
“Aaah.... Capeknyaaa....”
Nadia duduk di salah satu bangku sambil meregangkan badannya yang terasa sedikit pegal-pegal setelah mengikuti kegiatan keliling-keliling akademi. Krisan juga tampak duduk manis di sampingnya.
Sekarang, mereka berdua sedang berada di lorong teras gedung akademi dari Jurusan Ilmu Pertahanan dan Strategi. Teras ini menghadap langsung ke arah taman nan indah di depan sana. Jadi, sambil mengistirahatkan diri, sambil cuci mata juga.
Selain mereka, ada beberapa pelajar yang terlihat di sana. Ada yang duduk-duduk santai juga di bangku, hanya sekedar lewat, bahkan ada yang sempat keliling serta berfoto-foto riang di taman.
“Wah.... Aku juga pengen foto-foto,” ucap Nadia saat melihat rombongan gadis-gadis seusianya tengah berfoto di padang bunga. “Tapi kampret juga, ada yang bikin video joget-joget di sana.”
Nadia sempat risih melihat rombongan gadis lainnya sedang asik berjoget ria di hadapan kamera ponsel yang sengaja di taruh di bangku.
Entah apa faedahnya orang-orang suka sekali berjoget-joget enggak jelas begitu. Viral belum tentu, jadi artis pun ujung-ujungnya bakal tenggelam juga popularitasnya oleh waktu.
Yang ada malah ngerusak urat malu.
“Nad!!!”
“Bujubuneng, Bang...!”
Nadia hampir latah ketika mendengar Ardan memanggilnya dengan suara menggelegar khas preman tukang palak dari kejauhan. Untung Nadia masih muda, tidak punya riwayat penyakit jantung.
“Abang ini.... Manggilnya santai aja, nape?” ucap Nadia jengkel sambil mengelus dada.
Ardan berlari kecil menghampiri, lalu berhenti tepat di hadapan mereka. “Kucari’in dari tadi, rupanya ada di sini.”
“Emang ngapain nyari-nyari aku, Bang?”
“Iya mau ngajak makan siang sama yang lain.”
Ardan sempat melirik Krisan yang masih diam memperhatikan pemandangan taman. Gadis itu sudah tahu keberadaan Ardan, tapi lebih memilih diam karena bingung mau ngomong apa.
Bukan cuma alamat rumah yang Krisan lupa, cara nyapa orang pun dia lupa.
“Nad, sekalian juga ajak temanmu itu buat makan bareng. Biar kita bisa saling kenal dekat, gitu....” Ardan memberikan senyum-senyum modus.
“Hilih~. Dasar buaya.”
Nadia memeluk Krisan dari samping seakan-akan enggan menyerahkan kawan barunya itu ke tangan abang anehnya. Yang dipeluk pun tetap diam tak merespon, terlihat seperti boneka hidup yang pasrah saja dipeluk-peluk begitu.
“Kau jangan coba macam-macam dengan kawanku,” ujar Nadia pada Ardan, “Aku baru sadar kalau Krisan ini terlalu manis untuk mengenal orang barbar sepertimu, Bang. Jadi lupakan saja. Jauh-jauh darinya. Aku tidak ingin kepolosan Krisan ternodai olehmu.”
Ardan pun mencibir, “Salahmu sendiri yang langsung kasih Krisan ke aku pas kau ngambek tadi. Ya aku sebagai laki normal mau-mau aja dikasih kenal sama gadis cantik macam Krisan. Kau pun ngomong kayak gitu seakan-akan aku ini penjahat kelamin.”
“Emang.”
Seketika Ardan berwajah suram mendapat respon sedatar itu.
Gini-gini amat punya sepupu bawel.
“Woi, Dan! Eh?”
__ADS_1
Dari kejauhan, tampak Damar tiba menyapa Ardan. Namun ia tertegun, tak menyangka akan bertemu kembali dengan si pirang cantik pujaan hati yang hampir sulit digapai itu.
Bukan hanya Damar, Nadia pun ikut terpaku memandang Damar yang masih jauh di ujung sana.
Kelopak-kelopak bunga taman dari berbagai warna beterbangan dihembus oleh angin, pancaran sinar mentari menciptakan kilau tersendiri saat kedua mata dari sepasang anak manusia ini saling memandang satu sama lain.
Nadia terpesona dengan kehadiran Damar. Walau dalam tampilan culun dengan kacamata seperti itu, Damar tetap masih terlihat gagah di mata Nadia. Rambut hitam yang sudah acak-acakan, keringat yang membasahi kulit putihnya, serta mata ungu kelam yang mampu menghipnotis akal sehat Nadia.
Sungguh, Nadia benar-benar jatuh cinta pada pemuda ini.
Begitu juga Damar. Damar terpaku di tempat melihat betapa indahnya gadis yang ia cintai itu. Rambut pirang panjang lurus yang begitu berkilau mengalahkan kilau sinar mentari, mata biru bulat nan jernih, serta bibir tipis merona yang selalu bisa menggoyahkan imannya.
Sumpah. Kalau bukan terhalang restu saudaranya Nadia, sudah lama jadian mereka.
Ardan sempat diam bagai obat nyamuk melihat dua orang aneh ini saling tatap-tatapan dari jauh seperti adegan di film drama romantis. Dia juga heran kenapa bisa bunga-bunga di taman jadi banyak berhamburan di waktu yang terlalu pas seperti ini.
Rupanya, para gadis tukang joget-joget enggak jelas itu yang menghambur-hamburkannya demi konten joget.
Selagi keduanya saling tatap-tatapan begitu, Ardan mengambil kesempatan. Kalau Damar dan Nadia mau pedekate, Ardan pun juga mau.
Tangan Ardan berusaha meraih tangan Krisan yang masih diam bak manekin di pelukan Nadia. Tapi tak disangka, tangan Nadia sempat memukul tangan Ardan, tak mengizinkan sepupunya itu dekat dengan Krisan, padahal tatapan mata Nadia masih fokus pada Damar.
Emang peka sekali insting Nadia ini kalau temannya mau diapa-apain Ardan.
Setelah puas tatap-tatapan, Damar pun sadar akan rasa terpesonanya pada Nadia. Ia memutuskan berjalan menghampiri mereka bertiga sambil memberi senyuman manis pada Nadia.
“Hai, Nad. Muach....”
Nadia langsung tersipu malu diberi ciuman jauh seperti itu. Ia pun membalas,
“Ha-hai, Mas. Muach...”
“Hakh...!”
Damar memegangi dadanya, merasakan serangan nikmat dari ciuman jauh khas Nadia.
“Muach.”
“Muach.”
“Muach...”
“Muach...”
Ardan memperhatikan tindakan menggelikan mereka dengan tatapan datar. Sampai kapan mereka harus tukar ciuman jauh begitu, sedangkan di sini ia sama sekali tidak bisa dekat dengan Krisan.
“Muach.”
“Muach.”
“Muach.”
__ADS_1
“Muach.”
“Muach.”
“Muachem-macem kau sama adikku, kutempeleng ‘pala kau bolak-balik, Seblak!”
“Woanj—.”
Damar menjerit tertahan gara-gara kaget akan kehadiran Rafa yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya dengan muka garang. Buru-buru ia sembunyi di belakang Ardan, tak mau jadi korban amukan pemuda bertubuh tinggi besar itu.
“Mpos!” Ardan ngegas ke Damar yang masih sembunyi di belakangnya.
“Kau ini.... Jangan kayak gitu sama teman,” tampik Damar kesal.
“Habisnya, rayuan-rayuan mulu kau sama Nadia. Giliran ada abangnya, langsung ciut. Emang mental kacang kau ini.”
“Kau pun tadi modus ‘kali sama temennya Nadia.”
“Tak kau tengok dari tadi aku kagak bisa-bisa pedekate sama Krisan?!”
“Nih kalian mau ngapain di mari? Mau maksiat, ya?” tanya Rafa asal.
Pasalnya, di sini Rafa menemukan dua perempuan dan dua laki-laki, tentu mereka terlihat memungkinkan tuk berpasang-pasangan berbuat yang iya-iya. Tapi Rafa yakin, hal sesat seperti itu tidak akan pernah terjadi. Dia cuma bercanda bertanya seperti itu.
“Kenape? Mau ikut?” tanya Ardan enggak kalah ngasal.
“Boleh.”
“Abang! Ish!”
Nadia dibuat frustrasi melihat dua abangnya ini sudah diajak bercandaan. Kadang candaan mereka suka menjerumus ke hal-hal yang kelam.
“Enggak usah mikir macem-macem, lah!” omel Nadia. Lalu ia bertanya pada Rafa, “Kau ngapain di mari, Bang?”
“Aku tadi cuma lewat, terus kebetulan liat kalian deket-deketan kayak tadi. Kusamperin, lah.” Rafa pun bertanya pada Ardan dan Damar, “Kalian sendiri ngapain di sini?”
Ardan menjawab, “Mau ngajak Nadia sama temannya makan siang bareng. Enggak asik kalau cuma berduaan sama Damar, entar dikira homo.”
Damar menepuk bahu Ardan. “Tak sudi aku dikira homoan sama kau.”
“Siapa juga yang mau homoan sama kau?! Najis! Aku masih normal, lah.” Ardan pun menawarkan Rafa, “Kau mau ikut, Raf? Biar rame. Mumpung sama adikmu ini.”
Sempat Rafa memeriksa jam tangannya. Karena waktu jam istirahat masih panjang dan ia juga belum ada kesibukan, Rafa pun mengangguk.
“Boleh. Enggak sibuk juga aku.”
“Bagus!” Ardan mengacungkan jempol. “Biar rame kita.”
“Oh, iya, Bang.”
...~*~*~*~...
__ADS_1