Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 76 : Berpasangan


__ADS_3

“Senior Miranda?” Rafa pun bertanya dengan sopan, “Ada perlu apa, ya? Mau bicara’in soal yang dirundingkan sama Ketua Parta tadi, atau soal pembagian sertifikat untuk anak-anak junior malam ini?”


Wanita bernama Miranda sempat menggigit bibir bawahnya canggung. Bukan kedua hal itu yang ingin ia bicarakan dengan sang junior satu tingkat. Miranda hanya ingin berusaha dekat dengan Rafa.


Sebenarnya, sejak tadi Miranda sedang mengobrol dengan teman-teman Taruni satu kelas. Namun ketika melihat Rafa tertinggal sendiri, teman-temannya menyarankan Miranda tuk coba mendekat. Pasalnya, mereka sudah tahu kalau Miranda tertarik dengan Rafa semenjak pemuda itu menjadi junior di kelompok bimbingannya pada Acara Orientasi Pelajar tahun lalu.


Miranda menyukai Rafa selain karena berparas tampan serta fisik yang menarik, Rafa merupakan Taruna berprestasi di akademi dalam bidang akademik maupun non-akademik. Dia pemikir handal, dewasa, dan tegas. Bukan itu saja, latar belakang keluarganya yang mapan pun membuat Miranda makin jatuh hati padanya, seorang ayah yang menjabat sebagai perwira tinggi, dan ibu yang memiliki usaha serta yayasan tuk membantu banyak orang.


Perempuan mana yang tidak tertarik dengan segala kesempurnaan yang dimiliki Rafa? Tapi, karena pemuda berambut pirang ikal itu selalu bersikap dingin pada orang yang kelihatan ada mau, makanya banyak perempuan segan tuk pedekate dengannya.


“Tidak. Aku cuma ingin sekedar menyapa saja. Kelihatannya, kau sendirian aja di sini.”


“Oh?” Rafa sempat menoleh ke arah rekan-rekannya yang mulai berdansa di lantai dansa. “Iya.... Bingung juga mau ngapain. Kau tidak ikut dansa? Hadiahnya besar lho kalau beruntung menang.”


“Eee....” Miranda mengelus tengkuk sendiri. “Aku... enggak punya pasangan. Kalau ada, ya tentu aku bakal ikut.”


Sempat suasana hening di antara keduanya. Tidak ada satu pun dari Miranda maupun Rafa yang ingin memulai pembicaraan lebih dulu. Keduanya hanya berdiri sambil melihat orang-orang berdansa mengikuti iringan musik melow.


Entah mengapa, lama-lama Rafa jadi bosan sendiri. Dia ingin pergi menyapa para Taruna lain, tapi kebanyakan dari mereka ikut lomba berpasangan dengan para Taruni. Mau pergi, tapi merasa tak enak meninggalkan Miranda sendirian.


Rafa pun menghela nafas. Mau bagaimana lagi? Dari pada hampir mati bosan merenung di sini.


“Hm?”


Miranda bertanya-tanya dalam hati ketika melihat uluran tangan Rafa mengarah padanya. Ketika mata Miranda melihat tepat ke arah wajah rupawan Rafa, pemuda itu pun berkata,


“Aku bosan berdiri sendiri melihat mereka berdansa. Jadi, kau mau berdansa denganku, Senior?”


Tidak ada ekspresi ramah atau pun senyum tulus dari wajah Rafa. Namun, cukup diajak berdansa berdua begini sudah membuat hati Miranda berbunga.


Miranda mematung, dibuat hampir tak percaya jika Rafa bersungguh-sungguh mengajaknya berdansa.


“Su-sungguh? Kau mengajakku?” tanya Miranda memastikan sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Ya,” ucap Rafa datar, “Kalau enggak, aku enggak bakal maks—.”


“Oke, oke.”


Miranda segera membalas uluran tangan Rafa, dengan suka cita menerima tawaran Rafa tuk berdansa dengannya.


“Dengan senang hati.” Miranda tersenyum tulus pada Rafa.


Rafa membalas dengan senyum tipis yang ia perlihatkan hanya sepersekian detik, kemudian membawa Miranda ikut berdansa ke lantai dansa.

__ADS_1


....


Alunan musik klasik terdengar menggiring orang-orang tuk berdansa bersama pasangan masing-masing di lantai dansa.


Damar yang saat itu berdansa sambil memegangi pinggang Nadia sempat melihat Rafa dan Miranda berdansa tidak jauh dari mereka.


“Kukira Rafa enggak bakal ikut dansa.”


“Hah?”


Sontak Nadia mengalihkan pandangan mengikuti arah pandang Damar. Mata birunya menyipit jengkel kala menemukan saudara kandungnya berdansa dengan wanita yang tak ia suka.


“Bang Rafa malah berdansa dengan Senior Miranda.” Nadia masih mengalungkan tangannya di leher Damar. “Benar-benar menyebalkan....”


“Segitunya banget ya kau enggak suka sama Senior Miranda?” tanya Damar heran. “Kalau misalnya mereka berjodoh, gimana?”


Nadia meringis membayangkannya. “.... Entahlah, Mas. Firasatku sebagai saudara sedarahnya Bang Rafa kayak ngasih tahu kalau Senior Miranda sama sekali enggak cocok sama Bang Rafa. Aku enggak masalah Bang Rafa mau dekat sama cewek mana pun, tapi yang emang benar-benar cinta sama dia apa adanya tanpa tertarik dengan segala kelebihan yang ia punya. Dan hampir sangat mustahil mencari cewek yang setulus itu.”


Damar mengerti. Berdasarkan pengalaman buruk Nadia yang sempat berteman dengan cewek-cewek munafik, tentu para cewek yang mau dekat dengan Rafa pastinya hanya mengincar kelebihan Rafa. Entah itu dari segi fisik, kecerdasan, maupun latar belakang keluarga yang mapan.


Tentu Nadia ingin saudaranya itu mendapat perempuan yang benar-benar tulus, mau menerima segala kekurangan Rafa, dan bisa diajak susah bersama di segala kemungkinan yang tak terbaca. Tapi sayang, zaman sekarang sangat susah mendapat perempuan setulus itu. Damar yang berasal dari kalangan biasa saja beruntung bisa mendapatkan hati Nadia yang berasal dari keluarga kaya.


Krisan hampir dijadikan Nadia sebagai kandidat, tapi sudah keduluan diembat Ardan. Jadi, ya sudahlah. Toh Nadia juga berharap yang terbaik untuk soal percintaan sepupu gilanya satu itu.


“Aku tahu, niatmu baik, Nad.” Damar berusaha menasihati, “Tapi, soal jodoh itu urusan Rafa dan Tuhan. Biarkanlah dia menentukan sendiri siapa yang ingin berada di sisinya kelak. Atau mungkin saja sekarang Rafa masih belum kepikiran tuk suka sama cewek. Hubungan kita berdua saja tidak benar-benar diatur Rafa, kok. Masa kau tega mengatur hubungan dia? Aku tahu, selama ini Rafa cuma iseng gangguin kedekatan kita. Dia cuma ingin mengingatkan agar kita tidak bertindak berlebihan.”


....


“Aw.”


“Aw.”


“Aw.”


Beberapa kali Ardan meringis saat kakinya diinjak-injak Krisan gara-gara ia tidak tahu bagaimana caranya berdansa. Ardan sudah mencoba mengajari gadis itu, tapi tetap saja langkah kakinya susah diarahkan. Alhasil, kaki Ardan beberapa kali kena injak.


“Maaf, Senior. Aku ‘kan tadi sudah bilang kalau aku enggak bisa dansa.”


“Iya.... Gimana, yak? Dari pada kita berdiri bengong doang sambil liatin orang dansa,” alibi Ardan, padahal momen ini berusaha ia manfaatkan tuk lebih dekat dengan Krisan.


Tapi apalah daya. Setiap kali Ardan bersama Krisan, pasti ada saja hal-hal kocak terjadi, salah satunya ya kaki enggak sengaja keinjak begini.


“Kakimu enggak apa-apa, Senior?” tanya Krisan.

__ADS_1


Ardan pun membalas, “Jangankan diinjak, dilindes bulldozer pun kakiku enggak bakal jadi geprek. Tenang aja....”


Kaki Ardan kena injak begini tentu bukan masalah, tidak membuatnya benar-benar kesakitan. Dia hanya risih, tapi enggan mengatakannya pada Krisan, takut gadis itu merasa sungkan padanya.


“Oh, ya, Kris.” Ardan mulai basa-basi tuk mengenyahkan rasa risih kakinya yang kena injak. “Kamu pernah pacaran, belum?”


Krisan langsung menggeleng.


“Kenapa?”


Krisan pun menjawab, “Aku tidak tertarik buat pacaran. Buang-buang waktu, buang-buang tenaga, buang-buang uang.”


“Aaa....”


Kalau dipikir-pikir, benar juga yang dikatakan Krisan.


Selama Ardan pacaran dengan mantan-mantannya dulu, Ardan pasti bakal menyempatkan waktu buat jalan-jalan bareng mereka bahkan sampai mengeluarkan uang.


Ardan jadi agak menyesal karena waktu, tenaga, dan uangnya sempat terbuang sia-sia untuk orang-orang yang tak tepat. Tapi, ya sudahlah. Ikhlaskan saja. Toh sekalian nambah pengalaman hidup juga.


“Jadi, kamu belum pernah pacaran, gitu?”


Krisan mengangguk lagi.


“Kalau gitu, misalnya aku mau pacaran sama kamu, nih. Kamu mau enggak nerima aku jadi pacarmu?”


Krisan sempat memandang tepat ke mata perak Ardan, tatapan yang polos, murni, dan tulus tanpa ada niat terselubung saat berinteraksi dengannya.


Ardan sangat yakin, Krisan merupakan gadis baik-baik yang akan menerima cowok apa pun keadaannya. Itulah yang membuat Ardan tertarik tuk semakin mengenal Krisan.


Dia murni, dan patut tuk dijaga.


“Ayak!”


Tak disangka-sangka, Krisan malah menyentil jidat Ardan.


“Belajar dulu yang bener. Jangan mikirin pacaran,” ucap Krisan polos.


Ardan mengelus jidatnya yang kena sentil, sedangkan satu tangannya masih memegangi pinggang Krisan, berusaha menuntun gadis itu tuk tetap berdansa.


Tuh, kan. Di momen-momen seperti ini, pasti ada aja hal aneh yang terjadi di antara mereka.


Memang Ardan hanya iseng bertanya, belum bermaksud tuk menyatakan perasaan pada Krisan. Tapi tak disangka, jawaban Krisan bakal menohok begitu.

__ADS_1


Kedengarannya malah seperti nasihat seorang ibu pada anaknya yang suka bandel.


...~*~*~*~...


__ADS_2