
Rafa memperbaiki posisi duduknya di tepi ranjang. “Aku mikirnya kayak gitu. Cuma ‘kan ini masih dugaan. Kalau pun benar, kita tidak bisa bertindak apa-apa karena orang-orang di seluruh planet bahkan di satu tata surya ini tidak tahu kalau unsur Kekuatan Kebangkitan yang asli bisa disembunyikan. Jika kita omongin hal ini ke pihak-pihak bertanggung jawab, mereka pasti enggak bakal percaya.”
Rafa melanjutkan kembali, “Bukan hanya itu saja. Kalau pun mereka enggak percaya, mereka pasti bakal mencari tahu kebenaran tentang kekuatan yang bisa disembunyikan. Jika mereka berhasil mendapat titik terangnya, bukan cuma Shujin yang kena masalah, tapi kau juga, Ardan.”
Ardan tampak berpikir, mencerna apa yang dijelaskan Rafa. Memang benar, mereka tidak bisa bertindak apa-apa kalau dugaan mereka benar tentang Shujin yang mempunyai kekuatan lain melebihi kekuatan bayangan.
Ada beberapa kemungkinan jika mereka mencoba melaporkan hal ini ke pihak yang paling bertanggung jawab, entah itu di akademi atau pihak yang lebih besar lagi.
Yaitu, mereka tidak percaya, tidak percaya tapi bakal mencari tahu, mengetahui kebenarannya lalu menahan Shujin dan juga Ardan, atau hanya Ardan saja yang ditahan tapi tidak dengan Shujin.
Apa pun tindakannya, tetap saja berisiko sekali pun ada bukti.
“Menyembunyikan kekuatan asli sebenarnya merupakan pelanggaran, mungkin karena termasuk memalsukan identitas juga. Makanya, kalau pihak-pihak besar seperti petinggi akademi, organisasi besar planet, sampai Serikat Galaksi pun tahu, maka kau dan Shujin bakal dapat masalah besar.” Rafa menaikkan satu kaki di tepi ranjang.
“Oke.” Ardan pun berkata setelah lama memikirkan setiap perkataan Rafa, “Saat ini, kita putuskan untuk diam dan melihat gerak-gerik Shujin. Yang jadi pertanyaan di benakku sekarang, apa motif Shujin menyembunyikan kekuatannya?”
Kini giliran Rafa yang berpikir sebelum ia bertanya balik, “Motifmu sendiri apa?”
“Tentu aku menyembunyikan kekuatanku karena amanat Ayah, dan aku juga sadar kalau kekuatanku ini bisa berpeluang besar menjadi mesin pembunuh berbahaya,” jawab Ardan sambil mengeratkan sarungnya. “Akan ada pihak-pihak tertentu yang mungkin bakal berusaha mencari tahu dan memanfaatkan kekuatanku buat yang enggak-enggak.”
Walau tak sempat diberitahu langsung oleh ayahnya, Ardan mengerti jika di luaran sana pasti ada pihak-pihak yang sangat tertarik untuk mempelajari bahkan memanfaatkan kekuatan yang dimiliki Ardan jika mereka tahu. Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Ardan pun kembali berucap dengan lebih serius, “Jika benar kekuatan asli Shujin adalah Meniru dan Memodifikasi Unsur hasil tiruannya, maka kekuatan yang dihasilkan memang cukup berbahaya. Kayaknya, enggak mungkin kalau Shujin punya alasan yang sama denganku soal menyembunyikan kekuatan asli.”
“Aku malah sempat mikir kalau Shujin ini mata-mata.”
Ardan membelalakkan mata mendengar pernyataan Rafa yang terdengar ngasal itu.
Biarpun ngasal, tapi Rafa selalu punya firasat yang tepat. Insting Rafa selalu tajam kalau soal mendeteksi adanya kemungkinan bahaya.
Tidak heran kalau Rafa ini sangat disegani Taruna lain.
“Serius?” tanya Ardan tak percaya. “Akademi kita punya tingkat keamanan internasional, lho.”
“Halah~.” Dengan entengnya Rafa mengibaskan tangan di depan. “Perkara tingkat keamanan.... Bocah SMK yang ahli dibidang IT pun bisa ngebobol pertahanan siber negara tingkat internasional, apalagi kalau yang ngebobol sekelas mata-mata.”
“Hmm....”
Ardan kembali berpikir, merasa kalau dugaan Rafa ada masuk akalnya.
Dulu sempat ada berita internasional yang menayangkan soal kasus pembobolan keamanan siber tingkat internasional yang hanya dilakukan oleh siswa SMK.
Gereget juga. Tapi, jika otaknya jenius, hal yang mustahil pun bisa dilakukan dengan baik.
Ardan menggosok dagu dengan tatapan mata perak menerawang ke bawah. “Aku sebenarnya enggak mau berprasangka buruk. Tapi, ada baiknya kita emang perlu waspada sama junior yang mencurigakan seperti Shujin itu.”
Ia menoleh ke Rafa, “Seperti yang kau katakan sebelumnya, Raf. Walau kita tahu kebenarannya, kita tidak bisa bertindak apa pun.”
“Segala tindakan yang kita lakukan demi mencari tahu kebenaran tentang Shujin akan berimbas pada kerahasiaan kekuatan asliku pula, dan ini juga pasti akan berdampak pada reputasi abahmu di instansi Militer Antariksa karena telah membantu pelanggar sepertiku menyembunyikan identitas kekuatan.”
__ADS_1
Rafa menajamkan mata birunya, tampak serius menyimak ketika sudah bawa-bawa sang abah.
Sebagai anak yang berbakti, Rafa tidak akan membiarkan hal buruk apa pun menimpa abah dan keluarganya.
Rafa takkan segan menindas siapa pun yang berusaha membahayakan orang-orang terdekatnya.
“Sebaiknya, kita diam saja,” saran Ardan lagi dengan tenang, “Terdengar pengecut, tapi nyatanya kita tidak bisa berbuat apa-apa. Ibarat kata kalau kita nyoba bertindak, ‘Maju Kena, Mundur Kena’. Sekali kena, ‘Sudah Jatuh, Tertimpa Tangga Pula’.”
“Jikalau benar Shujin mata-mata, maka kemungkinan dia bekerja pada pihak yang besar dan berpengaruh sampai-sampai bisa menyusup ke akademi kita,” analisa Ardan pula. “Kita yang cuma Taruna biasa benar-benar susah bertindak. Kita juga tidak bisa sembarang ngadu ke abahmu soal masalah ini, beda bidang pula.”
“Ya udah.”
Dengan entengnya Rafa berbaring miring dengan satu tangan menopang kepala. Matanya tampak menatap bosan ke arah Ardan.
“Mending tidur.”
Satu alis Ardan berdenyut menahan jengkel. Tumben respon cowok berbadan gede ini terlihat nyebelin.
“Nilai akademik dan non-akademikmu tinggi, kok bisa agak laen gini responmu kalau lagi diskusi serius sama kau?” jengkel Ardan sambil nunjuk-nunjuk Rafa.
Rafa sempat nyengir, “.... Ei, ‘kan kayak yang kau bilang, kita mending diam aja. Tidur itu ‘kan termasuk tindakan untuk diam. Ya udah. Mumpung udah malem, mending tidur.”
“Ya tapi enggak usah kayak gitu juga tanggepannya, upil rengginang.”
“Upil rengginang pula kau katai aku.” Sesantai mungkin Rafa bicara, “Dan.... Apa-apa masalahnya enggak usah terlalu berat mikirnya, apalagi kalau ujung-ujungnya musti diem. Malam ini, tingkahmu udah kayak bukan dirimu aja yang suka gerasak-gerusuk, haha-hihi macam orang kesurupan.”
Kedua mata perak Ardan menatap ke atas plafon unit ruangan mereka, tampak putih, kosong, dan hampa.
Ardan akui, kekuatan Shujin saat berusaha melumpuhkannya sempat membuat Ardan curiga sampai kepikiran hingga sekarang.
Jika benar Shujin merupakan mata-mata yang menyusup ke akademi ini, maka sesuatu yang buruk akan terjadi.
Sayangnya, ia maupun Rafa yang sudah menduga hal ini tidak bisa berbuat apa-apa, imbasnya akan kena ke diri Ardan pula, bahkan sampai bawa-bawa nama baik abahnya Rafa.
“Entahlah, Rafa.”
Ardan menggosok kasar wajah dan rambut jingganya sampai berantakan.
“Lagi banyak pikiran aku. Tahun ini udah dikasih tugas ngebantu anak-anak Organisasi Teladan, padahal aku sendiri bukan anggotanya. Dapat masalah sama junior yang mencurigakan. Terus, sampai sekarang aku masih agak kepikiran soal remedial kemarin.”
“Yang masalah kau enggak sengaja pakai kekuatan Menciptakan Senjata buat musnahin monster misterius, kan?” tanya Rafa lagi. “Soal itu, bagaimana perkembangan kasusnya?”
Lagi-lagi Ardan musti membahas hal yang sebenarnya malas tuk ia bahas. Ada-ada saja sepupunya ini.
“Ya, kayak yang kau lihat di berbagai media,” jawab Ardan sekenanya, “Pihak akademi dan Angkatan Orbit yang ikut menyelidiki susah nutupin kasus ini dari media karena.... Tahu sendiri ‘lah, media suka kepo. Jadi, terpaksa nyebar hoaks ke media biar enggak menimbulkan kepanikan. Selebihnya, mereka masih menyelidiki kasus tersebut.”
“Berarti, mereka masih enggak tahu kalau ledakan besar yang terjadi di gurun goblin itu ulahmu, kan?”
Ardan hanya menggeleng.
__ADS_1
“Kau sendiri masih ditanyai, enggak?”
“Masih. Terakhir aku ditanyai sama tim penyidik setelah kegiatan pengenalan lingkungan di hari pertama Masa Orientasi.”
Rafa menyipitkan mata, “Mereka kelihatan curiga enggak sama kau?”
Ardan memukul badan besar Rafa menggunakan bantal, agak jengkel ketika ditanyai hal-hal tentang kasus yang terjadi saat ia menjalani remedial praktik.
“Kau ini kenapa kepo ‘kali?” sungut Ardan.
“Ei, Dan. Jelaslah aku tanya. Kan kayak yang kita bahas sebelumnya. Kalau sampai kekuatan aslimu kebongkar, bakal berimbas buruk padamu, reputasi abahku, dan juga keluargaku. Aku jelas enggak bakal biarin hal kayak gitu terjadi.”
Ardan dibuat tak enak hati pada Rafa. Gara-gara keinginan dan kemungkinan ancaman terburuk soal kekuatan asli Ardan, keluarga Rafa jadi ikut terlibat.
“Pastinya agak curiga, tapi tidak ada bukti sama sekali yang menunjukkan bahwa akulah yang menciptakan ledakan. Semua barang yang bisa mereka jadikan bukti hancur total, dan semua bangsa di Planet Ribelo tidak ada yang tahu kalau seseorang bisa menyembunyikan Kekuatan Kebangkitan yang asli. Jadi, mereka cuma mikirnya aku pengendali logam biasa.”
“Oh, oke.”
Rafa jadi bisa sedikit bernafas lega mendengarnya. Dengan begitu, Ardan, abahnya, dan juga seluruh keluarganya aman-aman saja untuk saat ini.
“Maaf kalau kehadiranku udah ngerepotin kau dan keluargamu, Raf,” ucap Ardan tulus, merasa dirinya terlalu banyak merepotkan keluarga Rafa setelah kematian sang ayah.
“Udahlah.... Santai aja. Kita ‘kan saudara walau cuma sepupuan enggak sedarah. Keluarga kita pun udah menjalin tali persaudaraan sejak lama. Abah dan Emak juga sangat menyayangi ayahmu dan menganggap dirimu sendiri sebagai putra mereka. Jadi, jangan merasa tak enak hati.”
Ardan menyunggingkan senyum tipis ketika mendengar penuturan tulus Rafa.
Mereka memang keluarga walau tak terikat hubungan darah. Rafa, Nadia, Ryan, dan Brantz sudah Ardan anggap seperti saudara kandung sendiri. Tentu Ardan sangat menyayangi mereka dan berterima kasih banyak pada jasa-jasa Grim serta Arni yang telah menggantikan tugas Astan dalam merawat Ardan sampai sekarang.
“Tos tinju?” ajak Rafa sambil mengarahkan kepalan tangan ke depan.
Ardan mengepalkan satu tangan, lalu mereka saling tos tinju.
Senang rasanya ketika punya teman yang bisa diajak berbagi cerita dan opini seperti ini. Perasaannya yang sempat kalut akibat berbagai pikiran tak mengenakan kini jadi terasa lebih lega.
“Sebenarnya, Raf, bukan cuma masalah kekuatan Shujin ini yang bikin aku puyeng.”
“Terus?”
Dengan nada jengkel Ardan menjawab, “Aku juga lagi mikirin bahan buat seminar besok. Aku yang ditunjuk jadi pembawa acaranya sama ketua organisasi kampret itu. Kan ngeselin...!”
“Tadi, kenapa ngelamun aja, Dan...?”
“Aku puyeng sampai jiwaku melayang ke akherat...! Cuma karena aku cerewet, banyak omong, malah aku pula yang ditunjuk ngebawain acara seminar. Terus, gimana caranya aku ngebawain acara besok? Ada para petinggi akademi yang hadir sebagai bintang tamu. Kalau aku keceplosan sampai latah-latah enggak jelas, gimana?!”
“Ahahaha...!” Rafa tertawa terpingkal-pingkal melihat Ardan ngomel.
Senang rasanya melihat kesintingan Ardan kembali kumat seperti biasa. Kalau melihatnya melamun seperti tadi jadi tidak terlihat seperti seorang Ardanu De’Cornell yang dikenal sebagai cowok sinting, ngeselin, dan banyak tingkah.
...~*~*~*~...
__ADS_1