
“Senior Ardan?” panggil Krisan dengan wajah polos sambil memperhatikan Ardan yang berjalan menghampirinya.
“Kamu ngapain sendirian malam-malam di sini?” Ardan bertolak pinggang. “Nanti kesambit setan, lho.”
“Enggak kalau aku enggak lupa baca doa.”
Ardan menghela nafas ketika Krisan sudah memberi balasan begitu.
Tuh, kan. Susah kalau ngadepin cewek macam Krisan ini. Bawaannya pengen jengkel, tapi tak tega karena orangnya imut sangat.
“Cuma ingin menikmati langit malam aja.” Kemudian, Krisan bertanya, “Kamu pun sedang apa di sini?”
“Eee....”
Ardan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia malu kalau bilang pengen nyamperin pas tahu ada Krisan di sini. Aneh, sikapnya yang satu ini tidak seperti Ardan yang biasanya ceplas-coplos susah direm omongannya.
“Cuma kebetulan lewat aja,” alibi Ardan. “Boleh duduk?”
Krisan tidak menjawab, tapi menggeser tubuhnya, pertanda ia membolehkan Ardan duduk di sampingnya.
Pemuda itu pun semringah, kemudian duduk di samping Krisan sambil mata peraknya ikut melihat pemandangan langit malam.
Dalam ketenangan itu, keduanya sama-sama menikmati keindahan di langit atas sana, tempat yang sepi, damai, jauh dari hiruk-pikuk keramaian.
“Dek Krisan.” Ardan memulai pembicaraan, “Kamu suka melihat bintang-bintang, ya?”
“Suka,” jawab Krisan tanpa mengalihkan pandangannya dari langit. “Sejak kecil, aku selalu suka melihat bintang-bintang. Rasanya ramai di langit sana, tapi menenangkan ketika menikmati keindahannya.”
Ardan kembali melihat ke arah langit. Seperti yang dikatakan Krisan, ketika melihat kilau taburan gugus bintang itu, rasanya hati ini begitu tenang. Rasa risih akibat banyak pikiran jadi sirna dengan melihat bintang-bintang di sana.
“Aku selalu berharap bisa keluar angkasa, melihat lebih banyak bintang dan benda-benda angkasa lain yang belum pernah kulihat sebelumnya di Ribelo,” lanjut Krisan. “Itu merupakan salah satu alasan mengapa aku antusias ingin menjadi Prajurit Antariksa.”
Ardan mengangguk paham.
Suatu keinginan yang awalnya angan-angan saja akan berusaha diwujudkan jikalau ada peluang. Ketika Krisan memiliki peluang tuk menjadi Prajurit Antariksa, ia pun mendaftarkan diri ke akademi ini. Bukan hanya agar bisa melihat betapa indah dan luasnya luar angkasa, tetapi juga ingin melindungi banyak orang.
“Kau sendiri bagaimana, Senior?”
“Tentang apa?”
“Bintang-bintang.”
“Hah....” Ardan mencoba berpikir sebelum menjawab, “Aku juga suka melihatnya. Dulu, ketika ayahku masih hidup, kami sering melihat langit berbintang menggunakan teleskop.”
“Woaah.... Aku jadi iri.” Krisan makin memeluk kedua kakinya. “Pasti kelihatan jelas kalau melihat bintang menggunakan teleskop.”
“Hehe....” Ardan terkekeh sejenak. “Kalau kita sama-sama ada waktu luang, kamu bisa berkunjung ke rumah kami untuk melihat langit menggunakan teleskop. Nadia pasti senang kalau dirimu berkunjung.”
Sontak Krisan menoleh ke Ardan. “Kau tinggal bersama Nadia?”
“Tepatnya tinggal bersama keluarganya Nadia dan Rafa.”
__ADS_1
“Aaah....”
Krisan mengangguk-angguk. Dia baru ingat kalau Nadia dan Rafa merupakan saudara kandung, sedangkan Ardan sepupu mereka. Namun, Krisan tidak tahu jika Ardan tinggal bersama keluarga Rafa dan Nadia.
“Nadia belum cerita soal aku yang tinggal bareng keluarga mereka?”
Krisan hanya menggeleng.
Ardan pun mulai bercerita, “Kedua orang tuaku sudah lama meninggal, Krisan. Ibuku meninggal setelah melahirkanku, sedangkan ayahku meninggal beberapa tahun setelahnya di medan perang. Sejak saat itu sampai sekarang, aku diasuh oleh paman dan bibiku, ayah dan ibu dari Rafa dan Nadia.”
“Selama tinggal bersama mereka, aku tak pernah kekurangan apa pun. Mereka mengurusku dengan baik, memberi berbagai macam kebutuhan, dan menjamin pendidikanku sampai setinggi ini. Pokoknya, mereka sudah menganggapku sebagai bagian dari keluarga mereka.”
Tubuh Ardan pun dibaringkan di sana dengan satu lutut terangkat, kedua tangan menopang belakang kepala, dan kedua matanya kembali fokus melihat langit. Hembusan angin malam membelai lembut rambut jingga Ardan, terasa segar udaranya dan menenangkan.
“Tapi, aku sempat kepikiran kalau kehadiranku di keluarga mereka hanya membawa beban saja. Apa pun masalah yang berhubungan denganku pasti bakal melibatkan mereka.”
Ardan jadi teringat pembicaraannya dengan Rafa kemarin soal identitas dan tujuan sebenarnya Shujin. Mereka memang ingin menyelidiki tentang Shujin ini, tapi tak bisa karena akan berisiko besar pada kerahasiaan kekuatan Ardan dan bakal berimbas pula pada nama baik Keluarga Novan.
Memang Rafa mau pun Nadia sempat bilang, mereka tidak akan mempermasalahkan apa pun soal Ardan. Ardan adalah bagian dari keluarga mereka, sudah sepatutnya mereka saling membantu dan melindungi.
Tapi, jika seperti ini terus, Ardan merasa sungkan. Bahkan dia menganggap dirinya sebagai beban Keluarga Novan.
“Jangan berpikir begitu, Senior Ardan.”
Mata perak Ardan melirik ke arah Krisan, tapi si gadis masih tetap melihat ke arah langit. Hembusan angin malam sempat menerbangkan helai lembut rambut hitam panjang itu.
Kalau Ardan lihat-lihat, rambut Krisan jadi tampak mirip langit malam. Lembut, kelam, namun memancarkan kilaunya dalam kegelapan.
“Jika mereka sudah nyaman bersamamu dan telah menganggapmu bagian dari keluarga, maka kau tak perlu minder soal posisimu di sana. Kau tetaplah sosok yang berarti bagi mereka. Mungkin keluarga mereka bakal terasa sepi jika tidak ada kehadiranmu.”
Krisan berbalik, memberi senyuman pada Ardan. Senyuman yang tulus, hangat, dan semakin indah kala rambut hitam itu kembali bergerak halus ditiup angin.
“Jadi, jangan pernah minder, Senior Ardan. Kau punya kharisma sendiri ketika hadir bersama kami semua. Kau sangat berharga dengan segala keunikanmu.”
Ardan terpaku, bukan hanya karena kata-kata yang dilontarkan Krisan, tapi juga karena senyuman itu.
Semenjak mengenal Krisan, baru kali ini Ardan bisa melihat gadis itu tersenyum. Krisan memang sangat jarang menampakkan senyum, bahkan hanya senyum sangat tipis atas senyum canggung yang terlihat.
Namun kali ini, Ardan tak menyangka jika senyuman Krisan bisa seindah itu. Keindahan langit malam di atas mereka bahkan kalah indah dari senyum langka yang diperlihatkan Krisan padanya.
Bisakah Ardan menganggap dirinya beruntung melihat senyuman itu? Hanya sekedar senyum dari gadis berparas imut itu saja sudah membuat jantung Ardan berdegup tak karuan.
“Lalu, bagaimana denganmu?”
“Hah?”
Ardan kembali duduk, wajahnya sedikit dimiringkan ketika sengaja ia dekatkan pada wajah cantik Krisan yang mulus, hampir tanpa cela. Mata peraknya dengan mata biru Krisan saling beradu dalam ketenangan di antara mereka berdua.
“Apa artinya kehadiranku dalam hidupmu?”
Satu kalimat yang dilontarkan dengan nada rendah nan serak, satu kalimat dengan berbagai arti, dan satu kalimat yang berhasil membuat suasana jadi lebih intim di antara keduanya.
__ADS_1
Baik Ardan maupun Krisan sama-sama diam, fokus saling memandang tak peduli dinginnya malam terasa hampir menusuk kulit. Sepi, hanya mereka berdua. Tenang, hanyut dalam pesona.
Entah dari mana keberanian Ardan muncul tuk semakin mendekatkan wajahnya pada Krisan, bahkan gadis itu sendiri tampak sama sekali tidak mencegah apa yang hendak Ardan lakukan.
Ia semakin mendekat, mendekat, hingga nafas mereka dapat merasakan nafas mereka saling bertukar satu sama lain. Bibir mereka bahkan tinggal beberapa senti lagi akan saling bersentuhan.
Hanya saja,
“Adoh!”
Tak disangka, Krisan menampar wajah Ardan hingga memerah.
Ada apa gerangan? Apakah tindakan Ardan sudah dianggap kelewatan, sehingga Krisan berani menamparnya?
“Kok aku ditampar, Dek Krisan...?” rengek Ardan sambil mengelus wajahnya yang sudah memerah cap lima jari.
Krisan memperlihatkan telapak tangan yang ia gunakan tuk menampar Ardan.
Dengan polosnya, gadis itu berucap, “Ada nyamuk.”
“Eh?”
Keduanya sama-sama melihat ada badan nyamuk yang sudah penyek dengan salah satu kaki bergerak-gerak kaku di telapak tangan putih Krisan.
Ardan beberapa kali mengerjapkan mata, menyadari jika memang benar Krisan tadi menepuk nyamuk yang sempat menempel di wajah Ardan.
Buru-buru Ardan membalikkan muka sambil menyembunyikan rona merah karena malu kepergok hampir melakukan tindakan yang dilakukan atas dasar insting hatinya. Dia benar-benar merasa mati kutu berhadapan dengan Krisan lagi.
Sedangkan Krisan tetap tenang saja. Ia malah menyentil mayat nyamuk itu dari telapak tangan, lalu kembali menatap langit seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
Keduanya diam membisu, Ardan dengan usahanya menahan rasa malu, sedangkan Krisan masih tetap melihat bintang-bintang.
Suasana jadi canggung,
Sangat canggung.
“Dek Krisan.”
“Hm?”
“Balik ke asrama masing-masing aja, yuk. Dah malam banget juga.”
“Hay—.”
Ucapan Krisan terhenti kala mendengar suara bising aneh di antara sepinya malam. Sangat bising, sampai hampir memekakkan telinga.
“Kau kentut, Senior?”
“E-eee.... Iya.... Pengen berak aku.”
Saking malunya, Ardan hampir saja mengeluarkan e’ek muda.
__ADS_1
Boleh Ardan izin pamit tenggelam ke lubang hitam saja?
...~*~*~*~...