
Nadia berdiri dari bangku, dan menarik Krisan yang masih diam mematung dekat dengannya.
“Kris, kau sudah kenal sama Mas Damar dan Bang Ardan, kan? Nah, kalau yang di depan ini saudara kandungku, namanya Rafa. Dia satu angkatan dan satu kelas juga sama Bang Ardan,” kata Nadia memperkenalkan saudaranya pada Krisan.
“Wah.... Temanmu, Dek?” tanya Rafa mulai ramah.
Nadia mengangguk, “Kenalin, Bang. Dia Krisan, teman satu asramaku. Dia bukannya sombong enggak nyapa, cuman anaknya pendiam, jadi jarang ngomong.”
Krisan sempat memperhatikan penampilan Rafa sampai harus mendongak. Rupanya, saudara Nadia ini punya badan tinggi juga. Tingginya Damar dan Ardan saja sudah sanggup bikin sakit leher Krisan, apalagi tinggi badan Rafa. Mana otot-ototnya lebih menonjol pula. Tapi ironisnya, wajah Rafa ini agak imut.
“Salam kenal, Senior.” Akhirnya Krisan bersuara juga, dia bahkan menunduk hormat di hadapan Rafa.
Rafa pun jadi sungkan. “Enggak usah hormat kayak gitu. Kita sama-sama pelajar di sini.” Ia mengulurkan tangan tuk bersalaman pada Krisan. “Senang bisa bertemu denganmu, Krisan.”
Bukannya Krisan yang membalas salaman tangan Rafa, malah Ardan yang menyalami pemuda itu.
Rafa menaikkan sebelah alis karena heran. Kenapa jadi Ardan yang bersalaman dengannya? Baru kesambet apa manusia oyen satu ini?
Dengan usil, Rafa membawa salaman tangan mereka ke dahi Ardan, bermaksud memaksa Ardan agar salim. Otomatis Ardan langsung menghempas salaman tangan mereka.
“Kenapa pula kau suruh aku salim?! Aku lebih tua beberapa minggu darimu, Raf!” sembur Ardan.
“Habisnya... ngalangin orang salaman. Aku ‘kan niatnya mau salaman ama Krisan, bukan sama kau. Malah mau terobos aja kau ini. Jadi, kuisengin aja,” cibir Rafa usil.
“Entahlah, Raf.” Dengan dramatisnya, Ardan menyentuh dada bidangnya. “Hatiku ini rasanya tak rela melihat Dek Krisan bersentuhan tangan dengan pria lain walau pria itu adalah sepupuku sendiri. Rasanya.... Aish!”
Rafa diam dengan iris mata mengarah ke atas, udah gedek sama raja drama satu ini.
Serius? Cuma salaman sampai segitu dramanya Ardan?
“Aelah, Bang.... Belum genap 12 jam kenal, belum juga jadian, ‘dah cemburuan aja kau ini,” ujar Nadia tak kalah gedek.
“Ya.... Gimana, yak? Hati ini udah keburu kecantol sama Dek Krisan sejak pandangan pertama.”
__ADS_1
“Hilih. Belaga kau, Bang.” Nadia menarik Krisan lagi sampai menghadap ke arah Ardan. “Coba lihat muka Krisan ini. Apa dia terlihat peduli dengan segala kebucinan buayamu itu, hah? Ooo, tentu tidak.”
Ardan memperhatikan wajah Krisan yang kini malah kembali terlihat datar-datar polos seperti sebelumnya. Di mata Ardan, Krisan diam kayak begini saja sudah terlihat menggemaskan.
“Ih. Imut banget, sih, pujaan hatiku ini.” Iseng-iseng Ardan mencolek hidung mungil Krisan.
Spontan Krisan menunduk sambil mengelus hidungnya yang kena colek. Krisan jadi merasa geli-geli lucu ketika merasakan tangan Ardan di hidungnya. Namun, wajahnya tetap terlihat datar.
Nadia segera menarik Krisan kembali mendekatinya. “Ish, Bang Ardan! Dikiranya anak orang sambel belacan, main colek-colek aja. Benar kata Emak, rupanya. Anak zaman sekarang hobinya main colak-colek.”
“Nih kita kapan makan siangnya?” tanya Damar. “Debat mulu nanti malah kagak jadi makan. Abis ini ‘kan kita musti keliling-keliling lagi.”
“Ya, udah. Gas. Ke kantin dekat sini aja,” ajak Ardan.
Mereka berlima pun berjalan bersama menuju kantin yang dimaksud tuk makan siang.
Saat di jalan, Ardan sempat menoleh melihat Nadia menggandeng erat bahu Krisan sambil berceloteh seperti biasa.
“Nad, aku aja yang gandeng Dek Krisan. Nanti kau capek.”
...~*~*~*~...
Di suatu tempat misterius, tepatnya di dalam ruangan yang sangat besar dan didominasi warna hijau gelap, suasananya terasa sepi dan mencekam. Dinding-dinding hijau di sana tidak terlihat seperti dinding biasa, melainkan tampak dilapisi oleh sesuatu yang kenyal seperti kulit, serta memiliki urat-urat yang berdetak.
Ruangan itu benar-benar terasa seperti di dalam perut seekor makhluk raksasa. Namun di sini, terdapat banyak komponen dan peralatan canggih seperti komputer hingga generator. Kabel-kabel juga banyak yang tergeletak, menuju ke satu titik yang ada di dalam ruangan tersebut.
Yaitu, sebuah pohon besar. Pohon cokelat muda yang sudah kehilangan banyak daunnya, memiliki permukaan yang sudah kering dan mengelupas, hancur menjadi remahan kayu.
Namun anehnya, bagian paling depan permukaan batang pohon terlihat menyerupai wajah seorang pria yang tengah tertunduk memejamkan mata, dan wajahnya pun sudah mengelupas, menyatu dengan pohon itu sendiri.
Salah seorang makhluk jantan berkepala kadal sedang memeriksa data komputer yang terhubung langsung dengan pohon. Ia tidak sendiri, ada satu lagi sosok yang tengah berdiri di belakang meja samping pohon dalam wujud hologram. Wujud hologram itu tentu bukan sosok asli, melainkan proyeksi dari teknologi komunikasi canggih antar tata surya yang berarti sosok aslinya berada di lokasi lain.
Sosok hologram itu merupakan humanoid pria, memakai jubah cokelat menutupi seluruh pakaian asli yang ia kenakan, dan dia tidak memiliki wajah selain satu mata berwarna hitam dengan iris kekuningan yang berada di sebelah kanan.
__ADS_1
“Bagaimana tentang laporan mutan yang sempat dimusnahkan di pedesaan dekat sarang goblin kemarin, Prajurit Girdan?” tanya hologram itu. “Kudengar, mutan itu berhasil dimusnahkan oleh suatu senjata misterius. Apakah semua koneksi yang terhubung dengan markas mutan itu sudah diputus?”
“Lokasi saat ini masih dijaga oleh pihak kepolisian setempat. Pihak akademi dan Angkatan Orbit tidak tahu bahwa ada mutan bekas proyek kita di sana. Jadi, mereka hanya menyatakan bahwa kerusakan yang terjadi di daerah tersebut merupakan serangan pelontar laser milik Negara Gistovan,” jelas pria berkepala kadal itu. “Dan jangan khawatir. Semua jaringan koneksi yang terhubung pada markas tersebut sudah lama diputus. Jadi, keterlibatan kita dalam proyek itu tidak akan ketahuan.”
“Kau yakin mereka tidak sedang mengada-ngada?” tanya hologram itu meyakinkan. “Bawa-bawa negara lain untuk masalah kerusakan wilayah setempat hanya akan menimbulkan konflik internal di Planet Ribelo.”
“Ya, namanya juga Angkatan Orbit. Jadi, saya tidak heran.” Girdan kembali membaca data di komputer. “Saat ini, Angkatan Militer Orbit sedang dalam masa goyah akibat berbagai kasus yang menimpa para perwiranya. Wajar jika kinerja mereka jadi semakin menurun. Bukankah ini kesempatan baik bagi pihak kita tuk menyerang, Tuan Ajhu?”
“Tidak dulu. Masih ada banyak hal yang perlu dipikirkan. Kita juga harus bergerak lebih halus tuk bisa memanfaatkan momentum.” Ajhu nampak berpikir, “Aku hanya curiga kalau senjata yang dimaksud bukanlah senjata dari pihak Gistovan. Ada sesuatu yang berusaha mereka sembunyikan, atau masih belum diketahui.”
“Maksud Anda, kemungkinan ini ada kaitannya dengan Astan Pradipta Cornell?”
Tangan reptil Girdan menunjuk ke arah wajah pria pada permukaan batang pohon itu. Wajah yang terlihat tidak asing di mata Ajhu, sosoknya pernah berada di puncak kejayaan saat masa Revolusi Kekuatan.
Sayangnya, pria itu lebih memilih mati bunuh diri, menyia-nyiakan potensi besar dari kekuatan yang ia miliki.
“Bagaimana dengan perkembangan penelitian pada mayat Astan?”
Kali ini, Girdan meraih tab di samping komputer, membaca data-data yang ada di sana.
“Terlalu sulit melakukan rekayasa genetika kembali hanya untuk meneliti lebih lanjut kekuatan yang dimiliki Astan.” Girdan kembali meletakan tab di atas meja. “Dia, sudah merencanakan tindakannya tuk bunuh diri.”
Ajhu menyipitkan satu mata, memperhatikan wajah tak bernyawa yang sudah menyatu dengan pohon itu. Sang pemimpin tidak habis pikir dengan keputusan Astan yang lebih memilih mengakhiri hidupnya seperti ini.
Sangat menggelikan...
Di saat itu juga, pintu otomatis ruangan terbuka, menampakkan tiga sosok pria. Masing-masing dari mereka memiliki penampilan yang sangat berbeda.
Sebelah kanan merupakan pria dengan memakai zirah canggih lengkap berwarna hijau kecokelatan beserta helmnya, dan membawa senjata tembak besar di punggung.
Di sebelah kiri adalah pemuda yang hanya bertelanjang dada, memakai topeng mekanik berbentuk moncong naga cokelat, berambut merah panjang, memiliki ekor kadal besar berwarna merah, serta terdapat beberapa sisik di bagian-bagian tertentu tubuhnya. Dia juga membawa sebuah katana panjang yang masih disarungkan di sabuk bagian pinggang kiri.
Sedangkan di posisi tengah merupakan pemuda yang memakai jubah tertutup berwarna gelap disertai tudung kepala menutupi seluruh wajah. Samar-samar kedua tangannya tampak berwarna hitam disertai aura keunguan yang bergerak-gerak di permukaan kulit.
__ADS_1
“Akhirnya, kalian datang juga,” sambut Ajhu dingin.
...~*~*~*~...