Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 59 : Kecurigaan Rafa dan Ardan


__ADS_3

Apa yang terjadi pada sesi pengetesan tadi pagi masih kepikiran oleh Ardan. Bukan masalah para juniornya, tetapi tentang Shujin.


Tentang alasan pemuda berambut hitam itu nekat menyerang Ardan secara berlebihan sampai hampir membuatnya lumpuh, tentang motif dia berusaha mempermalukan Ardan, dan Kekuatan Kebangkitan Shujin yang terlihat aneh di mata Ardan.


Seperti sekarang, malam ini Ardan hanya duduk selonjoran di atas ranjang berselimut sarung kotak-kotak. Matanya tampak kosong, masih memikirkan hal-hal janggal yang terjadi tadi pagi.


Rafa sedang bersandar di ranjangnya yang berada tepat di sebelah ranjang Ardan. Ia sempat melirik ke arah pemuda itu, merasa heran karena sejak selesai mandi tadi Ardan terus saja diam melamun. Tidak seperti biasanya yang selalu aktif, cerewet, bahkan sempat cekikikan sendiri ketika chat-chat’an dengan Krisan.


Namun, kok malam ini orangnya jadi adem begini? Rafa jadi takut kalau tiba-tiba Ardan malah kena kesurupan gara-gara kelamaan melamun.


“Hmm....”


Kalau Rafa pikir-pikir, sepertinya Ardan lagi kepikiran soal pertarungannya melawan Shujin tadi pagi. Kebetulan sekali, Rafa juga ingin membahas soal Shujin, tapi dia tidak bisa membicarakannya dengan Ardan kalau masih ada Damar di sini.


Damar sendiri terlihat mengotak-atik laptop di atas ranjang yang berseberangan dengan ranjang Rafa, sedang memeriksa data-data hasil Kegiatan Orientasi Pelajar selama dua hari ini.


Rafa pun mendapat ide supaya kawannya itu keluar dari unit agar ia dan Ardan bisa leluasa mendiskusikan masalah pertarungan tadi pagi.


“Mar.”


“Hm?” Spontan Damar melihat ke arah Rafa.


“Beli’in aku sama Ardan ketoprak, dong. Di kantin sebelah selatan asrama. Lagi pengen ini....”


“Dih, sebelah selatan? Jauh bener,” komentar Damar, “Enggak bisa beli sendiri yang dekat-dekat sini aja, Raf? Di sono sering ngantri, padat bener.”


“Lagi capek sehabis ada kegiatan tadi sore bareng Senior Miranda. Ardan pun kayaknya lagi enggak enak badan. Dari tadi diem mulu kayak patung nasional,” alibi Rafa sambil menggoyang-goyangkan kakinya yang selonjoran. “Aku transfer nih duitnya, sekalian ama duit jalan.”


Rafa pun mengetik nominal uang yang akan ia transfer ke akun Damar menggunakan ponsel. Sedetik kemudian, ponsel Damar sudah mendapat notifikasi adanya transferan sejumlah uang masuk.


Damar sedikit melotot ketika membaca nominal uang yang ditransfer Rafa. “300 Dt? Ketopraknya seporsi cuma 15 Dt aja, Raf....”


“Beli’in buat aku sama Ardan, tiga porsi jadinya kalau kau juga mau. Sisanya uang jalan kau.”


“Tumben baek....”


Karena sudah dapat banyak duit dari sahabatnya itu, tak enak hati rasanya kalau Damar menolak. Jadi, dia pun terpaksa pergi membelikan ketoprak yang dimaksud.

__ADS_1


Damar beranjak dari ranjang, memakai jaket abu-abu, kemudian melangkah menuju pintu keluar unit.


“Sebenarnya, Raf, enggak usah dikasih duit jalan pun enggak apa-apa.” Ia pun tersenyum mengejek pada Rafa. “Yang penting, kasih aku izin buat jalan bareng Nadia selama libur semester nanti aja ‘dah cukup.”


“Bengek kau, Damar Seblak!”


“Kyahahaha....”


Rafa melempar bantalnya ke arah Damar, tapi pemuda berkacamata itu sudah keburu kabur sambil tertawa mengejek, sedangkan bantalnya malah berakhir terjepit di antara pintu otomatis unit.


“Damar ini.... Bikin kesel aja.”


Rafa berjalan menuju pintu, mengambil bantal tersebut dari jepitan pintu hingga membuat pintunya otomatis tertutup kembali, lalu balik ke samping ranjang.


“Dan.”


“Dan.”


“Danang!”


“Melamun mulu kau dari tadi. Lagi kepikiran soal pertarunganmu dengan Shujin tadi pagi?”


Ardan tidak menjawab, malah makin mengeratkan sarungnya tuk menutupi tubuhnya yang saat ini hanya bertelanjang dada.


Rafa pun menghela nafas, “.... Aku tadi sengaja suruh Damar beli’in ketoprak biar kita bisa omongin masalah Shujin ini.”


Pemuda pemilik surai pirang ikal itu mulai duduk di tepi ranjangnya, tepat menghadap ke arah Ardan.


“Kau pasti merasa aneh dengan Kekuatan Kebangkitan Shujin itu, kan?”


Ardan menoleh dengan tatapan heran, “Kau sadar?”


“Ya sadar, lah. Kalau kagak sadar, berarti aku lagi tidur.”


“Bukan gitu, Bekicot,” sewot Ardan. “Maksudku, kau sadar kalau ada yang janggal sama kekuatan Shujin?”


“Aku sama Nadia sadar, sedangkan orang-orang sekitar kayak Damar dan Krisan mulai memaklumi kalau jurus-jurus Shujin yang mirip sama jurus-jurus orang lain itu merupakan dasar dari Unsur Bayangan, jadi mereka tidak merasa curiga lagi. Tapi, enggak bagi kita.”

__ADS_1


Rafa melanjutkan, “Shujin ini ‘kan punya Kekuatan Kebangkitan berupa mengendalikan bayangan. Tapi, ada beberapa jurus yang malah terlihat enggak lazim disebut kekuatan bayangan.”


“Oke, jurus yang mirip sama jurus Krisan dan Nadia itu masih bisa disebut berasal dari bayangan karena dasar kekuatan bayangan sendiri ialah dapat menyerupai apa pun dan membentuknya dalam wujud bayangan. Tapi tidak dengan jurus yang bisa membuat kristal itu.”


Ardan mencoba mengingat-ingat jurus apa saja yang dilancarkan Shujin saat bertarung melawannya. Sampai ia teringat bagian saat Shujin menciptakan beberapa kristal ungu yang bisa meledak menciptakan pasak-pasak kristal berukuran besar.


“Yang ngeciptain kristal-kristal ungu, terus bakal numbuhin pasak-pasak kristal besar kalau sampai meledak, kan?”


“Nah, yang entu!” tunjuk Rafa antusias. “Wujudnya enggak kelihatan kayak bayangan, kan? Malah lebih mirip sama kristal-kristal yang diciptakan oleh pengendali kristal asli.”


Memang benar. Kristal-kristal ungu yang diciptakan Shujin tidak terlihat seperti obyek bayangan. Wajarnya, pengguna bayangan bisa menciptakan obyek lain hanya dalam wujud bayangan. Ciri-cirinya, obyek terlihat tidak begitu padat, berwarna hitam disertai aura ungu atau biru, dan tidak 100% mirip dengan obyek asli.


Tapi, kristal yang diciptakan Shujin sama sekali tidak menguarkan aura bayangan, tidak berwarna hitam pekat dan malah terlihat mengkilat terang seperti kristal pada umumnya.


“Orang lain mungkin masih bisa beranggapan kalau kristal itu juga bagian dari unsur bayangan karena berwarna ungu, sama seperti aura milik Shujin. Tapi, kalau dikaitkan dengan jurus-jurus Shujin lainnya yang mirip sama jurus punya Krisan dan Nadia, kayaknya kekuatan nih bocah bukan sekedar mengendalikan bayangan,” jelas Rafa curiga.


“Maksudmu, dia juga punya kekuatan asli yang berusaha dia sembunyikan, sama kayak aku?” tunjuk Ardan pada dirinya sendiri. “Kok kau bisa sampai kepikiran ke arah sana?”


Rafa pun berucap dengan entengnya, “Yailah. Aku dan satu keluargaku udah komplotan sama kau dan mendiang bapakmu, tentu kami ‘dah terbiasa dengan caramu menyembunyikan kekuatan Pengendali dan Pencipta Senjata milikmu itu.”


“Karena teringat caramu menyembunyikan kekuatan pengendali senjata dengan mengubahnya menjadi pengendali logam, aku pun berspekulasi kalau Shujin ini menyembunyikan kekuatan aslinya dengan mengubahnya menjadi pengendali bayangan,” lanjut Rafa lagi.


“Hmm....” Ardan menyugar helaian rambut jingganya ke belakang. “Aku pun sempat berpikir ke arah situ juga. Cuma, aku masih agak ragu aja.”


Rafa pun iseng bertanya, “Coba kau pikir, kekuatan apa yang mirip-mirip dasarnya sama bayangan, bisa nyiptain jurus-jurus yang mirip sama orang lain, bahkan bisa nyiptain obyek yang sebenarnya kagak kelihatan kayak bayangan?”


Ardan mencoba memikirkan jawabannya. Tetapi, Rafa sudah lebih dulu memperkirakan sendiri.


Kedua mata biru terang Rafa tampak menyipit tajam sebelum ia mengutarakan apa yang sudah ia perkirakan tentang hal-hal mencurigakan ini.


“Meniru, menggabungkan, dan memodifikasi.”


Ardan sedikit tercengang, menyadari maksud dari ucapan Rafa. Ia mulai mendapat jawaban awal dari kecurigaan mereka terhadap Kekuatan Kebangkitan Shujin.


Ardan pun mulai mempertanyakan, “Apakah Kekuatan Kebangkitan Shujin adalah Meniru dan Memodifikasi Unsur yang ia lihat dari orang lain?”


...~*~*~*~...

__ADS_1


__ADS_2