
“Oi!”
Mereka menoleh ke sumber suara, tepatnya di belakang Krisan dan Nadia terlihat sosok Ardan baru saja tiba kembali di depan ballroom, berlari kecil menyusul mereka.
“Pucuk dicinta, bekantan pun tiba,” ledek Rafa. “Panjang umur kau, ya, Dan. Baru aja dicari’in.”
“Apalah ngata-ngatain bekantan,” sewot Ardan saat sudah tiba di dekat mereka.
Damar pun bertanya, “Dari mana saja kau, Dan? Dari tadi kami cari’in, lho.”
“Tau, nih. Beberapa kali kukirimi pesan, kagak dibales-bales,” timbrung Rafa pula.
“Ehehe....” Ardan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
Rasanya canggung jika dia menceritakan kejadian yang sebenarnya kalau sejak tadi dia diseret paksa oleh Tiana masuk ke dalam toilet pria. Nanti mereka malah mikir macam-macam. Apa lagi ada Nadia dan Krisan di sini, jadi makin segan Ardan cerita kebenarannya.
Mungkin lain kali Ardan bakal jujur, itu pun sama teman-teman dekatnya saja, kayak Damar atau Rafa. Yang penting sekarang, ia ingin menikmati kebersamaan bersama teman-temannya selama di pesta penutupan.
“Ke toilet aku, kebelet berak. Kalau kagak segera dikeluarin, nanti malah jadi penyakit,” alibi Ardan. Kemudian, ia langsung mengalihkan topik saat melihat Nadia dan Krisan. “Ce’elah. Baru dateng, ye? Cakep-cakep bener dua junior imutku ini, apa lagi yang pakai dress hitam itu.”
Yang dimaksud Ardan di akhir kalimat ialah Krisan. Malam ini, Krisan memang mengenakan dress hitam selutut dengan sedikit hiasan bunga berwarna serupa di bagian rok dan sebelah bahu. Rambut hitamnya pun dibiarkan tergerai bergelombang dan hanya dihias oleh bando berwarna putih berlian.
Bukan dari mulut saja, Ardan akui, ia memang sempat pangling dengan tampilan Krisan yang makin hari makin imut dan cantik walau wajahnya selalu tampak datar, minim ekspresi.
“Dek Krisan malam ini makin cantik aja. Dress hitam itu cocok banget kamu pakai,” puji Ardan. “Tapi, lain kali cobalah pakai pakaian yang warnanya agak lebih cerah. Pasti kelihatan makin imut.”
“Terima kasih atas pujiannya, Senior Ardan.” Dengan sopan Krisan sempat membungkuk sesaat. “Tapi, aku lebih suka memakai pakaian berwarna gelap karena lebih mudah dicuci.”
Mendadak wajah Ardan jadi datar, berusaha memaklumi kepolosan Krisan. Seperti biasa, kalau berinteraksi dengan Krisan, pasti di tengah-tengah pembicaraan pembahasannya jadi makin ke mana-mana. Yang dibahas apa, yang dijawab apa.
Padahal, niat awal Ardan ingin pedekate. Tapi, targetnya susah peka dari kemarin.
Krisan sendiri walau wajahnya tampak datar, tetapi dalam hatinya ia senang dipuji sang senior begitu.
Mungkin tidak ada salahnya mencoba memakai pakaian berwarna cerah ketika bertemu dengan Ardan di luar kegiatan akademi, walau nyucinya bakal susah.
“Ah.... Benar juga, ya, Kris.” Nadia membenarkan perkataan Krisan tadi, “Aku memang selalu kesusahan kalau nyuci baju yang warna pada cerah. Soalnya, bekas kotornya kelihatan jelas banget. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku ‘kan sukanya warna-warna cerah. Biar secerah hidup aqyu.” Nadia mengedipkan sebelah mata dengan pedenya.
__ADS_1
“Enggak ada yang nanyak. Enggak ada yang nanyak!” Ardan geleng-geleng kepala. “Udah dari zaman Homo Sapiens, semua orang juga tahu kalau warna yang kau suka itu enggak jauh-jauh dari warna merah muda, biru muda, sama ungu. Labil kau, Nad. Pantas aja makanan yang disuka selalu seblak sama minuman boba.”
“Ember ‘kali mulut kau itu, ya, Bang. Pengen kugunting itu mulut biar enggak merepet ke mana-mana,” balas omel Nadia. “Kadang aku heran sama kau, Bang. Cowok kok embernya kayak ibu-ibu memble.”
“Dah, dah.” Damar menengahi, “Dari pada adu debat, mending kita langsung masuk aja.”
“Yuk, ah!”
Mereka semua segera memasuki ballroom bersama. Terkadang, Nadia dan Ardan masih saja adu omel sampai-sampai membuat Damar pusing mendengarnya, sedangkan Rafa dan Krisan bodo amat.
....
Tiana baru saja kembali ke ballroom pesta. Saat ini, dia sedang berdiri sendiri sambil meminum alkohol jenis lain, menerawang ke pemandangan sekitar.
Setelah kejadian di toilet tadi, ia sama sekali tidak tertarik bicara pada siapa pun. Untuk basa-basi dengan orang-orang yang bekerja sama dengan perusahaan keluarganya, Tiana membiarkan ayahnya saja yang mewakili.
Sekarang ia ingin sendiri, menyegarkan pikiran dari apa yang terjadi beberapa menit lalu.
“Haaah....” Tiana menghela nafas berat, kemudian menyesap minuman.
Saat sedang sendirian begitu, mata birunya kebetulan menangkap interaksi antara Ardan dan teman-temannya jauh di seberang sana. Tiana melihat Ardan saat ini sedang asik mengobrol dengan mereka, bahkan ekspresi pemuda itu jauh lebih ringan dari sebelumnya, tersenyum, tertawa, bahkan mengomel tak karuan.
Dan yang membuat Tiana mulai kesal ketika melihat Ardan begitu perhatian pada gadis dengan dress hitam imut itu. Senyum Ardan tak pernah luntur saat berinteraksi dengan gadis tersebut walau ia sama sekali tak tampak berekspresi, bahkan terkesan masih polos.
Tiana baru ingat kalau gadis itu merupakan teman Nadia, sosok yang ikut membantu melawan Tiana dan gengnya.
Tiana tak menyangka, selera Ardan serendah itu dalam memilih cewek idaman.
“Hm. Menggelikan.” Tiana kembali menegak minumannya sampai tandas.
....
“Makanan...!”
Setibanya di meja prasmanan, Krisan langsung menyerbu berbagai jenis makanan yang tersedia. Krisan akui, semua makanan yang ada di sini sangat enak, tidak pernah ia cicipi di kampung dulu.
“Kris, makannya pelan-pelan,” ucap Nadia saat melihat Krisan suka memakan makanan di sana.
__ADS_1
Krisan pun menoleh dengan pipi gembung karena penuh dengan makanan yang ia kunyah. “Makanan di sini enak, Nad. Coba kau makan kue nastar ini. Rasanya enak.”
Damar mengelus dahi, memaklumi betapa udiknya Krisan. “Itu macaron, Kris.... Bukan nastar.”
“Khihihik....”
Ardan cekikan sendiri melihat betapa lucunya interaksi mereka kalau berhubungan soal Krisan. Rupanya, di akademi sini bukan cuma Ardan yang berkelakuan aneh, bahkan Krisan yang kalem ini pun dianggap aneh.
“Dek Krisan, makannya pelan-pelan. Pipimu pas lagi makan kayak begitu malah mirip tupai, lho,” kata Ardan disertai senyuman pada Krisan.
“Kau tidak ingin coba, Senior? Ini enak, lho,” tawar Krisan pada Ardan.
Ardan menggeleng, “Mungkin lain kali. Aku ‘dah cukup kenyang.”
“Hm.” Krisan hanya mengangguk.
Gadis pemilik surai hitam ikal itu sempat mencari-cari sesuatu dari dalam tas selempangnya, tapi tak menemukan yang dicari.
“Duh.... Mana enggak bawa plastik lagi.”
“Jangan bilang kau mau bawa pulang semua makanan ini, Kris. Udah macam emak-emak aja kelakuan kau ini,” ucap Nadia datar saat menyadari maksud dan niat terselubung Krisan.
Namanya orang dari kampung. Pasti kebiasaan di kampungnya bakal kebawa-bawa sampai ke kota.
“Hadirin dan hadirat semuanya!”
Semua orang di seluruh ballroom pesta memfokuskan pandangan mereka ke satu panggung di mana terlihat seorang pemuda berkulit gelap, berambut gimbal diikat tinggi, dengan memakai tuxedo rapi mulai membawakan acara.
“Itu ketua Organisasi Teladan, kan? Si Parta itu?” bisik Ardan pada Rafa yang saat ini berdiri sambil memegang segelas minuman. “Tumben dia yang bawa acara.”
“Yang namanya pemimpin, pasti dialah yang disuruh buat mimpin acara.”
“Dih.... Seenak jidatnya dia bawain pesta. Kemarin aja pas seminar malah nyuruh akika,” sewot Ardan.
“Logat mangkal kau kumat, Dan?” tanya Rafa iseng.
Ardan pun mendumel, “Keseringan nyari orang dalam di kalangan bencong, makanya logat mereka suka kebawa-bawa.”
__ADS_1
...~*~*~*~...