
“Tiana, ya?” tanya Ardan disertai raut datar. Tidak ada keramahan di wajah rupawan itu kala menyadari kehadiran wanita yang telah berani menghajar Nadia dan Krisan.
Aneh. Padahal kemarin Tiana sudah dikabarkan keluar dari akademi atas keputusannya sendiri, tapi malah bisa hadir ke acara penutupan ini. Apa dia tidak malu bertemu dengan Ardan setelah apa yang ia lakukan pada Nadia yang merupakan sepupu Ardan?
“Kok bisa kau ada di sini?” tanya Ardan lagi dengan satu tangan masuk ke dalam saku celana.
“Perusahaan ayahku ada kerja sama dengan akademi ini. Aku hadir sebagai salah satu tamu dari pihak perusahaan Ayah.”
“Oh.” Ardan mengangguk mengerti.
Pemuda itu baru ingat kalau sebagian barang-barang elektronik yang ada di akademi ini merupakan produksi dari perusahaan milik ayah Tiana. Pantas saja dia bisa hadir walau sudah keluar dari akademi.
Keduanya sama-sama berdiri sambil melihat pemandangan ballroom yang makin ramai dipadati banyak orang. Tidak ada satu pun dari mereka yang sudi saling berhadapan. Ardan masih muak dengan apa yang telah Tiana lakukan pada Nadia, sedangkan Tiana merasa canggung sendiri.
Ini merupakan momen berharga yang sangat langka bagi Tiana dapatkan selama ia mengenal Ardan. Pada akhirnya, ia bisa berdiri berdekatan begini walau suasana terasa canggung.
Berdekatan dengan pemuda yang selama ini ia sukai, tapi tak pernah sekali pun meliriknya.
Dulu, Tiana sengaja mendekati Nadia agar bisa makin dekat dengan Ardan atau pun Rafa karena keduanya sama-sama dikenal sebagai pemuda populer dan digandrungi banyak orang.
Namun sayang, niat terselubungnya diketahui Nadia gara-gara mulut ember teman-temannya. Alhasil, Tiana makin susah mendekati salah satu di antara mereka.
Menyebalkan.
“Emm.... Ardan.” Tiana mulai membuka pembicaraan. “Bagaimana kabarmu? Lama tidak jumpa.”
Ardan meminum minumannya lebih dulu. “... Baik. Sangat baik malah. Sampai akhirnya aku kembali dipertemukan olehmu.”
Tiana menoleh, “Apa maksu—.”
“Justru aku yang bertanya, apa maksudmu ngehajar Nadia dan temannya bersama gerombolan teman-temanmu itu, main keroyokan?” desis Ardan berusaha menahan jengkel dan letupan amarah yang bisa meledak kapan saja.
“I-itu....”
Karena ego, tentu Tiana tidak ingin mengakui kesalahannya, atau malah sama sekali tidak merasa bersalah. Memang siapa Tiana sampai-sampai sudi mengatakan bahwa kejadian kemarin disebabkan karena ulahnya yang kesal akan kehadiran Nadia di hadapannya.
Dengan angkuh Tiana menjawab, “Itu karena dia menghinaku lebih dulu.”
Ardan pun balas menoleh dengan tatapan mata perak menajam. “Aku sudah kenal Nadia sangat lama, bahkan semenjak kami masih bayi. Dan dia bukan tipikal gadis yang bakal cari masalah kalau bukan karena lawannya yang bikin dia marah duluan.”
__ADS_1
Keduanya saling adu tatap, netra perak Ardan dengan netra biru Tiana. Ardan berusaha menahan emosi di sini karena mereka berada di keramaian, sedangkan Tiana tidak terima jika dia yang akan disalahkan di sini.
Salahkah jika Tiana melakukan hal seperti kemarin karena ingin memperjuangkan perasaannya?
“Kau membelanya,” balas desis Tiana.
“Memang. Nadia sepupuku, adikku, keluargaku. Dan dia merupakan sosok yang telah berjasa selama hidupku,” balas Ardan lagi.
“Kau menyukainya, kan?”
“Apa?”
Ardan melotot tak menyangka. Bagaimana bisa ada orang yang mengira Ardan menyukai saudarinya sendiri? Oke, mereka memang tidak sedarah, tapi tak etis rasanya jika kedekatan Ardan dan Nadia dianggap lebih dari sekedar saudara.
Membayangkannya saja sudah membuat Ardan mual.
“Kau menyukainya, kan? Makanya, kau mati-matian membelanya,” ucap Tiana lagi.
Ardan menggosok wajahnya kasar. “Demi Tuhan. Orang sinting mana yang sampai kepikiran mengira kedekatanku dengan Nadia itu lebih dari saudara? Rafa dan teman-teman dekatku saja mengerti kalau hubunganku dengan Nadia hanya saudara sepupu karena orang tua kami bersahabat lama. Kau cuma terbakar emosimu sendiri yang enggak ada gunanya.”
“Lantas, kenapa kau membelanya? Nadia sudah menghinaku, mempermalukanku di hadapan teman-temanku sendiri, bahkan melukaiku sampai akhirnya aku memutuskan tuk keluar dari akademi sebelum Masa Orientasi,” bantah Tiana tak terima.
“Karena Nadia keluargaku,” jawab Ardan santai. “Dan soal segala kesialan yang kau dapatkan, kurasa semua itu disebabkan karena ulahmu sendiri. Jangan macam-macam sama Nadia. Dia 11-12 sama abangnya. Suka ngamuk kalau sampai ada yang ngeganggu.” Ardan menaruh gelas minuman di atas meja terdekat setelah habis ia teguk. Menghadapi kebodohan Tiana sungguh membuat Ardan hampir dehidrasi.
Nadia,
Nadia,
Nadia,
Semua karena Nadia!
Kenapa semua orang sangat perhatian pada Nadia?! Tiana menyesal telah mengenal gadis berambut pirang itu di hidupnya kalau bakal begini jadinya.
“Aku menyukaimu.”
“Hah—.”
Belum sempat merespon, tangan Ardan sudah ditarik paksa oleh Tiana, membawanya menjauh dari ballroom. Awalnya, Ardan berniat hendak lepas, tapi ia ingin tahu sejauh mana wanita tidak tahu malu ini bertindak, sehingga membuatnya makin yakin kalau orang seperti Tiana patut dijauhi.
__ADS_1
....
Rupanya, Tiana membawa Ardan masuk ke dalam toilet umum, tak lupa mengunci pintunya. Dan tepat di depan salah satu bilik, Tiana mendorong tubuh besar Ardan ke tembok.
“Hei, apa yang— Mph?!”
Ardan melotot terkejut, tak menyangka jika wanita berambut kemerahan itu nekat menciumnya tepat di bibir.
Kaki bersepatu hak tinggi berwarna merah marun itu berjinjit, berusaha mensejajarkan tingginya dengan tinggi Ardan agar bisa semakin memperdalam ciumannya di bibir seksi pemuda yang sudah sangat lama ia taksir itu.
Sudah sangat lama, sejak SMP, sejak dikenalkan oleh Nadia dulu. Tapi, perasaannya tak pernah terbalas.
Mantan-mantan Ardan beruntung pernah memiliki hubungan spesial dengannya walau hanya dalam waktu singkat tanpa didasari perasaan. Itu berarti, mereka pernah berada di posisi spesial, sehingga Ardan mau menjadikan mereka sebagai pacar walau sementara hanya karena alasan Ardan ingin tahu seperti apa rasanya pacaran. Tiana jadi iri pada para wanita itu.
Memang terkesan brengsek, tapi mantan-mantan wanita itulah yang lebih dulu menyatakan perasaan pada Ardan, sama seperti situasi Tiana saat ini. Ardan pun sudah memberitahukan pada mereka lebih dulu kalau hubungan pacaran mereka bakal jalan tanpa perasaan, tapi mereka tetap nekat menjalani masa pacaran dengan Ardan sampai akhirnya putus sia-sia.
“Emph...!”
Awalnya Ardan hendak mendorong tubuh Tiana agar menjauh dan berhenti menciumnya. Tapi, entah mengapa Ardan mulai kepikiran sesuatu yang menarik untuk ia lakukan di situasi tak terduga seperti ini.
Satu tangan Ardan perlahan melingkar di pinggang ramping Tiana, sedangkan satu tangannya lagi menahan belakang kepala wanita itu. Kali ini, Ardan membiarkan Tiana menciumnya, bahkan ia sendiri malah membalas ciuman itu dengan lebih dalam.
“Engh.... Ah....”
Tiana dibuat mendesis kala merasakan ciuman balasan Ardan di bibirnya. Ia akui, Ardan merupakan pencium ahli, jauh lebih baik ketimbang pria-pria yang pernah berhubungan dengannya dulu.
Baru kali ini ia merasakan nikmat tak terkira hanya dari ciuman seorang pemuda. Mungkin karena Ardan merupakan orang yang paling ia sukai sejak lama. Jadi, rasanya begitu nikmat ketika baru sekali mereka berciuman.
Aksi ciuman mereka hanya berlangsung singkat sampai Ardan sendiri yang menghentikannya.
Nafas Tiana memburu, berusaha menarik lebih banyak oksigen setelah kewalahan menghadapi permainan bibir Ardan. Tiana tak menyangka aksi nekatnya bakal membawa Tiana ke dalam tindakan yang telah membuat dia merasa melayang karena nikmat.
“Engh.... A-aku.... Aku menyukaimu, Ardan.”
“Aku membencimu.”
Tiana mendongak disertai mata biru membola, menatap bingung ke arah Ardan.
Apa yang sebelumnya Ardan lakukan berbanding terbalik dengan raut wajahnya sekarang. Wajah rupawan berkulit semi eksotis itu begitu datar, tak menunjukkan ekspresi apa pun, secara tak langsung menyatakan bahwa dia sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun pada Tiana.
__ADS_1
Benar-benar tidak ada.
...~*~*~*~...