
“Abis ini, kau segera datangi Kantor Keamanan saja,” kata Rafa malas memberi teguran lagi pada Shujin. Kemudian, ia kembali beralih pandangan ke arah Ardan. “Dan kau!”
Rafa berjalan menghampiri Ardan sambil menyeret scythe merahnya yang besar. Melihat kedatangan Rafa membuat Ardan mulai ketakutan. Rafa kalau sudah bawa-bawa scythe seperti itu bakal melakukan tindakan yang tentunya tidak akan Ardan suka.
“Eh, Raf? Mau apa kau kemari...?” tanya Ardan panik.
“Raf.”
“Raf....”
“Raf, kalau jalan jangan bawa-bawa entu scythe! Kau mau aku ucap salam di hadapan Tuhan, gitu?!”
“Kalau bisa, mending kuseret saja kau langsung ke neraka, Dan! Tapi, aku masih ingat kalau kau itu sepupuku. Jadi....”
Ketika Rafa sudah berdiri di hadapan Ardan, Rafa memutar-mutar scythe itu, mengangkatnya, lalu diayunkan dengan ujung tajam scythe mengarah ke Ardan.
“.... akan kuobati kau, Ardan!!!”
“Gaaaaaahhh- Okh! Okh-.”
Semua orang di tribun syok bukan main, Damar bengong dengan kacamata mulai retak, Nadia dan Krisan beberapa kali mengerjapkan mata, dan Trio WekaWeka kaget sekaget-kagetnya bahkan membuat Didi sempat pingsan. Shujin pun terpaku di tempat dengan apa yang semua orang lihat.
Rafa memasukkan ujung scythe merah itu ke dalam mulut Ardan.
“Okh! Ukh- Ukh, ukh!”
Ardan tersedak ujung scythe, ia berusaha menepuk-nepuk permukaan sabit raksasa itu agar dilepas Rafa dari mulutnya.
Masalahnya, ujung tajam scythe itu dirasa sudah masuk ke dalam kerongkongan Ardan.
“Sabar dulu, Dan! Racun tadi masih ada sisanya.” Rafa malah semakin dalam memasukkan scythe ke mulut Ardan. “Ilmu Kebalmu masih belum bisa mengeluarkan semua racun yang dikasih Shujin, dosisnya terlalu banyak.”
“Okh! Okh...!”
Rafa makin dalam menanamkan ujung scythe ke mulut Ardan.
Ketika melihat ada aliran hitam mengalir sedikit di permukaan merah scythe, Rafa langsung mencabutnya, menarik semua cairan racun hitam yang tersisa keluar dari mulut Ardan, kemudian Rafa hempaskan semua racun yang menempel di scythe hingga membeku menjadi pasak-pasak racun hitam sampai menancap di lantai.
“Urgh....”
Ardan memuntahkan semua racun dari dalam tubuh beserta darahnya. Ia tak menyangka Rafa akan mengeluarkan racun itu dengan cara sebrutal ini. Ardan kira dirinya bakal langsung dirawat saja ke Unit Kesehatan.
“Jadi, yang tadi itu cara untuk mengeluarkan semua racun di tubuh Senior Ardan?” tanya Krisan di tribun.
__ADS_1
“Ehehe.... Iya....” Nadia tertawa canggung. “Bang Rafa punya kemampuan tuk mengendalikan darah. Jadi, apa pun yang berhubungan dengan darah pasti bisa ia kendalikan, termasuk memisahkan racun dari darah atau yang dikenal sebagai Teknik Memurnikan Darah.”
“Teknik.... Memurnikan Darah...?” Krisan memiringkan kepala.
Nadia menggaruk kepala pirangnya, bingung menjelaskannya. “Karena racun yang masuk ke dalam tubuh Bang Ardan mungkin dianggap tinggi dosisnya, ditambah lagi Bang Rafa masih belum mahir menggunakan Teknik Memurnikan Darah dari racun, jadinya ia mengeluarkan racun dari dalam tubuh Bang Ardan dengan cara sebrutal itu.”
“Memang, menggunakan Senjata Kebangkitan akan semakin membantu penggunanya mempermudah menggunakan jurus, tapi kalau kayak gini.... Ngeri juga, sih,” lanjut Nadia ngeri sendiri.
“Beruntung Bang Ardan menguasai Ilmu Kebal, jadi tubuhnya tetap tahan ketika dimasukkan scythe begitu lewat mulut. Coba kalau orang biasa, bukannya sembuh dari racun, malah sembuh tuk selamanya alias... tewas.”
Krisan bertanya lagi, “Jadi, teknik yang digunakan Senior Rafa pada Senior Ardan ini takkan mempan pada orang lain yang tidak menguasai Ilmu Kebal?”
Nadia mengangguk, “Sebenarnya, ada cara lain yang lebih mudah bagi pengendali darah seperti Bang Rafa tuk memurnikan darah. Tapi, Bang Rafa cuma bisa menguasai cara seperti ini.”
Krisan jadi ngeri ketika mendengar penjelasan Nadia. Cara memurnikan darah yang sangat ekstrem, menurutnya.
Kasihan Ardan. Pemuda berambut jingga itu pasti risih ketika ada benda tajam berukuran besar mengobrak-abrik kerongkongannya demi mengeluarkan racun dari dalam tubuh.
Terdengar tidak logis, tapi itu logika dari teknik brutal yang dimiliki Rafa.
....
“Ohok! Ohok!”
Setelah berhasil memuntahkan semua racun hitam, Ardan berbalik, menatap murka sepupu besarnya yang kini malah berdiri santai sambil memanggul scythe.
Melihat banyak darah beberapa kali menyembur dari mulut Ardan, Rafa merogoh satu pack kecil tisu dari saku mantelnya, kemudian menyerahkan tisu itu pada Ardan.
“Mulutmu belepotan saus cabe, tuh,” ucap Rafa tanpa dosa.
“Ini darah, Bego!” Langsung Ardan sambar tisu pack itu, lalu ia bersihkan mulutnya dari darah.
“Shujin Ra’.”
Rafa dan Ardan menoleh, melihat para staf datang menghampiri Shujin sambil memperlihatkan beberapa data pada pemuda berambut hitam itu.
“Kau diminta Kepala Keamanan Akademi tuk segera menghadap beliau di kantor.”
“Heh.” Shujin melengos. “Aku mengerti.”
Kemudian, kedua manik kelam Shujin menatap tajam Ardan, begitu pula Ardan yang balik menatapnya tajam lewat sepasang netra perak itu.
“Kuakui, aku memang sudah berlebihan menyerangmu dalam pengetesan ini. Tapi, aku cukup menikmati saat-saat kau berhasil kupojokkan. Jadi, aku tak perlu minta maaf,” ujar Shujin angkuh.
__ADS_1
“Siapa juga yang butuh permintaan maafmu?” cibir Ardan. “Kau minta maaf sampai sujud mencium kakiku pun, enggak bakal sudi aku memaafkanmu. Dan aku juga takkan minta maaf padamu karena apa yang kulakukan sudah sesuai standar pengetesan di Masa Orientasi Pelajar.”
“Kau yakin?” Shujin menaikkan satu alis. “Di sini memang tampak aku yang paling banyak melakukan pelanggaran. Tapi, apa kau tidak merasa malu ketika banyak orang melihatmu sempat berhasil terpojok oleh banyak seranganku, termasuk hampir lumpuh karena racun? Berarti, kau tidak cukup tangguh tuk diakui sebagai senior yang hebat.”
Setelah Shujin mengatakan hal itu, Ardan melihat beberapa orang di tribun sempat bisik-bisik dan di antaranya ada yang sampai memandang rendah Ardan.
Ardan dan Rafa memang tidak bisa mendengar apa yang orang-orang bicarakan di tribun, tapi Damar, Nadia, Krisan, dan Trio WekaWeka sempat mendengar pembicaraan para Taruna-Taruni serta beberapa staf akademi di sekitar mereka.
“Benar kata Shujin.”
“Walau yang dilakukan Shujin termasuk pelanggaran, tapi dia sudah memperlihatkan ketangguhannya melawan Ardan.”
“Pertarungan tadi epik banget, apalagi kemampuan bayangan Shujin sangatlah hebat. Aku bahkan tak menyangka kalau Shujin bisa menciptakan banyak jurus bayangan.”
Kemudian, nada bicara mereka sengaja ditinggikan agar Ardan sendiri bisa mendengarnya di tengah arena.
“Jurus-jurus Shujin itu bervariasi, enggak kayak Senior Ardan, ngebosenin.”
“Aku senang dengan adanya kehadiran Shujin yang mampu memojokkan orang narsis kayak Ardan itu.”
“Iya. Aku jengkel dengan sifat Ardan yang sok jagoan.”
“Ardan itu banyak bacot, muak aku dengarnya.”
“Masa senior bisa kalah saing sama junior baru?”
“Memalukan....”
Nadia, Damar, dan Krisan geram mendengar segala macam hinaan dari para pelajar dan staf. Mereka jadi makin menghina Ardan setelah dipicu oleh perkataan Shujin tadi.
“Keterlaluan...,” desis Nadia tak terima.
“Mereka cuma bisa tebar kebencian tanpa tahu seperti apa pribadi Ardan yang sebenarnya.” Sambil berusaha tenang, Damar memperbaiki posisi kacamata.
Krisan tetap diam seperti biasa, tapi hatinya pun kesal ketika sosok senior yang ia kagumi dihina seperti ini.
“Ehehe....”
Shujin menatap heran Ardan yang mulai cekikikan tak jelas, begitu pula orang-orang yang menghinanya juga menatap aneh Ardan dan menganggap pemuda dengan ikat kepala itu tidak waras.
“Hahaha.... Wah....”
Ardan mengarahkan satu tangan di telinga, mata peraknya setengah membola disertai kilat tajam sambil ia berucap dengan santainya,
__ADS_1
“Telingaku jadi sangat geli mendengar *njing-*njing menggonggong padaku....”
...~*~*~*~...