudah senggang. Mereka bisa lebih mudah bertemu dan berkumpul bersama keluarga mereka ketimbang bekerja di dua angkatan yang lain.”


Nadia menunduk sendu ketika mengingat abahnya bekerja jauh di luar planet sana, lama tak pulang karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga tak memiliki waktu tuk pulang.


Krisan yang melihatnya jadi kasihan. Nadia yang awalnya terlihat ceria kini tampak berusaha menahan sedih.


Tangan Krisan mulai terulur menyentuh pundak Nadia. “Kau terlihat sedih. Apa yang kau pikirkan, Kawan?”


Nadia menggeleng lemah. “Anu.... Aku... cuma kangen sama Abah. Dia bekerja sebagai perwira tinggi di Angkatan Penjelajah, jadi sudah sangat lama dia belum pulang. Sekalinya pulang, cuma bisa bertahan selama beberapa hari bersama kami di sini, terus balik lagi kerja di luar angkasa.”


Krisan turut merasa sedih mendengarnya. Tentu hati seorang anak akan sangat tersiksa ketika harus berpisah lama dengan orang tua tercinta, apalagi jika tugas yang diemban tidak jauh-jauh dari konflik politik dan perang di mana kematian akan terus mengintai kapan saja.


Yang hanya bisa dilakukan Krisan adalah menepuk-nepuk pundak Nadia demi menenangkan kawan barunya itu.


“Yakinlah bahwa abahmu adalah sosok pahlawan yang hebat. Beliau di sana berjuang tuk menjaga kedamaian planet kita dari kejahatan.”


Dalam diam Nadia hanya mengangguk mengiyakan.


....


“Oke! Penjelasan tentang kemiliteran luar angkasa dan seputar pengenalan sekilas tentang Akademi Milderan cukup sampai di sini. Untuk lebih jelasnya, kalian bisa membacanya di E-buku yang sudah dibagikan atau bertanya pada staf bersangkutan.” Ardan kembali ceria seperti sebelumnya, “Sekarang, saatnya perkenalan!”

__ADS_1


“Yey!!!”


“Yohoooo!!!”


“Oleoleoleoleoleole...!”


Semua junior langsung bersemangat saat memasuki sesi perkenalan. Mereka jadi tidak sabar untuk saling mengenal satu sama lain dengan teman-teman satu angkatan.


“Wo, wo...! Tenang, semuanya,” ucap Ardan berusaha meredam kericuhan. “Semangat ‘kali pas masuk perkenalan. Dah ngincar gebetan, yak...?”


Beberapa junior sempat bersorak menggoda pada rekan-rekannya, sedangkan beberapa di antaranya malah tersipu malu ketahuan punya modus terselubung.


Damar pun berkata disertai senyum bersahabat, “Oke. Kita akan mulai sesi perkenalannya dulu sebelum masuk ke sesi pengenalan lingkungan akademi. Setelah itu, baru kita akan masuk jam istirahat.” Lalu ia bertanya pada Ardan, “Kira-kira, panggil sesuai absen atau acak aja?”


“Tunjuk acak aja, lah. Biar ada kaget-kagetnya.” Ardan tersenyum usil.


“Oke....”


Mata ungu di balik kacamata itu mencari-cari siapa yang bisa dipanggil lebih dulu ke depan tuk memperkenalkan diri, sampai ia menemukan sosok pemuda culun berkacamata dengan postur tubuh lebih kecil darinya.


“Nah! Itu, noh. Yang paling ganteng, noh!” tunjuk-tunjuk Damar.


Yang ditunjuk sempat menunjuk dirinya sendiri, meyakinkan apakah memang ia yang dipanggil atau orang lain. Tapi ketika sadar perhatian para junior tertuju padanya, ia pun segera berdiri dan berjalan menghampiri Damar dan Ardan. Selama berjalan, ia sempat disoraki dengan godaan oleh teman-temannya.


“Sebelah sini.” Damar mempersilakan pemuda itu berdiri di antara kedua seniornya.


“Coba perkenalkan dirimu, Jagoan,” pinta Ardan.


Pemuda itu canggung ketika hendak memperkenalkan diri, bahkan arah pandang matanya tak beraturan.


“A, e, a, e. Kita lagi perkenalan, bukan les vokal,” sarkas Ardan gemas melihatnya.


“Aaa.... Anu, Senior—.”


“Jadi, selama kau bilang ‘Aaa’ panjang-panjang, itu cuma buat usaha bilang ‘anu’, gitu?” ujar Ardan makin gemas.


Damar menyipitkan mata pada Ardan, “Dengerin dulu dia ngomong, main terobos aja kau ini, Dan.”


Pemuda itu pun melanjutkan, “Gini, boleh enggak kalau aku ngajak dua temanku buat ikut perkenalan juga? Soalnya, kita ‘dah temenan dari zaman masih dalam bentukan zigot di masing-masing rahim emak. Udah sehati-senasib kita.”


Damar dan Ardan masang muka datar. Rupanya, permintaannya cuma ini, gitu? Tapi, tak perlu dibilang sahabatan sejak zaman zigot juga.


“Ya, udah. Panggil aja juga,” ucap Ardan pasrah.


Pemuda itu tersenyum semringah. Ia melambaikan tangan pada dua temannya lagi yang tadi sempat duduk di dekatnya. Mereka berdua segera datang menghampiri dan berdiri di samping kanan-kirinya. Mereka terlihat sama-sama culun, bedanya yang sebelah kanan memakai masker, sebelah kiri pakai headphone yang digantungkan di leher.


“Perkenalkan diri kalian semua,” pinta Ardan lagi.

__ADS_1


Pemuda berkacamata memulai duluan. “Oh! Hai, kawan-kawan semua. Perkenalkan, namaku Didi.”


“Aku Dodo,” kata pemuda dengan headphone.


“Dan aku—.”


“Eee.... Tunggu-tunggu!”


Mereka semua menoleh pada Ardan. Damar sendiri sudah mulai jengkel dengan Ardan yang selalu saja main potong perkataan orang.


“Satunya Didi, satunya Dodo. Pasti yang terakhir namanya Dede, kan...?” tebak Ardan pede.


“Ujang, Senior.”


Seketika wajah bagian atas Ardan ditutupi bayangan. Jarang-jarang ia dibuat jengkel sama orang lain, biasanya dia yang suka buat jengkel orang-orang.


“Pffft....” Damar cuma bisa nahan tawa melihat reaksi sahabatnya itu.


Dengan semangat Didi kembali berucap, “Kami ini adalah....”


Ketiganya langsung mengambil pose. Didi di tengah dengan posisi menyerupai bentuk burung, Dodo di samping mengambil pose nge-dab, sedangkan Ujang ambil posisi nge-dab juga tapi berlawanan arah.


“Trio WekaWeka!”


Dengan o’onnya, para junior di sana malah bertepuk tangan sambil ngakak menertawakan mereka, terutama Nadia yang paling suka dengan hal-hal lawak begini. Sedangkan Ardan dan Damar pasang tampang heran.


Heran dengan kebodohan ketiga bocah ini.


“Bentar, ye. Bentar....” Ardan memijat kepalanya yang udah mulai pusing dengan apa yang ia lihat sekarang. “Kalian tahu, kan? Kita lagi di sesi perkenalan Taruna-Taruni baru, bukan casting tokoh-tokoh Tokusatsu.”


“Tapi, kami udah bikin grup ini sejak zaman masih balita,” kata Didi polos.


“Kami ini sudah sahabatan sejak lama.” Dodo kembali mengingatkan.


“Hm.” Ujang cuma angguk-angguk kepala.


“Sudahlah, Dan....” Dengan santainya Damar berkata, “Biar ada estetik-estetiknya.”


Ardan memasang wajah datar. Ia diam beberapa saat, berusaha mencerna kekampretan dalam sesi perkenalan pertama ini.


“Dahlah. Aku mau terapi mental dulu.” Ardan berbalik.


“Khikhik.... Oi, tunggu dulu, Dan....” Damar kembali menarik Ardan yang hendak pergi begitu saja. “Jangan main pergi aja. Belum selesai ini kita nugas.”


“Nugas, nogos, nugas, nogos! Kamfret aku lihat kelakuan mereka bertiga,” omel Ardan.


“Kayak kau kagak pernah bikin sakit mental orang aja,” cibir Damar. “Tetep di sini, kita iseng tanya-tanya dulu.”

__ADS_1


Pada akhirnya, Ardan memilih tetap di sana, walau dalam hati sudah jengkel dengan perkenalan Trio WekaWeka yang alay-nya kebangetan ini.


...~*~*~*~...


__ADS_2