Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 79 : Grim


__ADS_3

Tirai jendela ruang kerja berkibar tertiup angin malam, membuat suhu ruangan yang sudah tersentuh oleh dinginnya AC jadi semakin dingin lagi.


Sepasang tangan berkulit halus itu buru-buru menutup jendela beserta tirainya. Sambil memeluk tubuhnya sendiri yang mulai kedinginan, ia kembali berjalan menuju meja kerja.


Arni duduk di sana, kembali memeriksa beberapa dokumen di komputer yang berisi data-data terkini soal yayasan yang ia kelola.


Semua pekerjaan di sini selalu Arni yang mengurus, bahkan perusahaan camilannya setelah sang suami kembali bekerja ke luar angkasa. Dia sama sekali tidak merasa terbebani. Sama sekali tidak karena sudah merasa bahwa semua pekerjaan di sini merupakan bagian dari tanggung jawabnya.


Dia hanya merasa kesepian setelah ditinggal kerja suami, ditinggal pergi dua anak dan satu keponakan belajar di akademi. Hanya menyisakan dirinya bersama dua anak yang masih kecil serta beberapa ajudan, pembantu, dan pengawal yang selalu siap membantu serta menjaganya.


“Haaah....”


Arni mendesah lesu. Lelah dengan semua yang telah ia lakukan sekarang. Jam sudah menunjukkan pukul 22.34, sudah seharusnya ia tidur agar besok bisa bangun pagi-pagi untuk kerja dan mengurus segala persiapan sekolah kedua anaknya.


Namun, ketika tubuhnya hendak beranjak dari kursi, ponselnya berdering pertanda pesan masuk. Ketika Arni buka, rupanya pesan email dari server antar planet yang menyambungkan koneksi ke pengiriman pesannya. Arni sudah menebak siapa yang telah mengirimkan pesan lewat jalur server ini kalau bukan dia.


[Aku janji akan segera pulang <3]


Arni hanya menyunggingkan senyum tipis ketika membaca pesan itu. Ia memutuskan tuk beranjak dan pergi dari ruang kerja sambil membawa ponsel tersebut di tangan.


“Jangan coba-coba memberiku harapan, Mas,” gumamnya lesu sambil menyugar rambut hitam itu ke belakang.


...~*~*~*~...


“Tim 071 saat ini sedang menghancurkan markas timur musuh.”


“Sialan! Mereka punya senjata biologis.”


“Berhati-hatilah! Kita tidak bisa mencegah perkembangannya.”


“Laporkan kabar terkini pada Komandan! Dia harus tahu agar—.”


....


“Tembak!”


Seluru area pemukiman yang disebut sebagai markas para bandit tengah diserang oleh pasukan dari Militer Antariksa Angkatan Penjelajah.


Saat ini, mereka berada di bagian barat Planet GT624 yang telah selesai diteraformasi. Alamnya sudah hampir menyamai Planet Ribelo di mana banyak hutan lebat nan hijau, langit biru dengan udara yang segar, dan aneka macam flora-fauna unik yang belum pernah ada di planet hidup mana pun.


Namun, kelahiran planet layak huni yang baru ini malah mulai dijajah oleh para bandit dari kelompok besar tidak bertanggung jawab.


Sebagai salah satu angkatan pasukan dari militer yang planetnya terlibat akan proyek teraformasi ini, tentu Angkatan Penjelajah tidak akan membiarkan orang-orang tidak bertanggung jawab merebut bagian dari kekuasaan pemerintah mereka.


Mereka akan memusnahkan siapa saja yang secara ilegal mengklaim wilayah yang ada di Planet GT624 ini sebagai area kekuasaan mereka.


“Ugh!”


Para prajurit berzirah modern dari kelompok besar pasukan Angkatan Penjelajah menembak banyak bandit yang berusaha melawan mereka. Segala macam tembakan dilesatkan, mulai dari peluru timah sampai laser plasma.

__ADS_1


Ledakan demi ledakan berhasil menghancurkan bangunan-bangunan markas yang selama ini sudah dibangun oleh para bandit untuk menduduki wilayah tersebut tanpa izin dari bagian Serikat Galaksi yang ikut dalam mengawasi perkembangan teraformasi Planet GT624.


Bukan hanya itu, bahkan tank-tank pasukan mereka bertransformasi menjadi robot-robot mecha berukuran standar yang dengan tangguh melawan balik robot-robot milik komplotan bandit.


“Komandan, kita mendapat kabar dari Tim 071. Komplotan bandit sedang berusaha mengaktifkan senjata biologis,” kata salah satu prajurit yang tengah menembak sambil bersembunyi di balik batu besar.


Di samping prajurit itu, komandan mereka yang hanya mengenakan topi dan rompi anti peluru, Mayor Rako Bernand, ikut menembaki para bandit menggunakan senapan laser.


“Senjata biologis?” tanya Rako heran. “Para bandit itu punya senjata biologis?”


“Ini di luar dari yang sudah diperkirakan, Komandan. Kita—.”


Ucapan sang prajurit terpotong saat satu prajurit lain terpental melewati mereka berdua akibat sempat kena tendang mecha milik pihak bandit.


“Kau tak apa, Prajurit?” tanya Rako memastikan.


Walau sempat batuk-batuk dan merasakan sakit di bagian punggung karena sempat membentur pohon, prajurit itu berusaha bangkit. “Aku baik-baik saja, Komandan. Minggir sebentar. Serahkan bagian sini padaku.”


Satu prajurit dan Rako sendiri mulai mundur mencari tempat berlindung lain sambil menghindari berbagai macam tembakan dan ledakan granat.


Sambil mengisi amunisi baru, Rako sempat melihat apa yang ingin dilakukan prajurit tersebut.


Prajurit tadi sempat mengganti magazine baru, mengokang senapan, lalu mulai membidik mecha musuh yang sempat menendangnya tadi.


“Kekuatan Kebangkitan : Aktif.”


Sirkuit-sirkuit elektrik berwarna hijau menjalar ke bagian senapannya, mulai menyalurkan energi kebangkitan pada senjata tersebut.


Ketika ia menembakkan peluru-peluru senapan serbunya secara beruntun, terjangan semua peluru itu menciptakan hempasan angin membentuk tebasan sabit pedang yang menebas semua obyek di sekitar, menebas kedua kaki mecha itu juga, sehingga robot besar tersebut ambruk dan dihabisi oleh robot dari pihak prajurit.


Inilah fungsi Kekuatan Kebangkitan di medan perang. Kekuatan luar biasa itu bisa dimanfaatkan untuk membantu para prajurit menumbangkan musuh. Namun, bukan cuma di pihak mereka saja yang menggunakannya. Pihak bandit pun juga ada yang menguasai Kekuatan Kebangkitan.


“Senjata biologis macam apa yang—.” Ucapan Rako terhenti saat merasakan getaran aneh di tanah yang ia pijak serta mendengar suara teriakan para prajuritnya.


“Aaaaarrrgh!!!”


“Uwaaaah!!!”


Rako tercengang, melihat sejumlah prajurit terjatuh oleh kemunculan monster raksasa aneh dari dalam tanah. Monster itu berbentuk menyerupai cacing dan tanaman karena bentuk mulutnya yang mekar seperti bunga disertai taring-taring bergerigi tajam yang bisa mengoyak apa saja sampai tak berbentuk lagi.


“Jadi, itu senjata biologisnya?” desis Rako menyipitkan mata.


“GRRRRAAAAAGHHH!!!”


Monster cacing tanaman meraung sangat keras hingga membuat angin di depannya berembus menumbangkan pepohonan, menerbangkan para prajurit serta bandit, dan melayangkan obyek-obyek lain. Bahkan raungan itu sempat menimbulkan gempa kecil di sekitarnya.


Setelah meraung, terlihat mulut mekar sang monster menganga selebar mungkin. Ia mengumpulkan partikel-partikel biru kecil di depan mulut, berkumpul menjadi satu hingga lama-lama membentuk bola cahaya biru yang makin membesar.


Sadar akan apa yang hendak dilakukan sang monster, Rako pun panik. Ia langsung memberi perintah pada para prajuritnya lewat alat komunikasi di telinga.

__ADS_1


“Semuanya, menjauh dari monster itu! Dia akan segera—.”


“GRRRRRAAAGHHH!!!”


Lagi-lagi mereka mendengar raungan keras dari sang monster. Tapi bukan raungan keras karena marah, melainkan raungan kesakitan.


Iya, raungan kesakitan. Karena hanya dalam sekejap mata, sosok monster raksasa itu langsung belah menjadi dua akibat dilewati oleh obyek merah bercahaya yang melesat dari arah sebuah helikopter. Membuat tubuh sang monster menyemburkan banyak darah. Namun tak sampai di situ saja, semua semburan darah itu malah bergerak sendiri membentuk duri-duri raksasa yang langsung mencincang habis tubuh monster hingga tak bersisa.


Rako tercengang akan kekuatan mengerikan yang telah berhasil membunuh habis sang monster sampai lenyap begitu saja. Ketika Rako memperhatikan bentuk helikopter futuristik dengan empat baling-baling itu, ia sadar siapa yang telah mengalahkan sang monster hanya dalam kedipan mata.


“Komandan!” Salah satu prajurit berzirah berlari menghampirinya. “Komandan Rako, tadi itu....”


“Iya....”


Rako masih tercengang dengan serangan yang ia lihat tadi. Tapi beberapa detik kemudian ia menggeleng, tersadar kalau sosok itulah yang telah menghabisi monster musuh.


Lantas, kenapa orang yang dimaksud tiba-tiba berada di sini?


Rako langsung balik menatap si prajurit dengan tatapan terkejut. “Marsekal Grim? Kenapa dia ada di sini?”


...~*~*~*~...


Tumpukan daging dan darah monster menggenang mengotori sebagian area markas bandit yang telah rata akibat perang. Sesosok pria dewasa bermantel jubah merah marun berdiri tegap sambil memutar-mutar scythe merah hingga menyebabkan ekor mantelnya berkibar dihembus angin.


Satu tangan memanggul scythe di bahu, sedangkan satunya lagi menggenggam setumpuk daging monster yang telah ia cincang tadi, daging yang sudah hancur dan berlumuran banyak darah sampai mengotori sarung tangan fingerless yang ia kenakan.


Tanpa merasa jijik, ia kunyah daging mentah monster itu seperti mengunyah makanan, kemudian ditelan dengan entengnya.


Terus memakan daging monster, ia sempat membetulkan letak kacamata yang sedikit kotor akibat kena cipratan darah, menatap birunya langit sambil merenung.


Ekor jubahnya kembali berkibar kembali, helaian rambut pirang bergerak halus dibelai angin, dan lambang bintang emas pada topi militer merah yang ia kenakan berkilat memantulkan cahaya mentari.


Marsekal Grimaelo Adrael Novan merenung, merasa bosan dengan segala macam tugas yang ia emban selama belasan tahun lamanya. Kapan ia bisa hidup tenang kalau banyak masalah selalu berdatangan.


Ditambah lagi, Grim baru saja mendengar kabar jika salah satu markas Angkatan Orbit ada yang kena sabotase. Sebagai seorang perwira tinggi yang perannya penting di Militer Antariksa, tentu Grim dibuat pusing juga akan kasus ini.


Setelah menelan kunyahan terakhir, Grim sempat ngelindur, “Aku bosan bertugas di luar angkasa seperti ini terus.”


Dia kembali menatap birunya langit, mengingatkannya akan langit biru yang ada di Planet Ribelo, rumah bagi keluarganya di sana.


“Kapan aku pulang, ya?”


“Aku kangen keluarga.”


“Aku kangen anak-anak.”


Sekilas, pikiran Grim teringat pada sosok wanita berambut hitam kehijauan yang sudah sangat lama menemani hidup pria itu dari susah hingga sesukses sekarang, sosok yang mau menerima segala kekurangannya, dan telah menjadi bagian penting dalam hidupnya.


Senyumnya, tawanya, dan omelannya selalu berhasil membuat Grim rindu setengah mati pada wanita cantik yang telah menjadi ibu dari keempat anaknya.

__ADS_1


“Aku kangen istriku, Arni....”


...~*~*~*~...


__ADS_2