Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 31 : Gombal


__ADS_3

Menyadari posisi mereka cukup dekat, Krisan berinisiatif menyapa duluan dengan ekspresi polos khasnya.


“Hai, Senior.”


“Eh? Oh...!”


Buru-buru Ardan sedikit menjauh dari Krisan, begitu pula gadis itu. Ardan sempat berbalik ke arah lain sambil menggosok wajahnya sendiri.


Kok bisa ia sampai terpesona dengan kecantikan Krisan...?


“Wah.... Menang banyak itu senior kita.”


“Tuh gadis udah jadi incaran para Taruna lain, bahkan beberapa senior pun kelihatan curi-curi pandang sama dia.”


“Iye. Cuma karena anaknya pendiam, pada enggak ada yang berani deketin dia. Bahkan aku juga segan, lho, pedekate sama tuh cewek biarpun cakepnya kebangetan.”


“Kutengok, dia nempel terus sama si cewek pirang tadi. Kayaknya emang tuh cewek pemalu, deh.”


Nadia cengir-cengir sendiri mendengar para junior bergosip ria tentang teman barunya.


Memang Nadia sudah menyadari kalau Krisan sebenarnya dikagumi banyak lelaki di akademi ini walau baru hari ini menampakkan diri. Tapi seperti yang dikatakan mereka, kebanyakan lelaki pada segan dekat-dekat dengan Krisan karena orangnya pendiam dan hemat senyum.


“Hoho.... Sebenarnya, aku enggak benar-benar marah sama Bang Ardan. Pertengkaran kami yang kayak gitu ‘dah biasa terjadi, kok,” bisik Nadia sendiri disertai cengiran sambil memainkan jari-jarinya seperti antagonis licik. “Aku cuma pengen nyoba main kapal-kapalan aja....”


Jangan jadikan Nadia sebagai contoh yang bisa diterapkan. Tidak baik main kapal-kapalan, apalagi pakai orang beneran.


Ardan berusaha jaim, tak ingin terlihat konyol di hadapan gadis itu dan juga para juniornya. Padahal, dia sudah berperilaku konyol sejak awal acara dimulai.


Ia pun berbalik, lalu memberikan senyum termanis pada Krisan.


“Aaa.... Karena kau sudah terlanjur maju ke depan, bisa sekalian perkenalkan dirimu di hadapan teman-teman?” pinta Ardan seramah mungkin.


Damar pun menggoda Ardan, “Enggak usah sok sopan begitu. Satu kelompok udah tahu kalau kau dari tadi ngebadut doang.”


Ardan melotot ke arah Damar, mengambil ancang-ancang hendak melepas sepatu boots-nya. “Mar, nih sepatu boots militer kalau sampai kena kepala kau, bisa dibikin mental ke akhirat nyawamu.”


“Tuh ‘kan, Dek. Tabiat aslinya emang kayak gitu,” ucap Damar pada Krisan.


“Damar Seblak ‘angke!”


“Oke, oke. Saya akan memperkenalkan diri saya,” ucap Krisan tak ingin terjadi pertengkaran lagi di kelompok ini, walau pertengkarannya pun hanya sekedar main-main.


Ardan langsung menoleh ke Krisan. “Tidak perlu bersikap formal. Santai saja. Kita semua sama-sama pelajar, cuma beda tingkat dan jurusan doang.”


“Hm. Halus lagi ngomongnya...,” goda Damar lagi.


“Kamfretos kau, Mar! Lama-lama kutanam juga lidah kau itu biar sejejer ama lidah buaya dan lidah mertua!”


Beberapa junior sempat menertawakan interaksi mereka, terutama Nadia yang sudah menjadi biang kerok dari kejadian satu ini. Ia tak menyangka sepupunya yang pernah gonta-ganti pacar cuma karena penasaran bisa sampai salah tingkah ketika berhadapan dengan Krisan.


Dengan ekspresi wajah datar khas boneka, yang masih terlihat imut dan cantik, Krisan pun mulai memperkenalkan diri.


“Selamat pagi, semua.” Krisan membungkukkan badan sesaat. “Namaku Krisan Ambarwati, usia 18 tahun. Aku di sini mendaftarkan diri sebagai Taruni di Jurusan Ilmu Pertahanan dan Strategi Tingkat 1.”


“Wah! Berarti, kita satu jurusan, dong,” ucap Ardan dengan pedenya.


Nadia yang masih duduk di barisannya ikut nimbrung, “Lah! Tadi aku bilang berasal dari jurusan itu, kagak kau respon!”


Dengan angkuh Ardan menunjuk Nadia. “Ei, diem kau, Neng Lampir. Cukup caper sama gebetanmu sendiri, enggak usah caper-caper sama aku.”


“Hilih~. Bilang aja mau modus. Secara ‘kan temanku itu cakep pakai ‘bingit’,” cibir Nadia bermaksud menantang.


“Ooo. Lancang kau, yak! Kuadukan juga hubungan gelap kau sama Damar ke abangmu itu. Raf—.”


Beruntung dengan sigap Damar kembali membekap mulut Ardan. Kalau sampai kedengaran Rafa, bisa habislah dia tak bisa ketemuan lagi sama Nadia.

__ADS_1


“A-anu, Kris. Namamu unik juga. Asalmu dari mana, ya?” tanya Damar berusaha mengalihkan topik.


“Dari kampung,” jawab Krisan singkat.


Buru-buru Ardan menyingkirkan tangan Damar dari mulutnya. Keseringan dibekap seperti tadi, lama-lama mulutnya bisa makin enggak nyaman.


“Kampung mana lebih tepatnya?” tanya Ardan penasaran.


Krisan tampak berpikir keras dari kampung mana ia berasal. Bukannya ia pikun sejak dini, tapi karena Krisan merupakan gadis yang jarang sekali keluar rumah, maka dia sulit mengingat nama tempat ia berasal. Bukan cuma nama kampung, bahkan alamat rumahnya saja ia lupa. Dia bisa pulang dengan aman juga karena ingat pemandangan jalan ke rumahnya, bukan nama alamat dan kampung.


Bisa dibilang, Krisan ini agak buta alamat.


“Emm.... Sebenarnya, saya lupa berasal dari kampung mana. Tapi yang jelas, kampung saya itu dekat Kota Yorin.”


Damar dan Ardan sama-sama menepuk jidat. Kok ada perempuan yang udah berusia 18 tahun tapi bisa lupa sama nama kampung asal sendiri? Apa gadis ini terlalu nolep sampai-sampai lupa alamat asal?


“Cita-citamu sendiri akan jadi seperti apa kalau sudah lulus akademi? Ke angkatan mana kira-kira kau—.”


“Astaga, Mar. Enggak usah susah-susah nanya dia bakal mau jadi apa nantinya.” Dengan pede Ardan berujar, “Ya, jelaslah, Dek Krisan bakal bercita-cita jadi ibu bagi anak-anak kami.”


“Acieeeee~.”


“Gas’sin, Bang! Jangan kasih kendor!”


“Kami kawal sampai pelaminan!”


“Owwewewewe...!”


Semua junior langsung heboh ketika Ardan mengeluarkan gombalan kacangnya yang sebenarnya udah basi dari zaman baheula. Nadia sendiri malah ketawa sejadi-jadinya ketika melihat kehebohan para junior di kelompoknya.


Baru juga kenal Ardan, mereka semua sudah seheboh ini meresponsnya. Emang beginilah pesona seorang Ardan yang dikenal mudah berinteraksi dengan banyak orang lewat kekonyolannya.


Melihat satu kelompok pada heboh begini, bukannya malu, Krisan malah memiringkan kepala bingung. Maklum, gadis kampung yang masih polos, tak mengerti maksud dari kehebohan mereka.


“Emang kita nanti bakal nikah, Senior?”


Dari nada bicara Krisan sendiri, gadis itu sama sekali tidak bermaksud menyatir Ardan. Krisan murni bertanya begitu karena otaknya masih sangat polos.


Candaan mereka tak sampai ke otak sederhana Krisan.


“Bwahahahaha...!”


“Nyahahaha...!”


Para junior jadi menertawakan Ardan sekarang gara-gara pertanyaan sederhana Krisan yang cukup menusuk, apalagi Damar dan Nadia paling kencang ketawanya.


Mereka berdua senang karena ‘serangan balasan’ dari Nadia benar-benar berhasil mengenai Ardan, bahkan sampai kena efek kritis.


Mampos! Siapa suruh sok-sok jijik lihat orang pedekate? Mending pedekate belum ada perkembangan tapi kelihatan udah saling suka, dari pada sekali pedekate langsung kena tolak sampai kena mental.


“Duh....”


Ardan mengatur nafas, berusaha menenangkan dirinya yang udah kepalang malu.


Ardan mengerti, Krisan tidak bermaksud mempermalukannya. Toh Ardan bukan tipikal orang yang mudah tersinggung dengan kata-kata orang, dihujat pun sudah jadi makanan sehari-hari.


Tenang saja. Bukan Ardan namanya kalau tidak bisa mengatasi situasi seperti ini.


“Kan kita tidak tahu masa depan, Krisan. Jodoh itu memang ada di tangan Tuhan.”


Ardan berjalan mendekati Krisan, mulai menatap gadis itu tepat di manik biru kelamnya. Keduanya saling bertatapan begitu lekat. Netra biru Krisan bertemu pula dengan netra perak terang Ardan yang sejernih kaca.


Sesaat Krisan terpaku, merasa kagum dengan warna mata Ardan yang begitu memukau. Baru kali ini ia melihat ada manusia yang memiliki manik mata sejernih itu. Namun tetap saja, ekspresi wajah Krisan tampak polos seakan-akan bingung dengan apa yang ia lihat.


Dengan tatapan jernih disertai senyum memukau di bawah sinar mentari, Ardan berkata, “Tetapi, dengan adanya kehadiranmu di sini, yang dapat membuat hatiku menghangat dan berdebar kagum melihat keindahanmu. Aku yakin, kamu memang sengaja diciptakan untukku seorang.”

__ADS_1


Para junior langsung terperangah dibuat akan gombalan Ardan. Para Taruna merasa terkagum disertai mata berbinar-binar, ingin sekali bisa sebuaya Ardan dalam ngegombal. Para Taruni dibuat merona, apalagi dengan ketampanan Ardan yang begitu mempesona.


Nadia sendiri menganga lebar melihatnya. Sepupunya itu memang rada-rada buaya. Tapi, walau gombalannya termasuk pasaran, tetap saja bisa membuat hati perempuan mana pun luluh akan pesona ketampanan dan kehangatan senyumnya itu. Sedangkan Damar malah berdiri beku di tempat saking syoknya ia melihat Ardan menggombal, bahkan sampai berhasil membuat kacamatanya retak.


Krisan mengerjapkan mata beberapa kali. Biar seheboh apa pun orang lain merespon gombalan Ardan, Krisan masih tetap datar bak boneka hidup.


“Hei, aku serius. Kalau ada waktu, bisalah kita saling mengenal satu sama lain. Latihan bareng atau jalan-jalan, mungkin.” Tak lupa Ardan memberikan kedipan sebelah mata.


Pandangan mata biru Krisan perlahan mengarah ke bawah, sungguh bingung mau membalas apa atas pernyataan Ardan yang pede-nya ketinggian ini.


“O-oke, oke...!”


Karena tak ingin Kegiatan Orientasi jadi ajang jodoh-jodohan, Damar langsung menengahi tak peduli kacamatanya sudah retak sampai memutih.


“Terima kasih atas perkenalanmu kali ini, Krisan. Kami senang bisa mengenalmu di sini sebagai Taruni baru. Sekarang, kau bisa kembali duduk ke barisanmu, oke?” pinta Damar ramah.


Disertai senyum sangat tipis, Krisan mengangguk. Gadis itu pun berbalik dan berjalan ke barisan duduknya. Namun sebelum sampai, ia sempat menoleh ketika mendengar Ardan memanggil.


“Dek Krisan, ajakanku tadi tolong direspon, yak. Aku bukan Dilon 69 yang bisa menanggung rindu terlalu berat.”


Semua junior kembali bersorak menggoda Krisan dan Ardan. Sumpah, sesi seperti ini yang paling mereka sukai selama Kegiatan Orientasi walau garing.


Damar sempat menggandeng bahu Ardan dan ikut nimbrung, “Nanti jalan-jalannya naik icikiwir, Kris.”


“Kamfret kau, Damar Seblak!”


Ardan langsung menjambak-jambak rambut hitam Damar, sedangkan Damar sendiri malah nyengir merespon kekesalan Ardan.


Karena masih bingung mau membalas apa, Krisan pun hanya bisa memberi acungan jempol, lalu buru-buru duduk lesehan di barisannya, di samping Nadia.


Ardan jadi tersenyum sendiri kala melihat Krisan kembali duduk di barisannya. Selama punya hubungan dengan perempuan, baru kali ini Ardan merasa begitu antusias ingin mengenal Krisan lebih dekat lagi.


Gadis itu begitu menarik di mata Ardan.


“Dan.” Damar memanggil sambil merapikan rambut hitamnya yang berantakan akibat dijambak gemas Ardan. “Kau beneran suka sama si Krisan itu?” bisiknya.


Ardan menoleh, “Kalau tertarik lewat mata, emang jelas. Soal perasaan, entah mengapa aku jauh lebih ‘ngeh’ sama Krisan ini ketimbang cewek-cewek yang pernah kupacari sebelumnya.”


“Kalau tertarik, kejarlah.” Damar mengganti kacamata retaknya dengan kacamata baru. “Tapi, jangan coba-coba mainin perasaan anak orang. Dia gadis desa, masih polos-polosnya itu. Dan kayaknya, dia juga temenan akrab sama Nadia.”


Ardan pun sempat memikirkan hal itu. Namun, untuk kali ini, dia tulus benar-benar tertarik tuk mengenal Krisan. Cuma sekedar teman, tak masalah. Kalau bisa lebih dekat dari itu, malah lebih bagus lagi.


Hanya saja, Ardan masih perlu fokus pada pendidikannya sekarang. Semoga saja, perasaan tertariknya ini tak membuat fokusnya pada tujuan utama jadi roboh.


Di barisan para junior sendiri, Krisan malah menundukkan kepala begitu saja hingga membuat helaian rambut hitam itu mampu menutupi wajah. Nadia pun heran melihat perilaku Krisan yang jadi aneh begini.


“Kris, kau tak enak badan, ya?”


Nafas Krisan jadi terdengar lumayan berat, tangannya pun sempat terlihat meremas erat kemeja putih di bagian tengah dada.


Oke, Nadia jadi makin cemas melihat keadaan Krisan sekarang. Oleh sebab itu, ia terpaksa lancang menyingkirkan helaian rambut hitam yang menutupi wajah Krisan.


“Kris? Kalau enggak enak badan, kita langsung ke UK—.”


Nadia begitu tercengang menyadari ekspresi wajah Krisan. Krisan yang selalu tampak datar dan polos kini terlihat begitu merona karena malu. Seluruh wajahnya merah merona sampai ke telinga, nafasnya terengah menahan desah, dan mata biru kelam itu terlihat sayu tak bertenaga.


Ada apa gerangan dengan ekspresi ambigu ini?


“Astaga, Kris!”


Nadia sempat menoleh ke kanan-kiri, memastikan junior lain tidak memperhatikan Krisan. Nadia kembali menutupi wajah Krisan dengan rambut lagi, kemudian ia menutup seluruh kepala Krisan menggunakan blazer-nya.


Sungguh, Nadia tak menyangka wajah Krisan jadi makin cantik kalau merona seperti tadi. Bisa bahaya ini.


“Jangan sampai para jantan itu melihat ekspresi wajahmu seperti ini. Bisa birahi mereka nanti,” bisik Nadia hati-hati.

__ADS_1


...~*~*~*~...



__ADS_2