
“Senang bisa bertemu kalian kembali, Mayor Zaky, Kapten Xeron, dan Kapten Zeon,” ucap Ajhu datar seperti biasa. “Kalian tidak perlu memberi salam hormat padaku. Kita langsung ke inti pembahasan saja.”
Ajhu pun bertanya pada pria berzirah canggih itu, “Bagaimana perkembangan misi tim kalian, Mayor Zaky.”
Zaky menjawab disertai suara khas audio helm yang menyaring suara aslinya, “Semua sudah diatur sesuai rencana. Saya akan memberikan laporan terkini tentang pengintaian pada markas musuh ke markas pusat kita. Selebihnya, kami menunggu perizinan dari pihak satuan utama.”
“Tahap ini sudah sesuai ekspektasi. Tetap pada rencana, Mayor Zaky.”
“Siap, Pak,” ucap Zaky.
Pandangan satu mata Ajhu beralih pada pemuda berekor kadal merah. “Bagaimana perkembangan misimu sekarang bersama tim, Kapten Xeron?”
Xeron menghela nafas, “.... Seperti biasa. Cuma berkeliling, melakukan aktivitas membosankan, dan mengawasi. Enggak ada ‘kah perintah dari markas pusat biar langsung serang aja? Aku sudah bosan menjalani hidup selayaknya pecundang.”
“Semua itu juga membutuhkan rencana yang matang, Kapten Xeron,” tegas pemuda bertudung gelap. “Kita tidak bisa langsung serang musuh kalau belum ada kesiapan dan momentum yang tepat.”
“Sampai kapan?” Xeron bersedekap tangan, menoleh pada pemuda itu. “Angkatan Orbit Planet Ribelo saat ini sedang masa goyah. Tinggal menunggu waktu saja sampai seluruh penjuru Ribelo mengalami krisis kepercayaan terhadap pihak militer. Bukankah ini waktu yang bagus tuk langsung digas?”
“Jaga ucapanmu di hadapan Tuan Ajhu, Kapten Xeron,” tegur Girdan geram. “Kau seorang perwira, bukan barbarian. Seharusnya, kau mengerti situasi yang kita hadapi sekarang.”
“Mengertilah, Girdan....” Dengan santai Zaky berucap, “Di otak bocah ini hanya ada bantai, bantai, dan bantai. Kau bicara tentang strategi pun tidak akan sampai ke otak dia.”
Xeron hanya mendengkus, enggan membalas ucapan rekannya.
Walau Xeron dikenal sebagai prajurit yang cukup emosional, dia tetaplah sosok yang berbakat dan bisa diandalkan saat bertugas di lapangan seperti ini. Gelar yang ia dapat sekarang merupakan hasil ketangguhannya dalam bertarung melumpuhkan banyak musuh.
“Sifatmu jadi terlihat seperti seorang MC novel online yang sengaja dibikin suka bantai-bantai biar enggak dikata naif, Kapten Xeron. Terlalu maksa...,” sindir pemuda bertudung gelap itu.
Xeron menunjuk pemuda itu menggunakan tangannya yang menyerupai cakar reptil. “Jangan samakan aku dengan karakter kacangan seperti itu, Bocah! Lagi pula, aku tidak suka membaca.”
“Sudahlah. Untuk apa kalian memperdebatkan sesuatu yang tidak penting?” ucap Ajhu tak suka. “Sebaiknya, kau berikan laporan terkini tentang tugas dari timmu ke markas pusat, Kapten Xeron. Setelah itu, kau tunggu saja keputusan selanjutnya dari markas pusat.”
__ADS_1
“Dimengerti..., Pak...,” sahut Xeron terdengar setengah meledek.
Makhluk ini, kalau sudah sekalinya jengkel pasti akan berperilaku tidak sopan, bahkan pada atasan sendiri.
Kini pandangan Ajhu teralih pada pemuda bertudung gelap dengan tangan dialiri aura ungu. “Bagaimana denganmu, Kapten Zeon?”
Zeon pun menjawab, “Kami baru saja bergerak. Masih butuh waktu tuk mengumpulkan lebih banyak informasi.”
Ajhu mengangguk. “Bagus. Bekerjalah dengan baik. Jangan kau sia-siakan kepercayaan yang telah kami berikan padamu.”
Zeon meringis mendengarnya. Sejenak ia memperhatikan kedua tangannya yang berwarna hitam pekat, aura ungu yang ada di sana masih terus mengalir bagai awan nebula di luar angkasa.
Zeon tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menunjukkan pada alam semesta bahwa ia layak menjadi seorang prajurit terhebat. Dari misi ini, dia benar-benar harus membuktikannya, bahkan di hadapan perwira menjengkelkan seperti Xeron sekalipun.
Zeon punya ambisi, dan ia akan segera mewujudkannya apa pun yang terjadi.
“Maaf jika saya lancang bertanya, Tuan Ajhu.” Girdan bertanya sungkan, “Satuan militer kita saat ini memang fokus pada pengintaian pergerakan musuh. Namun, apakah kita masih perlu melakukan penelitian lagi terhadap mayat Astan, Tuan?”
Struktur pada pohon besar itu telah membuat seluruh mayat Astan berubah menjadi pohon dan sudah tidak teridentifikasi lagi sebagai mayat manusia. Itu berarti, sangat sulit bagi mereka mencari sampel Kekuatan Kebangkitan dari komponen tubuh Astan, bahkan jika harus melakukan rekayasa genetika sekali pun.
“Kau masih terobsesi untuk mendapatkan kekuatan yang dimiliki si Astan ini, huh...?” tanya Xeron terdengar mengejek.
Ajhu berusaha menahan emosi ketika mendengar nada bicara Xeron. “Kekuatan Kebangkitan milik Astan Pradipta Cornell adalah potensi bagi bangsa kita untuk semakin maju. Jika kita bisa mengidentifikasinya lebih lengkap dan menerapkannya sebagai senjata biologis, maka bangsa lain dari seluruh Serikat Galaksi takkan berkutik menghadapi kita.”
Namun, semarah-marahnya Ajhu, dia masih sadar bahwa proyek yang mereka lakukan pada tubuh Astan selama belasan tahun ini mungkin akan berakhir sia-sia.
“Tapi, kuakui. Proyek ini tidak memiliki perkembangan apa pun selain menciptakan mutan-mutan cacat.” Ajhu kembali berkata, “Cara lain untuk bisa mendapatkan Kekuatan Kebangkitan milik Astan selain dari mengidentifikasi mayatnya adalah mencari bayangannya.”
“Bayangan?” Xeron heran mendengarnya.
“Iya.” Ajhu mengangguk.
__ADS_1
Satu mata Ajhu menyipit tajam, teringat akan sosok yang pernah terus menempel bersama Astan selagi masih hidup dan sebelum bergabung dalam pasukan militer Ribelo.
“Bayang. Makhluk kecil menyerupai slime hitam yang dulu pernah menjadi parasit di dalam pikiran Astan dan pernah hampir membunuhnya.”
Ajhu menjelaskan, “Astan mendapatkan semua kekuatan hebatnya juga karena ada campur tangan Bayang. Karena Bayang tercipta dari proyeksi sisi lain diri Astan, maka kemungkinan besar ia juga memiliki kekuatan yang serupa dengan Astan.”
Girdan tampak berpikir sambil menggosok dagu moncongnya, “Setahu saya, Bayang memiliki kemampuan yang sangat berbahaya, bukan? Yaitu, mampu meretas semua sistem teknologi yang ada di hampir semua peradaban alam semesta. Jadi, semua jenis sistem tidak akan ada yang bisa lolos dari ancaman kerusakan yang ia buat, bahkan sistem teknologi yang ditanamkan di tubuh makhluk hidup sekalipun.”
“Kekuatan itu pula yang jadi target kita. Jika kita bisa mendapatkan Bayang, bukan cuma sisa-sisa kekuatan Astan saja yang kita dapatkan, tapi juga kekuatan asli Bayang.” Ajhu juga terlihat mulai mempertimbangkan sesuatu, “Yang jadi masalah di sini adalah keberadaan Bayang sendiri. Astan tidak pernah menggunakan kekuatan Bayang lagi semenjak ia bergabung dalam pasukan militer.”
“Dari informasi yang saya dapat, kemungkinan besar Bayang disembunyikan oleh pihak terdekat Astan itu sendiri,” ujar Zaky.
“Seseorang yang sangat dipercaya Astan, kah?” tebak Zeon.
Zaky mengangguk. “Benar. Yang sangat dipercaya dan merupakan orang yang berpengaruh di instansi militer Planet Ribelo. Siapa lagi kalau bukan Perwira Grimaelo Adrael Novan?”
Ajhu melotot terkejut mendengar nama itu, nama yang terdengar mencekam dan begitu mengancam bagi siapa pun yang mengetahui sosoknya.
Setahu Ajhu, Grim merupakan salah satu perwira tinggi yang perannya begitu berpengaruh di Militer Antariksa Ribelo. Di balik sifat bijaksananya, terdapat sisi lain yang membuat seluruh pasukan Ribelo segan pada dia.
Kekuatan, kepintaran, dan juga sejarah kelam dari silsilah keluarga Grim membuat reputasinya jadi semakin ditakuti banyak orang.
Sesuai nama panggilannya, dia merupakan sosok pencabut nyawa, siap menghabisi siapa pun yang menghalangi ambisinya.
“Grim....”
Ajhu benar-benar geram saat mengingat sosok mengerikan itu.
“Dia makhluk yang sangat menjengkelkan.”
...~*~*~*~...
__ADS_1