
Tania masih berdiri sendirian, melihat orang-orang di lantai dansa sedang berdansa mengikuti alunan musik klasik bersama pasangan masing-masing. Pandangannya sempat teralih pada pasangan yang dianggap paling aneh dari pasangan lainnya di sana.
Siapa lagi kalau bukan Ardan, pria yang ia sukai, bersama dengan seorang gadis kampung.
Beberapa kali Tiana melihat gerakan dansa mereka terkesan canggung dan sering salah gara-gara Krisan tak ada pengalaman berdansa, tapi Ardan tampak tetap tersenyum, bahkan terkekeh beberapa kali menghadapi sifat polos Krisan.
Aneh. Sudah jelas Tiana punya banyak kelebihan dibandingkan Krisan, tapi kenapa Ardan malah memilih gadis kampung itu tuk didekati? Apa yang menarik dari Krisan? Padahal, Krisan selalu terlihat malu-maluin di hadapan publik.
“Heh, menggelikan...,” desis Tiana jengkel.
Dalam kejengkelannya, tanpa sadar seseorang datang menghampiri Tiana, berdiri tepat di samping wanita bergaun kemerahan itu.
“Sedang sendirian, Nona Tatiana Williem?”
Tiana menoleh, mendapati sosok pria jangkung dengan memakai setelan pakaian jas rapi serta tatanan rambut sebahu yang bagian atasnya dibentuk semi-klimis.
Mata biru Tiana menyipit, heran akan kehadiran pria asing itu. Ini pertama kalinya mereka bertemu, tapi pria itu sudah tahu saja namanya.
“Emm.... Apa kita pernah saling mengenal, Tuan?” tanya Tiana sesopan mungkin.
Pria tersebut menyunggingkan senyuman. “Ini pertama kalinya kita bertemu, tapi aku sudah tahu tentang dirimu dari Tuan Williem sendiri.”
“Dari— Oh....” Tiana mulai mengangguk mengerti.
Sepertinya, pria ini merupakan salah satu kolega atau rekan bisnis ayahnya, sehingga ia tahu siapa Tiana.
Pria tampan itu pun segera mengulurkan tangannya, bermaksud memperkenalkan diri pada Tiana. “Perkenalkan, aku Xavero Tristanveron. Kau pasti tidak asing lagi dengan margaku, bukan?”
“Tristanveron...?”
Tiana berusaha mengingat-ingat marga Xavero hingga akhirnya mata Tiana membelalak sempurna.
Iya, Perusahaan Grup Tristanveron. Siapa yang tidak mengenal perusahaan besar tersebut? Kenapa Tiana bisa hampir lupa.
“Tri-Tristanveron...? Perusahaan yang bergerak di bidang hiburan, fashion, dan agensi V-Idol ternama di seluruh Ranjaya?” ucap Tiana tercengang. “Dan Anda merupakan CEO baru dari perusahaan itu, bukan? Astaga! Maaf, saya baru menyadarinya.”
“Tak apa. Aku merasa tersanjung ketika mendengar pujian darimu tentang perusahaan besar kami,” kata Xavero sedikit sungkan. “Dan kau tak perlu bicara seformal itu. Santai saja.”
“Oh! Kalau begitu....” Buru-buru Tiana membalas uluran tangan Xavero. “Senang bisa mengenal An— Maksudku, mengenalmu, Tuan Xavero.”
Keduanya saling memperkenalkan diri. Tiana tak percaya, ia sedang bertemu dengan seorang CEO dari perusahaan ternama. Ini merupakan suatu keberuntungan baginya.
__ADS_1
“Jadi....” Setelah bersalaman, Xavero mulai basa-basi. “Kenapa sendiri saja?”
“Emm....”
Lagi-lagi, Tiana kembali kesal sendiri saat ditanya begitu. Ia pun sendirian di sini karena sejak bermasalah dengan Ardan tadi, Tiana sama sekali tidak tertarik tuk mengobrol dengan siapa pun. Namun, karena Xavero yang mengajaknya ngobrol lebih dulu, tentu Tiana tidak keberatan. Justru ia sangat senang bisa mengenal CEO dari perusahaan ternama tersebut.
Dengan nada sedikit datar, Tiana menjawab, “Hanya ingin sendiri. Acara ini lama-lama membosankan.”
Xavero menyunggingkan senyuman. Ia meminum minuman beralkohol yang sempat ia bawa tadi.
Keduanya terlibat pembicaraan ringan beberapa saat. Di saat hati Tiana gundah atas perlakuan Ardan, dia beruntung bisa diperkenalkan dengan sosok santai seperti Xavero.
Entahlah. Mungkin tidak masalah jika mereka bisa saling mengenal lebih jauh lagi nantinya.
...~*~*~*~...
Pesta dansa masih berlangsung cukup lama. Musik dan dansa yang awalnya melow-klasik kini beralih ke beberapa fase genre sesuai peraturan lomba yang diberitahu Parta sebelumnya. Dimulai dari musik tempo sedang, mulai cepat, bahkan sampai ke genre musik elektronik sampai tarian setiap pasangan jadi makin tak karuan. Yang awalnya merupakan pesta dansa ala bangsawan kini berubah jadi pesta heboh khas anak-anak muda.
Beberapa menit kemudian setelah fase terakhir berakhir, Parta memberi pertanda pada band musik dan DJ tuk menghentikan musik dansa, lalu beralih ke musik yang lebih santai demi mengiringi suasana acara.
Di panggung, Parta sempat memberitahu kalau lomba dansa sudah selesai. Namun, para pasangan peserta tidak diperbolehkan pulang dulu karena sekitar sejam lagi mereka akan mengumumkan siapa pemenangnya. Setelah itu, baru ada pembagian sertifikat Masa Orientasi Pelajar untuk para Taruna-Taruni junior yang baru masuk akademi.
Rafa yang sudah lama berdiri sendiri, memilih tuk berhenti berdansa dan berpisah dengan Miranda kini tersenyum mengejek kala melihat Nadia dan Damar menghampirinya.
“Gimana, Dek, dansanya?” tanya Rafa iseng sambil tersenyum usil.
“Luar biasa!” seru Nadia. “Aku seneng banget malam ini bisa dansa bareng Mas Damar. Lain kali, kasihlah kami waktu berdua lagi, Bang.... Biar kita sama-sama bahagia.”
“Yakin, Nad...? Kau kagak kasihan sama masmu itu?”
“Eh?”
Nadia tercengang, baru sadar kalau Damar sudah dalam keadaan berantakan begitu. Mungkin karena mereka berdansa terlalu heboh saat di fase musik dansa tempo cepat, makanya Damar jadi terlihat berantakan begini.
“A-aduh, Mas Damar.” Nadia menggandeng tangan Damar, raut wajahnya tampak khawatir ketika melihat pemuda itu kurang semangat. “Maaf, ya.... Tadi dansanya terlalu semangat.”
“Eee.... Enggak apa-apa, Nad.” Damar berusaha membetulkan posisi kacamata. “Aku cuma enggak biasa nari dugem kayak begitu.”
Rafa mulai meremehkan, “Aelah. Dansa kayak gitu doang ‘dah teler. Yakin kayak—.”
Sebelum melanjutkan, Rafa menautkan jari-jari kedua tangannya, lalu menepuk-nepuk bagian bawah telapak tangan beberapa kali sampai berbunyi ‘plok-plok’.
__ADS_1
“.... Kayak gini masih sanggup di atas ranjang pas udah nikah ama Nadia nanti?” lanjut Rafa meremehkan. “Kalau kayak gitu aja ‘dah loyo, enggak usah ‘lah nikah-nikah sama adikku.”
Otomatis wajah Damar memerah karena malu saat disinggung hal sensitif seperti itu. Mana Rafa ngomongnya di hadapan Nadia pula.
“A-apaan sih, Raf?! Je-jelas aku sanggup kayak begituan...! Lagian, kita masih terlalu muda buat nikah. Masa musti bahas kayak gitu, sih?” bantah Damar sedikit terbata-bata.
Di tengah perdebatan kecil mereka, datanglah duo makhluk paling aneh di antara lingkaran pertemanan mereka. Krisan dan Ardan datang menghampiri dengan penampilan jauh lebih tak karuan lagi.
Krisan hanya berantakan di bagian rambut hitam yang kini terlihat lebih kusut, tetap memasang wajah datar seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Sedangkan Ardan hampir tak berwujud lagi. Rambut jingganya makin acak-acakan, jalan saja terseok-seok, bahkan kini kemeja sudah terbuka beberapa kancing di bagian atas, jasnya juga sudah melorot tak karuan.
“Astaga, kalian ini....” Rafa geleng-geleng kepala melihat kedatangan Ardan dan Krisan. “Abis diterpa badai cobaan kalian sampai berantakan begini? Atau jangan-jangan, sempat nganu-nganu?”
“Nganu-nganu apa, Senior?” tanya Krisan polos.
Sontak Nadia menepuk tangan abangnya itu. “Bang Rafa ini.... Jangan sembarangan ngomong kayak gitu di depan Krisan, dia tetap musti polos.”
“Polos apaan? Kalau udah pernah begal dada laki, mana bisa dibilang polos?”
“Aduh....”
Nadia menepuk kepala sambil geleng-geleng. Teringat akan fakta tentang Krisan berani menyentuh dada Ardan saja sudah membuat Nadia syok berat.
Dia masih tak menyangka Krisan yang terlihat polos dan kurang wawasan itu lancang menyentuh dada Ardan.
“Eh? Dek Krisan.” Ardan yang baru sadar dari kekacauan sempat mencolek lengan Krisan. “Kita udah ke pelaminan, yak? Adoh!”
Ardan mengaduh saat kepalanya dijitak Rafa.
“Enggak usah halu, Dan. Baru aja selesai dansa, udah lebih parah aja telernya ketimbang Damar,” tegur Rafa.
Ardan pun mengelus kepalanya yang kena jitak. “Ya gimana kagak teler? Diajaknya pula aku joget-joget enggak karuan, gaya jempol ngacung ‘lah, dugong mangap ‘lah, ampe disuruhnya pula aku joget kayang.”
“Hah? Joget kayang?!” ucap Nadia terkejut.
Sumpah, kok bisa Nadia bersahabat dengan gadis antik seperti Krisan. Kelakuan anehnya bahkan lebih parah dari Ardan.
“Tadi ada lagu remix dangdut yang sempat diputar pas kondangan bibiku di kampung, jadi aku semangat jogetnya,” kata Krisan datar dan polos. Ucapan dan ekspresi yang sama sekali tak sinkron.
“Haaaah....”
Damar, Rafa, Nadia, bahkan Ardan cuma bisa menghela nafas, menunduk sambil mengelus dada. Udah enggak tahu lagi harus mereka apakan gadis imut bak boneka yang kelakuannya melebihi anomali astral ini.
__ADS_1
Apa sebaiknya mereka melakukan ritual pengusiran setan aja, yak? Siapa tahu Krisan lagi ketempelan.
...~*~*~*~...