Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 39 : Ardan Ge'er


__ADS_3

Hari kedua Kegiatan Orientasi Pelajar sudah dimulai. Kali ini, kegiatan yang dilakukan adalah latihan dan tes bertarung, pokoknya kegiatan yang berhubungan dengan latihan fisik. Para junior pun diharuskan memakai pakaian khusus latihan tuk kegiatan sekarang, yaitu atasan kaos hitam, celana loreng, dan sepatu boots.


“Larinya santai aja. Ini cuma latihan pemanasan sebelum kita pergi ke Sektor Pelatihan,” teriak Ardan pada para juniornya.


Saat ini, Ardan dan Damar sedang mengawasi kegiatan lari pagi para juniornya di lapangan utama akademi. Bukan cuma mereka saja, ada banyak kelompok junior lain yang juga ikut melakukan latihan lari pagi.


Langit pagi hari ini terlihat begitu cerah, terasa panas, terik pula. Ardan pun terpaksa membuka bagian depan jaket hitamnya hingga menampakkan kaos singlet hitam yang cukup menempel di otot-otot perut dan dada.


“Pagi-pagi ‘dah ngajak gelud aja cuaca hari ini,” komentar Ardan sambil mengibas-ngibaskan kerah jaket.


“Mana ada cuaca bisa diajak gelud?” tanya Damar yang sempat memeriksa data tab.


“Maksudnya, panasnya kebangetan.” Ardan pun bertanya, “Kita ke Sektor Pelatihan paling lambat jam berapa?”


“Jam 9,” jawab Damar masih fokus pada tab. “Tapi kalau enggak sempat, masih bisa lanjut abis jam makan siang.”


“Enggak asiklah ngetes siang-siang. Bagusnya pagi, biar masih ada semangat-semangatnya.” Ardan bertanya lagi, “Terus, ke sana perginya naik kereta listrik, kan?”


“Terus naik apa lagi? Nanyanya enggak penting banget si bekantan rawa ini...,” sewot Damar.


Para Junior dari Kelompok 17 kini sudah kembali ke posisi mereka di depan Damar dan Ardan. Mereka semua terlihat cukup kelelahan sehabis melakukan latihan lari pagi keliling lapangan sebanyak tiga kali.


Iya, hanya tiga kali, tapi lapangan tersebut jauh lebih luas dari lapangan nasional, makanya mereka mudah lelah.


“Senior, kami udah selesai lari paginya,” ujar Didi. “Tapi, si anu itu larinya malah muter di tengah lapangan tiga kali. Makanya kagak capek-capek. Curang dia.”


“Huuuuu...!”


Semua junior mulai meledek junior yang dimaksud. Pasalnya, ketika semuanya lari keliling di pinggir lapangan yang kerasa luasnya, dia malah lari di tengah-tengah lapangan, hanya berputar seperti anjing mengejar ekornya sendiri.


“Ya, udah. Kalian langsung tunggu aja di stasiun kereta. Dia biarin aja ngulang lari di mari. Kami bakal mengawasi,” pinta Ardan.


Beberapa anggota Kelompok 17 pun mulai pergi meninggalkan lapangan tersebut, di antaranya ada yang memilih tuk jajan dulu dan duduk-duduk mengistirahatkan diri di bangku teras akademi sebelum berangkat ke stasiun.


Namun berbeda dengan Krisan, dia memilih tuk tetap di sana karena ada sesuatu yang ingin ia sampaikan pada Ardan.


“Senior Ardan.”


“Lah? Eh?”


Ardan terpaku di tempat, hatinya belum siap berhadapan dengan gadis seimut Krisan di sini. Ada apa gerangan gadis itu memilih tuk menetap dan ingin bicara dengan Ardan?


Damar sendiri lebih memilih diam menyeruput jus jeruk kotak sambil memperhatikan junior yang mereka hukum tadi mulai lari pagi keliling lapangan, tapi telinganya masih berusaha tuk curi-curi dengar.


Siapa tahu ada sesuatu yang menarik buat digosipkan.


“Eee.... Ada perlu apa, Dek?” tanya Ardan sungkan. “Kalau misalnya mau menyatakan perasaan, jangan sekarang. Hati ini belum siap. Masih pengen fokus belajar di akademi ini.”

__ADS_1


Sebelah alis Damar berkedut kasar disertai persimpangan imajiner menonjol di kepala. Ia kesal dengan ge’ernya Ardan yang sudah tak tertolong lagi.


Krisan menggeleng imut hingga rambut hitam panjangnya bergerak lembut. “Soal chat tadi malam itu....”


“I-iya...?”


Ardan mulai dibuat tegang sendiri. Apa yang ingin dibahas Krisan soal chat mereka tadi malam? Apakah mereka jadi kencan sambil makan ciki? Krisan benar-benar ingin mengutarakan perasaannya? Atau malah mau ngajak yang iya-iya.


Duh, Ardan takut dikeluarkan dari akademi kalau beneran ngajak yang iya-iya. Tapi, kalau diam-diam tak apa kali, ya?


Mata ungu Damar pun mulai melotot di balik kacamata itu saking penasarannya dengan apa yang ingin disampaikan gadis pendiam ini. Sungguh, gara-gara chat kemarin, ia dan Rafa jadi dibuat pusing dengan kegalauan Ardan semalaman suntuk.


“Emm.... Jantungmu baik-baik saja ‘kan, Senior? Kemarin kau spam emoticon hati. Jadi, kukira itu semacam kode yang digunakan oleh para tentara saat sedang mengalami serangan jantung.”


Damar spontan menyemburkan jus jeruknya, menunduk dengan bahu gemetar sambil menahan tawa. Kok bisa Krisan berpikiran seperti itu? Mana ada tentara kirim emoticon hati buat ngasih tahu kalau dia lagi kena serangan jantung.


Yang ada dikata gey, iya.


Wajah Ardan langsung muram suram mendengarnya, diam terpaku tak bersuara, membiarkan helaian rambut jingganya diterpa angin pagi secara dramatis.


Sedramatis respon hatinya ketika mengetahui si doi enggak peka-peka.


“Iyaaa.... Itu.... Iseng aja.”


Ardan terpaksa menjawab seadanya karena sudah bingung mau membalas apalagi.


Krisan menghela nafas. “Syukurlah. Aku sempat khawatir dengan keadaanmu, Senior. Takutnya malah beneran kena serangan jantung.”


“Aish....”


Spontan Ardan menutup wajahnya menggunakan kedua tangan, jadi salah tingkah menyadari si doi yang enggak peka-peka ini rupanya perhatian juga.


Damar yang melihat interaksi mereka berdua cuma bisa menaikkan iris ungunya ke atas. Jadi geli dengan sifat Ardan yang makin hari makin bikin orang kesel.


“Ya, sudah. Kalau begitu, aku permisi dulu, mau nyusul yang lainnya,” pamit Krisan.


“Oh! Oke, Kris,” sahut Damar disertai senyum ramah.


Ardan pun membalas, “Maaf, ya, udah bikin kamu khawatir. Lain kali kalau kita chat-chat’an, pesannya yang agak padetan dikit, ya.”


“Dih, padet. Dikira adonan kue, padet,” cibir Damar pada Ardan.


“Bacot kau, Seblak!”


“Aku enggak suka seblak!”


“Tapi, Nadia suka seblak!”

__ADS_1


“Aduh...!”


Di saat keduanya sedang ribut hal-hal tak penting, Krisan bukannya pergi malah jadi fokus pada hal lain.


Dia fokus pada dada Ardan.


“Hmm....”


Kalau diperhatikan lagi, dada Ardan yang bidang ini cukup padat bentuknya. Rata-rata pria yang memiliki postur tubuh berotot dan atletis pasti punya dada yang padat.


Krisan sebenarnya paling kepo soal struktur dada pria. Kalau dada wanita sudah sewajarnya berisi karena kelak akan dijadikan sumber asi bayi. Tapi, kalau dada pria sendiri fungsinya apa?


Kadang ukuran dada pria itu datar, kadang juga bisa besar tapi lebih bidang saja. Tetapi, untuk apa? Apakah kepadatannya berasal dari otot atau lemak? Bisa mengeluarkan sesuatu juga? Atau bisa dir*ngsang seperti apa yang dirasakan Krisan setiap kali dia kepo dengan dadanya sendiri.


Krisan jadi ingat masa lalu ketika ia masih di kampung.


...~*~*~*~...


Saat itu, ketika Krisan masih SMP, ia diminta ibunya tuk mengantarkan rantang makanan ke abangnya yang sedang mengurus kebun.


Sesampainya di sana, kebetulan Krisan menemukan saudaranya itu sedang memotong kayu di tengah-tengah kebun kelapa hanya bertelanjang dada. Krisan yang masih sangat polos itu sempat dibuat kebingungan dengan bentuk dada abangnya yang padat berisi.


Abangnya memang punya otot hasil latihan dan kerja keras di kampung, maklum juga karena si abang penggemar pertandingan gulat. Tentunya bagian dada si abang jadi padat.


Yang bikin bingung Krisan adalah kenapa bisa dada pria bisa sepadat itu walau tidak sebulat dada wanita?


Apakah mereka punya fungsi terselubung? Sungguh, Krisan sangat penasaran dengan dada pria.


“Bang Heri,” panggil Krisan agak pelan di jarak yang belum dekat juga dari posisi saudaranya berada.


“Eh, Ambar?” sapa Heri disertai senyum.


Krisan memang sering dipanggil Ambar oleh keluarganya. Bisa dibilang, itu adalah panggilan sayang khusus untuk putri bungsu di keluarga mereka.


“Udah dateng aja, nih.”


Heri kembali fokus memotong kayu menggunakan kapak. Kali ini, ia bersiap mengayunkan kapak tersebut untuk membelah satu batang kayu besar.


“Dadamu kenapa mayan besar?”


“Eeeeh?!”


Sontak Heri tak sengaja mengayunkan kapaknya hingga melesat cepat ke depan, hampir mengenai Pak RT yang kebetulan lewat sambil membawa kopi dan hanya mengenakan sarung. Beruntung, kapak itu meleset dan cuma berhasil mengenai batang pohon di samping Pak RT.


Kalau tidak, bisa belah kepala si pemimpin RT tersebut.


...~*~*~*~...

__ADS_1


__ADS_2