
Shujin memiringkan seringai remeh, geli mendengar semua pernyataan yang dikeluarkan dari mulut Ardan dengan bersungguh-sungguh.
Beginikah pola pikir manusia?
Jika ada banyak manusia yang punya pola pikir seperti Ardan, maka akan banyak manusia pula yang lemah hanya karena membiarkan rasa kemanusiaannya tetap ada.
Hanya yang terkuat yang bisa bertahan di dunia kejam ini. Yang lemah hanya akan berakhir ditindas. Itulah inti dari pola pikir Shujin selama ini.
“Ck. Kau nai—.”
“Naif? Kau bilang aku naif?” Ardan tersenyum getir. “Hanya karena aku bilang bahwa manusia perlu saling peduli dan tetap menjaga kemanusiaannya, kau langsung mencapku sebagai orang naif? Hina aku dengan sebutan naif berjuta-juta kali sampai pita suaramu robek sekali pun, aku tidak peduli!”
Sebenarnya, walau dari luar Ardan dikenal sebagai sosok yang dikagumi banyak orang karena sifatnya yang mudah bergaul dan berkarisma, tapi tak sedikit pula orang-orang menghujatnya dengan berbagai hinaan. Dan semua itu tidak berpengaruh apa-apa pada Ardan, karena dia sudah kebal dan masa bodo dengan hinaan mereka.
Selagi dia tidak berbuat buruk pada orang lain dan sudah merasa nyaman menjadi dirinya sekarang, Ardan tak perlu memikirkan segala macam hujatan.
“Seharusnya, kau tidak perlu susah-susah mengataiku naif, karena kuakui, urat maluku sudah putus. Segala macam jenis hinaan tidak akan bisa masuk ke otak dan hatiku.”
“Cukup introspeksi dirimu saja. Apakah menghina Taruna-Taruni lain konyol dan menyebut akademi ini ampas merupakan cara terbaikmu tuk bisa diakui hebat? Apakah itu sikap seorang prajurit yang disiplin?!”
Ardan makin menegakkan tubuhnya, menatap Shujin lewat netra peraknya yang kini menyala tajam, mencoba menahan murka yang siap meledak kapan saja.
Ardan memutar paksa tubuh Shujin sehingga benar-benar menghadap barisan junior yang masih duduk diam di sana, menunggu akhir dari suasana sedingin ini.
“Terlepas dari benar atau salahnya pernyataan panjangmu tadi, tidak semestinya kau menghina mereka. Kalau ingin terlihat seperti prajurit yang disiplin, maka minta maaflah pada mereka yang telah kau tindas menggunakan kata-katamu tadi,” perintah Ardan.
Shujin menatap para junior di hadapannya. Tanpa sadar giginya bergemeletuk, mukanya memerah menahan amarah.
Menurut Shujin, tidak semestinya makhluk hidup punya pola pikir seperti Ardan. Tak peduli orang lain menghinanya tanpa melawan balik, mengakui bahwa dirinya memang tidak tahu malu, dan sekarang malah menyuruh Shujin minta maaf gara-gara pernyataannya yang sudah sesuai fakta dianggap menyakiti.
Ardan ini memang pantas disebut sebagai orang bodoh.
Bukannya minta maaf sesuai perintah, Shujin malah berjalan cepat menjauh dari Kelompok 17. Selama dia menjauh, seluruh junior langsung meneriakinya keras karena muak dengan sikap sombongnya, bahkan ada yang sampai bersiap melemparinya menggunakan sepatu. Beruntung, Damar bisa mencegah hal seburuk itu terjadi dengan cara menenangkan mereka.
Namun, sebelum Shujin benar-benar hilang di belokan lorong, Ardan sempat berucap dengan sangat datar.
“Jika kau sudah selesai merenungkan diri, kembalilah ke kelompok ini kalau tidak ingin sertifikatmu ditahan.”
__ADS_1
Shujin tak peduli, pemuda berambut hitam itu terus saja melangkah cepat sampai sosoknya benar-benar hilang di belokan lorong gedung akademi.
Setelah Shujin pergi, Ardan menghela nafas, berusaha menenangkan dirinya yang hampir meledak karena sikap menjengkelkan Shujin. Sungguh, kalau saja bukan acara akademi, sudah Ardan hajar habis-habisan Shujin sampai kepalanya remuk.
Ardan sangat membenci orang yang malah merendahkan orang lain dengan sifat sombong dan sok dinginnya. Memang sifat seperti itu dikira keren, apa?
“Aish.... Pusing aku ngadepin bocah macam dia,” gumam Ardan sambil menunduk memijit dahinya.
Damar menghampiri Ardan. Ia tersenyum dan menepuk bahu sahabatnya itu.
“Yang tadi itu hebat, Kawan. Kau menegaskan padanya bahwa sesama makhluk hidup tidak boleh saling menjatuhkan dan tetap saling menghargai,” puji Damar.
“Aku tidak senai— maksudku, aku tidak sekonyol itu percaya kalau sesama makhluk hidup bisa saling menghargai, karena pada dasarnya siapa pun akan tetap saling menjatuhkan demi menjadi yang terbaik. Itu semua disebabkan karena ego.”
Ardan meregangkan tubuhnya yang sempat tegang. Mengomeli seseorang sampai sepanjang itu benar-benar mampu menguras tenaga fisik serta mentalnya.
“Walau sudah diingatkan yang baik-baik pun, masih ada lebih dari jutaan makhluk seperti Shujin yang tetap teguh pada pendirian menyebalkannya.”
Ardan kembali melanjutkan, “Sebenarnya, apa yang ditegaskan tadi memang ada benarnya. Dan aku terima-terima saja opini si Shujin itu.”
Maka dari itu, perlu sikap menerima dan mengerti agar setiap perbedaan bisa menjadi pembelajaran serta wawasan yang baik untuk diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
“Yang bikin aku marah di sini karena dia telah menghina banyak orang dan akademi kita, padahal ini baru hari pertama kegiatan, lho. Kalau aja sudah satu semester dia ngerasain belajar di mari, bisa kupertimbangkan penilaiannya.”
“Kalau menurutku sih... orang seperti Shujin ini sudah sepantasnya diomeli sekeras tadi, bahkan lebih dari itu.” Damar mengibaskan tangannya di depan. “Aaah! Sudahlah. Enggak usah dipikirin soal Shujin itu. Kita fokus saja pada kegiatan hari ini. Masih ada banyak junior yang belum memperkenalkan diri.”
Setelah masalah tadi usai, kegiatan perkenalan pun masih berlangsung dengan baik tanpa kehadiran Shujin. Pemuda itu tak pernah hadir semenjak perdebatannya dengan Ardan, bahkan sampai acara perkenalan usai.
...~*~*~*~...
Shujin berdiri, menyenderkan tubuhnya di tembok koridor gedung yang kosong, tak ada siapa pun yang lewat karena semua Taruna-Taruni akademi sibuk mengikuti Kegiatan Orientasi Pelajar.
Pemuda berambut hitam itu tertunduk, mengepalkan kedua tangannya erat, merasa geram ketika mengingat kejadian yang terjadi baru saja.
Ardanu De’Cornell, senior tingkatnya itu sudah banyak tingkah, pola pikirnya terlalu lurus pula. Setidaknya, itulah kesan yang didapat Shujin saat baru mengenal pria dengan ikat kepala itu.
Shujin benci pada orang yang suka cari perhatian, banyak omong, dan tidak tahu malu seperti Ardan. Shujin hanya berusaha menegaskan pada seluruh junior bahwa prajurit itu harus tegas dan disiplin, tidak bebas seperti yang diterangkan Ardan.
__ADS_1
Prajurit hanyalah budak yang dikorbankan tuk mencapai suatu tujuan. Dan agar bisa menjadi prajurit terbaik, seseorang harus mencapai puncak terkuat agar bisa memerintah prajurit-prajurit lain.
Untuk apa rasa kemanusiaan jika kau bisa menguasai seluruh dunia dengan kekuatanmu? Di dunia ini, makhluk hidup hanya punya dua tujuan di mata Shujin.
Memperalat, atau diperalat.
Jadi, seseorang harus bisa menjadi lebih kuat agar bisa memperalat orang lain. Jika lemah, maka dia akan menjadi sosok yang diperalat oleh yang terkuat.
“Ardan sialan....”
Selama Shujin geram dalam lamunannya, tampak dua orang Taruna tengah berjalan menghampirinya, satunya berambut pirang stroberi jabrik, dan satunya berambut ungu dengan gaya emo. Dari pakaian yang mereka pakai, tentu dua pemuda itu merupakan pelajar akademi yang sudah lebih dulu belajar di sana, senior Shujin juga.
“Hei, Bung. Sedang apa kau di sini? Tidak ikut Kegiatan Orientasi?” tanya si jabrik sok akrab.
Shujin mendelik, menatap tajam kedua senior yang sok akrab dan mulai mengganggu kesendiriannya itu.
Ya, Shujin suka menyendiri. Dia lebih senang mengurung diri dari kehidupan sosial ketimbang harus buang-buang tenaga tuk berinteraksi dengan orang-orang tidak penting.
“Enyahlah kalian dari sini....” Nada bicara Shujin terdengar bergetar, mencekam penuh ancaman.
Kedua Taruna itu sempat saling pandang. Wajah mereka sama sekali tak terlihat takut, justru masih tampak tenang.
Pada akhirnya, keduanya sama-sama menghela nafas. Si jabrik merogoh sebuah kartu perak dari saku dalam jaketnya, lalu memperlihatkan kartu itu pada Shujin. Shujin memperhatikan lambang dari kartu itu dengan kedua mata kelam menyipit tajam.
Kartu perak itu memiliki lambang kepala kadal berwarna perak logam disertai ukiran gelombang aura di atas kepalanya. Dan di sisi-sisi kartu terdapat ukiran tulisan dalam bahasa asing.
Shujin pun mendongak, kembali memperhatikan wajah dua pemuda itu dengan tatapan yang lebih datar.
“Saya harap, Anda tidak terbawa emosi hanya karena pergaulan orang-orang sini, Komandan,” ucap datar pemuda jabrik tersebut. “Kami hanya ingin mengingatkan Anda untuk tetap fokus pada misi. Jika Anda butuh sesuatu, perintahkan saja kami seperti biasa.”
Mendengar perkataan pemuda itu, Shujin pun menghela nafas. Walau menjengkelkan, tapi yang dikatakan pemuda itu memang benar.
Di sini, dia masih punya tujuan lain. Tetap fokus menjadi Taruna di sini sambil menjalankan misi yang sebenarnya.
“Aku mengerti.” Shujin menyeringai licik.
...~*~*~*~...
__ADS_1