Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 73 : Kutukan Sepatu Hak Tinggi


__ADS_3

“Ergh!”


Tiana mematahkan pisau berduri itu dengan cara memukulkannya di tepi wastafel.


Setelah ditinggal pergi Ardan dalam keadaan hina, Tiana marah, tak terima akan penolakan yang dilontarkan Ardan padanya.


Wanita itu berusaha mengatur nafas, menarik dan menghembuskan perlahan, berusaha menenangkan diri dari emosi yang hampir membuatnya hilang kendali.


Entah mengapa, rasa ingin memiliki pemuda itu sangat kuat. Ego Tiana makin tak rela ketika Ardan menolak dengan alasan tak ada rasa padanya. Tiana tak percaya jika cinta tak harus memiliki. Selama hidupnya, Tiana tidak pernah tidak mendapatkan apa yang diinginkannya di dunia.


Namun untuk sekarang, Tiana lebih memilih menjauh dulu setelah ribut dengan Ardan. Dia juga sudah tidak bisa mencari celah untuk merebut hati Ardan karena kesempatannya di akademi ini sudah sirna semenjak ia memutuskan tuk keluar dari akademi akibat enggan menjatuhkan nama baik keluarganya setelah ribut dengan Nadia.


Keputusannya juga diambil karena teguran dari ayahnya yang enggan mendapat masalah dari Keluarga Novan, terutama dengan ayah Nadia dan Rafa yang dikenal sebagai perwira paling disegani di Militer Antariksa Ribelo.


Untuk langkah selanjutnya, Tiana masih belum kepikiran. Otaknya sudah terlalu terobsesi dengan Ardan yang begitu sempurna di matanya, tapi susah tuk diraih.


“Cukup dulu tuk saat ini.”


Tiana mulai membersihkan tangannya di wastafel sambil bercermin, mencoba menata rapi rambut serta dandanan yang sempat berantakan, bahkan kembali memoles bibir menggunakan lipstik yang sempat luntur akibat ciuman tak terduga tadi.


Sungguh, Ardan pencium yang sangat handal. Tapi sayang keras kepala, menurut Tiana.


“Aku harus kembali ke pesta. Jangan sampai membuat ayah malu.”


Setelah dirasa semua sudah rapi, Tiana berjalan menuju pintu keluar toilet.


“Wo! Wo! Santai, Nona.”


Tiana mendelik kasar kala menemukan dua pemuda hendak masuk ke toilet ketika ia baru saja keluar dari sana. Tanpa membalas apa-apa, Tiana berjalan cepat, tak peduli kedua pemuda itu tengah saling berbisik heran.


“Tuh cewek ngapain di toilet cowok?”


“Tau, tuh. Mungkin abis ditinggal nganu-nganu sama cowoknya.”


Salah satunya geleng-geleng kepala. “Dasar.... Zaman sekarang makin susah cari perawan.”


...~*~*~*~...


Di koridor menuju ballroom, Nadia jadi terburu-buru saat sudah semakin dekat menuju pintu besar ballroom. Saat ini, ia terlihat memakai dress di atas lutut berwarna cokelat muda, rambut pirangnya dibiarkan tergerai dengan bagian kiri dijepit hingga tampak jelas anting berlian menggantung indah di telinga.


“Aduh! Telat enggak, ya? Telat enggak, ya? Telat enggak, ya?”


Beberapa kali Nadia bergumam gugup sambil terus berjalan menuju pintu ballroom. Namun, ia hampir melupakan seseorang yang sejak tadi sudah ia ajak berangkat bersama.


“Kris? Krisan?”


Nadia baru sadar Krisan tidak sedang berada di dekatnya. Ketika di telusuri ke sepanjang koridor, mata biru Nadia menemukan sosok Krisan sedang menahan tubuhnya di tembok agar tidak jatuh.

__ADS_1


Ya, tidak jatuh dari sepatu berhak tinggi yang baru pertama kali ia pakai. Padahal, tumit dari sepatu feminin itu tidak begitu tinggi, masih cocok dipakai untuk gadis-gadis yang masih belum awam menggunakan sepatu tinggi. Namun, mungkin karena ini pengalaman paling pertama Krisan menggunakan sepatu tersebut, kakinya jadi gemetar sampai sekarang.


Padahal, Krisan beberapa kali terpeleset sejak dari depan unit asrama putri sampai hampir tiba di ballroom karena terus berjuang berjalan menggunakan sepatu tinggi itu.


Demi Tuhan.... Terkutuklah mereka yang punya ide menciptakan sepatu laknat ini untuk wanita.


“Krisan.”


Nadia berlari kecil menghampiri Krisan, wajahnya tampak prihatin saat melihat kedua kaki Krisan gemetaran, bahkan sempat sedikit membiru karena sering kepleset.


“Astaga.... Segininya cobaanmu pas pakai sepatu hak tinggi, Kris.”


Disertai wajah datar nan pucat, Krisan bergumam, “Kakiku ‘ra oke-oke banget.”


“Bahasa gaul macam apa yang kau temukan di internet lagi, Kris?”


Sungguh, orang polos seperti Krisan mudah sekali mengikuti sesuatu yang menurutnya menarik di internet. Padahal, apa yang ada di internet kebanyakan merupakan hal-hal negatif.


“Apa kakimu enggak apa-apa? Atau kalau perlu, kita ke Unit Kesehatan aja buat ngobatin kakimu,” saran Nadia cemas.


Krisan menggeleng. Tubuhnya berusaha ia tegakkan. “Enggak perlu. Malam ini ‘kan kita wajib hadir sekalian buat ambil sertifikat juga.”


“Iya, sih.... Tapi—.”


“Jangan khawatir, Sahabat.”


“Aku sudah mengantisipasi kejadian seperti ini dengan membawa salep anti luka dan sepatu tanpa hak tinggi,” ucap Krisan dengan polosnya sambil memperlihatkan kedua jenis benda itu, tak lupa kilau imajiner muncul di sekitar wajah.


Wajah Nadia seketika muram menyadari kelakuan sahabatnya yang satu ini.


“Kalau punya sepatu tanpa hak tinggi, kenapa susah-susah nyiksa diri dari asrama sampai sini pakai sepatu laknat itu, Krisan...?” tanya Nadia mulai depresi menghadapi sifat polos nan aneh Krisan yang sudah tak tertolong lagi.


“Aku... mau latihan jadi cewek anggun, tapi kepleset mulu dari tadi,” ucap Krisan tanpa dosa, “Mungkin karena takdir Tuhan.”


“Perkara takdir Tuhan?! Kau kepleset pun karena tindakan bodohmu sendiri, Kris! Adoh...!”


Bodo amat sama omelan Nadia, Krisan mulai memasang sepatu baru, mengganti sepatu hak tinggi dengan sepatu tanpa hak tinggi.


“Aku mau olesin salep ini dulu ke kaki.”


“Sekalian juga olesin ke otak kau itu!”


Sungguh, semoga Nadia diberi banyak kesabaran ketika berteman dengan Krisan. Toh Krisan bukan tipe cewek munafik seperti mantan-mantan teman ceweknya dulu.


....


Setelah kaki Krisan membaik dan dia juga sudah berjalan normal menggunakan sepatu yang lebih nyaman, Nadia dan Krisan berjalan bersama menuju pintu ballroom yang sudah lama dibuka dan dijaga oleh empat robot penjaga dan dua staf keamanan.

__ADS_1


“Nadia! Krisan!”


Kedua cewek cantik itu mendapati sosok Damar sudah menunggu di depan pintu, memanggil dan melambaikan tangan ke arah mereka. Di sampingnya, ada Rafa yang sedang mengetik sesuatu di ponsel.


“Ke-Kris.... Krisan...!”


Nadia mendadak memeluk lengan kecil Krisan, terasa cukup gemetar tanpa sebab.


Tentu Krisan bingung, apa yang membuat Nadia mendadak jadi gemetaran begitu? Tapi anehnya, wajah Nadia terlihat merona, sedangkan matanya menatap lurus ke arah Damar disertai binar kagum.


“Kris.... Jidat, Kris.... Jidat Mas Damar, Kris....”


“I-iya, kenapa dengan jidat Senior Damar?” tanya Krisan datar seperti biasa.


Sempat Nadia menggigit jarinya dengan wajah masih merona malu.


“Ma-Mas Damar kok makin ganteng kalau kasih lihat jidatnya begitu...?”


Krisan menghela nafas memaklumi. Sepertinya, Nadia sedang terpesona dengan penampilan Damar yang jauh lebih beda dari biasanya. Awalnya, Krisan sempat hampir tak mengenali Damar kalau saja bukan karena kehadiran Rafa di dekat pemuda itu atau pun Nadia yang langsung mengenalinya.


“Akhirnya, kalian datang juga,” ucap Damar disertai senyum ketika melihat Krisan dan Nadia menghampiri.


“Maaf baru datang. Tadi ada sedikit hambatan, sih....”


Nadia sempat melirik Krisan, teringat kalau yang membuat perjalanan mereka beberapa kali terhambat gara-gara Krisan beberapa kali kepleset akibat nekat pakai sepatu hak tinggi.


Untung bawa sepatu cadangan yang lebih nyaman dipakai. Tapi, kenapa enggak dari tadi aja pakainya? Jadinya ‘kan, Krisan tidak perlu menyiksa diri cuma karena pakai sepatu hak tinggi.


Dahlah. Namanya juga Krisan Ambarwati. Gadis polos nan datar dengan lebih dari 1000 hal aneh yang selalu diperlihatkannya di depan umum.


“Kalian udah lama nunggunya?” tanya Nadia.


Damar menggeleng, “Enggak juga. Tadi sempat dipanggil sama anak-anak organisasi, jadi enggak ngerasa lama nungguin kalian.”


“Senior Ardan mana?” tanya Krisan menyadari satu sosok lagi tak tampak di antara kedua pemuda tinggi itu.


“Tahu, nih.” Rafa menjawab, “Tadi dia berangkat bareng kami. Pas kami tinggal buat pertemuan dengan anggota organisasi, dia ‘dah hilang aja.”


“Bang Ardan enggak mungkin kesasar, kan...?” tebak Nadia iseng.


“Duh....” Damar mengelus jidatnya sesaat. “Kenapa dari kemarin orang-orang selalu ngira kalau Ardan bakal mudah kesasar? Bukannya dia mantan anak pramuka?”


“Bukan mudah kesasar. Tapi, kau tahu sendiri begimane kelakuan Ardan. Kali aja dia main mampir ke mana, gitu,” kata Rafa.


“Oi!”


...~*~*~*~...

__ADS_1


__ADS_2