Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 22 : Sheena


__ADS_3

“Kyaaah!!!”


Yang menjerit panik itu hanya Nadia, sedangkan Krisan tetap diam karena ia bukan tipikal orang yang mudah teriak di beberapa kondisi.


Saat menjerit, kebetulan sekali tas ransel milik Nadia juga ikut robek, menyebabkan isinya berjatuhan ke lantai.


“Aduh! Pakaianku....”


Buru-buru Nadia berusaha membereskan semua pakaiannya yang berceceran di lantai. Krisan juga berusaha memeriksa ranselnya, tapi syukurlah ranselnya cuma kena beberapa sayatan tipis, tak sampai membuatnya sobek.


“Astaga, Tuhan! Kok bisa hari ini kena sial begini...?” keluh Nadia.


Awalnya, Nadia semangat bisa masuk akademi militer, tapi jadi bete gara-gara kehadiran Tiana dan gengnya yang berbuat ulah. Akhirnya, jadi begini nasib Nadia.


“Woi, kalian!”


Tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan bentakan salah seorang penghuni asrama yang baru keluar dari unitnya. Buru-buru Nadia dan Krisan bersembunyi di belakang perempuan tomboi tadi karena malu dengan keadaan mereka yang setengah bugil.


“Sheena, kau berbuat ulah lagi?!” bentak penghuni perempuan itu pada perempuan berambut biru ikat ekor kuda.


Karena tak terima dituduh asal, perempuan bernama Sheena itu balas bentak, “Eh, jangan asal tuduh kau, belatung kuyang! Aku di sini malah baru aja selesai ngurus keributan. Tadi ada anak-anak baru yang cari ribut sama dua temanku ini.”


Si penghuni sempat menyipitkan mata memperhatikan Nadia dan Krisan yang masih bersembunyi di belakang Sheena. Benar kata Sheena, sepertinya kedua gadis itu merupakan korban dari keributan yang dimaksud.


“Ya, udah. Sono, balik ke unitmu! Kalau ada masalah, jangan bawa-bawa aku.”


Pintu unit tersebut langsung tertutup secara otomatis ketika penghuninya kembali masuk. Nadia dan Krisan sempat bernafas lega, tapi tetap merasa malu karena kepergok dalam keadaan berantakan begini.


“Kalian anak baru, kan?”


Keduanya cuma membalas dengan anggukan.


“Di mana unit kalian?”


Mereka sama-sama menunjuk ke arah pintu unit bernomor 227 di depan mereka.


Dengan senyum bersahabat, Sheena membalas, “Wah! Kebetulan sekali kita satu unit.”


“Hah?”


Krisan maupun Nadia sama-sama terkejut mengetahui perempuan yang baru mereka temui ini rupanya satu unit dengan mereka.


“Kau anak baru juga, ya?” tanya Nadia penasaran.


“Bukan. Aku sudah masuk Tingkat 2.” Kemudian Sheena berjalan menuju pintu unit sambil mengeluarkan Kartu Akademi dari saku celana.

__ADS_1


“Waaah.... Berarti, kau senior kami, dong,” ucap Nadia.


“Yep! Tapi, jangan terlalu formal berinteraksi sama aku cuma karena aku senior kalian. Santai aja.”


Sheena memindai kartunya pada alat pemindai di pintu, kemudian lampu pemindai langsung berubah menjadi hijau, pertanda kuncinya berhasil dibuka. Otomatis pintu metal tersebut terbuka, memperlihatkan keadaan unit asrama yang masih kosong tapi tetap terawat karena diurus oleh para staf dan robot-robot kebersihan yang selalu bertugas membersihkan unit selama Taruna-Taruni dalam masa libur.


“Kenapa kalian belum masuk?” tanya Sheena heran.


Nadia pun menjawab, “Akses unitnya ditolak. Padahal, kami sudah beberapa kali melakukan pemindaian.”


“Oalah.... Mungkin belum diverifikasi ke staf akademi. Soalnya, database beberapa unit ada yang belum diperbaharui. Tapi, kalau sudah ada penghuni terdahulu yang udah bukain, kalian bisa langsung verifikasi di sini. Cukup dipindai aja pas pintunya masih kebuka.”


“Wah! Begitu, ya?” Nadia jadi lega mendengarnya. “Kalau gitu, makasih ya udah banyak nolongin kami, mulai dari nolong kami buat usir geng cewek-cewek enggak bener tadi sampai bukain pintu unit asrama.”


“Terima kasih,” ucap singkat Krisan sambil membungkukkan badan.


“Soal bukain pintu, ya pastinya bakal aku buka juga. Kan aku tinggal di unit ini,” jawab Sheena santai. “Kalau yang tadi itu ‘mah udah seharusnya diusir mereka. Soalnya, ‘dah bikin keributan.”


“Ya udah, deh. Aku pindai kartu dulu, baru beresin pakaianku yang berserakan itu.” Nadia pun mulai mengeluarkan kartunya dari saku jaket.


“Biar aku bawain masuk,” tawar Krisan sambil berjongkok memunguti pakaian Nadia yang berserakan di lantai.


“Aku juga.” Sheena juga ikut membantu Krisan.


Melihat keduanya membereskan pakaian Nadia yang berserakan akibat ranselnya sobek membuat gadis bersurai pirang itu jadi sungkan sudah merepotkan mereka, padahal mereka baru saja saling kenal.


“Enggak apa-apa.” Sheena berdiri, lalu berjalan masuk sambil membawa tumpukan pakaian Nadia. “Namanya teman ‘kan harus saling membantu.”


Karena semua pakaian Nadia sudah terlanjur dibawa masuk oleh Krisan dan Sheena, Nadia pun memutuskan tuk melakukan pemindaian data kartu pada alat pemindai unit.


“Oh, iya. Kita ‘kan belum kenalan, ya.” Saat Sheena sudah duduk di tepi ranjangnya, ia memperkenalkan diri duluan. “Namaku Sheena Sherkanam, aku berasal dari banua barat. Senang bisa bertemu dengan kalian.”


“Senang bisa bertemu denganmu juga, Kak.”


Setelah selesai memindai kartu, Nadia pun ikut menyusul masuk dan duduk di ranjang yang berhadapan dengan ranjang Sheena. Sedangkan Krisan kini mulai memindai kartunya pada pemindai.


“Namaku Nadia Isabella Novan, asal dari Kota Merin. Kalau temanku itu namanya Krisan Ambarwati. Katanya berasal dari kampung dekat Kota Yorin,” kata Nadia memperkenalkan diri sendiri dan Krisan. “Kami pun baru hari ini ketemu. Jadi, masih belum begitu akrab.”


“Senang bisa bertemu denganmu juga, Senior Sheena,” ucap Krisan sopan sambil membungkukkan badan, kemudian berjalan masuk menyusul keduanya ke dalam unit setelah selesai memindai kartu.


“Tuh, kan...! Enggak usah formal gitu ‘lah, Kris...,” rengek Sheena pada Krisan. “Cukup panggil aku ‘Kakak’ saja seperti yang diucapkan Nadia tadi.”


“Baik, Kak.” Krisan mengangguk.


Krisan pun duduk di atas ranjang di sebelah Nadia sambil mengeluarkan beberapa barangnya dari ransel.

__ADS_1


Sheena jadi teringat akan sesuatu saat mengetahui marga Nadia. Dia kenal seseorang yang memiliki marga yang sama dengan Nadia.


“Apa kau dari Keluarga Novan? Siapanya Rafa, ya?”


“Eh? Kau kenal Bang Rafa?” Nadia kembali dikejutkan oleh fakta kalau Sheena rupanya kenal dengan Rafa. “Aku adiknya, Kak.”


“Ooo.... Adiknya.” Sheena mengangguk-angguk mengerti. “Rafa suka cerita soal adik-adiknya, sih. Enggak nyangka kalau si Titan jadi-jadian itu punya adik perempuan seimut ini. Aku sih... kenal Rafa karena kita satu jurusan, satu kelas pula.”


“Waaah.... Dunia emang beneran sempit, ya. Bisa kebetulan kayak gini,” ucap Nadia disertai senyum.


Saat keduanya asik mengobrol, Krisan malah sibuk sendiri merapikan pakaiannya, bahkan ia sempat memasukkan kepalanya sendiri ke dalam ransel sambil mengendusinya.


Emang lain kelakuan gadis satu ini. Muka cakep-imut macam boneka, tapi kelakuan aneh begini.


“Eh! Kalau kau kenal Bang Rafa, pasti kenal juga dengan Bang Ardan, kan? Soalnya, mereka juga satu kelas,” tanya Nadia kembali, mulai antusias dengan obrolannya bersama Sheena.


“Beuh! Si ODGJ jalur akhirat itu pula yang kau tanya.” Iseng-iseng Sheena menaikan satu kaki. “Siapa sih yang enggak tahu Ardan? Satu jurusan juga tahu sama laki yang suka sekali ikut remedial praktik cuma karena enggak sanggup sama tugas akademik.”


“Dari semua pelajar yang ada di kelas kami, cuma dia aja yang dikenal suka heboh sendiri. Udah kelakuan aneh, sinting, cerewet, tukang ghibah, cabul, o’on, dekil, nafas, idup pula!” omel Sheena kesal sendiri. “Heran aku. Kenapa orang antik kayak Ardan bisa dikasih hidup sama Tuhan.”


“Ahahaha...!”


Nadia ngakak sejadi-jadinya mendengar omelan Sheena soal Ardan. Emang segala hal yang berisi tentang kejelekan Ardan merupakan topik paling lawak bagi Nadia. Dia suka sekali mendengar orang-orang pada mengomeli sepupu sintingnya itu.


“Fyuuuh....” Nadia menyeka air mata tawanya. “Kalau dari ceritamu, sepertinya kalian berteman akrab. Atau kalian sempat pacaran, ya?”


Dengan santainya Sheena mengelak, “Aelah, jauh banget kalau dibilang pacaran. Cuma teman satu kelas aja kami, mah.... Ardan bukan tipeku, begitu juga dengan aku yang bukan tipe dia. Dia enggak suka cewek kekar sepertiku, sama halnya kayak Rafa, sukanya yang imut-imut.”


“Ah.... Benar juga, yak.”


“Kalian lagi bahas apaan?” tanya Krisan yang baru saja ikut ngobrol.


Nadia menoleh pada Krisan. “Cuma bahas soal abang-abangku, Kris. Kebetulan Kak Sheena satu kelas sama mereka.”


“Saudaramu ada yang sekolah di sini juga?”


“Iya. Saudara kandung sama sepupu yang diributkan tadi sama cewek-cewek enggak bener itu. Nanti kalau ada waktu bakal aku kenalin kau dengan mereka,” kata Nadia ramah.


Sheena sempat menyipitkan mata birunya sambil memperhatikan Krisan. Dari tadi gadis itu diam dan sibuk sendiri dengan kegiatannya, mungkin karena dia tipikal gadis pendiam. Selain itu, Krisan juga anaknya sangat cantik kalau saja enggak sering pasang muka datar. Apalagi badannya terlihat bagus walau tingginya mungil.


“Krisan cantik ya orangnya. Bisa jadi primadona, nih,” goda Sheena iseng.


Nadia pun memperhatikan wajah Krisan. Ia setuju dengan pendapat Sheena kalau Krisan ini cantik. Bukan hanya cantik, tapi anaknya juga masih polos. Semoga saja nanti ia bisa mendapatkan pria yang baik dan cocok untuknya. Nadia jadi tak tega membayangkan Krisan sampai ditipu lelaki tidak baik.


“Betul, Kak. Krisan pasti kembang desa di kampungnya.” Lalu Nadia berucap pada Krisan, “Benar enggak, Kris?”

__ADS_1


Krisan tidak menjawab. Ia hanya menunduk diam, membiarkan helaian rambut hitam panjangnya menutupi wajah.


...~*~*~*~...


__ADS_2