Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 50 : Banting-Membanting


__ADS_3

“Ugh....”


Setelah dibanting Ardan, Nadia terkapar dalam posisi nungging dengan mata membentuk spiral imajiner. Walau masih setengah sadar, tapi Nadia sudah dibuat teler, kepala pusing dan badannya lemah seketika.


Karena Nadia telah tumbang, seluruh hutan buatan gadis itu langsung lenyap, membuat lapangan arena kembali normal, walau beberapa bagian terlihat hancur akibat pertarungan sengit mereka.


Sayangnya, masih ada satu lagi yang belum ditumbangkan Ardan.


“Hiaaah!”


Krisan terbang di atas Ardan menggunakan kedua sayap gagak ciptaannya, menerjang pemuda itu dari atas secepat mungkin dengan kuku-kuku siap mencakar Ardan.


“Balok Besi.”


Dalam sekali hentakan kaki, Ardan menciptakan balok besi dari dalam lantai, menghantam tubuh Krisan ketika gadis itu hampir sampai menerjangnya. Akibat hantaman itu, Krisan pun terpental ke atas.


“Rantai Besi!”


Kedua tangan Ardan menciptakan rantai besi panjang. Dilemparkannya kedua rantai itu ke atas sampai berhasil mengikat tubuh Krisan, lalu ditariknya ke bawah bermaksud membanting Krisan lagi.


“Ukh.”


Krisan sadar kalau Ardan hendak membantingnya lagi. Oleh sebab itu, ketika tubuh Krisan hampir menabrak permukaan lantai, ia mengubah tubuhnya menjadi puluhan burung gagak yang terbang melepaskan diri dari ikatan kedua rantai itu.


“Kemampuan pasif rupanya,” tebak Ardan sambil menarik kembali kedua rantai besi.


Puluhan burung itu terlihat lenyap di udara, dan lagi-lagi sosok Krisan menghilang.


Ini sudah mencapai akhir dari pertarungan. Ardan yakin, Krisan sudah keteteran dan akan melakukan serangan yang sudah Ardan perkirakan.


Dan seperti yang Ardan duga, gadis itu sudah muncul dan melesat menyerang Ardan dari belakang. Ardan pun langsung berbalik sambil melemparkan satu rantai hingga terikat di tubuh Krisan, dan satu rantai lagi ia cambukkan ke dagu bawah Krisan, membuat kepala gadis itu mendongak dan meringis menahan sakit.


“Ekh....”


Karena sudah kelelahan, Krisan pun ambruk di lantai dengan tubuh masih terikat rantai. Melihat Krisan sudah tak sanggup lagi melawannya, Ardan menarik kembali kedua rantai ke tangan lalu melenyapkannya.


Tes pun berakhir dengan Nadia dan Krisan sama-sama tepar setelah kena hajar Ardan.


Beberapa paramedis sempat hendak memasuki lapangan demi mengobati kedua gadis itu, tapi niat mereka diurungkan saat Nadia bangkit sambil mengangkat satu tangan ke arah mereka, pertanda agar mereka tidak perlu repot-repot mengobati keduanya.


Nadia dan Krisan baik-baik saja walau sudah dihajar dan dibanting sedemikian rupa.


“Ukh....” Nadia beberapa kali menggeleng, masih merasa sedikit pusing gara-gara dibanting Ardan tadi. “Kau ini, Bang.... Main banting aja sama cewek. Katanya enggak mau main kasar.”


Masih berdiri tegak di tengah lapangan, Ardan pun menjawab dengan santai, “Kan emang benar aku enggak main kasar. Soalnya, aku enggak pakai Senjata Kebangkitan, masih pakai kemampuan dan kekuatan fisik. Itu pun cuma secuil kekuatan yang kupakai.”


Nadia terlihat berusaha berdiri. Kedua kaki jenjangnya tampak bergetar dan hampir oleng saat berusaha berjalan mendekati Ardan.


“Tapi, keras sangat...,” rengek Nadia.


“Tapi, buktinya kalian masih bisa berdiri.”

__ADS_1


“Akh.... Abang, ish!”


Krisan juga terlihat mulai berdiri sambil menggeleng-gelengkan kepala, ikut merasa pusing di kepala dan sakit di bagian dagu, tapi dia masih bisa berjalan dengan cukup baik menghampiri Ardan.


“Tadi itu serem juga, Senior.” Dengan polosnya, Krisan mengulurkan satu tangan ke Ardan. “Tapi, tolong, banting lagi.”


“Eh?”


“Hah?!”


“Eeeeh...?!”


Ardan, Nadia, bahkan penonton di tribun dibuat heran dengan permintaan aneh Krisan.


Gadis kampung ini benar-benar punya pola pikir di luar nalar.


“Ish, Krisan.... Napa pula kau minta dibanting? Apa enggak teler kau dibanting Bang Ardan sampai nabrak pohon-pohon tadi?”


Krisan tampak berpikir, “Eee.... Tadi itu ‘kan ketahan sayap, dan bantingan berikutnya bisa kuhindari dengan mengubah tubuhku menjadi puluhan gagak. Cuman, aku iri melihat kepalamu sekeras itu pas dibanting Senior Ardan tadi.”


“Sekeras begimane?! ‘Palaku puyeng, lho, Kris... pas dibanting Bang Ardan tadi.” Spontan Nadia mengelus kepalanya sendiri. “Kalau yang kau maksud kuat karena enggak sampai berdarah atau lebih parah lagi, itu karena aku belajar Ilmu Kebal, sama kayak Bang Ardan dan Bang Rafa.”


“Ooo....” Krisan pun mengangguk mengerti.


Dulu Krisan pernah minta izin pada abangnya, Heri, tuk belajar Ilmu Kebal. Tapi, Heri bilang, daya tahan tubuh Krisan tidak cocok tuk mempelajari ilmu tersebut. Jadi, dia lebih sering melatih kegesitan tubuhnya dalam menghindari segala serangan.


Lagi-lagi Krisan iri dengan Nadia yang sanggup belajar ilmu yang ingin ia pelajari itu.


Nadia memelototi Ardan, sedangkan Krisan balas menatapnya dengan tatapan polos lagi yang sudah menjadi ciri khas si gadis berambut hitam ini.


“Banting kamu di atas ranjang,” lanjut Ardan disertai senyum-senyum modus.


Krisan masih terlihat datar menanggapi rayuan Ardan, tapi hatinya malah jadi berdebar tak karuan.


Ada apa dengan hati Krisan ini? Padahal, cuma sekedar kagum bisa sampai sebegini tak karuannya reaksi perasaan Krisan setiap kali digombalin Ardan.


“Ayak! Ayak! Ayak!”


Ardan jejeritan ketika telinganya dijewer Nadia. Nadia kesel bukan main melihat Ardan malah ngomong macam-macam ke sahabatnya.


“Bang Ardan ini.... Enggak usah modus-modusin temen aku! Dia masih polos, lho,” omel Nadia jengkel.


“Po-polos apa’an? Orang tadi dia abis begal dada aku.”


“Apa?!”


“Aw!”


Nadia langsung membanting jeweran di telinga Ardan dengan cukup keras, lalu melotot tak percaya ke arah Krisan yang malah balas menatapnya dengan tatapan polos seperti tadi.


Nadia tak menyangka, Krisan yang tampak polos begini bisa begal dada laki.

__ADS_1


Krisan berucap tanpa merasa bersalah, “Aku kepo.”


Sambil menggosok telinganya yang abis kena jewer, Ardan membalas, “Ya, tapi kamu enggak perlu repot-repot bo’ongin aku kayak tadi. Lain kali, tinggal bilang aja. Aku ikhlas dunia-akhirat kalau yang begal cewek imut kayak kamu.”


“Haiks...!” Nadia asma dadakan melihat interaksi mereka berdua.


Separah-parahnya Nadia dan Damar kalau saling suka satu sama lain, enggak sampai sebegininya kayak interaksi Ardan dan Krisan ini.


Sungguh, mereka sama-sama cabul!


Di tribun, beberapa penonton sempat dibuat tercengang dan ketawa dengan interaksi mereka. Rafa sendiri dibuat nyengir ketika mendengar pernyataan Ardan tadi.


“Woalah.... Rupanya, dada Ardan sempat dibegal Krisan.” Rafa masih nyengir di tempat.


Damar mengelus kepalanya sendiri. “Aku sempat panik, lho, pas tahu Krisan nganu-nganu dada Ardan. Aku kira pelecehan, tapi anaknya emang polos, enggak tahu apa-apa, gitu.”


“Enggak usah dianggap berlebihan gitu ‘lah, Mar,” kata Rafa santai, “Kau tahu sendiri Ardan itu kayak gimana. Selagi dia menikmatinya, enggak bisa dianggap pelecehan, lah.”


Damar mendesah pasrah. Dia sudah tak mengerti lagi pola pikir antara Ardan dan Krisan. Mungkin mereka memang sudah ditakdirkan saling cocok dengan keanehan mereka masing-masing.


Ardan yang aneh dengan sifat barbar dan ngeselinnya. Dan juga Krisan yang tak kalah aneh, tapi lebih kalem.


Di lapangan arena, Ardan berdiri di hadapan Krisan dan Nadia sambil bersedekap dada. Dia mulai menjabarkan apa-apa saja yang kurang dari gaya bertarung keduanya.


“Nadia udah bagus pas menggunakan tenaga dan Kekuatan Kebangkitan. Cuma, jangan sampai boros energi lagi. Kau juga enggak boleh sampai emosian kalau ada apa-apa di tengah pertarungan.”


“Siap, Komandan!” Nadia memberi hormat pada Ardan.


“Dan kamu, Krisan. Kulihat kamu penuh pertimbangan dan dapat menganalisa selama bertarung. Aku kagum sama kelincahan dan kelenturan gerakmu. Hanya saja, di beberapa momen, pergerakanmu sempat mudah terbaca. Apalagi di saat-saat terakhir.”


Ardan kembali melanjutkan, “Aku yakin, kamu udah lumayan suntuk karena pertarungan kita hampir enggak ada akhir. Jadi, pasti sempat kepikiran pasrah saja, kan? Bertahan atau enggak, kamu anggap enggak penting, asalkan tesnya usai. Bener, kan?”


Krisan berpikir, kok bisa seniornya ini menebak kalau ia memang suntuk di akhir-akhir pertarungan dan sempat pasrah saja agar tesnya cepat berakhir. Soalnya, Krisan beranggapan bahwa tes ini enggak begitu penting juga. Untuk apa ia bertarung sampai sekuat tenaga?


“Jangan gitu lagi. Entar jadi kebiasaan yang bakal kebawa-bawa sampai di medan perang sungguhan,” pinta Ardan disertai senyum cerah pada Krisan.


Krisan sempat terpaku mendengar nasihat Ardan. Namun kemudian, senyum cerah terukir di wajah manisnya. Benar kata Ardan. Kalau Krisan pasrah dan menganggap beberapa momen bertarung tak penting, itu sama saja dengan menyerah.


Satu lagi pengalaman yang Krisan dapatkan dari senior yang paling ia kagumi selama berada di akademi. Krisan akan terus mengingat berbagai saran dan nasihat dari Ardan mulai sekarang.


“Tentu, Senior Ardan.” Krisan menunduk hormat pada Ardan.


Ardan pun bernafas lega. Tes ini diakhiri dengan sangat baik. Ia mendapat dua junior tangguh di kelompoknya. Junior-junior lain pun sudah berusaha sekuat mereka tuk bertahan. Mereka masih perlu mengasah kemampuan bertarung mereka di akademi ini ketika tahun ajaran baru telah dibuka minggu depan.


“Oke! Karena kalian berdua sudah berusaha sampai di titik ini maka—.”


Ucapan Ardan tertahan, mata peraknya mendadak melotot waspada ketika menemukan sesuatu yang aneh menyerupai bayangan hitam melesat dari atas ke arahnya.


Ardan harus kembali siaga. Seseorang berusaha menyerangnya lagi.


...~*~*~*~...

__ADS_1


__ADS_2