
“Kalau kalian ingin saling membunuh, lakukan di luar akademi,” tegur Rafa di tengah-tengah arena. “Di sini, kalian hanya akan merusak fasilitas dan melukai semua orang.”
Ardan maupun Shujin sama-sama diam ketika ditegur Rafa. Mereka tidak ingin cari ribut lagi dengan orang yang tidak punya hubungan atas masalah keduanya.
“Sebenarnya, aku tidak begitu mengerti inti permasalahan seperti apa yang membuat sesi pengetesan ini jadi arena pertarungan mematikan. Satunya punya niat hendak membunuh lawan, sedangkan yang satunya dengan tolol mau saja meladeni.”
Rafa menoleh ke Ardan, “Ardan, kau sudah cukup lelah melakukan pengetesan, tidak seharusnya kau meladeni dia sampai segitunya.”
Lalu ia menoleh ke Shujin, “Dan kau, Junior. Tidak seharusnya kau menyerang seniormu secara berlebihan. Bersiaplah menerima hukuman sanksi dari para staf nantinya atas pelanggaran yang kau lakukan.”
Rafa menatap keduanya dengan tatapan setengah melotot disertai kilatan biru pada ujung ekor mata, tampak seperti psikopat yang siap membantai siapa saja yang berani menentangnya.
Nada bicara Rafa terdengar sangat dalam dan mengintimidasi ketika mengucapkan ancaman.
“Jika ada yang protes, maju kalau berani. Akan kupenggal kepala kalian dan kutusuk di puncak monumen menara akademi...!”
Keduanya sama-sama terdiam, berekspresi datar, segan tuk membalas ancaman Rafa. Para penonton di tribun merasa ngeri dengan aura mengintimidasi yang ada di diri Rafa.
Pemuda itu tampak memyeramkan ketika memberi ancaman, apalagi dengan postur tubuhnya yang tinggi besar berdiri tegap memanggul sebuah scythe merah.
Benar-benar seperti iblis pencabut nyawa yang siap mengantarkan jiwa banyak orang langsung ke dalam neraka.
“Haaah....” Ardan menghela nafas tenang.
Inilah mengapa Ardan sering cemas dengan keadaan mental Rafa. Terkadang, sifat psikopat Rafa bisa kumat. Karena seperti yang diceritakan ayahnya dulu, silsilah Keluarga Novan memang sudah bermasalah dari segi mental.
Pada dasarnya, rata-rata Keturunan Novan dari pihak Grim adalah sosok-sosok yang jenius, manipulatif, dan selalu punya peran penting di bidang politik maupun perang.
Akan tetapi, mental mereka bermasalah. Terkadang mereka hampir tidak punya empati, terobsesi pada perang serta kematian. Dan masalah mental itu sudah menjadi penyakit dari turun-temurun yang kadang bisa kumat di saat-saat tertentu.
Peran Arni dan Astan di kehidupan Grim beserta keturunannya sudah membuat Keturunan Novan terlihat lebih manusiawi. Kini Ardan tidak akan membiarkan mental Rafa, Nadia, dan kedua saudara mereka kumat lagi. Ardan sudah menganggap mereka semua seperti keluarga kandungnya sendiri, sebisa mungkin ia akan membuat mereka jadi lebih manusiawi.
Ardan mengangkat satu tangan, “Oi, Bung.”
Rafa menoleh pada Ardan dengan tatapan masih mengintimidasi.
“Singkirin dulu dong lintah-lintahmu. Kami janji enggak bakal saling nyerang lagi, deh.” Lalu Ardan mengacungkan dua jari.
Rafa masih diam beberapa saat melihat gestur Ardan yang sedikit konyol.
__ADS_1
Kemudian, pemuda tinggi itu bertanya, “Yakin, enggak bakal nyerang lagi?”
“Ya gimana kami mau nyerang? Kau pun udah ngeluarin scythe nyeremin itu. Hampir terkencing-kencing aku kau buat.”
“Ahahaha....” Rafa tertawa menanggapi omelan konyol Ardan.
Memang beginilah salah satu cara Ardan agar penyakit mental Rafa tidak kumat, yaitu dengan berkomunikasi lebih bersahabat.
Kalau orang lain yang bertingkah konyol seperti Ardan, mungkin akan berakhir dengan kepala melayang, tertebas lepas dari tubuh. Namun karena Rafa masih punya empati dan sadar bahwa Ardan adalah sepupunya, dia bisa lebih santai menanggapinya.
“Dih.... Padahal udah biasa kau lihat nih senjata,” ucap Rafa setelah ketawa.
“Aku capek, Raf.... Pikiranku lagi kemana-mana ini...!”
“Oke, oke.”
Dalam sekali jentikan, dua monster lintah yang menghadang Shujin dan Ardan lenyap tenggelam dalam genangan darah.
Disertai perasaan yang lebih tenang, Rafa kembali menegur, “Aku tidak akan menyuruh kalian saling minta maaf. Maaf-maafan kalian bisa dilakukan atas dasar kesadaran kalian masing-masing. Lagi pula, keributan kalian juga bukan urusanku.”
“Cuman, aku tidak ingin kalian makin parah bertarungnya sampai-sampai melukai banyak orang di sini dan menghancurkan fasilitas. Para staf hampir saja memutuskan tuk melibatkan para petinggi jika masalah ini berlanjut.”
“Nah, Ardan.” Rafa bertanya pada pemuda yang masih dalam keadaan bertelanjang dada itu, “Pengetesan ini sudah seharusnya selesai. Sekarang, berikan hasil keputusanmu. Apakah ada beberapa junior yang masuk kriteria lolos dari tes dan berhak mendapatkan nilai tambahan?”
“Hmm....”
Ardan berpikir sejenak, mengingat-ingat siapa saja junior yang dianggap hebat dalam pengetesan tadi saat menghadapi dirinya.
“Jadi, dari pengetesan yang kulakukan tadi, ada beberapa junior yang kuanggap lolos dan berhak mendapatkan nilai tambahan untuk ditabung sebagai nilai semester nanti.”
Ardan pun mengumumkan, “Nadia dan Krisan tadi sudah cukup hebat menghadapiku, mereka kuanggap lolos.”
“Yey!”
Di tribun, Nadia sempat girang karena bisa lolos dari pengetesan, bahkan ia memeluk erat Krisan yang masih tampak datar polos seperti biasa walau dirinya juga diumumkan lolos tes.
“Trio WekaWeka juga. Walau mereka masih bisa dilumpuhkan dengan mudah, tapi mereka cukup lama bertahan dari pengetesan.”
“Yey!” -Didi
__ADS_1
“Hore!” -Dodo
“Ng.” -Ujang
Trio WekaWeka juga bersorak girang karena dianggap berhasil lolos dari tes.
Kali ini, Ardan beralih menatap Shujin yang berdiri jauh di depan. Namun, tidak seperti sebelumnya saat Ardan murka dan berusaha menghajar Shujin habis-habisan, ia malah menyunggingkan senyum ramah pada Shujin.
“Walau kau tadi berusaha melumpuhkanku seakan-akan terlihat pengen banget menghabisiku, aku berusaha memberi penilaian adil di sini.” Ardan menjelaskan, “Kau kuanggap lolos juga karena kemampuanmu tadi luar biasa hebat. Tapi, masih belum cukup tuk mengalahkanku sampai-sampai kau terdesak menanamkan racun ke tubuhku.”
“Bukankah itu pengecut?” lanjut Ardan terkesan mengejek. “Oh, iya! Di dalam medan pertarungan, kita boleh melakukan berbagai cara untuk mengalahkan musuh bahkan bertindak seperti pengecut. Tapi, masa pas lagi ngetes gini sampai segitunya bertindak?”
Shujin menajamkan mata lalu melengos, enggan melihat ekspresi menjengkelkan Ardan.
Walau Ardan menegaskan bahwa dirinya berusaha memberikan nilai seadil-adilnya, pemuda itu masih sempat memberi sarkasme pada Shujin.
Sebenarnya, Shujin tidak butuh penilaian dari orang rendahan seperti Ardan. Namun, mau bagaimana lagi? Posisinya sudah terpojok di sini. Dia sudah dianggap melanggar peraturan dan kena tegur senior lain. Kalau pun tidak ada Rafa yang memberi teguran, dia pasti bakal mendapat masalah di hadapan para petinggi akademi.
Di sini, Shujin menghela nafas. Seharusnya, dia tidak terlalu terbawa rasa kesal yang teramat dalam pada Ardan hingga membuatnya tak segan melumpuhkan Ardan.
“Berhenti berusaha mancing emosi orang, Dan...,” tegur Rafa lagi.
“Ya, maaf...,” ucap Ardan singkat.
Rafa kembali bicara pada Shujin, “Kau punya kemampuan yang sangat hebat untuk junior muda sepertimu. Tapi, kau terlalu semena-mena dalam bertindak. Oleh karena itu, kau harus menerima konsekuensi atas tindakan semena-menamu tadi.”
Karena tidak terima, Shujin mengelak dengan nada bicara dingin, “Kau membela senior kekanak-kanakan itu karena dia temanmu, kan?”
“Terserahlah dia mau nanggepin aku apa, aku capek.” Ardan tampak tak peduli sambil mengupil.
Sungguh, dari kemarin sampai sekarang Ardan capek menghadapi sikap Shujin ini. Kemarin, dia cuma berniat menegur Shujin agar tidak sembarang merendahkan akademi dan para junior lain, tapi malah dirinya yang kena benci sampai beberapa kali hampir dibantai di arena.
“Kayaknya bener.... Aku kelihatan kayak ngebela bocah oyen ini....” Rafa memutar mata. “Tapi, coba diingat-ingat lagi, deh. Kau, datang-datang udah langsung serang orang dengan frekuensi aura Kebangkitan yang terlalu besar, bahkan hampir merusak kubah pelindung tribun. Dan yang lebih fatal lagi, kau meracuni tubuh Ardan dengan dosis racun yang cukup banyak, bisa bikin Ardan lumpuh beberapa hari kalau dia enggak ahli Ilmu Kebal.”
Rafa melanjutkan sambil menunjuk Shujin, “Udah tahu enggak risikonya kalau pelajar yang kelihatan berusaha melumpuhkan bahkan hampir membunuh pelajar lain akan dikenakan sanksi dan hukuman? Kau bisa terancam dikeluarkan dari akademi.”
Shujin diam, enggan merespon. Yang dikatakan Rafa benar, tindakan Shujin yang berlebihan ini sudah membuatnya masuk ke dalam catatan merah akademi, ia telah mendapat pelanggaran bahkan di hari-hari pertama Masa Orientasi.
Di sini, Shujin agak merasa bimbang, antara menyesal karena telah bertindak gegabah atau cukup puas karena sudah memberi sedikit pelajaran pada Ardan walau ujung-ujungnya kurang berhasil.
__ADS_1
...~*~*~*~...