
Di lapangan arena yang masih ditutupi oleh hutan buatan, Nadia sempat menepuk jidatnya beberapa kali. Dia baru ingat kalau salah satu cara Ardan mengalahkan musuh ialah dengan memancing emosi serta mempermainkan mental lawan.
Seharusnya, sejak awal Nadia bisa lebih sabar menghadapi tingkah menjengkelkan sepupunya itu.
“Aaakh...! Kenapa aku baru ingat, sih?!” rengek Nadia. “Padahal, sudah sering latihan bareng Bang Ardan dan Bang Rafa, tapi lupa kalau Bang Ardan suka ngomporin lawan.”
“Duh, baru sadar rupanya, adik manisku ini.”
Lagi-lagi kedua gadis cantik itu melihat ke arah Ardan yang masih berdiri santai di sana sambil memainkan satu pasak besi, sedangkan pasak lainnya masih setia di bahu.
“Sejak awal, aku memang sengaja memancing emosimu, Nad. Tapi, enggak tahunya emosimu malah bikin kau melancarkan Kekuatan Kebangkitan sekuat ini.” Ardan sempat memperhatikan pemandangan hutan buatan yang mengelilingi mereka.
Kedua mata perak Ardan menimbulkan kilat tajam saat melirik ke arah keduanya. Ia pun berkata, “Tapi, tak apa. Apa yang kulakukan dan hasil yang didapat masih sesuai dengan rencana.”
“Uk— Ukhum!”
Setelah Ardan mengatakan hal demikian, tiba-tiba saja Nadia batuk. Kepala Nadia mulai terasa agak pusing dan tubuhnya juga sedikit melemah.
“Nadia?” Krisan menyentuh bahu Nadia, mulai cemas dengan keadaan gadis itu.
“Kau masih ceroboh seperti biasanya, Nadia. Teknik bertarungmu sudah lumayan bagus, tapi itu masih belum cukup tuk bisa melumpuhkan musuh,” komentar Ardan, “Kau mudah emosi. Hal itu membuat kau gegabah menggunakan Kekuatan Kebangkitan. Kelihatannya memang menakutkan ketika kau langsung menciptakan hutan buatan di seisi arena ini. Namun....”
Ardan menyeringai, mata peraknya sedikit melotot seakan-akan semakin menjatuhkan mental Nadia lewat tatapan menggelikan itu.
“.... Kau hanya buang-buang energi, mengakibatkan tubuhmu makin melemah. Pada akhirnya, semua seranganmu terkesan sia-sia.”
Seringai Ardan tampak makin seram, “Kau hanya akan mati konyol di tengah medan perang.”
Damar yang melihat perbincangan mereka di monitor arena sempat mengepalkan kedua tangan hingga bergetar, tapi kembali ia kendurkan.
Damar memang sempat emosi ketika gadis yang ia cintai dihina sedemikian rupa oleh Ardan. Namun, Damar masih sadar kalau apa yang dikatakan Ardan merupakan sebuah kritikan walau cara penyampaiannya terkesan menjengkelkan.
Sedangkan Rafa masih tetap datar, tak merespon apa pun karena merasa tindakan dan cara bertarung Nadia memang masih payah, terlalu gegabah, dan buang-buang tenaga. Jadi, dia biarkan saja Ardan mengkritik Nadia sepedas apa pun jika masih masuk logika.
Adiknya yang keras kepala itu memang masih perlu banyak belajar.
“Ukh...!”
Krisan jadi makin khawatir ketika melihat Nadia menunduk lemah. Gadis pirang itu terlalu banyak membuang energi dalam tes ini karena terpancing emosi.
__ADS_1
Namun, dalam keadaan Nadia yang sudah mulai melemah ini, Nadia sadar bahwa dirinya memang harus memperhitungkan segala kemungkinan dalam pertarungan agar setiap energi yang ia keluarkan tidak sia-sia.
Mata biru terang Nadia melirik ke arah Ardan. Ia menyadari bahwa selama ini Ardan sedikit menggunakan energi Kekuatan Kebangkitan, menggunakan berbagai ejekan demi menghilangkan fokus bertarung musuh, dan dapat memperhitungkan pergerakan musuh.
Ardan memang sudah kuat, kekuatan fisiknya pun tak diragukan lagi. Tapi, seusaha mungkin pemuda itu mengerahkan lebih sedikit energi agar dia tidak cepat lelah dan mampu bertahan lebih lama di pertarungan.
Nadia jadi iri dengan Ardan.
Ia sempat kepikiran ingin menjadi seperti Ardan. Namun, Nadia tahu bahwa setiap orang punya ciri khas masing-masing. Ardan yang sempat bilang kagum dengan kemampuan mendiang ayahnya lebih memilih tuk menjadi lebih baik dengan caranya sendiri.
Cukup pelajari, dan terapkan sesuai kemampuan yang ia miliki.
“Nadia, jika kau sudah tak sanggup lagi, kau bisa menyerah,” tawar Krisan cemas.
Nadia menggeleng, mengangkat telapak tangan ke arah Krisan, pertanda dia enggan menyerah begitu saja.
Gadis berambut pirang panjang itu berusaha mengatur nafas, mulai berdiri tegak dan menunjukkan pada orang-orang di sana, terutama Ardan, bahwa dia masih bisa bertahan dalam tes ini.
“Tidak, Kris. Selama aku masih bernafas dan belum mengalami luka fatal, aku tetap akan bertahan.”
Nadia balas menatap tajam Ardan, tatapan penuh tekad dan kesungguhan tuk menjadi lebih baik.
“Prajurit tidak mengenal kata ‘menyerah’. Yang bisa membuat prajurit dinyatakan kalah dalam medan perang hanyalah kematian.”
Seringai remeh Ardan pun kini tergantikan dengan senyum bangga pula. Tidak masalah kalau masih belum ada kemajuan pada kemampuan bertarung Nadia. Setidaknya, gadis itu sudah merubah pola pikirnya.
Dan sekarang, tinggal Krisan yang perlu dikasih fakta.
“Krisan sayang.... Gaya bertarungmu lumayan bagus. Tanpa Kekuatan Kebangkitan pun, kamu sudah bisa membuatku cukup kewalahan. Emosimu bahkan stabil, sama sekali tidak terpengaruh dengan segala ledekan.”
Ardan melirik tajam Krisan lewat ekor mata perak itu.
“Tapi, pikiranmu mudah teralih pada hal-hal sepele.”
Krisan menunduk malu. Yang Ardan katakan benar, entah mengapa fokusnya hilang cuma karena mengingat apa yang ia lakukan pada Ardan tadi pagi.
Atau mungkin tentang Ardan sendiri. Semua yang ada pada diri pemuda berambut jingga itu hampir membuat ia hilang fokus, terutama saat Ardan iseng-iseng menggodanya.
Ada apa dengan Krisan?
__ADS_1
Di tribun, Rafa menyipitkan kedua mata birunya, bingung dengan apa yang dimaksud Ardan soal Krisan ini.
“Ini maksudnya apa, yak? Perasaan, Krisan tenang-tenang aja berantemnya. Cuma, emang tadi sempat hilang fokus aja, sih....”
“A-anu.... Itu....”
Damar bingung mau jawab apa. Sepertinya, Rafa dan beberapa penonton arena sini tidak mendengar jelas apa yang dikatakan Ardan hingga membuat Krisan hilang fokus tadi.
Tapi Damar yakin, ini pasti soal begal dada Ardan yang dilakukan Krisan sebelumnya.
Di tengah hutan buatan arena, Ardan kembali melanjutkan, “Dengar, Manis. Kuakui, aku sudah suka dan tertarik sama kamu. Kamu juga hilang fokus karena pasti terpesona padaku. Aku masih cukup peka dengan gelagatmu. Kamu tentu menyimpan kekaguman padaku, bukan?”
Nadia melotot kaget, sempat menoleh ke arah Krisan yang sudah menunduk dengan wajah ditutupi oleh helaian rambut hitam. Tetapi, pelototan mata Nadia berganti dengan senyum usil tertahan.
Sepertinya, kapal-kapalannya udah hampir siap berlayar.
“Cuman....” Ardan menggantung ucapan.
Ardan kembali memperlihatkan senyuman khasnya pada Krisan. Terlihat berarti, tapi menunjukkan makna mendalam.
“.... Dalam pertarungan, kita tidak boleh melibatkan perasaan.”
Sontak Krisan mengangkat wajah, terkejut ketika mendengar pernyataan Ardan. Krisan tidak merasa sakit hati, tapi ia makin merasa malu sebab dia baru sadar telah melibatkan rasa kagumnya dalam pertarungan melawan Ardan sendiri.
Iya, Krisan kagum dengan Ardan. Di hari pertama saja, Krisan kagum dengan kepribadian Ardan yang baik, ramah, bersahabat, tapi tetap punya ketegasan di balik sifat konyolnya. Dan Ardan juga hebat dalam bertarung.
Dia punya pesonanya sendiri yang dapat membuat banyak orang kagum padanya, terutama Krisan.
Dan Krisan merasa sangat bodoh. Fokusnya hilang cuma karena rasa kagum pada Ardan, pada sifatnya, tubuhnya, kemampuannya.
Bagaimana bisa Krisan menjadi prajurit hebat jika dia masih melibatkan perasaan dalam pertarungan?
“Kau benar, Senior.”
Krisan tersenyum, membuat kedua mata biru kelamnya menyipit, menampakkan kilau pesona seorang Krisan Ambarwati lewat kecantikan khasnya. Wajah cantik sekaligus imut dengan kulit kuning langsat yang lembut, bibir ranum merona, dan rambut hitam panjang bergelombang seindah langit malam.
“Kita tidak boleh melibatkan perasaan dalam pertarungan. Terima kasih telah mengingatkanku akan hal satu itu, Senior Ardan.”
Sejenak Ardan terpukau dengan kilau kecantikan dari gadis yang sudah ia kagumi sejak pertama kali melihatnya. Kemudian, Ardan menyunggingkan senyum tipis, berusaha menyadarkan diri akan fakta yang baru saja ia katakan pada Krisan.
__ADS_1
Cuma karena gadis itu balik membalas Ardan dengan pesona khasnya, bukan berarti Ardan terpaksa perlu menelan ludah sendiri.
...~*~*~*~...