
Melihat Krisan membalas demikian, Nadia menyunggingkan senyum. Rasa lelah akibat terlalu banyak membuang energi jadi tergantikan dengan semangat. Kali ini, Nadia akan terus berjuang walau ini hanya tes orientasi biasa.
Setidaknya, Nadia akan tunjukan pada Ardan bahwa dia bisa menjadi lebih baik lagi.
“Jadi, bagaimana?” tanya Nadia mulai percaya diri.
Krisan tersenyum, “Lanjut.”
Sirkuit elektrik berwarna biru gelap muncul sesaat di wajah bagian kiri Krisan, pertanda ia akan mengeluarkan Kekuatan Kebangkitan.
“Kekuatan Kebangkitan : Aktif.”
“Serbuan Gagak!”
Krisan menciptakan ratusan burung gagak, mengarahkan mereka semua tuk terbang menerjang Ardan.
Semua gagak langsung menerjang Ardan tiada henti, membuat dia risih dan fokus pandangan serta pendengarannya pun terganggu. Ardan beberapa kali memukul-mukul para gagak, tapi di antaranya ada yang berhasil menggores pakaiannya.
Sialan, ternyata Kekuatan Kebangkitan Krisan ganggu juga.
“Cakram Logam!”
Ardan melenyapkan dua pasak tadi di tangan dan menciptakan dua cakram logam yang langsung berputar mengelilinginya, menebas semua gagak di sekitar Ardan.
Semua gagak sudah dihabisi, tapi lagi-lagi keberadaan Krisan dan Nadia hilang dari hadapannya.
“Ke mana lagi mereka pergi?” gumam Ardan mulai waspada.
Ardan membiarkan kedua cakram tadi berputar-putar di sekitar tubuh, berjaga-jaga kalau ada yang mendadak menyerangnya dari berbagai arah.
Sunyi, sepi, tak ada tanda-tanda pergerakan musuh. Mata perak Ardan bergerak-gerak mencari kemungkinan salah satu atau keduanya muncul sekaligus. Dia harus tetap waspada. Dua juniornya ini terbilang cukup kuat dari pada junior-junior sebelumnya.
Yang satu merupakan sepupu yang selalu berlatih bersamanya dan Rafa, jadi kekuatannya lumayan perlu diwaspadai. Sedangkan yang satu lagi terlalu tenang sampai-sampai setiap serangannya sulit diprediksi.
“Sulur Pengikat!”
“Hah?!”
Ardan hampir latah menyadari ada beberapa sulur tumbuhan muncul dari bawah lantai, hendak mengikatnya. Refleks Ardan melompat tinggi tuk menghindar. Namun, sulur-sulur itu tetap memanjang ke atas, berusaha mencapai Ardan.
Ardan terpaksa menghindari setiap gapaian sulur-sulur dengan cara melompati permukaan dua cakram yang sengaja ia terbangkan di langit dari atas ke atas secara bergantian agar dapat membantunya melompat semakin tinggi, dan kadang ia juga menebas semua sulur dengan cakram itu pula.
Dari bawah, Krisan mulai bersiap menyerang ketika melihat Ardan sudah semakin ke atas.
“Sayap Gagak.”
Krisan kibaskan helaian rambut belakangnya, membuat bagian rambut itu berubah bentuk menjadi sepasang sayap hitam. Kemudian, ia langsung terbang cepat menuju Ardan.
“Cakar!”
Krisan juga menciptakan kuku-kuku cakar burung di jari-jari tangan agar bisa memberi serangan tambahan pada Ardan.
Saat masih melompat tinggi menghindari sulur-sulur ciptaan Nadia, Ardan menoleh, menemukan sosok Krisan sudah terbang cepat ke arahnya dengan cakar-cakar siap digunakan.
Ardan terpaksa berputar di udara, melempar dua cakram ke arah Krisan. Tetapi, Krisan berhasil menghindar sambil sengaja menggores ujung kukunya pada permukaan cakram yang lewat, sehingga membuat pendengaran Ardan terganggu.
“Ugh...!” Ardan meringis mendengar bising antara logam cakram dan goresan kuku Krisan.
Krisan terbang makin cepat mendekati Ardan, dan sedikit lagi berhasil mencakar Ardan. Namun, Ardan berhasil menggeser tubuhnya di udara, meraih tangan Krisan.
“Keluar kau dari tempat persembunyianmu, Nadia!”
Dan Ardan melemparkan tubuh Krisan ke satu titik hutan, tempat Nadia bersembunyi.
Benar saja, pohon-pohon di area hutan tempat Nadia bersembunyi langsung tumbang akibat benturan tubuh Krisan yang lumayan keras, menampakkan sosok Nadia tengah bersembunyi di salah satu pohon.
Nadia sempat dibuat terkejut kala melihat Krisan sudah tergeletak di lantai. Lantai itu tampak berubah menjadi kawah akibat benturan keras tubuh Krisan.
“Buset, Bang Ardan ini. Gebetan sendiri dibanting,” ucap Nadia tak percaya.
“Kan dia enggak mau main perasaan di pertarungan, jadi bisa kumaklumi.”
__ADS_1
“Heh?!”
Nadia makin terkejut lagi melihat Krisan yang terbaring di sana masih berekspresi datar saja setelah dibanting sekeras tadi.
“Kau orang apa orang, Kris? Dibanting sekeras tadi masih tenang-tenang aja. Kalau aku ‘mah, minimal tereak-tereak encok.”
“Kau kira aku nenek-nenek sampai musti encok segala?” tanya Krisan datar. Kemudian, ia kembali berdiri dengan rambut hitam yang sudah makin kusut. “Tadi sayap buatanku lumayan ngebantu buat ngelindungin punggungku dari benturan. Jadi, enggak kerasa apa-apa.”
“Ooo...” Nadia mengangguk paham. Tahan banting juga kawan datarnya satu ini.
Nadia jadi kepikiran. Kalau misalkan Ardan dan Krisan nikah, kade’erte-nya kayak gimana, yak?
Di tribun, Trio WekaWeka begitu takjub melihat pertarungan epik tadi.
“Anjir! Senior Ardan bisa memperkirakan ke mana Nadia sembunyi!” ucap kagum Didi yang duduk di tribun belakang Rafa dan Damar bersama dua member Trio WekaWeka lain.
Damar menoleh, “Eh? Kalian di sini?”
“Kami masih pengen lihat Senior Ardan berantem, jadi balik ke sini lagi setelah berobat sebentar,” jawab Dodo disertai senyum lebar.
“Senior Ardan memang hebat,” ucap datar Ujang sambil mengacungkan jempol.
“Hilih. Masih kurang ‘mah itu,” remeh Rafa, membuat Trio WekaWeka cukup terkejut mendengarnya.
“Serius?” tanya Didi tak percaya.
Rafa pun berucap, “Lihat aja kelanjutannya lagi. Jangan langsung memuji Ardan cuma karena kemampuan bertarungnya yang masih payah-payah itu.”
Damar bicara pada Trio WekaWeka sambil menunjuk Rafa, “Jangan dengerin dia. Orangnya suka rusuh.”
“Woi!”
Trio WekaWeka sempat tertawa mendengar ledekan Damar, lalu kembali fokus melihat pertarungan di arena.
Dodo melihat pertarungan tersebut dengan begitu serius sampai-sampai membuat Didi heran.
“Kau kenapa, Do? Serius banget ngeliatinnya,” tanya Didi.
Rafa sedikit terkejut ketika mendengar perkataan Dodo di belakangnya.
Apa yang membuat Dodo bisa berpikir demikian? Apakah tadi Ardan terlihat tak sengaja menggunakan kemampuan menciptakan senjata yang seharusnya disembunyikan sesuai amanat Astan?
Dodo kembali melanjutkan, “Soalnya, aku lihat Senior bisa menciptakan cakram. Bukankah cakram termasuk jenis senjata? Cukup aneh kalau ada Pengguna Kebangkitan bisa menggunakan lebih dari satu senjata selain Senjata Kebangkitan.”
Rafa mencoba memperhatikan dua cakram yang dikendalikan Ardan. Sebenarnya, Ardan sama sekali tidak kecolongan dalam menggunakan kemampuannya.
Cakram tersebut murni terbuat dari logam, tidak ada desain atau modifikasi lain yang membuat cakram itu terlihat seperti senjata unik yang mematikan.
Jadi, masih masuk akal jika Ardan menciptakan cakram karena benda itu terbuat dari logam, sesuai dengan unsur Kekuatan Kebangkitan yang saat ini ia gunakan. Tidak mustahil jika Ardan bisa menciptakan mata pedang, rantai besi, atau beberapa jenis bagian senjata lainnya, asalkan itu terbuat dari logam keseluruhan.
Rafa pun menjawab keheranan Dodo, “Semua bagian dari cakram itu terbuat dari logam, dan logam adalah bagian dari unsur Kekuatan Kebangkitan Ardan. Tidak mustahil bagi pengendali logam untuk menciptakan beberapa jenis senjata, asalkan keseluruhan bagiannya terbuat dari logam.”
“Contohnya pedang. Ardan cuma bisa menciptakan mata pedangnya, tapi tidak dengan bagian-bagian lain karena cuma bagian itu yang terbuat dari logam. Begitu pula jenis bagian senjata-senjata lainnya.”
“Ooo....”
Didi dan Dodo akhirnya paham dengan penjelasan Rafa, dan kembali melihat pertarungan di arena.
Rafa pun kembali melihat lurus ke depan. Sekarang, dia tidak begitu khawatir tentang kerahasiaan kemampuan asli Ardan. Beberapa jenis senjata memang bisa diciptakan dan dikendalikan oleh pengendali logam asalkan benda-benda tersebut terbuat dari logam seutuhnya.
Lagi pula, logam adalah unsur dasar dari kemampuan menciptakan senjata. Oleh sebab itu, Ardan memilih menjadikan dirinya sebagai pengendali logam untuk menutupi kemampuan asli.
....
Setelah berhasil melempar Krisan dan menemukan tempat persembunyian Nadia, Ardan meluncur turun lewat permukaan sulur-sulur yang sempat mengincarnya tadi.
Setelah mendarat, Ardan kembali membiarkan dua cakram tadi berputar mengelilingi dirinya. Dalam sekali lompat, Ardan melesat cepat ke lokasi Krisan dan Nadia berada. Kedua cakram mulai siap dikendalikan kembali.
“Sini, main sama Mas, dedek-dedek manes!!!” teriak Ardan dengan mata sedikit melotot ala tokoh yandere cabul.
Ardan mengendalikan kedua cakram, menggerakkan keduanya dengan gerakan tebas horizontal. Dalam sekali tebasan, kedua cakram tersebut berhasil menumbangkan semua pohon yang ada di sekitar.
__ADS_1
“Uwaaah!”
“Ukh.”
Nadia dan Krisan menghindari tebasan brutal itu, Nadia meluncur ke bawah dengan posisi agak telentang, sedangkan Krisan melompat ke atas.
“Langsung serang, Krisan!”
“Siap.”
Nadia kembali menciptakan gauntlet kayu, sedangkan Krisan memanjangkan kuku-kukunya lagi. Keduanya pun langsung menyerang Ardan.
“Pasak!”
Ardan mengubah dua cakramnya menjadi dua pasak besi, ia segera menangkis setiap serangan yang dilancarkan Nadia dan Krisan.
Kedua gadis itu terus memberi serangan bertubi-tubi dari segala arah, Nadia dengan tinjunya, sedangkan Krisan dengan cakarannya. Dan beberapa kali pula Ardan menangkis serangan mereka hingga setiap serangan menimbulkan berbagai suara benturan yang cukup keras.
Krisan sempat terlempar menjauh akibat kena pukul pasak Ardan. Gadis itu menciptakan sebelah sayap, segera melancarkan serangan dari kemampuannya.
“Hujan Bulu Sayap!”
Krisan menghujani Ardan dengan ratusan bulu sayap burung gagak yang dapat menyayat musuh jika sampai kena. Nadia yang awalnya sempat duel dengan Ardan mulai menghindar ketika menyadari rekannya memberi serangan jarak jauh. Sedangkan Ardan sendiri memutar-mutar kedua pasak demi menepis semua bulu sambil beberapa kali menghindar.
Setelah dirasa semua bulu berhenti menghujaninya, Ardan malah merasa satu kakinya diikat oleh tali sulur yang diciptakan di tangan Nadia.
“Kena kau, Bang! Ergh...!”
Nadia berusaha menarik tali sulur, bermaksud menumbangkan tubuh Ardan dengan cara menarik kaki pemuda itu. Tapi entah mengapa, kaki Ardan teramat susah tuk ditarik.
“Ergh!”
“Argh!”
“Ekh! Ekh!”
Nadia terus saja berusaha menarik kaki Ardan, tetapi yang ditarik tidak kenapa-napa.
Ardan sendiri beberapa kali mengerjapkan mata, menancapkan dua pasak besi di lantai, bersedekap tangan di dada sambil terus mengawasi tindakan Nadia yang terlihat bodoh di matanya.
Nadia jadi terlihat seperti anak kecil yang berusaha mati-matian menarik bulldozer.
“Udah?” tanya Ardan santai. “Kelamaan ngejan kayak gitu, berak di celana kau.”
“Eh? Uwaaah...!”
Ardan menghentakkan satu kaki terikatnya, membuat Nadia yang masih memegang tali sulur hilang keseimbangan. Ia tarik tali sulur yang dipegang Nadia sampai gadis itu jatuh ke pelukannya dengan posisi membelakanginya.
“Heargh!”
“Kyaaa!”
Tanpa basa-basi, Ardan membanting tubuh Nadia dengan gaya kayang, membuat kepala Nadia berhasil terbentur ke lantai.
“Uwaaah!”
“Busyet!”
“Eh?”
Trio WekaWeka tercengang dengan gaya bantingan Ardan. Mereka tak menyangka, senior mereka berani membanting perempuan dengan gaya bantingan ala pegulat seperti itu. Tapi sepertinya, bantingan tersebut tidak cukup keras tuk membuat kepala Nadia terluka. Atau memang Nadia sendiri yang lumayan kebal terhadap benturan, mengingat gadis itu juga belajar Ilmu Kebal seperti Ardan dan Rafa.
Berbeda dengan Trio WekaWeka, wajah Rafa dan Damar sama-sama bete melihat Nadia dibanting begitu.
Katanya enggak mau kasar sama cewek, tapi malah main banting-banting, sama sepupu sendiri pula.
“Mar, ingetin aku buat ngehajar bekantan rawa itu,” ucap Rafa datar.
Dengan semangat kemerdekaan Damar berucap, “Siap, Calon Ipar!”
Lumayan, Damar bisa akur sama calon ipar.
__ADS_1
...~*~*~*~...