
Setelah kegiatan baris-berbaris usai, akhirnya masuk ke tahap kegiatan perkenalan. Ardan dan Damar meminta semua junior duduk lesehan di tanah. Beruntung cuaca pagi ini mendukung, langit pun tidak begitu cerah, jadi mereka tidak merasa kepanasan saat berkumpul di pinggir lapangan seperti ini.
“Oke.... Tadi baris-berbarisnya udah bagus, cuma ada beberapa yang kelihatan letoy kakinya kayak agar-agar setengah mateng, bahkan ada juga yang masih kelihatan kayak robot,” komentar Ardan yang saat ini duduk bersila di hadapan para junior. “Heran aku. Kok bisa orang-orang kayak gitu bisa lolos tes masuk akademi sini?”
“Dan.”
Damar yang masih berdiri di hadapan mereka sempat membungkuk, mencolek-colek bahu Ardan sampai empunya menoleh.
“Nih kita masuk pengenalan materi akademi dulu sebelum perkenalan Taruna-Taruni’nya?”
Ardan sempat mengambil tab milik Damar, membaca materi yang ada sebelum akhirnya ia kembalikan.
“Ya ‘kan emang yang itu dulu.”
Damar menepuk bahu Ardan. “Kau mulai, gih. Aku ‘kan introvert.”
“Alah~. Basi bener alasannya.”
Damar hanya cekikikan membalas respon Ardan.
Pemuda berambut jingga itu pun berdiri di hadapan para junior, mulai melakukan perkenalan dan memberi materi dasar akademi pada mereka semua.
“Selamat pagi, para calon tumbal pemerintah,” sapa asal Ardan.
“Woi!”
Sontak Damar menggeplak bahu Ardan sambil memelototinya. Kok bisa sapaan pembuka Ardan jadi gelap begini?
“Nyapanya yang bener, dong,” tegur Damar ada segan-segannya.
“Lah? Kan fakta?” Ardan mengelus bahunya yang kena geplak.
“Ya-ya fakta, sih, fakta. Tapi jangan bikin ‘pala kau jadi korban sniper agen inteligen.”
“Ihihihik....” Ardan malah cekikikan mendengar respon Damar.
Benar kata orang. Ardan ini emang ada gila-gilanya.
Di salah satu baris duduk, Nadia dan Krisan tertawa kecil melihat tingkah laku senior mereka. Tadi Nadia sempat menceritakan kalau Ardan itu merupakan orang yang sangat aneh dan menjengkelkan, tapi termasuk asik jika diajak bergaul.
__ADS_1
Setelah melihat interaksi Ardan, Krisan jadi setuju dengan perkataan Nadia kalau Ardan itu orangnya kocak.
“Dia emang suka begitu orangnya,” bisik Nadia di samping Krisan. “Jadi, kalau mau temenan sama dia, harus kuat mental.”
Krisan hanya mengangguk disertai senyum tipis sebagai balasan. Lalu keduanya kembali melihat ke depan, menyimak banyak hal yang nanti akan dijelaskan oleh Ardan dan Damar.
Ardan pun memutuskan mengulang sapaannya kembali, “Selamat pagi, para junior Akademi Milderan tersayang.”
“Selamat pagi, Senior...!” sapa mereka serentak.
“Oke. Saat ini, kita udah masuk sesi pengenalan. Tapi sebelumnya, kita mau perkenalkan diri kita dulu.”
Ardan menunjuk dirinya sendiri menggunakan jempol sambil menyunggingkan senyum pede.
“Perkenalkan, aku Ardanu De’Cornell, Taruna dari Jurusan Ilmu Pertahanan dan Strategi Tingkat 2. Asal kelahiranku asli Ranjaya, tepatnya di Kota Merin. Aku lebih sering dipanggil Ardan atau Dan. Tapi, spesial buat para gadis, kalian bisa panggil aku ‘Sayang’.” Dan tak lupa Ardan mengedipkan sebelah mata ke arah para gadis.
“Kyaaah...!”
Otomatis para junior perempuan langsung meleleh dibuat oleh pesona dan kharisma Ardan, kecuali Nadia yang sudah biasa melihat kenarsisan Ardan dan Krisan yang tak pernah peka dengan pesona seperti ini.
“Mereka kenapa?” tanya Krisan polos saat melihat gadis-gadis satu angkatannya pada salting brutal, dan mata mereka juga menampakkan bentuk hati saat terpesona pada Ardan.
Ardan kembali lanjut, memperkenalkan Damar yang masih sibuk mengecek data tab di sampingnya. “Dan rekanku yang culun bermata empat ini namanya Damar Prasetya dari Jurusan Teknik Elektronika Militer Tingkat 2.”
Mendengar dirinya diledek demikian, Damar mengalihkan pandangan ke Ardan dengan mata setengah melotot sambil bersedekap tangan, masih mengawasi bacot apalagi yang mau dikeluarkan manusia oyen satu ini.
“Yaaah.... Walaupun culun, Damar ini pinter orangnya. Tapi mudah kena tipu dan sering jadi target perundungan. Dia tidak ada pengalaman bersosialisasi. Jadi, apa-apa harus aku yang ngurus, entah itu masalah komunitas, mengurus acara, dan segala macemnya.”
“Ooo.... Fitnahmu selancar berak badak ya, Dan. Ngalir teros...,” sarkas Damar.
“Hihik....” Ardan tertawa kecil. “Maaf, Pak. Tahu sendiri ‘lah, mulutku ini sering renyah-renyah gimana... gitu kalau udah ngomong lancar.”
Damar hanya memutar kedua mata ungunya. Dahlah, capek Damar kalau musti debat panjang lebar sama manusia antik macam Ardan ini.
Kini Ardan mulai berbicara dengan pembawaan yang lebih dewasa dari sebelumnya, karena mereka sudah mulai memasuki sesi pengenalan umum perihal akademi dan topik militer antariksa.
“Oke. Buat kalian, para junior kami semua, selamat datang di Akademi Militer Milderan. Seperti yang kalian tahu, Akademi Milderan merupakan akademi militer khusus tingkat internasional yang dibuat untuk merekrut para calon prajurit angkatan antariksa.”
“Berbeda dengan Akademi Militer Nasional, akademi ini disebut internasional karena bertujuan untuk mendidik semua calon prajurit dari seluruh dunia agar menjadi prajurit Pasukan Militer Antariksa, di mana instansi tunggal tersebut berada di bawah perintah seluruh pemerintahan absolut Planet Ribelo dan bertanggung jawab atas perlindungan seluruh planet.”
__ADS_1
Damar menambahkan sambil memperbaiki posisi kacamata, “Jadi, Militer Antariksa ini tidak seperti TN AD, AL, ataupun AU yang tingkat keamanannya hanya berskala nasional, hanya memperhatikan masing-masing negara saja. Di sini, tanggung jawab kita lebih dari itu. Bukan suatu negara yang kita amankan, tapi satu planet, bahkan satu tata surya.”
“Risiko yang kita dapat pun pastinya lebih fatal,” tambah Ardan pula, “Mati dimakan monster, dijadikan bahan eksperimen ilegal musuh, sampai mati tanpa jasad di luar angkasa.”
Beberapa junior sempat meneguk saliva, merasa tegang ketika mendengar penjelasan kedua senior mereka.
Tentu mereka semua sudah tahu risiko dan tanggung jawab sebesar apa yang akan mereka emban kelak jika sudah resmi menjadi prajurit bahkan perwira Militer Antariksa. Namun, tetap saja mereka merasa ngeri ketika mendengar penjelasannya langsung dari kedua Taruna ini.
Ardan menyunggingkan senyum ramah, “Tapi, jika kalian mampu serta rajin mengikuti semua pelajaran dan latihan di akademi ini, maka hal-hal buruk tersebut bisa kalian hindari. Bahkan, kalian bisa diangkat menjadi perwira terbaik suatu saat nanti. Jadi, jangan patah semangat.”
Mendengar perkataan itu membuat Nadia yang masih lesehan di barisannya menghela nafas pasrah. “Sungguh, ucapan Bang Ardan itu sama sekali tak dapat membuat hati kita semua tenang.”
“Tapi intinya, ucapan senior yang awal tadi benar,” ucap Krisan menoleh pada Nadia.
Nadia menaikkan sebelah alis. “Apaan?”
Dengan ekspresi wajah suram dibuat-buat, Krisan menjawab, “Kita ini cuma tumbal pemerintah.”
“Enggak usah ngadi-ngadi ‘dah, Kris! Bikin panik aku aja!” Nadia jadi merinding dibuat Krisan.
Kan kalau tiba-tiba ada peluru sniper nancep di kepala Krisan, enggak lucu.
“Kali ini, aku akan membahas tentang Militer Antariksa dulu.” Ardan kembali menjelaskan, “Militer Antariksa, Pasukan Militer Antariksa, atau Angkatan Militer Luar Angkasa ini merupakan instansi militer tunggal yang bukan bagian dari Militer Angkatan Darat, Laut, maupun Udara. Pasukan ini berdiri di bawah naungan seluruh Pemerintahan Planet Ribelo yang bertujuan untuk melindungi satu planet dari ancaman planet lain maupun bangsa luar angkasa.”
“Militer Antariksa sendiri dibagi menjadi tiga angkatan yang memiliki tugas masing-masing walau tujuan utama masih sama, yaitu melindungi seluruh planet.”
“Pertama, Angkatan Militer Orbit, berbasis di orbit Planet Ribelo dan bertugas mengawasi serta melindungi planet dari dekat. Angkatan Orbit ini juga sering kali bertugas mengatasi masalah maraknya penyerangan monster-monster di dalam planet jika pasukan dalam planet tidak mampu menangani. Pangkat perwira tingginya adalah jendral.”
“Kedua, Angkatan Militer Koloni, basisnya ada di lokasi-lokasi luar angkasa yang sudah diklaim sebagai wilayah Planet Ribelo, seperti di bulan Ribelo, satelit, di garis orbit planet pada bintang induk, sampai di planet-planet yang sedang atau telah diteraformasi atas nama Ribelo. Tugas angkatan ini adalah memastikan semua wilayah tersebut berada dalam kekuasaan Ribelo, mengawasi pertambangan luar angkasa, sampai mengamankan bulan maupun planet teraformasi dari perebutan wilayah kekuasaan. Perwira tertinggi angkatan ini adalah laksamana.”
“Dan ketiga, Angkatan Militer Penjelajah. Basisnya menyebar di luar angkasa, masih dalam wilayah kekuasaan Planet Ribelo. Berbeda dengan dua angkatan lainnya, Angkatan Penjelajah berperan lebih aktif. Tugas angkatan ini ialah melakukan perjalanan dan patroli ke wilayah-wilayah tertentu di tata surya kita. Pasukan dari angkatan ini juga sering kali dikirim tuk pertemuan tingkat antar planet maupun antar galaksi. Jika terjadi penyerangan di luar angkasa, maka Angkatan Penjelajah ini yang bergerak lebih dulu. Perwira tingginya adalah marsekal.”
Selama penjelasan itu, Krisan sempat menandainya dalam data kemiliteran di tab yang sempat ia bawa, bahkan semua informasi yang patut ia ingat ia tandai di sana.
“Rupanya, pangkat tertinggi masing-masing angkatan diadaptasi dari angkatan dalam planet,” komentar Nadia masih memperhatikan penjelasan Ardan.
Krisan sempat menjeda kegiatan menandainya. “Dari sini saja, kita jadi makin tahu bahwa Militer Antariksa ini tugasnya jauh lebih berat.”
Nadia mengangguk menyetujuinya.
__ADS_1
...~*~*~*~...