Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 26 : Persiapan Kegiatan


__ADS_3

Langit mulai menampakkan warna jingga di ufuk timur, perlahan mewarnai kelamnya langit subuh di seluruh penjuru Akademi Milderan.


Hari ini merupakan hari pertama dimulainya Kegiatan Orientasi Pelajar, di mana para Taruna-Taruni junior akan diperkenalkan dengan segala hal tentang Akademi Milderan, mulai dari fasilitas, kegiatan belajar-mengajar, sampai tugas-tugas seperti apa yang akan mereka terima.


Sekarang masih sekitar jam enam, tapi sudah ada banyak anggota Organisasi Teladan yang sedang bersiap-siap di lapangan. Organisasi Teladan sendiri merupakan organisasi akademi yang beranggotakan orang-orang berprestasi tuk membantu menyelenggarakan berbagai macam kegiatan akademi, salah satunya Kegiatan Orientasi ini.


Puluhan senior dari Organisasi Teladan terlihat sedang sibuk membagi wilayah kelompok yang akan mereka bimbing masing-masing, saling berdiskusi membahas data kegiatan, dan bergotong royong.


Di sisi lapangan sendiri, Ardan tengah berdiskusi dengan staf akademi yang sedang menjelaskan ke mana saja kelompok yang ia bimbing akan pergi karena hari ini merupakan kegiatan pengenalan lingkungan dan fasilitas akademi.


Ardan sendiri terlihat mengenakan setelan jaket hitam dengan kaos cokelat gelap di dalamnya, celana kargo hitam, sepatu boots, sarung tangan fingerless, serta ikat kepala yang selalu menjadi ciri khasnya.


“Jadi, tempat-tempat sini aja yang perlu diperkenalkan. Paham?” ucap staf bermasker hitam itu pada Ardan sambil menunjuk denah akademi dalam tab.


“Enggak termasuk Gudang Persenjataan, kan?” tanya Ardan sambil membetulkan sarung tangan fingerless yang ia pakai.


Staf itu mengangguk. “Udah paham, kan? Kalau gitu, kami tinggal dulu, oke? Selamat bertugas.”


“Jangan asal ditinggal gitu ‘lah, Pak. Kasih fulus, napa?”


“O, berani ngelunjak kau, yak?” Si staf mengambil pose hendak memukul Ardan pakai tab.


“Hahaha....”


Ardan dan staf tersebut hanya tertawa setelah saling lempar canda, kemudian staf itu segera pergi meninggalkannya bersama staf lain sambil melambaikan tangan.


Ya, beginilah sifat Ardan. Banyak pelajar sering canggung saat mengobrol dengan anggota staf Akademi Milderan yang dikenal tegas, tetapi Ardan malah bisa mengobrol ringan dengan mereka dan membuat suasana jadi lebih cair dengan candanya.


Sepeninggal para staf, tak berapa lama datang Damar menyusul posisi Ardan sambil membawa tab di tangan. Pemuda berkacamata itu terlihat memakai setelan pakaian yang hampir sama dengan Ardan.


“Dan, wilayah kelompok kita di sini, ya?” tanya Damar di dekat Ardan.


“Mana kutahu. Aku aja cuma berdiri di sini sambil nyimak penjelasan staf macam anak TK.”


“Dih. Enggak tahu juga, rupanya. Sini aja, lah. Malas banget aku nyari lagi. Padahal, aku pengen ambil wilayah di bagian lapangan dekat pohon rambutan itu biar bisa ngadem sambil nyopotin buah-buahnya, tapi si Rohimah kura-kura ninja itu yang ambil.”


Ardan menyeringai jahil, “Kau punya jiwa-jiwa nyolong juga, rupanya.”


“Nyolong apaan? Wong entu pohon punya pihak akademi, juga. Bebas aja mau diambil siapa pun.”


Damar merogoh sebuah chip dari dalam saku celana, menyentil chip itu, lalu dilemparkan ke tanah hingga muncul hologram dengan tulisan ‘Kelompok 17’ di sana. Chip hologram itu digunakan sebagai penanda bahwa tempat di sini merupakan wilayah mereka.


“Memang kau punya jiwa-jiwa nyolong, Dan?” tanya Damar sambil mengecek daftar di tabnya.

__ADS_1


“Hm! Kalau soal percolongan itu ‘dah kegiatan aku pas masih bocah. Sekarang aja ‘dah tobat,” kata Ardan agak bangga. “Dulu itu, hampir semua jenis buah aku colong, mulai dari buah mangga, buah jambu, belimbing, sampai kelapa yang tinggi entu. Tapi, cuma satu jenis buah aja yang enggak berani kucolong.”


“Buah apa?” tanya Damar singkat.


“Buah dada.”


“Ahahahahahak....”


Keduanya ketawa ngakak dengan lawakan kacang Ardan sampai-sampai para staf dan anggota organisasi di sekitar jadi heran melihat kelakuan mereka.


Tuh, kan. Damar yang introvert saja dibuat bengek sama Ardan. Mungkin karena selera humor Damar terlalu receh.


“Apa-apaan kau ini, ah!” Mata Damar kembali fokus pada tabnya. “Oh, iya. Tadi udah sempat periksa daftar anggota kelompok yang kita bimbing, Dan?”


Ardan mempererat ikat kepalanya. “Udah. Tapi, enggak sampai selesai. Kenapa? Ada yang mengundurkan diri, gitu?”


“Kagak, lah.” Wajah Damar terlihat mulai antusias ketika hendak membahas ini. “Tahu enggak? Nadia rupanya berada di kelompok kita!”


“Wih, serius?” Mata perak Ardan sempat membulat mendengarnya.


Damar terlihat jingkrak-jingkrak kegirangan. Pemuda berkacamata dengan tubuh proporsional itu tentu sangat senang pas tahu gebetannya satu kelompok dengannya, jadi junior yang bakal ia bimbing.


Akhirnya, setelah lama tak melihat wajah cantik Nadia langsung dan cuma bisa chat-chatan jarak jauh, Damar bisa bertemu juga dengan sang pujaan hati.


Ardan jadi aneh sendiri melihat sahabatnya itu kegirangan minta ampun, seperti bukan karakter Damar sekali.


“Pedekate lagi, pedekate lagi.... Pedekate aja terus sampai kiamat biawak,” sarkas Ardan.


“Ish! Kau ini....” Muka Damar mulai cemberut gara-gara disarkasin Ardan. “Susah ada kemajuan di hubungan kami melebihi teman. Si Rafa suka ‘kali halang-halangin pertumbuhan cinta kami. Mungkin pertumbuhan cinta kami dikorupsi sama badannya. Makanya, badan Rafa itu kelihatan makin gede aja.”


“Coba kau ngomong kayak gitu di hadapan dia, berani enggak?” tantang Ardan. “Mumpung orangnya lagi di belakang kita, noh.”


“Ladalah?!”


Damar kaget bukan main, bahkan hampir melemparkan tabnya ke atas saking terkejutnya menyadari abangnya si gebetan berada agak jauh di belakang mereka. Beruntung, Rafa terlihat sibuk mengecek area lapangan yang akan dipakai untuk kelompoknya. Rafa sendiri berada di kelompok berbeda dengan Ardan dan Damar, wajar saja ia berada di tempat yang beda pula.


Berbeda dengan mereka berdua, Rafa terlihat mengenakan mantel jubah hitam sebagai pengganti jaket, membuat tubuhnya jadi terlihat makin tinggi-besar serta mengintimidasi.


“Udah macam ketua mafia aja tuh anak,” komentar Damar ketika melihat Rafa di sana.


“Dilihat dari penampilannya aja, berani enggak kau tantang dia?” tantang Ardan lagi.


“Eh? Kenapa kau suruh aku nantang dia pula? Emang suka lain otak kau itu, Dan.” Buat menghindari topik, Damar memilih kembali fokus pada daftar tab.

__ADS_1


“Hahaha....”


Ardan menertawakan ketakutan Damar. Sok-sok’an meledek calon kakak ipar sendiri, tapi Damar-nya juga takut nantangin Rafa. Memang benar juga. Siapa yang tidak takut dengan pemuda berbadan tinggi-besar dan berotot pula, berotak cerdas, serta suka ngesarkas di saat-saat tertentu?


“Eee.... Ada juragan seblak sama bekantan rawa. Lagi ngapain kalian, mungutin dosa orang, yak?”


Damar dan Ardan menoleh dengan muka bete ketika melihat kehadiran Sheena yang kebetulan lewat. Baru juga memulai hari, sudah kena ledek perempuan.


“Udah berapa kali dibilangin, sih? Aku tuh enggak suka seblak,” protes Damar jengkel dengan kedua mata ungunya disipitkan.


“Kau sendiri ngapain di mari, pantat kuda? Seingatku, kau bukan anggota Organisasi Teladan,” tanya Ardan bete.


“Dih, langsung balik ngegas aja raja gaul kita satu ini,” goda Sheena usil. “Ya suka-suka aku, dong, mau ngapain di sini. Kali aja bisa bantu anak-anak sini buat gotong royong. Toh banyak juga pelajar yang bukan anggota organisasi udah datang kemari sejak kemarin.”


“Pala lutut kau itu gotong royong. Dateng-dateng udah mau nguji emosi orang aja.” Ardan mengibas-ngibaskan tangannya, berniat mengusir Sheena. “Kalau niatnya cuma ganggu orang kerja, mending cabut ajalah dari sini.”


“Orang cuma mau nyapa, juga,” cibir Sheena. “Eh, eh. Tapi, Dan. Kau tahu enggak, aku satu unit asrama sama sepupumu, lho.”


Otomatis Ardan menoleh kembali ke arah Sheena, begitu pula Damar ketika sadar perempuan itu mulai membahas gebetannya.


“Nadia satu unit sama kau, Shen?” tanya Damar heran.


Sheena mengangguk, “Iya. Dia orangnya asik diajak ngobrol, baik, pengertian. Selain itu, Nadia pun dapat teman baru yang nyaman juga diajak temenan walau cukup pendiam orangnya.”


“Walau kau itu menjengkelkan, Shen, tapi aku bersyukur saudariku dan Rafa itu bisa temenan sama kau,” jelas Ardan merasa lumayan lega mendengar kabar sepupunya itu. “Kemarin, dia sempat cemas, takut-takut kalau dapat teman satu unit yang menjengkelkan dan munafik. Tapi pas tahu dia satu unit denganmu, aku jadi sedikit lega. Setidaknya, aku dan Rafa tidak perlu mengkhawatirkannya lagi.”


Iya. Setidaknya, Sheena bukan tipikal perempuan bermuka dua seperti mantan teman-teman Nadia dulu. Sheena orang yang apa adanya, dan santai pula pembawaannya. Cocok menjadi teman Nadia agar gadis itu bisa belajar makin dekat tuk berteman dengan sesama perempuan. Kalau masih keseringan berteman dengan laki-laki, bisa makin cemas lagi Ardan dan Rafa, takut Nadia kenapa-napa. Apalagi, pergaulan zaman sekarang semakin bebas.


“Tenang saja. Dia aman bersamaku, Kawan,” ucap Sheena disertai senyum bersahabat. “Kalau gitu, aku cabut duluan, yak. Mandor mau keliling-keliling dulu, lihat para babunya pada kerja.”


“Dih, mandor katanya. Pantat kau itu ‘tuh dijaga, jangan sampai jebol lagi,” ledek Ardan.


“Bacot kau, perjaka tua! Haha....”


Sheena pun mulai berjalan jauh sambil melambaikan tangan ke arah Ardan dan Damar.


Sebenarnya, Sheena dulunya merupakan perempuan bebas, hal itu juga dipengaruhi oleh budaya di negara asalnya. Tapi sebebas-bebasnya cara bergaul Sheena dulu, tidak membuat kepribadiannya buruk. Dia juga tidak akan mau mempengaruhi orang baik-baik agar sebebas dirinya.


“Kau yakin mempercayakan Nadia pada Sheena?” tanya Damar ragu. “Kau tahu sendiri ‘kan Sheena itu sebebas apa.”


“Dia itu teman sekelasku sama Rafa, kami kenal betul seperti apa Sheena. Kalau soal pergaulan bebasnya, itu ‘kan cuma masa lalu. Toh kalau sudah masuk akademi ini, ketahuan melakukan hal kayak begituan sebagai pelajar di mari bisa terancam dikeluarkan dari akademi.”


Damar mengangguk-angguk mengiyakan saja. Kalau Ardan sendiri tidak mempermasalahkannya, berarti Nadia aman-aman saja berteman dengan perempuan seperti Sheena.

__ADS_1


...~*~*~*~...


__ADS_2